KHAWATIR

1040 Kata

KHAWATIR Sampai malam, Ismoyo enggan beranjak dari ranjang. Sang istri masih telaten memenuhi segala kebutuhannya. Berkali-kali ponsel lelaki itu berdering, tetapi pemiliknya tak peduli. Seruan Pemilik Hidup untuk menjalankan kewajiban juga diabaikan oleh lelaki itu. Yanti makin bertanya-tanya mengapa suaminya seperti itu dan sakit apa sebenarnya dia. "Ma, besok ikut aku nemui salah satu rekan yang bakal jadi partner usahamu," kata Ismoyo sebelum memejamkan mata malam ini. "Mas, beneran ngelakuin itu?" Yanti memiringkan badan, menghadap suaminya. "Beneran. Aku udah janji, 'kan. Tadi sore sebenarnya aku udah janjian sama dia. Cuma kepalaku pening banget. Jadi, mundur besok pagi aja," jelas Ismoyo, "maaf, di hari pertama kamu jadi istri, aku nggak bisa nemenin. Malah sekarang cuma bisa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN