With You

2099 Kata
"Ups sorry.." Aku merasakan seseorang menyenggol bahuku, dan ku lihat ternyata itu Sandi. Kenapa tuh orang? Tidak biasanya ia bersikap seperti itu. Tadi juga ketika kami sekelompok di tugas anatomi, ia lebih pendiam. What's wrong with him? "Sandi tunggu." Aku memanggilnya, ia langsung berbalik menghadap ke arahku. "Lo kenapa berubah jadi dingin gitu sih?" Jujur, aku tidak bermaksud untuk membuatnya seperti itu. Maksudku aku pingin kita berteman, tidak seperti orang musuhan seperti ini. "Gue emang playboy ya Rit, tapi gue nggak mau ngerebut calon istri orang." Kata Sandi dengan wajah murung. "Calon istri? Memangnya semalam Rivan ngomong apa?" Tanyaku penasaran. Seorang Sandi bisa takluk dengan Rivan? Huah Daebak! "Ya gitu lah." Sandi mengendikkan bahunya, "dia bilang lo bukan pacarnya dia, tapi lo itu calon istrinya dia." Masa sih Rivan bicara begitu? "Sandi gue minta maaf. Tapi kita bisa temenan kok." Aku tersenyum kearahnya. Dan tak ku sangka Sandi ikut tersenyum. Sepertinya hatinya sudah lebih baik. "Gue pulang duluan ya." Pamit Sandi, aku segera mengangguk. "Rita! Ada yang nyari lo nih." Ulfah teman sekelasku berteriak. Gadis yang suka dengan warna pink itu mendekatiku yang masih berdiri di bangku belakang. "Siapa fah?" "Gue nggak tau, mukanya asing gitu. Kayaknya sih bukan dari fakultas ini." Kata Ulfah. "Oke matur suwun yo." (Terima kasih ya) Aku menepuk pundaknya yang berbalut baju berwarna pink. Dari atas sampai bawah apa yang ia pakai berwarna senada. Membuat ia di juluki pinky lovers. Padahal aku sebagai temannya sudah memberikan ia saran agar ia mencoba warna lain seperti kuning, hijau, merah atau biru. Namun di tolaknya. Maksudku kan agar hidupnya lebih berwarna gitu, tidak melulu pink. Tapi biar bagaimanapun itu lah pilihannya. Seperti pilihanku yang menyukai......... "Rivan? Ngapain lo kesini." Mataku terbelalak saat melihat Rivan berada di depan kelasku. "Lo nggak ada jam lagi kan?" Dia balik bertanya. Aku melihat jam yang tertera di layar handphoneku, sudah jam 4 itu berarti sudah tidak ada jam mata kuliah. Aku menggeleng, "bagus kalau gitu. Ikut gue." Rivan berjalan begitu saja meninggalkanku. "Rivan tungguin kita mau kemana?" Aku setengah berlari untuk menyamakan langkah, dan "aw.. Aw aw.." Aku memegang keningku saat menabraknya. Badannya keras banget. "Kita udah telat gara-gara nunggu lo. Eh yang ditunggu malah asyik pedekate sama cowok." Maksudnya? "Lo cemburu ya gue ngobrol sama Sandi?" Aku memainkan jari telunjuk ke depan wajahnya untuk menggoda. "Oh jadi itu yang namanya Sandi. Yang godain lo semalem!" "Iyak. Tapi lo tenang aja kok, sekarang kita temenan doang. Nggak lebih suwer deh." "Yaudah, ayo cepet!" Rivan langsung berbalik dan berjalan ke tempat yang ia maksud. Langkah kakinya panjang-panjang membuatku kesulitan untuk mengimbanginya. Aku hanya bisa melihat punggungnya yang membawa tabung berwarna hitam. Dilihat dari punggung saja orang ganteng mah tetap terlihat ganteng. "Kalo lo belum shalat, mending shalat dulu." Kata Rivan sambil melepas sepatunya. "Gue lagi haid." "Haid terus perasaan. Bisa-bisaan lo aja kali yak." Dih ini orang nggak percaya banget. "Yaudah kalo lo nggak percaya pegang aja nih, pasti ada tebel-tebelnya gitu." Rivan langsung terpaku, gerakannnya berhenti sejenak dan menatapku. Ups. Kayaknya aku salah ngomong deh. "Ritaaaaa sini!" Aku melihat ke sumber suara. Ternyata Puspita yang memanggilku sambil melambaikan tangan. Aku balas melambaikan tangan kearahnya. "Gue langsung ke sana." Ku buka sepatuku asal. Setelah ini aku harus berterima kasih pada Pita karena telah menyelamatkanku dari Rivan. "Pita gue kangen ih." Bisikku padanya. Tidak enak kalau sampai terdengar yang lain, karena Anwar sedang berbicara. "Lebay ih," aku terkekeh mendengar bisikan Pita. Kami—Jakarta Tangerang Squad sedang berkumpul di gazebo kampus utama untuk membicarakan liburan akhir semester ini. Untuk tempatnya masih dibicarakan lagi, dan harus mendapat persetujuan dari yang lain. Aku melirik Rivan yang berada di seberangku. Dia duduk di samping Anwar. Sesekali aku mencuri pandang ke arahnya, ketika ia juga menatapku, aku berusaha mengalihkan pandangan ke arah lain. Hihi malu kan kalau sampai ketahuan. Ternyata setelah melalui rapat panjang —melebihi rapat pleno pemilihan Presiden, destinasi tempat yaitu Wonosobo, Jawa Tengah. "Untuk meminimalisir dana ada yang punya link nggak nih, minimal buat kita menginap disana." Kata Anwar pada peserta rapat. Aku mengangkat tanganku untuk menginterupsi, "gue punya temen orang asli sana. Kebetulan dia sekamar sama gue. Nanti coba gue loby dia, siapa tau aja boleh." Huah, aku bernapas lega. Semua mata menatap kearahku, termasuk Rivan. "Naaah, ide bagus tuh Rita." Aku mengangguk, pandanganku beralih pada Rivan yang tengah berbisik pada Anwar. Sesekali dia melirikku sambil tersenyum. Apa yang sedang dia rencanakan ya? "Oke, untuk masalah tanggal kabarnya menyusul. Karena hari terakhir UAS kan dari setiap fakultas berbeda. Apalagi dari fakultas kedokteran, setelah UAS harus mengikuti pengabdian masyarakat. Bukan begitu Rita?" Aku mengangguk dan tersenyum pada Anwar. Kok dia bisa tahu? "Terima kasih atas waktunya. Tetep cek grup ya. Wassalamu'alaikum." Anwar menutup rapatnya. Sebagian yang lain ada yang langsung pulang, sebagian lagi mengobrol terlebih dahulu disini. Termasuk aku yang mengobrol dengan Pita. "Lo pingin ikut Rit?" Tanya Pita. Hanya ada beberapa orang yang masih tersisa disini. "Gue sih pingin ikut, tapi nggak tau deh dibolehin atau nggak sama Papa." Papa itukan posesif banget, apalagi di rundown tadi ada acara naik gunung. Pasti Papa melarang aku terlebih dahulu bahkan sebelum aku bilang sekalipun. "Ih Rita lo mah nggak asik banget deh." "Papa gue posesif banget pit. Kecuali sih ada yang izinin ke Papa, baru boleh." "Ehm, kalian lagi ngobrol ya?" Anwar datang dan pembicaraan kami terhenti. "Mau pulang sekarang nggak Pit?" Tanya Anwar pada Pita. Aku melihat Pita yang tengah tersenyum malu-malu. Oalah, ternyata mereka lagi pedekate toh. "Gue pulang duluan ya Rit, lo pulang bareng Rivan aja tuh." Aku melotot ke arah Pita, karenanya Rivan jadi melihat kearahku. "Hati-hati lo." Pita melambaikan tangannya padaku dan langsung berlalu pergi dengan Anwar. Adzan maghrib berkumandang, langit sudah semakin gelap. Biasanya setelah maghrib aku tidak pernah keluar kost kecuali kalau ada urusan yang urgent. "Lo pulang sendiri." Tiba-tiba Rivan sudah berada disampingku. Aku menganggu dan menjawab "iya." "Oh yaudah hati-hati." Katanya. Ku kira dia pingin menawarkan dirinya mengantarku pulang. Ternyata oh ternyata... Aku berjalan dengan lesu, jaraknya memang tidak begitu jauh untuk sampai di kostanku. Tapi aku takut kalau ditengah jalan ada yang menggangguku. Aku bukannya takut sama setan, tapi zaman sekarang bahkan ada manusia yang melebihi setan. Contohnya saja banyak pembunuhan dimana-dimana. Setan saja tidak sampai membunuh, hanya menakut-nakuti. Lah manusia? Kalau sudah seperti itu