Selama perjalanan, hanya musik milik Ed-Sharen yang mengiringi kami didalam mobil. Raquel yang sibuk menyetir sedangkan aku hanya bisa menatap gedung-gedung dari jendela.
Bosan? Tentu saja aku bosan. Bermain ponsel didalam mobil bukanlah sesuatu yang kusenangi. Hal itu bisa membuatku sakit kepala.
Untuk membunuh rasa bosan itu, aku mulai menyanyi mengikuti lirik yang dinyanyikan oleh penyanyi aslinya.
Entah bagaimana suaraku, aku tidak peduli. Yang terpenting aku tidak mati kebosanan bersama Raquel. Apalagi perjalanan dari Jakarta ke Bandung yang memakan waktu cukup lama.
Satu lagu terselesaikan, saat hendak memasuki lagu kedua, Raquel sengaja mematikan audio dimobil itu.
“ Kenapa dimatikan?” tanyaku tidak suka.
“ Berisik.” jawabnya singkat.
“ Kalau tidak suka mendengarku nyanyi, makanya ajak aku berbincang.” sindirku.
“ Aku tidak suka banyak omong.”
“ Terus aku yang banyak omong?”
Sindiran Raquel memang selalu tepat sasaran. Tapi aku tidak suka dikatakan banyak omong. Menurutku, aku bukan lah perempuan seperti itu.
“ Diamlah. Aku sedang fokus menyetir.” ujarnya.
“ Aku bosan Raquel.” tekan ku sengaja menyebut nama pria itu agar ia mengerti.
Tapi, yang namanya lelaki memang sulit untuk mengerti. Malah Raquel hanya berdiam diri tanpa berniat untuk mengajak ku berbicara.
Dengan jahil, tanganku mulai menjalar ke pahanya. Aku merasakan Raquel tersentak, mungkin kaget atas perlakuanku yang terlalu lancang.
“ Hentikan Lexa.”
Panggilan pertama yang keluar dari mulut Raquel membuatku berhenti untuk menjahilinya. Aku hanya tertawa puas. Ternyata fyp t****k ku memang selalu benar yang mengatakan bahwa laki-laki akan merasakan sensasi berbeda saat pahanya diraba oleh wanita.
Tidak sia-sia aku belajar cara memikat laki-laki di aplikasi itu. Senyumku merekah kemudian menyandarkan diri di kursi mobil.
Mataku sedikit mengantuk, berada didalam mobil memang membuat siapa saja terasa gabut.
“ Lexa.”
Baru saja mataku akan terpejam, panggilan dari Raquel membuat ku menoleh kearahnya.
“ Ada apa?” tanyaku dengan posisi kepala yang masih tersender dikursi.
“ heum..”
Dahiku menyerngit, melihat Raquel yang ragu-ragu ingin mengatakan sesuatu. Apakah ada hal penting yang membuat pria itu ragu membicarakannya?
“ Kenapa?” tanyaku mendesak.
“ Eh-tidak jadi.”
Hal yang paling ku benci saat orang ingin mengatakan sesuatu tetapi malah tidak jadi mengatakannya.
Karena puncak kekesalan ku yang sudah meninggi, aku berdiri tegap dikursi mobil kemudian mencondongkan wajahku kearah Raquel.
Membuat pria itu kesulitan membawa mobil dan beberapa kali menghentikan ku.
“ Aku tidak peduli! Cepat katakan apa yang ingin kau katakan!” desakku.
“ckk… Lexa! Jauhkan dirimu dari ku. Kita bisa kecelakaan!”
“ Katakan dulu! Aku sudah terlanjur penasaran.”
“ Aku bilang tidak jadi kan. Mohon mengerti lah Lexa.” mohon Raquel tidak membuat ku berhenti mencondongkan badan kearahnya.
“ Fine! Aku akan mengatakannya, tapi duduklah dengan tenang.” ujar Raquel pasrah.
Aku tersenyum penuh kemenangan lalu memposisikan diri untuk duduk.
“ Apa?” tanyaku mengulang.
“ Menurutmu, arti pernikahan itu apa?” tanya nya membuat ku shock.
Yang benar saja Raquel bertanya seperti itu. Apakah pria ini akan melamarku? Sungguh aku belum siap. Tapi untuk apa ia bertanya tentang pernikahan kepadaku. Yang jelas-jelas aku belum menikah.
