Joa berhenti mondar-mandir ketika pintu kamar berderit terbuka. Dia melangkah maju dengan harapan tinggi, mengira Markus akan muncul. Tapi saat melihat seorang pelayan perempuan dengan nampan di tangannya, harapannya seketika runtuh. Wajah Joa mengeras, dan sorot matanya yang tadi dipenuhi antisipasi kini berubah dingin.
“Makanan untuk Anda, Nona,” ujar pelayan itu sopan, membuka penutup nampan dengan gerakan halus. Aroma makanan yang menguar memenuhi ruangan, tetapi Joa tidak bergerak sedikit pun.
“Aku tidak meminta makanan,” kata Joa tegas, suaranya rendah namun menusuk.
“Ini perintah Tuan Markus,” jawab pelayan itu, tetap berdiri tenang, meski tatapan Joa yang tajam mulai membuatnya tidak nyaman.
Joa tertawa kecil, namun tawa itu lebih terdengar getir daripada lucu. “Tentu saja. Markus selalu punya cara untuk memaksakan kehendaknya.” Dia melirik ke arah makanan itu, aroma lezatnya seperti ejekan bagi perutnya yang kosong sejak pagi. Tapi ada sesuatu dalam dirinya yang menolak begitu saja.
“Nona, Anda harus makan,” pelayan itu mencoba membujuk, nada suaranya lembut namun penuh tekanan.
Joa melangkah mendekat, memandangi makanan di atas nampan dengan ekspresi sulit ditebak. “Kau tahu apa yang aku pikirkan saat melihat ini?” tanyanya pelan, namun nada bicaranya berisi kemarahan yang tertahan.
Pelayan itu tidak menjawab, hanya menundukkan kepala.
“Bahwa aku sedang dipermainkan,” lanjut Joa. “Markus memberiku makanan ini bukan karena dia peduli apakah aku lapar atau tidak. Ini hanya bagian lain dari permainannya. Dan kau… kau bagian dari itu.”
Pelayan itu mengangkat wajahnya, matanya memancarkan rasa bersalah. “Saya hanya menjalankan tugas, Nona.”
“Tentu saja,” Joa mendengus, melangkah mundur. Dia menghela napas panjang, menekan rasa frustrasi yang membara di dadanya. “Letakkan saja di sana,” katanya sambil menunjuk meja kecil di sudut kamar.
Pelayan itu menurut, meletakkan nampan dengan hati-hati. Sebelum keluar, dia berhenti sejenak di ambang pintu. “Tuan Markus mungkin terlihat keras, tapi dia punya alasan untuk setiap tindakannya,” ucapnya lirih, lalu berbalik dan meninggalkan Joa sendirian.
Setelah pintu tertutup, Joa menatap nampan itu, perasaannya campur aduk antara lapar, marah, dan bingung. Dia mendekati meja, jemarinya gemetar saat menyentuh sendok perak di sana.
“Apa kau mencoba mengendalikan aku lewat ini, Markus?” gumamnya pada dirinya sendiri. “Jika iya, kau akan kecewa.”
Dengan satu gerakan tegas, Joa menyambar nampan itu, membawanya ke jendela. Dia membuka kaca jendela lebar-lebar, lalu dengan satu ayunan, dia melemparkan semuanya ke luar. Nampan itu jatuh ke halaman di bawah dengan bunyi dentang keras, makanan berhamburan ke mana-mana.
Joa berdiri di sana, menghirup udara malam yang dingin, berusaha menenangkan hatinya yang bergejolak. Di kejauhan, dia merasa seolah-olah bisa mendengar tawa Markus—tawa kemenangan yang membuat amarahnya semakin berkobar.
***
Markus mendapat laporan kalau Joa kembali memberontak. Gadis itu semakin liar dan tak terkendali. Seisi kamar berantakan, bahkan dia tidak menyentuh makanan yang dibawakan ke kamar sedikit pun.
“Dia melempar semua nampan makanan ke luar jendela,” lapor Leo, pengawalnya.
Markus duduk di kursinya dengan sikap santai, namun ekspresi wajahnya gelap. Jemarinya mengetuk-ngetuk sandaran kursi, gerakan kecil yang menunjukkan pikirannya tengah bekerja keras. Dia menatap Leo dengan mata tajam yang membuat pria itu sedikit gelisah.
“Dia melempar semuanya?” Markus bertanya dengan nada rendah, hampir seperti gumaman, tapi penuh ancaman yang terpendam.
“Ya, Tuan,” jawab Leo dengan tegas. “Makanan, nampan, semuanya berserakan di halaman. Kami menemukan pecahan piring dan sisa makanan di bawah jendela kamarnya.”
