Sudah tiga Minggu sejak peristiwa penyihir hitam melukai Devon. Celine tetap tinggal di istana, namun tidak lagi pernah sekamar dengan Devon. Devon selalu beralasan bahwa lengannya masih sangat sakit, dan takut jika tertindih oleh Celine. Celine pun memahami keadaan itu, dia cukup bersyukur karena Devon selalu perhatian padanya dari pagi hingga menjelang tidur malam, meski tak jarang juga Devon menggoda dan membuatnya kesal. Kecupan-kecupan kecil selalu Devon berikan pada Celine setiap mereka berdekatan, Celine menikmatinya meski tidak ada status hubungan apapun di antara mereka,selain sebagai atasan dan bawahan.
Malam ini mereka menonton film berdua di ruang tengah. Grisella dan Otista pergi ke club untuk menghilangkan rasa jenuh mereka di rumah. Bibi Milly memilih untuk beristirahat lebih awal. Devon menarik tubuh Celine sengaja membawanya duduk di pangkuannya saat menonton film dan memeluk pinggang Celine, mendekatkan tubuh Celine semakin merapat dengannya. Devon menarik tubuh Celine sengaja membawanya duduk di pangkuannya saat menonton film dan memeluk pinggang Celine, mendekatkan tubuh Celine semakin merapat dengannya
"Ayolah biarkan aku turun, aku ini berat Devon." Ucap Celine.
"Kamu?! berat?! Tubuh mungil seperti ini tidak ada yang berat Celine." Sahut Devon menertawakan Celine. Devon mendekat ke telinga Celine.
"Apa kamu tahu? Bahkan juniorku yang mengeras bisa mengangkat dan menahan tubuhmu di atasnya tanpa bantuan tanganku." Bisik Devon dan membuat tubuh Celine bergidik menggelenyar, membuat sedikit basah di inti bawahnya.
Sudah tiga Minggu ini mereka tidak saling menyentuh dan b******u, luka bakar di lengan Devon membatasi keduanya. Tapi kini luka bakar itu sudah mengering dan hanya menyisakan bekasnya saja. Celine dan Devon saling menatap dalam diam, keduanya merasakan gelora rindu yang mendadak menjadi sengatan listrik di seluruh tubuh mereka. Bisikan Devon sungguh mempengaruhi diri Celine, ditambah lagi belaian jari-jari Devon di sepanjang kulit lengan Celine, semakin menambah getaran gairah yang tinggi dalam diri Celine juga Devon sendiri. Entah keberanian darimana, Celine kali ini yang mulai menarik lembut tengkuk Devon dan memejamkan matanya untuk menghisap bibir Devon. Devon tidak membuang waktu sedikitpun, dia mulai bergerak mengikuti irama bibir Celine.
Ciuman lembut namun mampu membakar keduanya dalam panas gairah. Kini Celine bahkan telah berbalik menghadap Devon dan mengangkangi paha Devon. Desahan dari keduanya mulai terdengar diantara ciuman mereka. Nafas mereka saling memburu dan berkejaran saat ciuman itu berakhir dan kembali saling menatap. Celine dengan susah payah menelan salivanya sebelum berbicara.
"Apakah lenganmu masih sakit jika tertindih diriku?" Bisik Celine di hadapan wajah Devon yang sangat dekat. Devon hanya tersenyum dan menggeleng.
"Apa juniormu itu benar-benar bisa menahan tubuhku tanpa bantuan tanganmu?" Bisik Celine lagi dengan menunduk malu.
"Apa kamu ingin aku membuktikannya?" Bisik Devon bertanya balik dengan sengaja.
Celine menatap mata Devon sejenak dan menunduk kembali lalu menganggukkan kepalanya dengan ragu dan malu. Devon segera mengangkat dagu Celine dan melumat penuh gairah bibir Celine. Devon pun mengangkat tubuh Celine, menggendongnya dengan gaya koala di depan dadanya, dengan tangan Celine melingkar di leher Devon dan kedua kakinya melingkar di pinggang Devon. Devon tak ingin melepaskan bibir mereka. Dia membawa Celine menuju ke kamarnya. Devon menghimpit tubuh Celine ke pintu seraya mengunci pintu kamarnya dari dalam tanpa melepaskan pagutan bibir mereka. Celine mulai mengangkat kepalanya ke atas, memberi akses bagi bibir Devon untuk menikmati kulit lehernya. Tubuh Celine melengkung ke belakang, membusungkan dadanya yang mulai diremas oleh tangan Devon.
Aaaahhhhhhh....
"Apa kamu merindukan sentuhanku Celine?" Tanya Devon berbisik di ceruk leher Celine.
Sssssssshhhhhh...eeeuuugghhhhh...
Desahan Celine kembali terdengar saat bibir Devon sudah mengecup bahkan lidahnya menjilat pucuk d**a Celine. Entah sejak kapan bagian atas tubuhnya telah menjadi polos, bahkan bra nya juga telah terlepas.
aaahhhhhh...Devon.....
Devon semakin menggila karena diliputi gairah yang ditambah dengan desahan Celine dalam menyebut namanya.
Pucuk merah muda itu terus dikulum dan dilumat dengan rakus oleh Devon, bukan hanya satu tapi keduanya telah dimainkan oleh mulut Devon. Devon menurunkan tubuh Celine dari gendongannya. Devon melepaskan celana panjang Celine dan mengecup inti bawah Celine yang masih tertutup celana dalam satin yang sudah basah karena cairan inti Celine.
Ooouuuhhhh....sssshhhhhh.... Devon....kumohon.....
Celine terus mendesah bahkan tangannya dengan sengaja menekan kepala Devon, meminta untuk Devon bermain di intinya lebih lama lagi. Devon tidak menurutinya, Devon beringsut keluar dari kuasa tangan Celine dan kembali berdiri.
Devon sengaja sedikit mundur, menjauh dari tubuh Celine dan menatapnya sambil melepaskan pakaiannya sendiri. Kini di tubuh keduanya hanya tersisa kain penutup pada kemaluan mereka saja, sedangkan tubuh lainnya telah polos tanpa kain penutup apapun. Celine menggeliat dan tersenyum menatap junior Devon yang telah membesar dan mengeras, menonjol di balik celana dalamnya. Devon yang mengerti kemana arah mata Celine menatap, sengaja meraih tangan Celine dan membawanya ke juniornya yang mengeras itu, memberi kode pada Celine untuk menyentuh, meremas, dan bermain dengan juniornya.
"Apa kamu merindukannya di dalam dirimu?" Tanya Devon dan Celine mengangguk malu. Devon kembali membungkuk dan menghisap pucuk kembar di d**a Celine, meremasnya bahkan mencubit dan menarik-narik pucuk itu.
Aaaauuuhh....sssshhhhh.....aaaahhhhhhh..
Desahan Celine bagaikan api yang semakin membakar gairah Devon.
Celine mengangkat kakinya bergantian, membantu Devon saat melepaskan celana dalamnya. Lalu Celine pun berlutut dihadapan Devon dan mulai menurunkan celana dalam Devon, membiarkan celana dalam itu menumpuk di kaki Devon. Celine menggenggam junior Devon dan mulai mengulum pucuknya, menjilat dari pangkal hingga pucuknya.
Sssshhhhh....ooohhhh....eeeeeuuughhh....
Kini Devon lah yang mendesah karena permainan Celine. Devon tidak membiarkan Celine terus menguasai dirinya. Dia segera mengangkat tubuh Celine berdiri. Bibir mereka kembali menyatu dan saling menghisap penuh gairah. Devon kembali mengangkat tubuh Celine dan menopang gundukan kenyal p****t Celine dengan satu lengannya, sedang tangan lainnya dia pakai untuk meremas dan memainkan pucuk d**a Celine.
Aaahhhhhh...Devon....aku....aaahhhhhh....
Celine terus melenguh dan mendesah oleh permainan Devon. Devon lalu mengarahkan juniornya pada lobang inti tubuh Celine. Blessshh...
Kedua tangan Devon mengangkat kedua tangan Celine dan menahannya di atas kepala Celine dengan satu tangan, lalu tangan lainnya bertopang pada tembok dan mulai menggerakkan panggulnya naik turun menghujam tubuh Celine. Kedua kaki Celine melingkar di pinggang Devon.
Aaahhh....sssshhhhhh....aaahhh...
Eeeuuugghhhhh....ouuuhhhh.....
keduanya mendesah bersama dan seirama dengan hujaman batang Devon dalam tubuh Celine.
Aaahhh.....Devon.....
aku...hampir...eeeuugghhhh....
Sssshhhhhh.....aaahhhhhh....
Devon....sssshhhhhh....
Bersama Celine......aaaahhh...
AAAAAAAHHHHHHHHH....
EEEUUUGGGHHHHHHH.....
Keduanya berseru bersama dalam puncak yang nikmat, sangat nikmat.... setelah tiga Minggu saling menahan diri dari gairah yang tetap meletup selama ini melalui kecupan-kecupan ringan.
Devon melepaskan kedua tangan Celine, dan membiarkan tangan Celine melingkar di lehernya. Tangan Devon kembali menopang p****t Celine. Bibir mereka kembali saling melumat dan menghisap dengan tubuh inti mereka yang masih saling menyatu dibawah sana. Devon melangkah membawa tubuh Celine pada tempat tidurnya. Mereka kembali melakukan permainan panas mereka disana. Devon selalu menjadi penguasa dalam setiap permainan panas mereka.
Celine yang tidak pernah melakukan hal intim itu dengan pria lain pun hanya menikmatinya dan menurutinya. Dalam waktu dua jam ini bahkan Celine telah tiga kali mencapai orgasmenya, sedangkan Devon baru satu kali. Pergulatan terus berlanjut dengan desahan dan lenguhan dari keduanya. Bahkan saat Devon mulai mengambil cambuk berjumbai dari dalam lemarinya dan memainkannya di tubuh Celine, Celine tidak menolaknya.
Aaahhh.....
Desahan justru keluar dari mulut Celine tiap kali cambuk itu membelai kulitnya ataupun dihentakkan pada tubuhnya.
Devon sangat menyukai desahan Celine, kepasrahan Celine padanya sangat membuat Devon semakin b*******h, Celine sungguh mempercayakan tubuhnya pada kuasa Devon, percaya penuh bahwa Devon tidak akan melukai dan menyakitinya.
Aaahhhhhh....
Desahan Celine terus terdengar hingga Devon secara nyata melihat hari hampir menjelang tengah malam. Devon segera mengakhiri permainannya, dan mulai menghujam inti tubuh Celine dengan juniornya, Devon bergerak cepat demi mencapai kepuasannya sebelum tengah malam tiba.
AAAAAHHHHHH......
AAAAAHHHHHH.....
seirama desahan mereka diserukan saat klimaks kembali mereka capai bersama. Devon segera memakai boxernya dan kaos longgarnya, setelah mengecup kening Celine.
"Aku akan mengambil minuman untukmu." Ucap Devon dan Celine mengangguk tersenyum.
Celine merasa sangat lelah setelah permainan panas mereka. Celine melihat alat cambuk berumbai itu di atas meja nakas. Celine memanas kembali saat teringat bagaimana rasa cambuk itu pada kulitnya, dia membuka selimut dan berdiri di depan cermin, melihat kulitnya yang memerah pada bagian p****t, paha dan bahkan dadanya.
Devon kembali masuk ke dalam kamar itu, menatap Celine yang polos di depan cermin. Devon meletakkan minuman itu dan melangkah mendekati Celine, memeluk tubuh Celine dari belakang dan mengecup pundak Celine. Tatapan mereka bertemu di dalam cermin.
"Apa kamu merasa kesakitan?" Tanya Devon.
"Tidak, hanya sedikit terasa panas saja, tapi tidak masalah, besok pasti sudah membaik." Sahut Celine.
"Berbaringlah, aku akan mengobati bekasnya." Ucap Devon lalu melepaskan pelukannya dan mengambil sebuah cream dari dalam lemarinya.
Celine pun berbaring dan membiarkan tubuh telanjangnya terlentang. Devon duduk di tepi tempat tidur dan mulai mengoleskan cream itu pada bekas-bekas merah yang ada di tubuh Celine dengan mengusapnya lembut. Celine menatap Devon dengan tersenyum.
"Apakah malam ini kamu akan menemaniku? Atau aku harus kembali ke kamarku sendiri?" Tanya Celine ragu. Devon menatap lekat ke dalam mata Celine.
"Apa yang sedang kamu harapkan dari pertanyaan itu?" Devon bertanya balik.
"Aku...." Celine menatap Devon seraya susah payah menelan salivanya, tenggorokannya seakan tercekat.
"ah! Sudahlah! Aku kembali saja ke kamarku sendiri." Ucap Celine lalu beranjak berdiri dan memakai kembali pakaiannya dengan cepat dan seadanya lalu melangkah keluar dari kamar itu.
"Permisi." Ucap Celine saat akan menutup pintu kamar Devon. Devon masih saja duduk di tepi tempat tidur tanpa menoleh sedikitpun pada Celine.
Devon meremas selimut yang ada di depannya dengan sangat erat. Dia sangat ingin menahan Celine tetap berada di tempat tidurnya, tapi dia tidak bisa berbuat apapun, dan akhirnya dia hanya bisa berharap supaya Celine tidaklah menangis lagi malam ini. Tak lama Grisella masuk ke dalam kamar Devon.
"Uuh..! Aroma percintaan kalian sangat menyengat di kamar ini. Tapi dimana Celine? Apa dia tidak meminta lagi untuk dipeluk semalaman oleh anda?" Ucap Grisella.
Devon hanya diam dan sengaja menghindari bertatapan dengan Grisella. Dia menyembunyikan air matanya yang sempat menumpuk di pelupuk matanya sesaat sebelum Grisella membuka pintu tadi. Devon berubah wujud menjadi singa besar, dan memilih meringkuk di atas tempat tidurnya sambil memejamkan matanya.
Grisella menghampiri singa itu dan mengelus punggungnya.
"Apa yang terjadi kali ini setelah percintaan kalian?" Tanya Grisella menatap singa besar itu.
"Jangan katakan bahwa anda menyakiti perasaannya lagi!" Ucap Grisella lagi dan singa itu tetap diam.
"Ouh tidak! Mengapa?! Apa susahnya menjaga perasaannya setelah percintaan kalian?! Bukankah Anda sudah memiliki solusi jika dia ingin dipeluk anda sepanjang malam?! Kenapa tidak memberikannya lagi?! Sungguh! tidak ada yang bisa mengerti cara berpikir anda Tuan muda!" Ucap Grisella kesal sendiri dengan dugaannya.
Singa besar itu hanya melenguh dengan matanya yang terpejam. Grisella melihat ada beberapa tetes airmata yang mengalir di Surai singa itu. Grisella ikut sedih melihatnya. Tuan mudanya pasti juga telah melukai perasaannya sendiri dengan perbuatannya terhadap Celine. Grisella hanya mampu memeluk tubuh singa besar itu dan membelai bulunya.
"Tuan muda, mungkin ini saatnya anda membuka jati diri anda yang sesungguhnya. Aku percaya Celine pasti akan bisa mengerti dan menerima anda apapun keadaannya. Aku sudah melihat besarnya cinta Celine pada anda. Anda hanya perlu percaya pada Celine." Ucap Grisella lagi.
Tetap tak ada jawaban atau reaksi apapun dari singa besar itu. Grisella hanya menghela napas panjang. Dia tahu Tuan mudanya pasti mendengar ucapannya barusan.
****
Celine merasa mual pagi ini, sedari tadi dia terus memuntahkan isi perutnya, padahal sarapan saja belum masuk ke dalam mulutnya.
"Kenapa dengan diriku?" Keluh Celine menatap dirinya pada cermin di kamar mandi. Celine selesai dari kamar mandi, bersiap untuk turun ke bawah dan berangkat ke kantor.
Saat tiba di bawah, dia melihat Devon sudah rapi dan sedang menyantap sarapannya, tapi hanya seorang diri.
"Selamat pagi Tuan muda." Sapa Celine dan Devon terkejut, tidak menyangka Celine masih mau menyapanya pagi ini.
"Selamat pagi, makanlah, kita harus tiba di kantor lebih awal." Sahut Devon.
"Iya." Ucap Celine singkat lalu mulai menikmati sarapannya yang sudah disiapkan bibi Milly pada piringnya.
"Selamat pagi bibi Milly." Sapa Celine saat melihat bibi Milly masuk ke dalam ruang makan.
"Selamat pagi nona Celine, anda sudah lebih baik?" Tanya bibi Milly seketika membuat Devon terkejut dan menatap Celine. Celine menjadi salah tingkah dan bingung bagaimana bibi Milly bisa tahu jika dia sedang tidak enak badan???
"Eh! Saya baik-baik saja bibi. Sarapannya enak sekali. Terima kasih bibi." Sahut Celine sengaja mengalihkan pembicaraan. Ucapan Celine kini membuat Devon menjadi salah tingkah, sedangkan bibi Milly hanya tersenyum lebar.
"Enak ya nona? Itu bukan masakan saya, tapi Tuan muda yang membuat dan menyiapkannya untuk anda." Ucap bibi Milly dan Devon langsung berdiri dari kursinya dan mengajak bibi Milly ke dapur.
"Sudahlah bibi, jangan ganggu dia, lakukan saja tugasmu." Ucap Devon sambil menarik tangan bibi Milly dan masuk ke dapur.
Celine masih menganga tidak percaya menatap makanan di hadapannya. Saat Celine sedang bingung menatap makanan di depannya, Devon melangkah melewatinya.
"Buang saja jika tidak suka, tidak perlu basa-basi! Kita harus cepat!" Ucap Devon seraya melangkah keluar menuju pintu.
"Eh?! Enak kok!" Sahut Celine tersenyum lebar lalu menyantap makanan itu lagi. Devon ikut tersenyum lebar mendengarnya.
"Cepatlah! Aku tunggu di mobil!" Ucap Devon.
Devon sudah membunyikan klakson beberapa kali, tapi Celine juga tak kunjung keluar. Devon merasa sangat kesal dan geram, lalu turun keluar lagi dari mobil dan masuk kembali ke istana.
"Celine! Sedang apa kamu?! Cepatlah! Kita bisa terlambat!" Seru Devon kesal memanggil Celine.
Celine barusaja keluar dari kamar mandi dengan lemas juga wajah pucat, bahkan dipapah oleh bibi Milly. Devon terkejut melihatnya dan segera menghampiri Celine. Devon langsung mengangkat tubuh Celine dan merebahkannya di sofa.
"Bibi, tolong panggil dr.Hilda segera. Sebenarnya apa yang terjadi dengannya bibi?" Tanya Devon cemas.
"Saya sudah menghubungi dr.Hilda, dia sedang dalam perjalanan kemari Tuan muda. Nona Celine sudah muntah-muntah sejak bangun tidur tadi Tuan muda." