PETUALANGAN DIMULAI

572 Kata
Bus yang membawa Savana dengan cepat melaju meninggalkan kota tempat dia dilahirkan. Rasa sesak seketika datang menyergap. Ini pengalaman pertama untuknya. Dan Sava tak tahu apakah setelah ini dia akan kembali atau tidak. Dia sudah tak memiliki siapa pun lagi di tempat ini. Sepanjang perjalanan yang dilewatinya, Savana lebih banyak diam. Gadis itu terbuai dengan pemandangan yang baru pertama kali dia lihat. Sesekali, dia mengambil gambar dengan ponsel yang diberikan Bu Farida kepadanya. Sava memang benar-benar beruntung. Dia dikelilingi banyak orang yang begitu peduli dan sayang kepadanya. Salah satunya adalah Bu Farida. Mantan wali kelasnya itu telah begitu banyak membantu Savana. Termasuk ongkos yang dia gunakan untuk pergi mencari ibunya. Berulang kali dia sudah menolaknya. Namun, Bu Farida tetap berkeras membiayai tiket perjalanannya. Bahkan, wanita yang sudah seperti ibu kandungnya itu membelikan Savana ponsel baru. "Kamu membutuhkan HP, Va. Siapa tahu di kota kamu mengalami kesulitan, kamu bisa menghubungi ibu." Begitu bujuk Bu Farida saat Savana berkeras menolak pemberiannya. Tak ada yang bisa Sava lakukan selain mengucapkan terima kasih. Dia benar-benar bersyukur memiliki guru yang begitu menyayanginya. Mengingat itu, tanpa sadar sudut matanya sudah basah dan dia pun buru-buru mengusapnya. "Kamu sendirian, Nak?" Seorang pria paruh baya yang duduk di bangku sebelahnya, tiba-tiba mengagetkan Savana. "I--ya, Pak," jawabnya sambil berusaha tersenyum. Sava menutup ponselnya lalu memasukkan ke dalam tas. "Mau ke mana?" tanya pria itu lagi. "Ke Jakarta, Pak," balas Sava. Pria itu tersenyum. "Saya Rahmad. Kamu enggak lagi kabur dari rumah, tho?" ujarnya dengan tatapan penuh selidik. Savana menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Saya mau nyusul Ayah, Pak," terangnya kemudian. Mau tak mau dia terpaksa menceritakan tujuannya ke Jakarta. Sava tak ingin pria di sebelahnya itu berpikir yang tidak-tidak. "Jakarta itu luas, Nak. Kalo cuma modal alamat, itu namanya nekat. Apalagi kamu belum pernah tahu Jakarta. Terus kalo ayahmu ternyata enggak ketemu gimana?" Savana kembali menggaruk kepala mendengar ucapan Pak Rahmad. Pria itu benar. Savana memang belum pernah ke Jakarta. Dia sama sekali tidak mengetahui seluk-beluk Jakarta. Dia pasti akan kesulitan mencari ibunya seorang diri. Dan kali ini, Bu Farida lagi-lagi menjadi dewa penolong bagi Savana. Salah seorang anaknya ada yang tinggal di Jakarta. Dialah yang akan membantu Sava mencari ibunya. "Saya ada sodara di Jakarta, Pak." jawab Savana setengah berbohong. Dia melihat pria itu menatapnya penuh selidik. Entah apa yang ada di pikiran pria itu. Sava tak peduli. Dia ingin tidur. "Di mana Jakarta-nya?" Pria itu rupanya benar-benar penasaran. "Saya lupa. Cuma nanti saya dijemput di terminal. Maaf, Pak. Saya mau istirahat dulu." Tanpa menunggu jawaban pria itu, Savana memutar tubuhnya menghadap jendela. "Pria itu sudah terlalu banyak bicara," batinnya. Dia agak menyesal telah banyak bercerita kepada pria yang baru dia kenal. Hawa sejuk dari pendingin mobil membuat mata Sava berat. Dia akhirnya tertidur. Entah berapa lama dia terlelap. Sava tersentak saat seseorang tiba-tiba menyentuh bahunya. Savana celingukan melihat keadaan di sekitarnya yang sudah sepi. Di depannya sudah berdiri seorang pria bertubuh besar. "Sudah sampai Jakarta, Pak?" tanya Savana kepada lelaki itu. "Iya. Udah dari tadi. Kamu tidur kayak orang pingsan," balas pria itu. "Hah? Pak, tas saya mana?" tanya Savana saat menyadari tasnya sudah tak ada. "Tas opo?" Pria itu balik bertanya. Wajahnya tampak mulai panik. "Tas saya, Pak. Tas kecil, isinya dompet sama HP," "Sial!" maki Sava menyadari dirinya sudah kecopetan. Apa yang akan dia lakukan sekarang? Bagaimana dia bisa menghubungi anak Bu Farida? Savana mendengkus kesal menyadari kebodohannya. Kenapa dia bisa tidur sepulas itu? Jangan-jangan .... Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN