Setelah makan malam dan aku juga sudah membantu Budhe mencuci piring, aku memilih duduk sendiri di depan perapian. Sebenarnya fungsi perapian ini juga digunakan sebagai kompor untuk memasak, tapi berhubung tidak ada yang bisa ku masak, ya hanya sebagai penghangat saja. Karena hanya tempat ini satu-satunya yang bisa menghangatkan tubuhku selain pelukan seseorang sih. Ups.. "Hai cewek sendirian aja." Kepalaku menghadap ke sumber suara, dan ternyata itu Sandi. Dia langsung duduk di sampingku. "Gue nggak sendirian, tapi berdua." Sandi menatapku bingung, mungkin saja ia mengira bahwa aku ini indigo. Alias bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat orang lain. Tapi kenyataannya aku tidak mempunyai bakat itu. "Sama bayangan maksud gue, nggak usah ngeri gitu dong." "Hahaha, receh banget gue gitu

