Cemburu

2173 Kata
"Kamu kenapa May?" tiba-tiba Steffani sudah berada di depan pintu toilet. Sepertinya ia sengaja menyusulku ke toilet. karena aku tadi sangat buru-buru tidak bilang pada Steffani. "Tadi aku denger kamu muntah-muntah di dalam?" Steffani menelisik ke wajahku. "Ehm, gak pa-pa, cuma masuk angin biasa, Stef," jawabku berusaha tidak gugup. "Yakin May?" "Iya, Aku gapapa Fanney" "Mending kamu balik aja kalo gak kuat," usulnya. "Aku gak pa-pa kok, nanti aku beli minyak angin ke minimarket," ucapku berusaha meyakinkan dia. "Aku aja yang beli, kamu tunggu di pendopo" ucap Steffani. Dia sahabat yang paling bisa di andalkan, apa yang akan terjadi kalau sampai Ia tahu aku sedang hamil anak Bayu. "Thanks ya, Fanney. Kamu baik banget," kurangkul bahu dia dari samping dengan kedua tanganku. "Ck. Lebayyy deh!" ucapnya mencebik. 'Andai kamu tau apa yang sedang aku hadapi, Steff,' gumamku dalam hati. Steffani berlalu meninggalkanku ke minimarket seberang kampus. Aku menunggu Steffani di pendopo kampus, kucoba hubungi Bayu tapi tidak dibalas. Mungkin Ia masih ada kelas. "Kamu kenapa ninggalin kelas buru-buru, May?" Sebuah suara maskulin terdengar ketika aku sedang memejamkan mata menahan pusing. "Ansel?" "Muka Lo pucet banget, May. Lo sakit?" terlihat mimik khawatir dari wajah Ansel, pria ini memang pernah menyatakan perasaannya padaku. Tapi perasaannya tak kubalas karena aku sudah memiliki Arkana. Meskipun begitu, Ansel tetap suka meberikan perhatian kecil padaku. "Masuk angin biasa, Sel," jawabku tersenyum tipis, mana mungkin aku bilang kalau aku sedang mabuk hamil. Ansel duduk di sampingku, 'Duh lama banget nih Steffani. Kalau Arkana melihat Ansel hanya berdua denganku pasti dia marah,' "Nih!" akhirnya Steffani datang juga, ia menyodorkan minyak kayu putih. "Ko ini Fan, kayanya yang wangi bayi lebih enak deh," ucapku tanpa sadar sedikit kecewa. "Kan kamu masuk angin. Pake ini lah masa pake minyak telon. Aneh ih," entah mengapa aku ingin sekali menghirup aroma minyak telon bayi dibanding yang ini. Tapi daripada Steffani makin curiga aku pakai dulu saja, nanti aku minta Bayu membeli minyak telon di minimarket luar kampus. Merasa dicuekin, Ansel pergi begitu saja meninggalkanku dengan Steffani. Syukurlah, aku tidak mau melihat keributan di sini. "Kuat nggak May, ikut kelas Pak Donny?" "Kuat kok, udah lebih lega abis dikeluarin tadi," Notifikasi ponselku berbunyi, kuambil ponsel yang berada di dalam tas. [Aku baru keluar kelas, May. Aku lupa ngerjain tugas untuk kelas berikutnya. Jadi gak bisa ke sana. Ketemu nanti jam pulang aja yah] Pantas saja Arkana nggak bales pesanku, sepertinya Ia sibuk ngerjain tugasnya. [Oke, gak pa-pa Bay. Nanti aku kabarin kalau sudah selesai kelas] Aku melihat Ansel berlari-lari kecil hampir terpeleset ke arah Kami, refleks aku dan Steffani tertawa kecil melihatnya. "Oopss!" "Ini May," Ansel menyodorkan sesuatu ditangannya. "Minyak telon?" jadi tadi dia diam-diam pergi hanya untuk membeli minyak telon. Aku dan Steffani saling bertatapan. "Ehmm... Ada yang perhatian sampe hampir jatoh nih," Steffani menggoda Ansel, Ansel hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. "Makasih Sel, harusnya kamu nggak perlu repot-repot gini," ucapku menerima minyak telon dari Ansel. Bibir ini membentuk segaris senyum tipis. "Aku gak repot kok," Ia tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya yang berbaris rapi. Ansel tidak kalah tampan dengan Bayu, tapi hatiku biasa saja dengan semua perhatian Ansel. "Nggak sama Bayu, nggak sama Ansel berasa jadi obat nyamuk Gue," ujar Steffani mengibas-ngibaskan tangannya. "Hahaha.." Aku dan Ansel tertawa bersamaan. "Kamu cantik banget kalau tertawa lepas gitu," ucap Ansel di sela tertawanya. Ucapannya sukses membuat wajahku merona. Meskipun tidak ada rasa tetap saja malu kalau di puji pria lain. "Uhuk... uhuk... uhuk...." Steffani sengaja batuk dengan keras mendengar pujian Ansel untukku. "Modus terosss sampe gumoh," "Apa sih, Fanney!" ku dorong pelan bahu Steffani karena tidak berhenti menggoda Ansel. "Sel, Lo nggak ada niatan gitu buat cari pacar? padahal temennya Maya nggak kalah cantik loh," ucap Steffani menaik turunkan alisnya. Steffani memang cantik, tubuhnya sedikit lebih berisi dibanding aku sebelum hamil. Dia juga belum punya pacar lagi setelah putus ditinggal nikah kakak tingkat kami. Ansel tertawa menanggapi guyonan Maya, "Selama masih pacaran, masih bisa diharapkan Stef," ucap Ansel, tawanya hilang berganti senyuman penuh arti. "Ehm, bentar lagi kelas Pak Donny, mending kita masuk kelas." ajakku mengalihkan perhatian. Mereka setuju, kami pun berjalan menuju kelas berikutnya. Sebelum masuk kelas ku balurkan minyak telon di perut dan leherku. Rasanya sangat fresh sekali. "Wangi bayi, aku suka," Ansel mengedipkan matanya dari kursi sebelahku yang Ia duduki. Mataku mengerjap mendengar pujian Ansel. Kutanggapi ucapannya dengan cebikan saja karena aku tidak ingin memberi harapan palsu. Mungkin perasaan Ansel akan berubah jika dia tahu aku sedang hamil anak Bayu. Kulirik dari ekor mataku Ansel masih menatapku instens padahal Pak Donny sudah masuk kelas. "Ansel, coba kamu jelaskan arti dari render?" tiba-tiba saja Pak Donny memberikan pertanyaan pada Ansel, tapi Ansel masih belum sadar. "Ansel," panggil Pak Donny, tapi Ansel masih terus fokus menatapku. Coba saja bisa kucolok matanya itu biar tidak terus menatapku. Kukedipkan mata pada Ansel memberitahu kalau ia sedang dipanggil. Bukannya sadar, ia malah senyum-senyum menanggapiku. Aku memutar bola mata malas, 'Astaga, Ansel. Bodo amat lah, siapa suruh nggak perhatiin' "Ansel!" tiga kali panggilan Ansel tidak bergeming, hingga akhirnya Dandy melempar sebuah kertas menyadarkan lamunan Ansel. "Eh, gimana Pak?" tanya Ansel kikuk. "Coba kamu jelaskan arti dari kata Render?" "Emmm, Render ya Pak?" Ansel memejamkan mata tanda. Cukup lama Ansel terdiam, entah apa yang ia pikirkan. "An..." panggilan Pak Donny berbarengan dengan suara Ansel menjawab pertanyaan Pak Donny. "Render adalah proses mengedit dan menambahkan tekstur, pencahayaan, dan lain sebagainya pada 3D modelling sehingga menjadi wujud yang lebih realistis menggunakan bantuan software. 3D modelling yang dirender tampil lebih nyata bagai potret langsung bangunan ketika sudah jadi" Pak Donny manggut-manggut mendengar jawaban Ansel. "Ya bagus itu, tapi kamu jangan perhatiin Maya terus ada waktunya untuk itu, Bapak tau kamu masih belum mau kalah sama Bayu, tapi kamu harus tetap fokus," Astaga, jawaban Pak Donny kenapa harus membawa-bawa namaku dan Bayu. Kuambil buku untuk menutupi wajah. "Ciyeee!!!" seluruh kelas menyoraki Ansel beramai-ramai, Ansel yang di soraki aku yang malu. Rasanya ingin tenggelam saja ke dalam lautan terdalam kalau gini. Bayu terlihat menunggu di pendopo jurusan. Ia menimang-nimang kunci mobilnya. "Ada macannya nih, gagal modus deh," ucap Dandy cukup keras. Gulungan kertas mendarat di kepalanya sempurna. Ansel yang menggetoknya. "Gue duluan ya May, Bye!" Ansel mengedipkan sebelah matanya padaku berpamitan padaku. Aku tidak menjawabnya hanya membalas senyuman Ansel. "Duluan, Ar" ucap Ansel memanggil Bayu dengan panggilan akrab mereka, Ansel menepuk pundaknya pelan. Mereka dulu satu SMA jadi mereka sudah kenal lama. Bayu tidak tahu kalau Ansel pernah menembakku, yang dia tau Ansel menyukaiku saja. "Oke, Bro," Bayu memberikan jempolnya pada Ansel. "Gimana hari ini?" tanya Bayu. "Gimana apanya?" tanyaku balik. "Ya kuliah kamu, Sayang!" jawab Bayu gemas. "Baik cuma tadi aku mual sedikit, keluar kelas. Steffani hampir aja curiga," Bayu menarik nafas pelan. Ia mengusap pucuk kepalaku. "Maaf ya, May," Aku menarik sudut bibirku, rasanya tak nyaman harus membahas kehamilanku di kampus. Lebih baik aku kembali ke rumah saja. Steffani tidak tahu kalau aku sudah pindah kostan. Untung saja dia jarang ke kostanku, lebih sering aku yang main ke rumahnya. "Pulang aja, yuk! Aku cape banget Bay, mau rebahan aja," ajakku pada Bayu. "Aku anter kamu pulang ya, rencana hari ini aku mau pulang ke kostanku dulu. Mau ambil sesuatu" "Oke," Dalam perjalanan ku merasakan mual yang sangat mengganggu. Rasanya tidak cukup hanya dengan dibalur minyak telon saja. "Kamu kenapa Sayang?" "Mual Bay," Bayu memijit kepalaku pelan. "Gapapa Bay, kamu fokus nyetir aja biar cepet sampe," Bayu menarik pedal gas dalam supaya cepat sampe di rumah sewa kami. Dia memapahku turun dari mobil sampai ke kamar. "Pasti pusing banget ya May, aku bikinin teh ya," Bayu meninggalkanku di kamar sendiri untuk membuat teh hangat. Sedang berbaring di kamar ponsel Bayu tiba-tiba berbunyi. Kulirik sekilas ponsel yang berada di atas meja. Homey memanggil. Sepertinya telpon dari rumahnya. Aku tidak berani mengangkat telpon takut orang tua Bayu salah paham. "Ini sayang, kamu minum," "Makasih, barusan telpon kamu bunyi. Panggilan dari rumah," aku memegang mug yang terasa hangat dan menyeruput pelan teh buatan Bayu. Bayu meraih telpon kemudian terlihat menelpon balik rumah. "Ya, Mah," [Kamu sehat Nak? Kok akhir-akhir ini jarang wasap Mama?] Bayu sengaja meloudspeaker ponselnya. "Bayu sehat kok, nanti liburan Bayu main ke sana bareng Maya," Bayu meraih tangan kananku menggenggamnya erat. [Kata Riko kamu nggak ngekost di Pak Rauf lagi?] "Kata siapa? Bayu masih ngekost di sana Kok, cuma emang jarang ditidurin lebih sering nginep di kostan Dandy," Bayu sedang berbohong pada Mamanya. Seandainya Mamanya tau Bayu tinggal bersamaku entah apa yang ada dalam pikiran mereka. [Ya sudah, kamu harus bisa jaga diri kamu, jangan apa-apain anak orang,] "Iya Mama Sayang, Bayu bakal jaga diri kok. Bye Mah, Bayu kebelet nih," ucap Bayu langsung mematikan ponselnya. "Aku takut Mama nggak nerima aku sebagai menantu, Bay." "Percaya sama aku, Mama pasti bakal nurutin kemauan aku" "Semoga, Bay," Liburan semester telah tiba, Aku sudah mengurus izin cutiku. Papa Mamaku sendiri belum tau masalah ini. Aku masih terlalu takut mengakuinya. Perutku? Tentu saja semakin buncit, walau tidak terlalu keliatan karena aku menutupinya dengan baju longgar. Hari ini Bayu berencana mengajakku ke dokter kandungan. Semenjak hamil aku belum pernah memeriksakan kandunganku ke dokter. Jujur saja, aku masih mengharapkan janin ini gugur dengan sendirinya. Katakan aku ibu yang kejam, tapi seperti itulah nyatanya. Aku masih belum siap. "Ibu Maya Emerald Thahir!" Namaku dipanggil suster berarti sekarang giliranku konsultasi ke dokter. Sengaja kami memilih klinik umum biasa, karena kalau di rumah sakit nama Arkana Bayu Hartawan pasti sudah banyak yang kenal. Dokter Santi, SPog mengoleskan Gel di atas perutku dan memakaikan sarung karet plastik ke alat USG. Alat itu menari-nari di atas perutku. Berhenti setelah terpampang gambar seorang bakal bayi di rahimku. Aku melihat gambar Bayi yang masih sangat kecil, Aku jatuh cinta begitu melihatnya. Dia tidak bersalah, Kamilah yang bersalah sebagai orangtua. Mereka tidak minta hadir di dalam rahim ini. Lantas mengapa Aku berpikir menghilangkan dirinya dalam hidupku. "Gimana kandungan istri saya, Dok?" "Kandungannya sehat, Pak. Usia kandungannya sekarang 13 minggu ya, detak jantungnya sudah terdengar cuma sepertinya terlalu cepat, Ibunya jangan stress yah! Gapapa namanya Ibu muda wajar kalau masih takut," Mata Bayu tampak berbinar begitu melihat sosok bakal bayi dalam perutku. "Kembali lagi bulan depan ya, Bu, kalau sekarang masih belum kelihatan jenis kelaminnya," Dokter itu tersenyum ramah pada Kami. Ia menuliskan resep di atas kertas dan memberikannya padaku. "Ini saya resepkan vitamin ya sama penguat kandungan, silakan tebus resepnya di apotik," "Baik, makasih Dok!" "Sama-sama" Kami memutuskan untuk makan di rumah makan sebelum kembali ke rumah. "Aku belum siap, Bay. Gimana kalau Kita gugurkan saja kandungan ini?" ucapku ketika sampai di rumah makan. Hatiku masih terus berubah-ubah. Kadang senang kadang aku ingin membuang dia saja. "Gi la kamu May, kenapa sekarang malah kamu yang menolak Dia" "Aku takut Bay, takut keluargamu dan keluargaku tidak mau menerima anak ini," Aku membuang muka dari tatapan tajam Bayu, Aku jatuh cinta pada bayi ini tapi rasanya tidak tega kalau kehadirannya ditolak keluarga ayah dan ibunya. "Denger May, dengan atau tanpa restu. Aku akan tanggung jawab," Akankah Bayu menepati janjinya, Aku terombang ambing saat ini. Apakah sudah tepat keputusanku mempertahankan bayi ini. Arkana meletakan sendoknya di atas piring, Ia menyeruput lemon tea yang Ia pesan. "Arkana... Kamu Arkana Bayu kan?" seorang wanita cantik dan modis menghampiri kami. Bayu mengernyitkan dahinya. "Siapa ya?" "Ya ampun, aku Aurelie mantan kamu waktu SMP kamu di Bali. Masa lupa?" dengan antusias wanita itu duduk di samping Arkana tidak menghiraukan keberadaanku. Aku sedikit membanting sendok di atas piring begitu makanan yang kupesan sudah tandas. Bayu dan wanita tadi melihat ke arahku. Kurang a jar sekali dia, seenaknya berhaha hihi di depanku. Dia pikir aku hanya mannequeen saja asyik berbicara dengan Bayu tanpa memedulikan keberadaanku. "Kau mengganggu waktu kami, Nona!" ucapku pelan tapi penuh tekanan pada wanita itu. Ia memindai tubuhku dari atas hingga bawah, tatapannya sangat meremehkan. Aku tidak suka orang memandangku seperti sekarang. "Selera Lo sekarang cuma segini aja Bay, Gue kira putus dari Gue Lo bakal dapet yang lebih cantik dari Gue. Ternyata," Ia berkata meremehkan penampilanku. Rasanya ingin kumasukan ke dalam mulutnya sambal yang berada di atas meja. Tanganku meraih sambal yang berada di piring kecil, entah keberanian darimana sambel itu sekarang berada di dalam mulut wanita itu. "Gimana? Pedeskan? Hah? Gue rasa masih lebih pedes omongan Lo ketimbang sambel ini. Oh ya satu hal, Lo pikir Lo cantik banget dengan dandanan Lo yang super norak itu, rambut merah, tanktop merah muda, celana kurang bahan. Lo ga sadar banyak cetakan koin di kaki burik Lo. Huh?" semua kata-kata kasar meluncur dari mulutku, sementara wanita itu berusaha melepaskan piring cabai yang masih kujejalkan ke mulutnya. "Lhepp phhasss... Ahkana ...tohlonggg!" Ia berusaha meminta pertolongan pada Bayu, tapi Bayu hanya terpaku melihat keganasan kekasihnya saat ini. Ini pertama kalinya aku berlaku bar-bar. Ada kepuasan sendiri saat cabai se tan level 10 itu masuk ke dalam mulutnya. "Huhh hahhh, Bahhh yuuu.. Toh long!!!" Tenagaku jauh lebih kuat di banding tenaganya. Ia tidak bisa melepaskan tanganku dari mulutnya. "Gimana? hah? Masih belom kapok juga?" "Maya, Mayyy, Mayyaa, cukup," Arkana berusaha menarik tanganku dari mulutnya tapi entah mengapa Ia seolah tidak memiliki tenaga untuk melawanku. "May, Mayaaa,"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN