Erick bisa bersikap biasa saja dengan senyuman ramah dan manis. Sintia masih dalam kebingungan dengan kejadian beberapa jam yang lalu di kamar hotelnya. Situasi yang panas dan menggairahkan terhenti begitu saja dan pria yang telah membuatnya hampir pada puncak kenikmatan dunia itu meninggalkan dirinya dalam siksa nafsu yang menggelora, terasa sangat kejam tetapi mampu dimaafkan keran Erick keluar dengan tangan luka. Elena tidak tahu apa-apa. Sekretarisnya tidak mengatakan apapun. Ia sangat ingin bertanya pada Excel, tetapi pria itu selalu meminta bayaran setiap pertanyaan yang diajukan. Pesawat mendarat di bandara internasional. Dua buah mobil mewah dari kediaman Excel telah menunggu di pintu keluar. “Erick, kamu bisa ikut dengankan dan sopir akan mengantarkan Sintia,’ ucap Excel menat

