Meskipun sudah bisa meraba maksud dari permintaan itu, Zohrah tetap tersenyum tenang. “Reyhan, kamu bagaimana, sih? Bukankah sejak awal saya sudah meminta kalian memanggil Zohrah saja. Kenapa sekarang masih bertanya lagi?” “Terima kasih. Kalau aku kamu?” tanya Reyhan dengan tatapan lebih dalam lagi. Zohrah terdiam lagi. Kali ini dia berusaha menghindari tatapan Reyhan dengan meneguk kopinya lagi. Padahal dalam hatinya mulai berdebar kencang. Reyhan sudah mulai berani menunjukkan perasaannya. Mungkin ajakan menikmati kopi di sini, telah disalah artikan oleh Reyhan. Reyhan mengira, jika dirinya masih ingin menikmati waktu berdua dengannya lebih lama. “Tidak ada kata saya atau Anda,” jelas Reyhan lagi. Zohrah menoleh pada Reyhan lagi dengan tersenyum. “Hmm, boleh saja. Tidak ada masalah

