"Aduuuuh pegel banget sih." Aku menggerakkan badanku ke kiri dan ke kanan, sesekali membenarkan jilbab yang kupakai. Pandanganku tidak lagi pada iris hitam memabukkan milik Rivan, tapi pada objek lain. Secara perlahan, tubuhku beringsut duduk, aku menekan-nekan dadaku yang sedang bergemuruh hebat. Tenang Rita, tenang... "Ekhem, ekhem.." Aku tahu itu suara Rivan yang sedang berdehem. Aku bisa mendengar suaranya karena suasana bus yang sepi. Ku perhatikan yang terjaga hanya aku dan dia saja. Dan jantungku semakin melompat-lompat, seakan ingin keluar dari tempatnya, hanya dengan mendengar suara itu. Inilah sebabnya aku suka ilmu Cardiology. Karena aku jadi tahu, kapan jantungku harus berdetak seperti ini. ? Jreng.. Jreng.. "Ku tuliskan kenangan tentang Caraku menemukan dirimu Tentang apa