“ Menurutku…. arti pernikahan itu sah antara laki-laki dan perempuan.” ucapku asal.
“ ckk… aku sudah tau.”
“ Lah, terus untuk apa kau bertanya padaku kalau kau tau jawabanya” timpalku.
“ Maksud aku, pernikahan itu apakah harus punya anak?” tanya Raquel dengan sangat bodohnya.
Tanganku sungguh gatal, dengan sekali pukulan yang mendarat di pundak Raquel berhasil membuatnya meringis.
“ Kenapa kau memukulku?!” tanya nya tidak terima.
“ pertanyaanmu sungguh bodoh. Tentu saja didalam pernikahan harus ada keturunan. Kalau tidak ada keturunan untuk apa menikah. Jadi jomblo seumur hidup juga enak.” jelasku kesal.
Hari-hari bersama Raquel memang bisa membuat orang darah tinggi. Sifatnya yang menyebalkan tidak pantas di sandingkan dengan wajahnya yang tampan.
“ Tapi kalau didalam sebuah pernikahan, si wanita tidak bisa memberikan keturunan, bagaimana?” tanya Raquel lirih.
Aku menoleh kepada Raquel yang tengah menyetir. Berbagai pertanyaan tersimpan didalam otakku yang kecil.
“ Untuk apa kau bertanya tentang itu kepadaku?” tanyaku menyelidik.
“ Aku hanya penasaran dengan jawabanmu.”
“ Hanya itu?”
“ Ya. Tapi kalau kau mau memberiku keturunan, aku dengan sangat senang menerimanya.”
Brakkk
Tas kecil kesukaan ku mendarat sempurna diwajah Raquel yang tampan. Pria itu lagi-lagi meringis. Aku tidak peduli, ucapannya yang lancang sudah berhasil membuat rahim ku bergetar.
“ Kau sungguh wanita yang beringas Lexa.”
“ Aku tidak peduli.”
_____
Aku merenggangkan tanganku yang terasa pegal. Kemudian melemparkan semua bawaanku kesegala arah lalu merebahkan badanku diatas sigle bad ini.
Rasa empuk dan nyaman membuatku malas untuk menukar baju. Tapi saat badanku yang terasa gatal, aku memutuskan untuk membongkar koper yang sudah tergeletak diatas lantai kamar hotel.
Aku membongkar semua pakaian yang ku bawakan untuk mencari piyama yang sehari-hari ku kenakan.
Setelah mendapatkan apa yang ku cari, aku berjalan kekamar mandi kemudian membuka baju yang sedang ku pakai lalu menggantungnya.
Aku mulai memakai piyama, setelah itu melihat pantulan diriku di cermin. Tubuh ku yang terekspos sempurna karena piyama yang ku pakai adalah piyama semi bikini.
Aku memang senang memakainya, tapi kupakai saat berada didalam kamar dan hendak tidur. Menurutku pakaian seperti ini lebih nyaman dipakai ketika tidur, karena bahannya yang ringan dan bagian p******a yang terasa bebas.
Karena badan yang sudah terlanjur capek, aku memutuskan untuk tidur saja. Walaupun Raquel memintaku turun untuk makan malam.
Aku merebahkan kembali badanku. Perjalanan tadi benar-benar sangat lama karna macet. Alhasil kami baru sampai setelah magrib.
Duduk diatas mobil membuat b****g ku perih. Mungkin untukku ini adalah perjalanan terakhi kali. Aku tidak mau bepergian lagi, karena membuat badan ku terasa remuk seperti sekarang ini.
Aku meraih selimut putih yang terlipat rapi, lalu mengetatkannya ketubuh. Mataku mulai terpejam, rasa nyaman membuatku tidak tahan untuk berlama-lama membuka mata.
Baru saja akan sampai di dunia mimpi, bunyi deringan bel membuatku merutuki siapa saja orang yang mengganggu malam ku.
Langkah kaki ku hentakkan saat berjalan membuka pintu. Setelah pintu terbuka, Raquel dengan baju kasualnya melihatku dengan mata melotot.
Setelah menyadari bahwa aku hanya memakai piyama, dengan cepat ku tutup pintu hotel itu lalu mencari handuk dan memakainya ketubuhku. Kemudian kembali berjalan membuka pintu.