Thanks Van

1534 Kata
Aku membaca istighfar, ayat kursi serta ayat-ayat yang ku hapal berkali-kali. Semoga dengan cara itu setan-setan di dirinya Sandi pada keluar, sehingga dia tidak terus-terusan menggangguku. Saat ini Sandi tengah duduk di hadapanku sambil menumpukan wajahnya di kedua tangan. Pandangannya tidak beralih dariku sama sekali. Aku yang di lihat seperti itu merasa risih. Kenapa sih harus satu kelas dengan orang macam dia? Kenapa juga ngga sekelas sama Rivan. Rivan kan arsitektur Rita.. Bisik hatiku yang lain. "Lo kemasukkan apa sih, San? Ngeliatin gue sampai segitunya?" Sandi tersenyum, senyum yang ia buat-buat. Membuatku bergidik ngeri dan perutku terasa mulas dibuatnya. "Kemasukkan cintanya lo?" Plastik mana sih plastik? Aku mau muntah. "Mending lo belajar deh San. Hari ini kita kan mau kuis." Aku berusah mencari-cari alasan agar ia pergi. "Gue udah pinter, kalo ada yang lo nggak ngerti bisa tanya ke gue." Katanya dengan jumawa. Memang harus ku akui dia pintar, dari keluarga dokter lagi. Tapi sikapnya yang sering berganti perempuanlah yang aku tidak suka. "Kenapa sih lo begini ke gue?" Tanyaku. Aku sudah jengah, bukan sekali ini saja dia seperti itu. "Lo cantik banget sih Rit." Jawabnya dengan santai. "Pikirin tuh Susi, Rani, sama Cindy." Aku menyebutkan semua pacar-pacarnya. Semoga saja ia bisa berhenti menggangguku. "Gue bakal putusin mereka kok, kalo lo jadi pacar gue." Ujarnya dengan mengerlingkan sebelah mata. "Kalo lo rela mutusin mereka demi gue, gue nggak yakin kalau lo nggak akan mutusin gue demi cewek yang lebih dari gue nanti." "Gue akan pertahanin lo sampai kita nikah nanti, Rita." Yaampun ini orang.. Minta di cekik banget! "Gue udah punya pacar." Ups.. Aku keceplosan. Kalimat itu keluar begitu saja dari mulutku. Sandi menatapku, ia memperhatikan wajahku dengan lekat. Aku yakin ia sedang meneliti apakah aku sedang berbohong atau tidak. "Siapa namanya?" "Rivan.. Ya ya Rivan.." Aduh pakai bawa nama Rivan lagi. Matilah aku. "Rita! Katanya kamu nggak pacaran sama Rivan?" Dinda berteriak, duh Dinda... "Tuhkan lo bohongin gue." "Gue nggak boh—" "Woy dr. Kasum dateng!" Kata ketua kelasku. Sontak Sandi langsung pindah ke tempatnya semula. Begitupun dengan teman-temanku yang lain. **** Sebagai jomblo, terlebih aku sedang berada di kota lain, malam minggu aku hanya di rumah saja. Sendirian. Dinda sedang mengikuti kajian rutin tiap minggu di masjid dekat kampus. Aku sempat diajak olehnya, namun aku menolak. Karena aku sedang haid, jadi bawaannya mager kemana-mana. Biasanya kalau di Jakarta, aku pasti mengajak Papa dan Mama Qila jalan. Minimal ke mall Ciputra lah. Atau menonton drakor dengan Mama Qila memakai home theater. Lihatlah, belum juga satu bulan aku kembali ke sini, tapi aku sudah merindukan mereka. Sabar Rita, sabar lo pasti bisa! Aku membuka handphone pintarku, membuka aplikasi line, i********:, w******p, path, twitter, bahkan f*******: sekalipun, tapi tak ada pemberitahuan sama sekali. Ini handphone apa kuburan ya, sepi gini. Iseng, aku membuka i********:. Mengetik nama Rivan di mesin pencarian. Beberapa detik kemudian muncul nama itu paling atas. Aku langsung mengkliknya. Hihi ternyata dia punya i********: juga. Followersnya tak begitu banyak seperti followersku. Dia juga hanya memposting 5 foto. Foto terbarunya ia sedang berada di gunung, dari locationnya tertulis gunung Prau. Sepertinya aku pernah tahu tempat itu, tapi dimana ya? Foto kedua, ketiga dan keempat berisi bangunan yang menampilkan arsitektur dari Eropa. Dan foto kelima barulah foto dirinya, itupun diambil dari samping. Dilihat dari samping saja ia tetap menawan. Kapan sih itu orang tidak pernah ganteng? Ya Allah.. Aku beralih dari i********: ke line milik Rivan. Iseng, aku pingin mengirimkan sesuatu padanya. Semoga kali ini dibalas. Semoga. Nurita: Malem, Ji Chang Wook Malem minggu nih, yang ldr mah sabar-sabar aje ye :p Send. Line. Satu pemberitahuan masuk. Cepat juga dia balasnya. Sandi: Hai cantik, lg apa? Aku mendengus napas kecewa, ku kira itu balasan dari Rivan. Ternyata oh ternyata kenyataan tak seindah ekspektasi. Bojoku: Malem lah, siapa bilang siang! Yes Rivan balas juga. Yippiiiii. Nurita: Lagi apa? Nggak lagi pacaran dong ya? Kan ldr :p Send. Karena aku senang Rivan membalas chat dariku, aku juga balas chat dari Sandi. Nurita: lg chat sama pacar. Send ke Sandi. Line Line Sandi: gue ke kostan lo deh, biar nggak lewat chat pacarannya. Sandi: aku tresno karo kowe. Mataku membulat saat membaca balasan dari Sandi. Dia salah mengira ternyata. Tapi aku bingung dengan kalimat yang terakhir ia kirim. Aku tidak tahu apa artinya. Nurita: Van artinya aku tresno karo kowe apa? Akhirnya aku bertanya pada Rivan. Satu-satunya orang yang bisa ditanya hanya dia. Karena Dinda sedang tidak ada di sini. Bojoku: Aku suka kamu. Apa? Rivan suka sama aku? Ini nggak mimpi kan? Ya allah.. Aku sampai loncat-loncat ketika membaca balasan dari Rivan. Nurita: Lo suka sama gue Van? Dari kapan? Aku memegang dadaku sendiri yang saat ini berdetak sangat cepat. Saat ini aku seperti orang gila yang senyum-senyum sendiri saat membaca chatnya. Bojoku calling... Rivan nelpon? Pasti dia mau ngungkapin perasaannya deh. Aku berdehem, untuk menetralkan suaraku. Ehm.. Ehm.. "Halo..." Sebisa mungkin aku membuat suara agar terdengar tenang. Padahal sebenarnya jantungku ini sudah melompat-lompat ingin keluar dari tempatnya. "Gue mau klarifikasi biar lo nggak salah paham. Tadi kan lo nanya artinya aku tresno karo kowe. Gue jawab itu artinya aku suka kamu." Aku terduduk lesu di atas ranjang. "Jadi bukan lo yang suka sama gue." "Mana mungkin lah." Kok jleb banget sih? Aku menunduk untuk melihat ke dadaku. Siapa tahu di dadaku tertancap pedang Goblin yang membuatku sakit seperti ini. Dan ternyata yang membuat hatiku terasa tertusuk pedang itu adalah perkataan Rivan. "Lo suka cewek yang gimana Van?" "Yang nggak jorok." Itu aku banget. Lihatlah kamarku sekarang, kinclong dong. "Yang nggak bawel dan pecicilan." Itu juga aku banget, secara kan aku ini pemalu. Alias suka malu-maluin. "Yang nggak genit." Aku banget juga. Aku itu kan genitnya cuma sama dia doang. Nggak sama yang lain. "Yang hidungnya mancung, kayak keturunan arab gitu." Gubrak!! Keturunan Arab? Aku aja mukanya Indonesia banget ini. "Yah Van cintailah produk dalam negeri. Sepatu Cibaduyut aja bisa bersaing dengan sepatu dari luar negeri." "Terserah lo dah Rit." "Nggak papa deh kalo kita nggak jodoh, yang penting gue udah berjuang." "Ya ya ya.. Lo tau dari mana kata aku tresno karo kowe?" "Rita ada yang nyari lo nih." Ku dengar Febria berteriak, aku langsung menyambar jilbabku dan menghampirinya yang sedang berada di depan kamarku. "Bentar Van," aku menjauhkan handphoneku dari telinga. "Siapa Peb?" Febria mengendikkan bahu, "nggak tau Rit. Tapi sih cowok." "Makasih ya Peb." Febria mengacungkan ibu jarinya dan langsung memasuki kamar. "Van lo nggak main ke kostan gue kan?" Kataku pada Rivan lewat telpon. "Enggak. Gue aja nggak tahu kostan lo dimana." Kalau bukan Rivan terus siapa dong? "Sandi! Ngapain lo kesini?" Ternyata yang datang Sandi. Ia tengah duduk di kursi taman depan kostanku. Karena kostanku ini kostan putri, jadi dilarang untuk memasuki laki-laki ke dalam. Kalau ada tamu laki-laki harus menunggu di halaman atau si taman kost. "Siapa Rit?" Tanya Rivan. "Yang ngasih kalimat aku tresno karo kowe Van." Ujarku pada Rivan dengan setengah berbisik. "Gue udah kesini kan? Jadinya kita nggak usah pacaran lewat chat." Kata Sandi sambil menampilkan senyum manisnya. Sebenarnya kalau dilihat-lihat Sandi termasuk tampan, tapi ketampanannya itu ia salah pergunakan untuk menghancurkan hati wanita. "Lo salah paham San, pacar yang gue maksud bukan lo." Sandi terpaku, namun itu hanya sebentar. Ia langsung berjalan ke arahku. "Sandi lo mau apa?" Tanyaku takut. Jarak kami terlalu dekat. Kalau saja satu langkah lagi Sandi maju, maka tubuhku bisa saja menabrak tubuhnya. "Rita lo kenapa?" Ternyata Rivan masih tersambung. "Lo pasti bohong kan kalau lo punya pacar?" Tanya Sandi. Ia menatapku tajam. "Gu.. Gue nggak bohong." Jawabku gemetar. Aku takut jika di tatap seperti itu. "Halo Rita, Rita... Lo bisa denger gue kan? Sekarang lo kasih handphone lo ke dia. Sekarang juga!" Aku mengulurkan satu tangan yang memegang handphone, awalnya Sandi terlihat ragu menerima handphone itu. Namun ia tetap menerimanya juga. Sandi membalikkan badannya saat menerima telpon dari Rivan. Aku tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan sekarang. Tapi aku sempat melirik tangannya yang mengepal kuat hingga otot tangannya sampai keluar. "Sorry gue udah ganggu kalian. Gue permisi pulang." Katanya sambil menyerahkan handphoneku lagi. Sandi membalikkan badan dan berjalan menuju pagar kostan tanpa melihatku lagi. Aku sedikit lega juga bingung. Apa yang Rivan katakan pada Sandi hingga biaa membuat Sandi tidak berdaya seperti itu? "Dia udah pulang Rit?" Aku mengangguk, meski Rivan tidak bisa melihatnya. "Nurita.. Lo masih hidup kan?" "Sembarangan lo! Jadi lo berharap gue mati? Hah! Biar nggak ada yang gangguin lo gitu?" Hening. Rivan tak bicara apa-apa. "Van.." "Hm?" "Thanks ya." Ucapku dengan tulus padanya. Dia sudah membantuku haru ini. "Nope. Makanya jadi cewek tuh jangan genit. Di genitin baru tau rasa kan lo!" "Ih gue kan genitnya cuma sama lo." Aku tak terima dibilang genit. Enak saja! "Ahaha.. Yaudah sana masuk kamar. Lo masih diluar kan?" "Ih tuh kan lo yang genit. Mau ngapain lo ngajak gue masuk kamar?" "Hahaha." Rivan tertawa diseberang sana. "Otak lo aja tuh yang ngeres, kebanyakan nonton Korea sih. Masuk kamar kostan lo, biar nggak masuk angin." "Oh... Gue kira... Sekali lagi thanks banget ya." "Hm." "Jangan lupa mimpiin gue ya Van." Tut.. Tut.. Tut.. Sambungan terputus. Aku tersenyum melihat layar handphoneku. Sesuatu banget hari ini. Kalau kata Raisa sih ku tak harus memilikimu tapi bolehkah ku selalu di dekatmu~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN