"Savana kecopetan, Bu. Dan sekarang dia enggak tahu ada di mana."
Lemas sudah persendian Farida mendengar berita yang disampaikan putrinya. Apa yang dia takutkan selama ini benar-benar terjadi. Di mana Sava sekarang? Dan bagaimana keadaannya?
"Bu! Ibu enggak kenapa-napa, kan?" tanya Sekar cemas.
Dia tahu sang ibu sangat menyayangi Savans. Beberapa kali, gadis itu menjadi topik pembicaraan ibunya di telepon. Namun, Sekar juga sekarang bingung. Ke mana dia harus mencari Sava di kota sebesar ini?
"Kamu secepatnya lapor polisi, Nak. Ibu benar-benar khawatir dengan Sava."
"Iya, Bu. Sekar akan mencarinya dulu. Percuma juga melapor sekarang. Polisi baru akan memproses laporannya setelah 1x24 jam."
"Pokoknya kamu harus menemukannya,, Nak."
"Iya, Bu. Sekar janji."
***
Sebuah mobil Toyota Avanza berwarna putih tampak melaju di sekitar Jalan Margonda Raya. Seorang pria berwajah tampan terlihat duduk di belakang kemudinya. Sementara dua wanita duduk di bangku penumpang.
"Sudah, Sava. Tidak usah khawatir. Sebentar lagi kamu bisa bertemu dengan ayah kandungmu," ucap wanita yang memakai gamis bunga-bunga berwarna biru. Dia tampak serasi dengan kerudung yang dikenakannya.
Mendengar ucapan wanita itu, sudut mata Sava pun basah. Dia benar-benar terharu. Entah apa yang akan terjadi kepadanya. Jika perempuan paruh baya bernama Bu Rosna itu tidak menolong Savana.
"Terima kasih, Bu. Saya tidak tahu bagaimana caranya membalas kebaikan Ibu," ucap Sava dengan suara bergetar.
"Sudahlah. Lupakan saja. Yang terpenting saat ini kamu bisa segera bertemu ayahmu." Wanita 56 tahun itu meraih pundak Sava, membiarkan gadis itu menumpahkan kesedihannya.
Kendaraan yang mereka tumpangi perlahan-lahan mengurangi kecepatannya saat memasuki sebuah kompleks perumahan.
"Kayaknya kita sudah sampai," ucap pria yang sejak tadi ada di belakang kemudi.
"Kamu yakin, Dan?" tanya Bu Rosna sambil menurunkan kaca mobilnya. Dia membaca plang yang ada di dekat pintu masuk.
"Kalau lihat alamatnya bener, Mam. Kita coba tanya ke satpam, ya?" ujar pria berkemeja putih itu.
Kemudian tanpa menunggu jawaban, dia turun dan menghampiri dua orang securiti yang sedang berjaga. Mereka tampak bercakap-cakap. Sesaat kemudian lelaki yang terlihat keren dengan rambut hitamnya yang di sisir rapi itu, sudah masuk kembali ke mobil.
"Gimana, Dan? Bener alamatnya di sini?" Bu Rosna memburunya dengan pertanyaan.
"Iya, Mam. Alamatnya benar di sini," jawabnya sambil melirik ke arah Savana yang sejak tadi duduk dengan gelisah.
Dandy baru mengenal gadis itu. Namun, entah kenapa ada perasaan yang aneh saat dia menatap mata perempuan itu. Ada debar-debar halus yang menyelisik relung hatinya.
"Ya sudah, ayo buruan kita antar Ayara. Kenapa kamu malah jadi bengong gitu, Dan?" ucap Bu Rosna menggoda putranya. Dia tahu, sejak tadi anak semata wayangnya itu tak henti menatap Savana.
Menyadari sang ibu menggodanya, Dandy segera memutar kemudi. Mereka kembali melanjutkan pencarian. Dan setelah beberapa kali bertanya, ketiganya tiba di sebuah rumah yang cukup besar.
"Kita sudah sampai," ucap Dandy seraya mematikan mesin mobilnya. Dia menunjuk sebuah rumah yang berdiri megah di hadapan mereka.
"Rumah ayahmu besar juga, ya, Va?" ujar Bu Rosna sambil menurunkan kaca mobilnya.
Sementara Sava diam terpaku di kursinya. Dia masih belum percaya jika rumah mewah itu adalah milik ayahnya. Sejak kecil dia tak pernah melihat sosok sang ayah. Sava juga tak pernah tahu apa pekerjaannya.
Jika benar rumah itu milik ayahnya, laki-laki itu sekarang pasti sudah sukses. Namun, kenapa selama ini dia tega membiarkan Sava hidup susah di kampung? Apakah dia sudah tak peduli kepada anaknya? Jika memang iya, benarkah keputusan Sava datang ke tempat ini?
.
"Coba kita tanya warga sekitar." Bu Rosna lantas turun dan menghampiri seorang warga yang sedang duduk di teras rumahnya. Sementara Sava dan Dendy mengikuti dari belakang.
***
Rumah itu memang milik Tedi, ayah Sava. Dag-dig-dug jantungnya memacu. Dia akan segera bertemu dengan ayah kandungnya yang telah belasan tahun menghilang.
Seorang wanita bertubuh padat keluar menyambut Sava dan rombongan. Bibir wanita itu mengerucut saat melihat sosok tamunya.
Sementara itu, Sava tak kalah terkejut. Siapa wanita yang tinggal bersama Ayah? Apa itu istrinya?
"Siapa, Mah?"
Suara bernada berat terdengar dari dalam. Pria bertubuh besar muncul dari dalam. Dia persis dengan foto yang ditinggalkan almarhum neneknya.
"Ayah?"
bersambung