namanya apa dong? Zaman sekarang sepertinya nyawa manusia tidak ada harganya sama sekali. Dendam sedikit, bunuh. Cemburu sedikit, bunuh. Kurang uang bukannya kerja, merampok bahkan sampai membunuh. Ya Allah, aku hidup di zaman apa ini? "Nurita tunggu!" Rivan memanggilku saat aku sudah berjalan sekitar 5 langkah. "Ada apa Van?" Tanyaku lesu. Aku harus cepat sampai kostan sebelum hari semakin gelap. "Hm..." Dia menggaruk tengkuknya sendiri, gelagatnya aneh tidak seperti biasanya. "Lo bisa tunggu gue sebentar nggak? Gue mau shalat maghrib dulu, habis itu gue anter lo ke kostan." Kedua sudut bibirku tertarik sempurna. "Hah serius Van?" Dia mengangguk. Kemudian menggelung lengan kemejanya sampai siku dan pergi meninggalkanku yang masih excited. "Rivan tungguin!!" Aku mengejarnya yang berjalan ke masjid. "Gue nggak bawa motor ke Malang, jadinya kita jalan kaki aja ya." Katanya setelah keluar dari masjid. Ia duduk di sampingku tapi dengan jarak yang lumayan jauh untuk memakai sepatunya. Mungkin saja sepatunya itu bau terasi jadi dia jauh-jauh gitu. Haha. "Iya nggak papa." Mau naik motor ataupun jalan kaki asal bersama dia aku senang banget kok. Aku bangkit dari duduk bersamaan dengannya. Kami—caelah, maksudku aku dan Rivan mulai berjalan melewati rumah-rumah penduduk. "Lo tau nggak Rit katanya disitu kan ada...." Rivan menggantung kalimatnya. Ia menunjuk sebuah pohon besar yang cukup tua. "Ada apa Van?" Tanyaku penasaran. Rivan melipat kedua tangannya di perut, kemudian ia melompat-lompat. "Pocong." Bisiknya. "Ih Rivan!" Aku memukul lengannya. Kali ini bukannya modus atau apa ya, ini nyata. Bulu kudukku merinding. Asal kalian tau, sampai saat ini aku tidak pernah tidur memakai bantal guling. You know lah bantal guling itu bentuknya seperti apa. Aku berjalan cepat di depannya. Kesal sekali aku dibuat takut seperti itu. Lebih baik dia tidak usah mengantarku, dari pada buatku seperti ini. Paling besok ada berita kalau ada mahasiswi cantik yang dibegal. Eh tapi jangan deh, amit-amit jabang bayi. "Haha takut ya?" Rivan tersenyum mengejek. Untung saja dia ganteng, kalau tidak mungkin sudah aku lempar pakai sendalku. "Bodo!" Aku merengut kesal. "Maaf deh." Katanya sambil menangkupkan kedua tangannya di d**a. Maafin dia nggak nih? "Iyak!" Tuh kan gampang banget sih luluhnya. Ish. "Gue juga mau minta maaf sama lo, karena buat lo nangis waktu itu." Buat aku nangis? Kapan? Oh iya, pasti waktu aku datang ke acara pernikahan kakaknya itu. "Kalau itu sih lo nggak sepenuhnya salah Van. Gue memang bukan anak kandungnya Papa Raihan." "Gue nggak bermaksud buat—" "Nggak papa." Aku memotong ucapannya. Rivan terdiam. Lama kami saling diam. "Lo ikut acara kan?" Tanyanya. Thanks Van, nggak bahas masalah itu lagi. "Gue nggak tau kalau itu. Papa nggak akan izinin kayaknya." Ketika masa SMA aku pernah izin ke Papa untuk hiking, tapi Papa langsung menolaknya. Padahal aku pingin sekali kayak orang-orang yang bisa sampai puncak gunung. Aku ingin merasakan indahnya alam ciptaan Allah, bukan hanya buatan manusia saja seperti mall. "Mau gue bantu izinin?" "Hah?" "Ya siapa tahu aja kan lo jadi diizinin, sekalian juga buat sponsorin acara kita." "Jadi lo manfaatin gue buat dapet sponsor gitu ya?" "Hahaha." Rivan tertawa, baru kali ini aku melihatnya tertawa seperti itu sampai gigi gerahamnya terlihat. Ini sungguh pemandangan yang luar biasa, kakiku rasanya terlalu lemas untuk melihat semua ini. Dadaku juga bergemuruh hebat, sumpah. Aku nggak kuat, kamera mana sih? "Yang nggak tau lo pasti nyangkanya tuh lo pendiem deh. Nggak pecicilan kayak gini." Rivan membuka lagi percakapan. "Ih memang gue pendiem sih. Tipe-tipe introvert gitulah. Pemalu. Tapi lebih sering malu-maluin." "Hahaha." Lagi-lagi dia tertawa. Ish. "Kalau gue jadi pecicilan gini itu tandanya gue udah nyaman sama lingkungan gue. Kayak gue nyaman sama lo." Rivan terdiam, aku menggigit bibir bawahku sendiri. Sepertinya aku salah ngomong lagi deh. "Lo punya i********: nggak Van?" Aku pura-pura tidak tahu kalau ia mempunyai i********:, bisa bahaya kalau sampai dia tahu aku pernah stalk ignya. "Punya, tapi jarang dibuka." Akhirnyaaa aku bisa mencairkan suasana lagi. "Follow gue dong." Rivan merogoh sakunya, dan mengeluarkan handphone canggihnya padaku. "Gimana bukanya nih?" Tubuh Rivan mendekat, ibu jarinya ia dekatkan ke tombol yang ada di handphone. Saat-saat seperti ini yang buat aku harus menahan napas. Akhirnya handphone canggihnya terbuka, ku lihat wallpapernya sudah tidak lagi bersama Mai. Melainkan wallpaper bawaan dari handphone. Apa mereka sudah putus ya? Aku langsung membuka aplikasi i********: dan mengetik uname ku sendiri, setelah muncul dibagian paling atas, aku mengkliknya. Selanjutnya aku mengklik tulisan follow pada layar. Yes! "Nih udah," aku mengembalikan handphonenya lagi. "Nanti gue follback kok tapi di kostan. Baterai gue low." Tanpa terasa kami telah sampai di depan kostanku. Kalau sama Rivan waktu terasa berjalan begitu cepat. Padahal aku ingin sekali berlama-lama dengannya. "Sorry ya Van lo nggak boleh masuk, ini kostan cewek soalnya." "Iya nggak papa. Sana masuk." Rivan menggerakkan tangannya memberi isyarat agar aku masuk kostan. "Thanks ya. Hati-hati lo." Tangan kananku terangkat dan mengayun ke kiri dan ke kanan. Rivan tersenyum, dan balas melambaikan tangannya juga. Satu tangannya berada di saku celana. Kemudian ia berbalik dan berjalan. Aku baru memasuki kostan ketika ia hilang di tikungan jalan. Aku membuka pintu utama, dan disana ada Febria dan juga Winda yang sedang menonton televisi. Sesekali Febria membuka majalah yang ada di tangannya. "Ekhem.. Ekhem.." Winda berdehem. "Malam.. Winda Pepeb." Sapaku pada mereka. "Eh ada Rita." Pepeb bersuara. "Ekhem.. Ekhem.. Peb kok tenggorokkan gue mendadak gatel gini ya." Kata Winda pada Pepeb. "Ekhem.. Iya nih gue juga Win." "Gue masuk kamar duluan ya." Pamitku pada mereka. Ketika memasuki kamar, Dinda sedang membaca buku di meja belajar. "Kok baru pulang Rit?" Tanya Dinda. "Iyak, ada rapat tadi." Jawabku. Aku langsung mencharger handphoneku sebelum pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat sudah bersih-bersih, aku langsung merebahkan diri di ranjang. Aku membuka akun i********: untuk memfollback Rivan. Aku iseng membuka siapa saja yang Rivan ikuti. Dan satu nama berhasil membuatku penasaran, akun itu adalah milik Rumaisha. Aku membukanya, dan tak lama muncul beberapa postingannya yang cantik luar biasa. Jujur harus ku akui, aku saja yang perempuan terpesona. Apalagi laki-laki yang melihatnya. Aku coba memfollow juga aku itu. Karena tidak ada yang harus ku lakukan lagi, iseng aku ingin memposting sesuatu. Satu foto jatuh pada saat aku mengantarkan Papa Raihan pergi kondangan. Aku ingat, saat itu aku sedang berada di mobil Papa.  Halalin adek Bang :) Haha maafkanlah para followers ku yang harus melihat penampakkan seperti itu. Saat mengambil foto itu aku sedang kesal dengan Papa karena mengganggu weekendku. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN