KEKUATAN

3659 Kata
Keduanya kembali bekerja dengan suasana hati yang sudah tidak gelisah dan galau. Tuan muda Devon dan Celine masing-masing sedang sibuk mempersiapkan diri mereka untuk pertemuan dengan seorang investor. "Tuan muda, sebentar lagi waktu pertemuan akan dimulai, kemungkinan perwakilan perusahaan Hughes akan tiba kurang dari lima menit." Ucap Celine saat masuk ke dalam ruangan Devon. "Kamu sudah siap?" Tanya Devon pada Celine. "Mengenai presentasinya aku sudah siap, tapi....." Ucapan Celine tidak selesai. "Kenapa? Apa yang membuatmu cemas?"  Tanya Devon menatap Celine yang berdiri di seberang mejanya. "Apakah anda sudah tahu bahwa Ms.Candy Hughes, putri tunggal Mr.Hughes yang menjadi perwakilan mereka?" Celine bertanya balik "Ya, aku sudah tahu hal itu, kenapa? Apa itu yang membuatmu cemas?" Tanya Devon. Celine hanya mengangguk dan menunduk. Devon pun berdiri dan mendekati Celine, duduk di atas tepi meja di hadapan Celine. "Katakan padaku, apa yang membuatmu cemas dengan kehadiran putri manja itu?" Tanya Devon. "Siapapun wanita pasti akan cemas jika bertemu dengannya! WOW!!! Dia adalah sosok wanita idaman paling sempurna di dunia ini. Cerdas, kaya, cantik, sexy, berpenampilan elegan. Ouh aku saja mengangguminya, tapi... sekaligus juga membuatku tidak percaya diri berbicara di hadapannya." Sahut Celine menghela napas besar, dan murung. Devon hanya tersenyum menatap Celine, tanpa bicara apapun Devon berdiri dan merengkuh tubuh Celine ke dalam pelukannya, mengecup puncak kepalanya dengan lembut. "Tenanglah, ada aku disana yang lebih memilih menatapmu daripada wanita manja itu." Ucap Devon menghibur dan memberi kekuatan pada Celine. "Tuan muda, anda tidak perlu menghiburku seperti ini. Jelas-jelas semua mata pria akan lebih senang menatapnya daripada aku." Sahut Celine.   Devon melepaskan pelukannya dan tersenyum lebar sambil mengusap  pipi Celine, lalu dia kembali melangkah menuju ke balik meja kerjanya dan mengambil gadgetnya. "Tenang saja, ayo kita hadapi bersama wanita manja itu!" Ajak Devon mengusap kepala Celine saat melewatinya lagi dan menuju pintu. Celine hanya mengekor saja di belakangnya, sambil tersenyum bahagia atas perhatian tuan muda padanya. ****   Sepanjang rapat, Celine berusaha fokus pada presentasinya. Jujur, Celine merasa sangat canggung pada tatapan Ms.Hughes.  "Bagus! Bagus sekali! Saya senang dengan presentasi anda Ms.Wilder, rupanya Mr.Freonheart sangat pandai mencari orang untuk bekerja padanya." Puji Ms.Hughes pada Celine. "Terima kasih Ms.Hughes, kurasa anda terlebih hebat dibandingkan saya. Saya masih harus banyak belajar dari anda." Sahut Celine tersenyum ramah. "Sayang sekali, atasan anda tidak melihat saya seperti yang anda lihat. Baiklah, kalau begitu bagaimana jika kita membahas lebih lanjut dengan makan siang bersama, Mr.Freonheart?" Ucap Ms.Hughes. "Saya terserah dengan Ms.Wilder, jika dia setuju ikut, maka saya akan ikut. Bagaimana Ms.Wilder? Apakah anda mau?" Sahut Devon menatap pada Celine. Celine merasa bingung karena di lain sisi Ms.Hughes telah memberikan tatapan tajamnya sebagai kode keras bahwa dia tidak ingin Celine ikut dalam makan siang itu. "Eh, maaf Tuan, saya masih banyak pekerjaan, jadi tidak bisa ikut makan siang dengan anda, silahkan anda menemani Ms.Hughes siang ini." Ucap Celine dengan senyum canggung. "Ah! Baguslah! Kalau begitu mari kita berangkat sekarang Mr.Freonheart.." sahut Ms.Hughes dan langsung berdiri.   Devon menatap tajam pada Celine,dia tak percaya dengan jawaban Celine barusan. Devon berdiri, membenahi jasnya, Celine dan Ms.Hughes mengira dia akan mengikuti Ms.Hughes dan pergi bersamanya. "Maaf Ms.Hughes, saya sudah mengatakan bahwa saya hanya ikut jika Ms.Wilder ikut, jika dia sedang banyak pekerjaan maka begitu juga dengan saya. Jadi silahkan anda makan siang dengan para asisten anda, dan kita akan bertemu lagi di pertemuan berikutnya." Ucap Devon sambil membukakan pintu bagi Ms.Hughes.   Ms.Hughes berusaha keras menutupi raut wajahnya yang kecewa sekaligus malu. "Baiklah, mungkin lain kali kita bisa menghabiskan waktu bersama." Sahut Ms.Hughes melangkah keluar dari ruangan rapat itu diikuti oleh para asistennya. Tinggal Celine berdua dengan Devon dalam ruangan itu. Celine sadar dengan tatapan Devon padanya, namun dia menghindarinya dengan menyibukkan diri membereskan segala berkas dan proyektor serta segala peralatan presentasi lainnya. "Apa maksudmu membiarkan aku makan siang hanya bersamanya?" Tanya Devon. "Tidak ada maksud apapun, tidak ada salahnya juga kan makan siang bersama rekan bisnis?" Sahut Celine tetap tidak menatap Devon. "Kamu yakin membiarkan aku makan siang bersamanya? Karena makan siang dengan wanita manja itu sudah dapat dipastikan akan berakhir dengan pergulatan panas di tempat tidur. Apa kamu yakin?!" Ucap Devon menggoda Celine. Dugaan Devon sangatlah benar, Celine langsung berhenti dari kesibukannya dan menatap Devon yang duduk di ujung meja panjang itu. Devon sengaja memainkan alisnya naik turun menggoda Celine, tahu bahwa Celine pasti tidak mau jika dirinya sampai tidur dengan wanita manja tadi.   "Apakah aku punya hak melarangmu untuk tidak tidur dengan wanita lain?!" Tanya Celine. Devon paham bahwa Celine sebenarnya sedang mempertanyakan status mereka saat ini. "Kalau aku memberimu hak itu, apakah kamu akan melarangku?" Devon balik bertanya. "Sudahlah jangan membahasnya lagi, aku sangat lapar!" Sahut Celine sengaja mengalihkan pembicaraan mereka. Celine lebih memilih tidak melanjutkan pembicaraan mereka, dia sedang menjaga hatinya yang rapuh supaya tidak kecewa lagi. Celine melangkah menuju ke pintu, dan melewati Devon begitu saja, keluar dari ruang pertemuan itu. "Dasar gadis bodoh! Selalu mudah ditebak!" Ucap Devon menyeringai saat Celine telah keluar.   Devon akhirnya keluar dari ruangan itu dan menuju ke ruangannya sendiri, melewati begitu saja Celine yang sudah duduk di bangku kerjanya dan menatap gadgetnya. Celine hanya mendengus kesal. "Celine, kemarilah!" Pinta Devon memanggil Celine sambil membuka pintu ruangannya. Celine beranjak dari tempat duduknya, mengikuti Devon masuk ke dalam ruangannya. Begitu Celine masuk, Devon segera mengunci ruangannya dari dalam tanpa disadari oleh Celine. Celine duduk di hadapan Devon berseberangan meja.   "Ada apalagi dengan wajahmu itu? Apa kamu tidak takut muncul keriput? Sering sekali cemberut seperti itu!" Ucap Devon tanpa merasa bersalah bahwa dialah yang membuat Celine murung. "Aku tidak cemberut! Aku hanya sedang kelaparan dan malas berbicara!" Sahut Celine dengan tidak bersemangat. "Baiklah, kamu ingin makan apa siang ini? Biar aku traktir." Ucap Devon mencoba menghibur. "Sungguh?! Anda mau menraktirku?!" Tanya Celine dengan mata mendadak berbinar senang. "Senang sekali! Apakah kamu tidak memiliki uang untuk makan siang?!" Sahut Devon tak percaya Celine begitu senangnya ditraktir. Celine hanya tersenyum lebar. "Bagaimana jika kita makan di restoran mewah yang ada di daerah tepi kota sana? Aaahhh...sepertinya nikmat sekali, saat sekolah dulu aku selalu melewatinya setiap hari,tapi hanya bisa memandang gambarnya saja dari luar." Ucap Celine. "Ehm...maksudmu yang ada gambar roti dan daging besar itu?" Tanya Devon dan Celine mengangguk cepat dengan mata berbinar. "Baiklah, ayo kita makan siang disana!" Ajak Devon seraya berdiri dari kursinya. "Tuan muda, saya mau mengajak Grisella dan Otista juga ya? Boleh?" Tanya Celine "Boleh, tapi apa kamu tidak ingin berduaan saja denganku?" Sahut Devon menggoda. "Haaaiiisss!!! Pasti otak anda sedang m***m!" Ucap Celine. Devon sengaja membungkuk dan mendekatkan wajahnya ke wajah Celine. "Bukankah kamu juga suka jika aku m***m dihadapanmu?" Bisik Devon dengan seringai mesumnya. Celine dengan susah payah mencoba menelan salivanya, menatap lekat mata Devon dihadapannya. Devon lalu hanya mengecup pipi Celine sekejap lalu melangkah menuju pintu. Celine tidak bisa memungkiri bahwa dia senang dengan kecupan barusan, dan diapun tersenyum.   "Anda tadi mengunci pintu itu?! Kenapa?!" Tanya Celine bingung saat Devon menekan password untuk membuka kuncinya. "Kita hanya berdua dalam ruangan ini, aku hanya berjaga saja siapa tahu kamu sedang ingin b******u denganku." Sahut Devon mengedipkan sebelah matanya. Celine memutar bola matanya, jengah dengan ucapan Devon yang terus mengandung kemesuman.  ****   Grisella datang ke restoran tersebut hampir bersamaan dengan Devon, Celine dan Otista. Mereka lalu masuk bersama ke dalam restoran itu. Makan siang sangat menyenangkan bagi semuanya, hingga akhir mereka mengobrol, bercanda dan saling menggoda. Mereka sangat menikmati makan siang ini. "Aku senang, sangat senang akhirnya Tuan muda kembali tertawa setelah sekian lama aku tidak melihatnya." Batin Grisella menoleh tersenyum pada Otista sambil melirik ke arah Devon. Devon hanya tersenyum pada Grisella, begitu juga Otista, hanya Celine yang tidak mampu mendengar suara batin Grisella itu. "Celine, bukankah kamu harus ke kampus setelah ini?" Tanya Devon "Iya, maaf Tuan muda, saya tidak bisa kembali ke kantor setelah makan siang ini, tapi anda juga sudah kosong jadwal hingga sore nanti." Sahut Celine. "Baiklah, biar aku yang mengantarkanmu ke kampus." Ucap Devon. "Eh! Tidak perlu! Saya bisa naik taxi dari sini, tidak terlalu jauh."sahut Celine. "Tidak usah membantah! Cepat habiskan dessert mu!" Ucap Devon.   "Ada apa sebenarnya tuan muda? Dari semalam anda sepertinya tidak membiarkan Celine jauh dari anda?" Grisella bertanya melalui batinnya. "Apa kamu tidak melihat bahwa dari semalam penyihir hitam itu terus mengikuti gadis ini?! Semalam bahkan dia telah berdiri di jendela kamar Celine, beruntung aku telah masuk terlebih dahulu, dan diapun pergi. Saat ini bahkan penyihir hitam itu telah berada di seberang resto ini." Sahut Devon melalui batinnya.   Grisella dan Otista sangat terkejut mendengarnya. "Bagaimana anda akan mengatasinya? Ini siang hari dan kekuatan anda hanyalah setengah saat menjadi manusia." Otista bertanya melalui pikirannya. "Bukankah gadis ini juga memiliki kekuatan??? Aku harus mencari cara agar gadis ini bisa menyadari dan mengendalikan kekuatannya." Sahut batin Devon seraya melirik pada Celine yang sedang menyantap dessertnya sambil menatap aneh pada mereka bertiga. "Ah! Sebaiknya aku meminta bibi Milly untuk segera menyusul kemari." Batin Otista ikut menanggapi. "Otista benar! Sebaiknya bibi Milly ikut dengan kalian Tuan muda." Batin Grisella setuju dengan usul itu. "Tidak perlu, sepertinya penyihir hitam belum berhasil memperbaiki tongkatnya yang patah waktu itu, karena baru melihatku saja dia sudah langsung memilih pergi." Devon tetap tenang menanggapi tentang penyihir hitam.   "Hello..., Apakah kalian masih menganggapku ada disini?" Tegur Celine karena merasa ketiga orang dihadapannya sedang sibuk saling menatap dan sedikit mengacuhkan dirinya. Ketiganya segera kembali pada dunia nyata dan bersamaan tersenyum pada Celine, Celine semakin menatap dengan bingung sambil mengernyitkan keningnya. "Aku sudah selesai, lebih baik aku segera mencari taxi untuk ke kampus." Ucap Celine segera membersihkan bibirnya dari sisa makanan. "Apa kamu sedang mencari masalah denganku? Hah?!" Tegur Devon dengan tatapan tajam. "Kupikir kalian bertiga sedang ada yang ingin dibahas, jadi lebih baik aku naik taxi saja. Tidak masalah dengan taxi, kampusku sudah dekat dari sini." Sahut Celine dan bersiap berdiri dari kursinya. Devon segera mencekal lengan Celine. "Melangkah satu langkah saja, maka aku akan merobek pakaianmu dan mencumbumu di atas meja ini!" Ancam Devon dengan tatapan tajam.  Celine bergidik merinding mendengarnya, lalu memilih untuk menurut saja. Celine kembali duduk perlahan di bangkunya dengan menganggukkan kepala. "Bagus! Tunggulah sebentar, aku hanya akan membayar makan siang kita." Ucap Devon dan Celine kembali mengangguk. Devon lalu memanggil seorang pelayan dan meminta tagihan mereka.   Otista dan Grisella hanya saling memandang dan tersenyum. Mereka keluar bersamaan, Otista terpaksa ikut dengan mobil Grisella, karena mobil yang tadi dibawanya kini dipakai oleh Devon untuk mengantarkan Celine ke kampus. Grisella melihat sosok penyihir hitam itu benar ada di seberang resto ini. Grisella memberi kode pada Otista dengan matanya, menunjukkan dimana sosok penyihir hitam berada. Otista menoleh ke arah yang dimaksud oleh Grisella. Penyihir hitam itu menghilang menjadi asap hitam tebal dan terbang mengikuti mobil Devon dan Celine. "Kita harus memberitahu bibi Milly!" Ucap Otista dan Grisella mengangguk cepat, lalu segera menghubungi bibi Milly dengan ponselnya.    Bibi Milly memiliki kekuatan untuk berpindah tempat, sehingga dalam sekejap bibi Milly sudah ada di samping Grisella.  "Dimana Tuan muda dan nona Celine?" Tanya bibi Milly. "Mereka sudah pergi menuju ke kampus Celine. Kita harus segera menyusulnya." Sahut Grisella. Mereka bertiga menyusul Devon dan Celine.   Namun saat tiba di gerbang kampus Celine, itu mereka justru melihat cahaya putih besar yang naik ke atas dari arah parkir mobil di belakang kampus. Cahaya yang sama dengan cahaya yang dikeluarkan oleh Celine pada malam itu. Otista segera membawa mobil mereka mendekat ke asal cahaya itu. Bibi Milly dan Grisella segera turun saat melihat Celine sedang terduduk memeluk tubuh Devon untuk melindunginya, dan cahaya itu melingkupi keduanya. Otista menyusul dengan segera. Penyihir hitam dari arah seberang Grisella terlihat sedang berusaha menembus cahaya pelindung itu dengan kekuatan sihirnya.   Bibi Milly segera mengayunkan tongkatnya dan menyerang penyihir hitam dari arah samping, membuat penyihir hitam terpental jauh ke belakang. Celine masih belum mampu mengendalikan kekuatannya, sehingga bibi Milly, Grisella dan Otista tidak mampu mendekat. Cahaya itu masih terus melingkupi tubuh keduanya.   "Bibi, bagaimana ini? Kita harus segera menolong Tuan muda." Ucap Grisella panik. "Kita harus membuat nona Celine tenang dan tidak ketakutan. Cahaya pelindung ini akan terus ada jika nona Celine masih merasa sangat ketakutan." Sahut bibi Milly. "Tapi bagaimana caranya kita bisa menenangkan Celine?" Tanya Grisella lagi.   Bibi Milly memejamkan matanya. "Tuan muda, Tuan muda, sadarlah, anda harus sadar dan menenangkan nona Celine. Tuan muda, ayolah! Anda pasti bisa melakukannya! TUAN MUDA!!! BANGUNLAH!!! NONA CELINE DALAM BAHAYA!!!" Bibi Milly berusaha menggunakan ikatan batin diantara dirinya dan Tuan muda, bahkan sampai berteriak dalam batinnya supaya Tuan muda mau membuka matanya dan menenangkan Celine.   "Euuughhh...Celine..Celine..." Panggil Tuan muda tepat di telinga Celine. Celine mampu mendengarnya dan cahaya pelindung itupun perlahan mulai mengecil dan akhirnya menghilang. Grisella dan bibi Milly segera menghampiri keduanya. Celine terlalu besar menggunakan kekuatannya hingga akhirnya tak sadarkan diri dalam rengkuhan tangan bibi Milly. Grisella dan Otista segera menghampiri Devon. "Tuan muda, bagaimana keadaan anda?" Tanya Grisella cemas, tapi tak ada jawaban dari Devon. Otista segera mengangkat tubuh Devon dibantu oleh Grisella membawanya ke dalam mobil. Otista lalu kembali lagi untuk mengangkat tubuh Celine di ikuti oleh bibi Milly. Mereka segera membawa Devon dan Celine menuju ke istana dengan kekuatan bibi Milly.   dr.Hilda segera tiba di istana setelah Otista menghubunginya. Devon mengalami luka bakar pada lengan sebelah kanannya dan sudah mulai tersadar, sedangkan Celine tidak terluka tapi dia belum juga sadarkan diri hingga malam. Devon terus menatap wajah gadis itu. "Maafkan aku, aku tidak bisa melindungimu justru malah membuatmu dalam bahaya. Kumohon, bukalah matamu, kembalilah padaku." Ucap Devon duduk di tepi tempat tidur Celine. Ada sebuah perasaan yang kacau dalam hatinya, perasaan sakit bercampur takut kehilangan dan juga penyesalan yang sangat besar. "Celine, bangunlah, kumohon buka matamu, aku tidak bisa kehilangan dirimu dalam keadaan seperti ini. Kumohon Celine..." Ucap Devon memohon pada gadis yang terpejam itu. Hari hampir tengah malam, tapi Celine masih belum membuka matanya, Devon masih enggan beranjak dari sisi Celine.   "Tuan muda, sudah hampir tengah malam, biarkan saya menggantikan anda untuk menjaga nona Celine." Ucap bibi Milly saat masuk ke dalam kamar itu. "Bibi, bisakah bibi menggunakan kekuatan bibi untuk mencegahku berubah wujud hanya malam ini saja? Aku sangat ingin menemaninya dan menjadi orang yang dia lihat pertama kali saat dia membuka matanya nanti." Sahut Devon. "Maafkan saya Tuan muda, tapi saya tidak mampu." Ucap bibi Milly "Bagaimana nanti jika dia terbangun dan saat membuka matanya justru tidak melihatku disampingnya? Dia pasti akan marah bahkan membenci diriku bibi." Sahut Devon sambil mengecup tangan Celine yang sedari tadi digenggamnya. "Tuan muda, apa yang sebenarnya terjadi tadi siang?" Tanya bibi Milly.   "Penyihir hitam telah mengikuti Celine sejak kemarin malam, hingga tadi siang pun dia terus mengikuti Celine kemanapun. Aku berusaha menjaganya, namun saat di kampus Celine memaksaku untuk tetap berada di mobil menunggunya. Dia tidak ingin kehadiranku membuat para dosennya jadi segan padanya. Aku bodoh bibi, aku menurut saja, dan begitu Celine sudah berjalan sendiri jauh dari mobil, penyihir hitam pun menyerang dirinya, aku melihat sinar itu dari kaca tengah, segera aku berlari dan kuserang tubuh penyihir hitam, hingga Celine terbebas dari jeratan cahaya sihirnya. Namun cahaya sihir itu justru mengenai lenganku, saat penyihir hitam terjatuh. Celine melihatku terluka dan seketika menindihku dan semuanya terjadi begitu saja." Jelas Devon bercerita pada bibi Milly. "Aku sungguh bodoh bibi, sebagai pria aku tidak mampu melindunginya, justru dia yang melindungiku dengan seluruh kekuatannya." Ucap Devon lagi. "Jangan menyalahkan diri anda Tuan muda. Anda sudah menolongnya Tuan muda, anda terluka karena berusaha melepaskan nona Celine dari cahaya sihir gelap. Kuharap Tuan muda mau memikirkan kembali tentang nona Celine. Dia jelas adalah takdir anda Tuan muda." Nasehat bibi Milly.   Devon hanya diam, keraguan dalam hatinya sangat besar, melebihi akal sehat dan suara hatinya. "Dia tidak akan mungkin menerimaku yang terkutuk ini bibi. Gadis sempurna seperti dirinya tidak akan mungkin mau hidup bersama makhluk berbulu seperti diriku ini. Sudahlah bibi, itu semua tidak mungkin." Sahut Devon. "Tapi Tuan muda...." "Sudahlah bibi, aku harus segera ke kamarku sendiri, beberapa saat lagi tengah malam tiba. Tolong jaga dirinya dengan baik." Ucap Devon lalu berdiri dan melangkah keluar dari kamar Celine.   Sekali lagi Devon melarikan diri dari takdirnya dengan Celine. Devon menolak sendiri dirinya sebelum mencoba mencari tahu tentang perasaan Celine yang sebenarnya. Devon selalu memilih menolak dirinya sendiri sebelum orang lain menolak dirinya.  Bibi Milly menjaga Celine tanpa tertidur sepanjang malam. Kekuatan pelindung istana ini entahlah sampai kapan dapat terus bertahan. Suatu saat jika penyihir hitam mampu menembusnya maka tidak ada lagi tempat berlindung bagi mereka. Bibi Milly berharap Celine mampu membuat Tuan muda segera untuk membuka hatinya dan menyadari cinta dalam dirinya. **** Pagi sudah mulai hadir, matahari sudah menampakkan setengah wajahnya. Devon sudah kembali ke wujud manusianya. Dia langsung menuju ke kamar Celine untuk melihat keadaan gadis itu. "Selamat pagi bibi, bagaimana dia?" Sapa Devon pada bibi Milly yang masih membaca buku. "Selamat pagi Tuan muda, dia masih terlelap, belum ada tanda-tanda kesadarannya. Apakah anda akan pergi?" Sahut bibi Milly melihat Devon yang sudah memakai jaketnya di hari sepagi ini.    "Aku harus mencari bunga anyelir, aku berharap dengan adanya bunga itu di kamar ini bisa memberikan aura baik dan cepat membuat dia semakin membaik." Jelas Devon seraya melangkah dan mendekati Celine. Bibi Milly mengangguk dan tersenyum senang, melihat Devon mengecup kening Celine dengan lembut dan mendalam.   Pria itu sesungguhnya sangatlah mencintai gadis itu, namun hanya karena trauma penolakan yang sering dia dapatkan di masa lalunya, maka dia memilih untuk menyimpan rapat perasaan itu.  ****   Devon pergi ke dataran yang lebih tinggi lagi dari istana, mencari bunga Anyelir bagi kesembuhan Celine. Devon tersenyum saat menemukan hamparan bunga Anyelir dihadapannya. Pikirannya seolah membawanya kembali ke peristiwa saat dia bersama ibunya.   "Ibu, apa yang sedang ibu kumpulkan?" "Devon, ini adalah bunga Anyelir, ibu sedang mengumpulkan bunga Anyelir." "Mengapa ibu mengumpulkan bunga-bunga itu? Kenapa harus yang putih? Bukankah lebih bagus yang berwarna merah atau yang bercorak warna?" "Ibu sengaja mengumpulkan bunga Anyelir yang berwarna putih Devon, karena bunga Anyelir ini bisa menyembuhkan banyak penyakit, dan Anyelir putih ini  melambangkan  kekuatan cinta sejati.  Karena kutukan di dalam dirimu itu hanya bisa  dihilangkan  dengan kekuatan cinta sejati, jadi ibu berharap kekuatan yang dimiliki bunga Anyelir ini mampu menyembuhkan mu Devon, meski secara perlahan."   Tanpa disadari airmata Devon mengalir mengenang betapa besar cinta ibunya pada Devon. Setiap hari ibunya selalu ke bukit ini untuk memetik bunga Anyelir putih ini. "Ibu, semoga apa yang pernah kamu ceritakan dulu, bisa terbukti kebenarannya dan mengembalikan Celine." Batin Devon sambil menatap ke langit. Devon mulai mengumpulkan bunga-bunga Anyelir yang berwarna putih, dan kembali ke istana dengan banyak sekali bunga Anyelir yang dibawanya di mobil. Devon memanggil para pelayan untuk membantunya membawa bunga-bunga Anyelir itu ke kamar Celine dan menatanya di sudut-sudut kamar Celine. Bibi Milly sempat terkejut dengan banyaknya jumlah bunga Anyelir yang dibawa masuk itu, ada yang dalam vas besar, ada juga yang vas kecil. Kini seluruh sudut kamar itu terdapat bunga Anyelir putih.   "Semoga harapan  anda melalui bunga Anyelir ini bisa terkabulkan." Ucap bibi Milly pada Devon. Devon tersenyum mengangguk. "Biar saya yang menjaganya bibi, silahkan bibi istirahat, bibi pasti sangat lelah semalaman menjaganya tanpa terlelap." Sahut Devon seraya duduk di tepi tempat tidur Celine. Belum sempat bibi Milly keluar dari kamar itu, terdengar suara Celine yang meracau. "tidak! Jangan! Jangan! Kumohon lepaskan Tuan muda, jangan! Jangan sakiti Tuan muda, kumohon padamu." Celine mengigau dengan mata terpejam. Bibi Milly kembali mendekati tempat tidur itu. "Bibi, apakah ini pertanda baik atau buruk?" Tanya Devon pada bibi Milly. Bibi Milly memejamkan matanya untuk mencari tahu. "Sepertinya dia masih terbayang oleh peristiwa kemarin Tuan muda, pikirannya masih sangat ketakutan terjadi yang buruk pada anda." Sahut bibi Milly. Devon mengecup tangan Celine dengan mendalam untuk memberi ketenangan pada gadis itu. Celine pun kembali tenang dalam tidur lelapnya. Bibi Milly kembali melangkah hendak menuju pintu untuk keluar dari kamar itu, tapi sekali lagi Celine kembali bersuara, bahkan kali ini dia sampai berteriak kencang.   "DEVON!!!" teriak Celine memanggil Devon bahkan sampai terduduk dan akhirnya membuka matanya. "Celine! Celine! Tenanglah, aku ada disini." Ucap Devon menangkup wajah Celine dan membuat Celine menatapnya. Celine langsung memeluk Devon dengan erat, namun hanya sesaat dan segera melepaskannya. "Apa kamu baik-baik saja? Katakan apakah hantu itu melukaimu?! Devon, apakah kamu terluka? Ah! Kenapa dengan lenganmu ini?" Celine dengan cemasnya terus memeriksa seluruh wajah dan tubuh Devon, hingga melihat lengan yang dibalut perban itu.   Ada sebuah perasaan terenyuh bergetar dalam diri Devon melihat Celine sangat mencemaskan dirinya. "Aku baik-baik saja, ini hanya luka bakar saja. Tenanglah, Hilda sudah mengobatiku kemarin." sahut Devon tersenyum. "Apa?! Kemarin?! Berarti aku...?" Tanya Celine tak percaya. "Iya kamu tidur lama sekali, aku sungguh cemas kamu tidak terbangun lagi." Sahut Devon tersenyum menatap Celine. "Benarkah? Apakah aku tidak salah dengar? Dia takut aku tidak bangun lagi?! Ouh janganlah membuatku semakin dalam mencintaimu Devon, jika cinta itu pada akhirnya hanya akan kamu abaikan."  Batin Celine dan sangat mengejutkan Devon juga bibi Milly yang sanggup mendengar suara batin Celine.   "Saya permisi Tuan muda, saya harus beristirahat." Ucap bibi Milly memberikan ruang bagi dua insan itu. Devon dan Celine masih saling menatap dalam diam. Devon sangat merindukan gadis dihadapannya itu. Devon meraih tengkuk Celine dan mendekatkan wajah mereka.  "Aku sangat merindukan Omelan kesalmu padaku." Bisik Devon lalu menghisap lembut bibir Celine dan melumatnya.   Celine tidak pernah mampu menolak bibir Devon, pikiran sehatnya seolah menghilang setiap kali Devon mencium dan mencumbunya. Devon melepaskan bibir mereka saat dirasa Celine tak kunjung membalas pergerakan bibirnya. "Kenapa? Tidak biasanya kamu hanya diam saat aku menciummu, apa kamu sudah bosan dengan bibirku?" Tanya Devon. Celine segera memukul d**a Devon. Auchhh!! "Kamu pikir aku ini sama sepertimu?! Selalu saja bosan dengan satu orang?! Enak saja!" Omel Celine kesal.   Devon tersenyum lebar lalu merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur di samping Celine.  "Aku sangat mengantuk. Biarkan aku tertidur sejenak." Ucap Devon lalu memejamkan matanya. Celine hanya menatap Devon yang terpejam matanya. Celine pun kembali ikut merebahkan dirinya di samping tubuh Devon, menghadap ke samping pada Devon dan menatapnya. "Mengapa tubuhku kembali mengeluarkan cahaya itu lagi? Siapa jubah hitam itu? Mengapa dia ingin mencelakai aku?"  Batin Celine teringat akan kejadian kemarin.   Devon seketika membuka matanya dan ikut menghadap ke Celine. "Apa yang sedang kamu pikirkan? Mengapa kamu menatapku seperti itu? Maaf, aku sedang tidak bisa melakukan permainan panas denganmu, karena lenganku terluka." Ucap Devon. "Devon, apa kamu kenal dengan sosok jubah hitam kemarin? Mengapa dia mengincarku?" Tanya Celine. "Bibi Milly dan Grisella juga Otista melihatmu mengeluarkan cahaya yang sangat besar dan melindungi kita berdua, boleh aku tahu bagaimana kamu bisa mempunyai kekuatan itu?" Devon bertanya balik. "Aku tidak tahu, selama aku hidup, aku hanya mengeluarkan cahaya itu sebanyak 3 kali. Pertama, saat ibuku hampir ditabrak oleh sebuah mobil saat menyeberang bersamaku. Kedua, saat istana ini mendadak kebakaran dan tidak ada jalan keluar bagiku juga semuanya. Ketiga adalah kemarin, saat aku melihatmu terluka karena menolongku. Cahaya itu muncul begitu saja bahkan tanpa aku sadari dan aku juga tidak bisa menghentikannya." Sahut Celine. "Kita akan cari tahu tentang semua ini, sekarang biarkan aku tertidur." Ucap Devon mengecup pucuk hidung Celine. Celine mengangguk tersenyum, lalu mengecup bibir Devon hanya sesaat. "Ouh..kamu sungguh menggodaku gadis nakal." Bisik Devon, Celine hanya tertawa terkekeh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN