Part 15 - Hasrat Liar

1014 Kata
Sedetik Markus tak bergeming, sesaat setelah tamparan Joa mendarat keras di pipinya. Suasana seketika hening, semua orang terperangah melihat keberanian Joa terhadap bos besar mereka. Entah hukuman apa yang sedang menanti setelah kesadaran Markus kembali. Tatapan tajam dan dingin ditunjukkan oleh Markus. Seketika Joa menyadari kesalahannya, “A-aku…” getar suara tak mampu menyembunyikan ketakutannya. “Cukup main-mainnya!” Suara bariton yang serak itu menciutkan nyalinya. Joa melangkah mundur, hendak melarikan diri. Sayangnya, respon dia terlalu lambat sehingga Markus dengan mudah bisa menangkapnya. Dengan satu tangannya yang besar lelaki itu menarik Joa, mengangkat gadis itu di bahunya. “Kurasa, aku harus memberimu hukuman!” Markus tampak marah, meski begitu dia begitu lembut membopong Joa yang meronta-ronta. “Tolong lepaskan aku, Markus!” Joa memohon, sayangnya permohonan gadis itu sama sekali tak membuat Markus mengurungkan niatnya. Markus berjalan melewati beberapa lorong yang cukup panjang. Di kanan-kiri terdapat beberapa pintu kayu. Setelah beberapa langkah mereka akhirnya tiba di ujung lorong. Terdapat sebuah pintu kayu yang sangat kokoh. Dengan bantuan kakinya, Markus mendorong pintu tersebut. Joa membelalak saat, Markus melempar tubuhnya ke atas ranjang yang empuk. “Markus, apa yang kau lakukan?” tanya Joa dengan wajah panik ketakutan. Markus hanya mengangkat alisnya tinggi, “Menurutmu?” “Tidak, please, jangan lakukan itu. Kau tahu aku benar-benar minta maaf atas tindakan bodohku.” Markus menarik dagu Joa agar mendongakkan kepalanya, memusatkan perhatian gadis itu terhadapnya. “Lihat aku, Joa … “ Markus memaksanya menatap wajahnya yang penuh luka sodet di pipi. Cukup dalam, namun tidak mengurangi ketampanannya sedikit pun. “Kau … “ Joa melihat luka itu, Markus memalingkan wajahnya, seakan-akan, dia merasa malu dengan luka tersebut. Sedetik kemudian, wajah Markus yang melembut kembali mengeras, rahangnya mengatup, tatapannya menajam, “Seharusnya aku menikmati apa yang sudah menjadi milikku.” Markus berkata dingin, sebelum akhirnya dia menghujani Joa dengan ciuman panas dan menggebu-gebu. Awalnya Joa berusaha melepaskan diri. Ciuman Markus membuat akal sehatnya lenyap, hanya menyisakan naluri liar untuk memuaskan hasrat asing yang bergelegak dalam dirinya, membakar gairahnya. Perlahan, Markus melembutkan ciumannya. Tak lagi menyakitkan, justru membuat Joa santai dan mulai menerima percikan gairah yang menyala di tubuhnya. Joa membuka mulutnya, memainkan lidahnya, menikmati aroma lemon segar yang menempel dalam mulut Markus. Aroma memabukkan. Bukan seperti ini, seharusnya! Markus memperingatkan dirinya. Saat sentuhan Joa di tubuhnya membangkitkan gairah primitif yang sejak lama ia pendam. Markus terus melawan, kontras dengan Joa yang semakin lihai membakar hasratnya. Sial! Markus akhirnya terbebas. Ditatapnya wajah gadis yang terengah-engah di bawah tubuhnya. Ia bahkan tak menyadari kalau sebagian pakaiannya telah lenyap, begitu pula dengan Joa yang hanya mengenangkan bra tipis yang menopang bukit kembar miliknya yang sangat menggoda naluri lelakinya. “b******k!” Ia memaki. Harusnya dia yang memberi gadis itu pelajaran, tapi nyatanya ia terhanyut dan menikmati setiap permainan. Joa tersadar, saat sentuhan Markus terhenti. Tubuhnya seketika terdiam, berusaha mengumpulkan kembali harga dirinya yang retak seiring sentuhan Markus dan ciuman lembutnya. “Apa kau akan pergi?” Suara Joa yang lembut mengalihkan perhatiannya. Markus menoleh, gadis itu terlihat cantik, mau tak mau, Markus harus mengakui kalau Joa memang cantik. Apalagi dengan warna merah muda alami yang menghiasi wajahnya. Di bawah pendar cahaya lampu kamar yang temaram, sosok Joa seakan berkilauan. Markus hanya berdiri sambil menahan getar hasratnya. “Kau ingin melakukannya?” tanya Markus dengan suara serak. Tanpa ragu, Joa mengangguk. Pasrah sepenuhnya oleh kendali lelaki itu. “b******k!” Markus memaki dirinya karena ia larut oleh sentuhan Joa yang liar memainkan adik kembar yang tersembunyi di balik celananya. “Tolong ajari aku!” pinta Joa. Suaranya terdengar seksi, membuat Markus sulit menolak rayuan manis gadis itu. Batin Markus berdebat panjang, cukup lama membuat Joa mengemis perhatiannya. Hingga akhirnya lelaki itu menyerah pada hasrat yang menyelimutinya. Dia berpaling, menghadap Joa. Memamerkan keperkasaannya pada Joa yang membelalakkan mata lebar melihat ukuran Markus yang luar biasa. Tatapan Joa yang terpesona, membuat adik kembar Markus mengeras. “Sialan kau, Joa.” Markus merasa lemah saat Joa menyentuhnya lembut. Memberikan sensasi luar biasa yang tak pernah Markus alami sebelumnya. Markus bukan lelaki suci, sudah banyak perempuan dia tiduri oleh memuaskan hasratnya, tapi hanya gadis liar ini yang membuat hasratnya terus tumbuh dan sulit ia kendalikan. Joa dengan lihai memainkan benda bulat panjang milik Markus. Membuat Markus mengeluarkan suara erangan penuh kenikmatan sebelum akhirnya kesadaran lelaki itu kembali. Dia membuka matanya, tatapannya kembali menajam. Tangannya menghentikan Joa menyentuhnya. Tanpa peringatan, Markus menepis tangan Joa, lalu menyembunyikan kembali benda pusaka miliknya. Joa terdiam, menunggu respon Markus yang mendadak berubah seketika. Lelaki itu menjadi dingin, melebihi bongkahan es di kutub utara, bahkan mungkin sedingin es di planet Uranus atau Neptunus. Desahan napas kecewa Joa terdengar, Markus kali ini mengambil alih. Lelaki itu menimpa tubuh Joa dengan tubuhnya yang hampir dua kali lipat besarnya. Dengan lihai lelaki itu memainkan jari jemarinya di organ intim Joa yang berwarna merah muda. Joa tersentak mendapati sensasi yang mengelilinginya. Matanya membulat, erang kenikmatan terdengar dari mulutnya. “Markus?” gadis itu memanggilnya. Markus hanya menggeram sesaat, sebelum akhirnya ia menghujani Joa dengan ciuman basah nan memabukkan. Joa terlena, menikmati setiap sentuhan yang diberikan Markus padanya. Desahan dan erangan nikmat terdengar, Joa membuka kakinya semakin lebar, siap menerima apa yang hendak Markus berikan padanya. Namun Markus tak berhenti, dia terus bermain. Memutar hingga Joa mendesis saat percikan hasratnya mencapai puncaknya. Joa melenguh, saat organ intim dirinya dibanjiri cairan hangat. Sedetik kemudian dia merasa terbang melayang. Sensasi asing yang ia rasakan membuat tubuhnya bergetar oleh hasrat yang memuncak. Tatapan Joa berkabut oleh gairah, ditatapnya Markus dengan sorot mata penuh damba. Markus tersenyum miring melihat ekspresi Joa yang penuh kepuasan. Dia akhirnya menghentikan aksi nakalnya. Menarik tangannya kembali. Joa terkesiap saat tatapan dingin Markus tertuju padanya. Seketika dia sadar akan posisinya yang memalukan. Penyerahan diri, sialan! Dia mengutuki ketidakmampuannya mengendalikan diri. Gadis itu terduduk sambil menutupi tubuhnya yang terekspos oleh mata liar Markus yang dingin. “Ini hukuman untukmu, Joa. Lain kali, kau sebaiknya bersikap manis padaku,” ujar Markus dengan suara penuh peringatan. Joa bergidik melihat langkah mantap lelaki itu yang perlahan meninggalkannya. Saat itulah dia menyesal karena telah membiarkan dirinya terjerat oleh hasrat liar. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN