Aku Adalah Lukamu

1171 Kata
Malia tersenyum melihat Mentari membuka pintu rumah dengan wajah berseri-seri, semangat paginya memancar jelas. “Udah siap shopping?” tanyanya. Mentari mengangguk antusias. “Tapi Kak Malia harus sarapan dulu. Tadi Mas Lang juga udah sarapan sebelum ke bengkel. Aku bikin nasi goreng spesial,” ujarnya bangga. “Dan Kak Malia harus coba, karena ini kesukaannya Mas Lang.” “Wah, boleh tuh,” sahut Malia sambil tersenyum. Ia membiarkan Mentari menariknya ke ruang makan, tempat sepiring nasi goreng mengepul hangat, lengkap dengan telur ceplok mata sapi dan kerupuk renyah di atasnya. “Enak, kan, Kak?” tanya Mentari dengan mata berbinar saat Malia menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulutnya. Malia mengangguk sambil mengacungkan jempol. “Iya, beneran enak. Kamu belajar dari siapa?” tanyanya, tulus terkesan. “Dari Ibu,” jawab Mentari. “Waktu Ibu sakit, aku belajar masak. Tapi kata Mas Lang, yang enak cuma nasi goreng. Yang lain gagal,” tambahnya sambil tersenyum malu. Malia tak kuasa menahan tawa. “Ibu kamu pasti pintar masak.” Mentari mengangguk, sorot matanya berbinar oleh kenangan. “Ibu bisa bikin apa pun jadi enak. Dari yang paling sederhana sampai yang susah.” “Kamu pasti sering kangen?” tanya Malia lembut. “Banget,” jawab Mentari pelan. “Tapi sekarang kalau kangen, aku tinggal ke ruang tamu. Kemarin Mas Lang baru pasang lukisan keluarga kami di sana.” Ada kebanggaan halus dalam suaranya. “Oh ya? Kenapa baru dipasang sekarang?” Malia sedikit terkejut. “Mungkin sebelumnya Mas Lang masih trauma,” jawab Mentari polos. “Soalnya lukisan itu lukisan terakhir Ayah. Ayah kecelakaan waktu bawa lukisan itu.” Sendok Malia terlepas dari tangannya. Denting keras di atas piring memecah keheningan. Wajahnya memucat, darah seakan surut seketika. Ia menatap Mentari dengan perasaan bercampur—kaget, takut, dan sebuah kebenaran yang perlahan merayap naik ke permukaan. “Maksud kamu… Ayahmu kecelakaan saat membawa lukisan itu?” tanyanya tercekat. Mentari mengangguk, sama sekali tak menyadari badai yang menghantam Malia. “Iya, Kak. Waktu itu Ayah lagi pulang dari sanggar lukis malam-malam. Terus ada yang nabrak. Tapi orangnya kabur. Ayah jatuh dari motor, lukisannya sampai sobek. Tapi kemarin udah dibenerin sama Mas Lang.” Jantung Malia serasa berhenti berdetak. Napasnya tercekat, tubuhnya mendadak dingin. Tidak mungkin. “Apa… aku boleh lihat lukisan itu?” Suaranya bergetar hebat. Dengan semangat, Mentari berdiri. “Ayo, Kak! Aku tunjukin,” katanya, lalu berjalan lebih dulu ke ruang tamu—tak tahu bahwa di belakangnya, dunia seseorang sedang runtuh. Langkah Malia terasa berat, kakinya lemas. Dan saat pandangannya jatuh pada lukisan itu—potret keluarga bahagia dengan seorang pria tua berdiri gagah—segala sesuatu di sekelilingnya seolah lenyap. Dunia seolah runtuh. Tangannya gemetar saat menyentuh kanvas, meraba tekstur cat dan garis-garis yang terasa familiar. Wajah itu… wajah yang selama ini hadir dalam mimpi buruknya, menghantuinya dalam bayangan, kini nyata di depan mata. Jarinyanya menyusuri bekas sobekan yang samar—tepat di wajah Langit yang berdiri di sisi sang ayah. Seketika air matanya tumpah deras. Tubuhnya bergetar hebat, lututnya tak sanggup lagi menopang kenyataan. Ia terhuyung dan jatuh ke lantai. “Kak?! Kak Malia kenapa?!” teriak Mentari panik. …. Langit menutup ponselnya dengan wajah bingung. Ia menatap Mentari yang berdiri di depannya dengan mata penuh kecemasan. “Jadi Kak Malia kenapa, Mas?” tanya Mentari panik. Langit menggeleng pelan. “Kata Papanya… dia sakit lagi,” jawabnya ragu. “Sakit apa?” “Enggak jelas,” ucap Langit, menghela napas. “Tadi kejadiannya gimana sih? Masa cuma lihat lukisan langsung jatuh?” Mentari menggeleng, sama bingungnya. “Tadi kita lagi makan nasi goreng. Terus kita ngobrol-ngobrol, ngomongin Mas Langit... nasi goreng..." "De, bisa gak dipersingkatnya aja ceritanya?" Potong Langit, tak sabar. Mentari tersenyum. "Aku cerita kalau Mas Langit baru pasang lukisan keluarga di ruang tamu. Terus Kak Malia kepingin lihat lukisan itu. Habis itu dia tiba-tiba nangis dan jatuh. Dia minta dipanggilin supirnya, katanya mau pulang. Belanja ditunda dulu.” Langit mengernyit bingung. “Apa karena kecapekan?” gumamnya, mencoba masuk akal. “Bisa jadi,” sahut Mentari. “Kata Mas Lang sendiri kan, Kak Malia habis sakit gara-gara jalan-jalan.” Langit menghela napas panjang, lalu menjatuhkan diri ke kursi. Pasti begitu. Sakitnya kambuh karena kelelahan. Ia mengangguk pelan, meyakinkan dirinya sendiri. …. Malia membiarkan air matanya mengalir tanpa berusaha menghentikannya. Percuma. Ia tahu kali ini air mata itu tak akan berhenti. Dadanya bergetar hebat oleh isak. Harusnya dulu Langit tak menyelamatkannya. Harusnya ia mati saja. Untuk apa hidup kalau hanya untuk menerima karma seberat ini? Bagaimana kalau Langit tahu bahwa Mario yang menabrak ayahnya? Bahwa ia ada di dalam mobil itu, menyaksikan semuanya? Dan bahwa mereka meninggalkan Ayahnya sendirian di pinggir jalan? Malia tersedu, napasnya sesak. Ia tak sanggup lagi menanggung semua ini. Tangannya gemetar meraih laci nakas, mengambil botol obat. Kosong. Dengan frustrasi, ia melemparkannya ke sudut ruangan. “Malia?!” Suara itu begitu dekat. “Langit…?” gumamnya ketakutan. Langit sudah menerjang masuk dan langsung memeluknya erat. “Kamu kenapa?” tanyanya panik. Malia tak mampu menjawab. Ia hanya menangis di bahunya. “Kamu panas,” gumam Langit sambil menyentuh keningnya. “Sakit kamu kambuh lagi?” Malia mengangguk lemah. Tak sanggup mengatakan yang sebenarnya. “Aku antar ke dokter, ya?" Ia menggeleng. “Kamu kesakitan begini,” ujar Langit cemas, menghapus air matanya. “Aku… cuma butuh istirahat,” bisik Malia parau. “Apa kamu stres karena pertunangan kita?” tanya Langit ragu. Malia ingin menyangkal. Namun yang keluar justru anggukan. “Kamu mau kita tunda?” tanya Langit lembut. Malia kembali tak kuasa menjawab. Ia tak tahu harus berkata apa. Perasaannya berkecamuk antara ketakutan dan putus asa. Kini ia merasa Langit begitu jauh, begitu tak tersentuh oleh rahasia itu. Dia akan meninggalkannya sebentar lagi. Dia akan membencinya seumur hidupnya. Karena ia adalah lukanya, pedihnya, dan dendamnya selama ini. Bagaimana ia harus mengatakannya? Mengungkapkan kebenaran yang akan menghancurkan segalanya. Malia mengangkat wajahnya, menatap Langit dengan mata basah. Dengan hati hancur ia memberanikan diri menatapnya. "Apa kamu... benar-benar mencintaiku?" Lirihnya, suaranya gemetar “Kenapa nanya itu lagi?” Langit bingung. “Kamu enggak percaya?” Sinar hangat di mata Langit menusuk hatinya. Sinar yang akan padam saat kebenaran terungkap. Malia kembali terisak. “Hey…” Langit memeluknya erat. “Maaf. Mungkin ini terlalu cepat. Kamu kelelahan.” Ia mencium rambut Malia lembut, menenangkan. Malia memejamkan mata. Ia ingin tinggal di sini selamanya, dalam pelukan ini, dalam ilusi kebahagiaan ini. Jika ia harus mati, biarlah dalam pelukan Langit—lebih baik daripada menghadapi kebencian di matanya nanti. Ia tak akan sanggup melihat kedua mata itu kembali terluka. Mengapa Langit harus mencintainya sekarang? Mengapa tak membencinya saja seperti dulu? Itu akan lebih baik baginya. Harusnya ia tak pernah memaksa Langit untuk mencintainya. Harusnya ia menuruti kata Papa untuk meninggalkannya. Kini ia menyesali semuanya, menyesali setiap keputusan yang telah membawanya pada jurang kehancuran “Jangan nangis lagi,” bisik Langit. “Aku di sini.” Dan Langit tak pernah tahu, air mata yang ia hapus bukanlah air mata sakit, melainkan air mata kehancuran untuk Malia dan dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN