Pagi hari yang cukup damai sebelum terdengar bel dari pintu kamar yang kedap suara membuat Excel bergerak untuk memeluk tubuh Elena yang masih tertidur. Pria itu mengeratkan pelukan dan tidak ingin melepaskan istrinya. Sesuatu di bawah sana butuh tekanan karena mulai bangun dan menginginkan kegiatan yang lebih dari sekedar pelukan. Elena membuka mata perlahan melihat gorden dan tirai putih telah terbuka secara otomatis karena pagi hampir terlewatkan begitu saja. Jam raksasa yang menempel didinding telah menujukkan pukul sepuluh. “Excel, ada yang membunyikan bel kamar.” Elena berusaha membuka tangan Excel yang melingkar di perutnya. “Aku masih mau tidur.” Excel membenamkan kepalanya di lekukan leher Elena. “Ya Tuhan.” Elena merasakan sesuatu seakan bergerak dan menyentuh bagian

