Melodi melamun, menatap foto kedua putrinya sewaktu kecil. Rasanya baru kemarin tangannya dia gunakan untuk menyuapi Alena dan Aileen kecil. Tapi waktu beranjak begitu cepat. Sekarang kedua anaknya telah dewasa. Dan kini, masalah baru datang memperkeruh hubungan si kembar yang memang dari dulu tidak begitu akur dari hal sepele.
Helaan napas untuk kesekian kalinya dihembuskan Melodi dengan berat, tangannya mengelus bahu Aileen yang tengah tertidur sehabis minum vitamin penguat kandungan. Ya, Aileen positif hamil.
"Mama berharap yang terbaik untuk anak-anak Mama," lirih Melodi tak kuasa menahan sesak di dadanya.
Sebagai ibu, dia tidak ingin melihat anaknya membesarkan cucunya sendirian. Ditambah lagi mereka dari keluarga tersohor, berita seperti ini akan menjadi gosip hangat untuk para netizen. Dia tidak mungkin memberikan kebahagiaan kepada Aileen dengan mengorbankan kebahagiaan Alena.
Ditutupnya pelan pintu kamar Aileen, Melodi berjalan menuju kamar Alena untuk mengecek bagaimana kondisi putrinya yang lain. Disana terdapat Alena sedang berdiri menghadap langit malam dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Boleh mama masuk Sayang?" tanya Melodi membuat Alena menoleh dan mengangguk.
Melodi menghampiri Alena, mengelus rambut hitam Alena.
"Kakak sudah makan?" tanya Melodi dijawab anggukan singkat Alena. Rehan memaksanya makan meski makanan apapun terasa tidak enak di indera perasa milik Alena.
Melodi tersenyum, setidaknya Alena tidak selabil Aileen saat mempunyai masalah.
"Bagaimana hubunganmu dengan Marcuss, Sayang?" tanya Melodi penasaran.
"Hubungan apa yang Mama tanyakan? Aku memutuskan hubungan kami jika itu yang Mama tanyakan," jawab Alena memandang lurus langit malam yang gelap, segelap hatinya saat itu.
"Mama hanya ingin yang terbaik untuk kalian," lirih Melodi tidak bisa memihak di antara dua anaknya.
"Untuk Aileen Ma bukan untuk Alena," ucap Alena dengan tersenyum sinis.
"Ale, Aileen tengah mengandung. Tidak mungkin jika dia membesarkan bayinya seorang diri. Mama yakin dan percaya jika kamu bisa mengerti itu semua," jelas Melodi memberi pengertian Alena.
Anak Aileen akan menjadi olok-olokan orang jika dia lahir tanpa ayah berada di sisinya.
"Sejak Alena kecil, Alena tidak pernah merebut apapun dari Aileen. Tapi Aileen selalu saja ingin mengambil apa yang Alena punya, termasuk melakukan hal rendah untuk mendapatkan Marcuss!" teriak Alena tidak mampu menahan amarahnya.
Suara tamparan menggema memenuhi kamar Alena, Melodi tanpa sadar menampar Alena. Alena menyunggingkan senyum kesakitan yang tidak pernah dia tunjukkan sebelumnya.
"Alena tahu, Mama lebih menyayangi Aileen. Alena pamit, ada operasi malam ini bersama Grandpa Willy," pamit Alena berjalan meninggalkan Melodi yang terdiam merenungi kesalahannya karena sudah menampar Alena.
Terdengar pintu tertutup, baik Melodi maupun Alena sama-sama menangis di tempatnya masing-masing. Melodi menyesal atas tindakannya terhadap Alena. Wanita itu hanya ingin Alena memahami betapa sulitnya kini posisi Aileen.
"Maafkan Mama, Alena, maafkan Mama," isak Melodi menatap nanar pintu kamar yang telah tertutup.
.
Marcuss Sean, hari ini dia datang ke kediaman keluarga Wijaya untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya meskipun itu bukan salahnya. Rehan dan Melodi sudah menanti kedatangannya, Aileen dan Alena juga ada di sana. Berbeda dengan Aileen yang merekahkan senyumnya, hari ini Alena tidak menunjukkan wajah ramahnya kepada siapapun. Gadis itu sejak tadi diam seribu bahasa tanpa ekspresi apapun.
"Sudah mendapatkan keputusanmu Marcuss?" tanya Rehan tanpa basa-basi.
"Saya akan menikahi Aileen," jawab Marcuss dengan nada tenangnya, matanya lurus menatap Alena di tempatnya.
Mereka semua bernapas lega, termasuk Alena. Meskipun jawaban Marcuss jelas-jelas melukainya. Alena memejamkan matanya, mencoba membendung air mata yang kini hendak meluruh bersama kepercayaannya pada semua orang.
"Jawaban yang bagus, tenang saja untuk pernikahan biar keluarga kami yang urus," ucap Melodi menggebu-gebu.
"Tapi saya akan membawa Aileen tinggal di Inggris, saya punya proyek baru di sana," ucap Marcuss.
Rehan hanya mengangguk, kemanapun suami pergi bukankah istri harus mengikutinya dalam suka maupun duka.
Marcuss menatap Alena, ada sorot kerinduan di sana. Alena hanya memalingkan wajahnya acuh. Sebagai seorang dokter, Alena tahu Marcuss tidak bersalah. Rekaman cctv di hotel itupun menunjukkan Aileen sengaja melakukannya. Alena hanya tidak ingin membiarkan nama keluarga besar mereka rusak, dan Alena tidak akan membiarkan keponakannya hidup tanpa ayah. Ya kali ini dia harus berkorban lagi untuk Aileen.
"Selamat untukmu Aileen" ucap Alena tulus memeluk Aileen.
"Terimakasih Kakak," jawab Aileen tidak kalah tulusnya.
.
Alena berkunjung ke rumah keluarga Bellvaria, di sana ada sang Granpa Ozan dan juga Grandma Bella. Rasanya sudah lama sekali dia tidak mengunjungi rumah itu. Ozan dan Bella menyambut hangat kedatangan cucu mereka, meskipun bukan cucu kandung tapi Melodi sudah dia rawat layaknya Olivia.
"Papa sangat beruntung, bisa memacari Aunty Olivia. Aunty Oliv sangat cantik, melebihi Mama," kekeh Alena membuat kedua sesepuh itu tertawa.
"Papamu dulu sangat ganjen dengan Aunty Oliv, entahlah seberapa lama pacaran jika Allah tidak menakdirkan mereka berjodoh tidak akan bersatu," ucap Bella seketika membuat wajah Alena murung.
Benar, meskipun dia dan Marcuss berpacaran hingga bertahun-tahun tapi nyatanya mereka tidak bersatu.
"Alena sayang, jodoh maut dan rejeki itu Allah yang mengatur. Jika kamu tidak bersama Marcuss nantinya, itu tandanya kalian tidak berjodoh. Ikhlaskan saja dia, biarkan adikmu bersanding dengan Marcuss. Grandpa yakin, cucu Grandpa ini akan mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari Marcuss," ucap Ozan memeluk Alena dengan sayang.
Alena tersenyum, dia dan Marcuss pernah memimpikan satu atap yang sama. Kini semuanya sirna bersama hati Alena yang lara.
'Kunjungi aku sebagai kerabat terbaik, yang pernah memimpikan satu atap yang sama denganmu.'