PERTOLONGAN

605 Kata
Sayup-sayup suara azan terdengar berkumandang dari kejauhan. Sava segera bangkit dari duduknya setelah beberapa saat sempat diliputi kegalauan. Dia tak boleh menyerah. Sava tidak akan kembali sebelum menemukan keberadaan ayahnya. "Mau ke mana kau?" tanya Bang Ucok. Seorang agen bus yang tadi telah menolongnya. "Saya mau salat Isya dulu, Bang," jawab Sava. Sejak kecil sang nenek mengajarkannya untuk selalu melakukan salat tepat waktu. Dan sampai sekarang, dia masih mengingat semua pesan neneknya. Apa yang terjadi saat ini, semua tak lepas dari kehendak dan kuasa Sang Maha Pencipta. Savana hanya perlu meminta kekuatan untuk bisa melewati semua ini. Tak ada satu ujian pun yang diberikan kepada hamba-Nya, melebihi kemampuan manusia itu sendiri. Sava pasti bisa. "Ya sudah, hati-hati. Nanti balik lagi ke sini," ujar pria bertubuh tambun itu. Savana menggangguk kemudian berpamitan pergi. Tak lupa dia membawa tas ransel miliknya yang masih tersisa. *** Sementara itu di sebuah sambungan telepon, sepasang ibu dan anak terlibat percakapan yang cukup serius. "HP-nya tidak aktif, Bu. Sekar berulang kali mencoba meneleponnya. Tapi hasilnya nihil." "Terus bagaimana ini, Nak? Ibu benar-benar khawatir dengan Sava. Dia sama sekali belum pernah ke Jakarta." "Sekar coba cari di terminal, Bu." "Iya, Nak. Tolong kamu cari dia. Dia anak yang baik. Ibu ...." "Ibu tenanglah. Sekar pasti akan menemukan Sava." Farida menutup teleponnya. Tak terasa air matanya mengalir membasahi pipi-pipinya yang mulai dipenuhi keriput. Sava adalah murid kesayangannya. Dia anak yang cerdas. Farida begitu menaruh harapan kepadanya. Sayang, hidup gadis itu tidak terlalu beruntung. Sejak kecil dia sudah tidak memiliki orang tua. Dan setelah kematian neneknya, gadis itu benar-benar sebatang kara. Farida kembali menangis. Dia menyesali keputusannya. Kenapa dia mengizinkan Savana pergi seorang diri? Sava mungkin anak yang cerdas. Namun, gadis itu masih sangat lugu. Farida benar-benar khawatir sesuatu yang buruk menimpa bekas muridnya itu. ****** "Sendirian, Nak?" Seorang wanita paruh baya menyapa Savana yang sedang duduk melamun. Sava pun tersentak. Perempuan yang terlihat sedang membereskan mukena, tersenyum ke arahnya. Tatapan matanya begitu teduh. "Iya, Bu," jawab Sava agak gugup. Dia lupa, setelah salat tadi belum mencopot mukenanya. "Mau ke mana? Sepertinya, kamu dari jauh?" tanya wanita itu lagi setelah melihat ransel besar yang ada di sebelah Savana. Gadis itu memandang wanita di depannya lekat-lekat. Apa mungkin, dia orang jahat? "Nak, kamu kenapa?" Suara lembut perempuan berkerudung biru itu membuat Sava tersentak. "Eeh, enggak kenapa-kenapa, Bu. Iya, saya dari Jawa. Saya ke Jakarta mau mencari ayah saya. Tapi, tas berisi HP dan dompet saya kecopetan. Saya bingung harus bagaimana." "Astagfirullah. Apa kamu tahu di mana alamat ibumu? Barangkali ibu bisa membantu." Sava tertunduk. Dia sempat mencatat alamat sang ibu di ponselnya. Namun, ponsel itu kini sudah hilang. Tunggu! Bukankah dia membawa surat peninggalan neneknya di dalam tas? Di sana sang nenek menuliskan alamat ayahya. "Sebentar, Bu," ucap Sava sambil membongkar ranselnya. Dia mengeluarkan sebuah amplop kecil, lalu membukanya. "Ini, Bu. Ayah saya tinggal di sini. Ini alamatnya," ujar Sava dengan suara bergetar. Sebelumnya, dia sempat merasa kebingungan. Namun, sepertinya ini petunjuk dari Allah. Wanita berparas ayu itu menerima kertas pemberian Savana. Dia membacanya sesaat lalu, "Alamat ini tidak terlalu jauh dari rumah ibu. Kalau mau ibu bisa mengantarmu." Bak oase di tengah padang pasir. Savana mengembuskan napas lega. Pertolongan Allah selalu datang di saat yang tepat. ***** "Ya, tadi ada anak perempuan yang bernama Sava. Dia dari Surakarta. Tapi dia kecopetan," ucap Bang Ucok pada wanita yang baru saja datang menemuinya. "Ke mana dia sekarang, Bang?" "Tadi itu, dia pamit mau salat. Entahlah. Aku sudah memintanya untuk kembali ke sini. Tapi, kenapa dia lama sekali?" Sekar menatap pria bertubuh besar yang berdiri di depannya. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Ke mana Savana? Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN