"Dinda kamu pernah jatuh cinta nggak?" Tanyaku pada Dinda. Aku telah sampai di kostan ku satu jam yang lalu.
Dinda yang sedang mengerjakan tugas di laptop menatapku nanar, "kenapa kamu tiba-tiba nanya gitu?" Tanyanya balik.
"Ya aku penasaran aja, orang kayak kamu itu pernah nggak suka sama laki-laki." Jawabku. Dan Dinda malah tertawa. Memangnya salah yah aku bertanya seperti itu?
"Gini-gini juga aku kan perempuan normal Rita, pastilah aku pernah jatuh cinta."
"Kamu pernah—"
"Mencintai dan dicintai itu kan fitrahnya manusia. Islam juga agama fitrah, oleh karena itu islam tidaklah membelenggu perasaan manusia. Islam tidak mengingkari perasaan yang tumbuh pada diri seorang manusia. Islam mengajarkan agar cinta itu di jaga, dan di rawat dari hal-hal yang dapat mengotorinya."
"Terus waktu kamu jatuh cinta apa yang kamu lakukan Din?" Tanyaku penasaran.
"Aku serahkan semuanya pada Allah. Kalau jodoh juga nggak akan kemana." Jawaban Dinda sontak membuat aku tertohok. Berbeda sekali denganku yang selama ini berusaha mendekati orang yang ku cintai itu.
"Dia siapa Din?" Aku menatapnya penasaran. Siapa sih orang yang bisa buat Dinda jatuh cinta? Secara kan Dinda alim banget plus tipe-tipe istri idaman gitu.
"Dia teman SMAku, mantan ketua rohis."
Wuiiih tuhkan benar, pasti tipe-tipe kayak Dinda gitu yang shaleh lah.
"Memang kamu lagi jatuh cinta sama siapa sih Rita?" Tanya Dinda sambil menunjukkan senyum menggodanya.
"Enggak! Ada deh."
"Curang ih! Tadi aku aja sudah cerita ke kamu."
Aku terkekeh melihay wajah cemberut Dinda. "Sebenernya sih aku masih bingung sama perasaanku sendiri. Apa aku jatuh cinta atau memang sekedar suka aja."
"Iya.. Tapi orangnya siapa?" Tanya Dinda, kentara sekali ia begitu penasaran.
"Namanya Rivan, anak arsitektur." Jawabku lirih.
"Anak UB juga?" Aku mengangguk. "Itu sih Sandi mau kamu kemanain?"
Aku bergidik ngeri saat Dinda menyebut nama itu. Sandi adalah teman satu kelasku yang saat ini sedang berusaha untuk mendekatiku. Secara fisik, tampangnya memang lumayan. Tapi yang aku dengar, dia itu playboy cap teri. Cowok seperti itu sih mending ke laut aja deh.
"Ish apaan sih Dinda!" Aku melemparnya dengan bantal kecil diatas kasur, "makasih lho, kamu udah jerumusin aku ke playboy kayak dia."
"Ya siapa tahu aja kalau sama kamu dia berubah." Dinda tersenyum jahil.
"Ogah!!"
****
Sebelum maghrib aku dan Dinda sangat senang jalan-jalan sore di sekitar kostanku untuk sekedar menghapus penat. Melewati rumah-rumah penduduk sekitar, dan menampilkan senyum saat berpapasan dengan ibu-ibu yang lewat atau yang sedang menyapu halaman. Hitung-hitung bersedekah, karena senyum itu termasuk sedekah.
"Rit, makan bakso yuk." Dinda menunjuk sebuah kedai bakso. "Katanya bakso disini terkenal enak."
Pandanganku beralih kearah apa yang Dinda tunjuk, tidak heran bakso disini terkenal enak. Terlihat dari antrian panjang para pembeli.
"Ayo Rit.." Dinda menarik tanganku. Mau tak mau aku mengikutinya saja.
"Kamu saja yang mesan Din. Aku malas ngantri." Kataku setelah memasuki kedai.
"Okelah kalo begitu." Kata Dinda dengan semangatnya.
"Aku bakwaannya dua Din." Kataku sedikit berteriak, karena Dinda sudah berjalan menuju antrian panjang.
Aku melihat jam di ponselku, sudah jam 5 sore. Bisa-bisa nanti sampai rumah lewat maghrib. Aku melihat ke arah Dinda, dia sedang berdiri di antrian yang masih lumayan panjang.
Aha! Terlintas sebuah ide di otakku. Aku menghampiri penjual bakso yang ternyata berumur separuh baya itu. "Pak de saya pesan bakso dua mangkuk." Aku sengaja mengelus perutku sendiri, dan menggigit bibir bawahku. "Tapi maunya sekarang, saya nggak bisa berdiri lama."
"Oalaaaah.. Lagi ngidam toh Mbak'e. Sebentar tak buatin."
Aku menahan tawaku, ternyata Pak de penjual bakso itu mengira kalau aku lagi hamil.
"Bojone ngendi? Kok pesen sendiri?" Kata Pak de saat memasukkan bawang goreng ke mangkuk. Aku tidak paham beliau bertanya apa, setahuku ngendi itu artinya "dimana". Ah mungkin saja beliau bertanya "temannya dimana".
"Disana.." Aku menunjuk asal. Yang penting aku menunjuk sebuah deretan bangku disana.
"Sing setunggal bakwan'e kalih yo Pak de." (Yang satu bakwaannya dua ya Pak de).
"Enggeh." (Ya).
Aku menerima dua mangkuk berisikan bakso. Air liurku seakan ingin keluar saat aroma bakso menguar ke indra penciumanku. Perutku yang tidak terasa lapar, mendadak ingin segera diisi. Pantas saja kan kalau antriannya begitu panjang, tidak salah mereka membeli bakso disini.
Aku melihat ke arah antrian, meneliti satu persatu orang disana. Tapi aku tidak melihat sosok Dinda diantara garis panjang itu. Kemana anak itu?"
Akhirnya karena tanganku ini terasa panas, aku langsung menuju ke kursi. Kedai ini begitu penuh, hanya ada beberapa kursi yang kosong. Tapi tunggu, sepertinya aku melihat seseorang yang tidak asing buatku. Dia sedang memakan bakso dengan lahapnya. Dan sepertinya dia tidak sadar saat aku mulai duduk dihadapannya.
"Hai..." Sapaku. Aku langsung menaruh dua mangkuk bakso yang kupegang di ataa meja.
"Ngapain lo?" Tanyanya galak.
"Makan bakso lah, lo kira nonton bioskop apa?"
Rivan memperhatikanku, maksudku memperhatikan mangkuk yang ku bawa. Dia mungkin heran aku membawa mangkuk dua buah.
"Permisi.." Pak de yang tadi melayani bakso datang, membawa dua gelas berisi es teh manis. "Iki toh bojone Mbak'e." Kata Pakde.
"Enggeh Pakde." Aku tersenyum kaku ke arahnya. Lagi-lagi Pakde membahas masalah bojo. Aku kan belum begitu hapal kosa kata bahasa Jawa.
"Uhuk.. Uhukk.." Rivan terbatuk. Ia langsung menyeruput es tehnya.
"Piye toh Mas'e. Wong bojone lagi ngidam kok disuruh pesan sendiri."
"Uhuk..uhuk.." Rivan semakin terbatuk. Aku langsung menepuk-nepuk punggungnya Rivan. Sementara ku lihat Pakde itu sudah pergi meninggalkan kami.
"Pelan-pelan makannya, gue nggak minta!" Aku menginterupsi.
"Ini tuh gara-gara lo! Lo bohong kan ke Pakde kalau lo lagi hamil?"
Aku menyengir sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal. "Gue ngga maksud bohong kok, Pakdenya aja yang salah paham." Aku melihat Dinda, yang sudah terlihat lagi di antrian. "Dindaaaaa.." Untung saja ada Dinda, jadi aku bisa mengalihkan pembicaraan.
Dinda menghampiri kami, maksudku menghampiri aku. Ia terlihat bingung melihat ada dua mangkuk bakso yang sudah tersedia. Sebelum dia bertanya aku langsung menyuruhnya duduk disampingku.
"Udah makan aja. Kamu ngga usah repot-repot ngantri." Aku memasang senyum polos, Dinda langung memakannya meski wajahnya masih terlihat bingung.
"Oh iya Din, kenalin dia Rivan. Temanku." Kataku pada Dinda setelah Rivan menyelesaikan makannya.
"Sejak kapan gue temenan sama lo?" Rivan menatapku tajam, kemudian pandangannya beralih pada Dinda. "Gue Rivan, bukan temennya Nurita."
Dinda terkekeh, pasti itu anak sedang menahan tawa. "Aku Dinda." Katanya pada Rivan. Dinda langsung melihat ke arahku. "Oh jadi ini yang namanya Rivan ya Rit. Rita sering cerita tentang kam-phh." Aku langsung membungkam mulut Dinda. Tak akan aku biarkan mulutnya itu membocorkan semua rahasiaku.
"Jangan didengerin ya Van, Dinda tuh suka menghayal banget. Aww." Aku meringis kesakitan saat kakiku diinjak oleh Dinda. Tanganku seger terlepas dari mulutnya.
Rivan melihat kami bingung, dia mengendikkan bahunya dan langsung berlalu pergi. Anak itu memang seperti jelangkung. Datang tak dijemput pulang tidak diantar. Sikapnya juga sering berubah-ubah. Aku tidak pernah bisa menebak isi kepalanya itu.
"Dinda.."
"Ehm?"
"Bojo artinya apa sih?"
"Bisa berarti suami atau istri. Tergantung. Memangnya kenapa?"
Aku menggelengkan kepala. Berarti tadi Pakde mengira kalau aku ini istrinya Rivan. Pantas saja tadi Rivan jadi terbatuk-batuk, sepertinya Rivan memang tau artinya. Yippiiii. Bojone Rivan? Aamiin ya Allah..