Markus menghela napas panjang, menahan amarah yang mulai membakar dadanya. Namun, alih-alih meledak, dia hanya tersenyum tipis, senyuman yang lebih menyeramkan daripada ekspresi marah.
“Gadis itu benar-benar tahu bagaimana memancing perhatian,” katanya pelan, lebih pada dirinya sendiri. “Dia ingin bermain? Baiklah. Kita akan bermain.”
Leo menelan ludah, merasa sedikit tidak nyaman dengan cara Markus bereaksi. “Apa yang harus saya lakukan, Tuan?”
“Bawa dia ke ruangan tengah,” Markus memutuskan, suaranya dingin dan tegas. “Sekarang.”
Leo mengangguk, lalu pergi dengan langkah cepat.
Di kamar Joa, suara ketukan keras di pintu membuat gadis itu menghentikan langkahnya. Dia berbalik dengan alis terangkat, lalu mendengar suara Leo di balik pintu.
“Nona Joa, Tuan Markus ingin bertemu dengan Anda. Ikut dengan saya sekarang.”
Joa mendengus, melipat tangannya di d**a. “Katakan pada Markus, aku tidak tertarik menemui dia.”
Leo mendesah pelan. “Nona, ini bukan permintaan. Jika Anda tidak datang dengan baik-baik, kami akan membawamu dengan paksa.”
Joa menggertakkan giginya, merasakan amarah yang membuncah lagi. Tapi dia tahu bahwa melawan Leo dan para penjaga lainnya tidak akan membawa hasil. Dengan langkah berat, dia berjalan ke pintu dan membukanya.
“Baiklah,” katanya dingin. “Tunjukkan jalan.”
Markus menunggu di ruangan tengah, duduk dengan santai di atas sofa besar yang menghadap ke perapian. Ketika pintu terbuka dan Joa masuk, dia tidak segera melihat ke arah gadis itu, melainkan sibuk menuangkan anggur ke dalam gelas.
“Ah, Joa,” katanya tanpa mengangkat pandangannya. “Akhirnya kau muncul. Apa itu artinya kau menyerah Joa?”
Joa berdiri di ambang pintu, menatap Markus dengan tatapan tajam. “Menyerah? Bagaimana aku bisa menyerah pada seseorang yang telah menculikku!” sindir Joa, sengit.
Markus akhirnya mendongak, menatap Joa dengan senyuman tipis di wajahnya. “Jangan berpura-pura kau adalah korban, Joa. Kau tahu posisimu. Kau sendiri yang menawarkannya padaku.”
“Kau menculikku, Markus. Kau memaksaku menerima posisiku.”
“Apakah kau menyalahkanku karena kau gagal merayu pria tuamu itu. Jangan sok jual mahal, Joa. Aku tahu hargamu, jadi terimalah.”
Joa yang marah, tak sengaja menampar Markus. Semua orang terkejut melihat keberanian Joa.
Markus tersenyum miring, tatapannya membeku. Joa gemetar sambil melangkah mundur ke belakang.
“A-aku,” suaranya serak, ada nada ketakutan tersirat.
Dia memberi isyarat pada Leo, yang kemudian menekan tombol di dinding. Dalam sekejap, sebuah layar besar turun dari langit-langit, menampilkan rekaman dari halaman luar. Di sana, Joa bisa melihat dirinya sendiri melempar nampan makanan keluar jendela, ekspresi marahnya terekam jelas.
“Lihatlah,” Markus berkata, nadanya santai namun penuh sindiran. “Ini adalah bukti betapa liar dan tidak terkendalinya kau. Kau pikir kau bisa melawanku, Joa? Tapi semua yang kau lakukan hanya membuktikan bahwa kau tidak punya kendali atas dirimu sendiri.”
Joa mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras. “Apa kau memanggilku hanya untuk mempermalukanku, Markus?”
Markus tertawa kecil, lalu berdiri dan mendekati Joa, tubuhnya hanya beberapa inci darinya. “Tidak, Joa. Aku memanggilmu untuk memberitahumu satu hal: kau milikku, Joa. Suka atau tidak, kau sudah menjual jiwamu padaku.”
Joa menatapnya dengan penuh kebencian, tapi Markus hanya tersenyum puas, menikmati kemarahan yang terpancar dari gadis itu. “Sekarang, Joa,” dia melanjutkan dengan nada yang lebih lembut namun tetap mengancam, “Apa kau siap untuk mulai mengikuti aturanku?”
Apa itu artinya Markus akan melakukannya lagi? benak Joa dipenuhi tanya. Menunggu Markus bertindak.
***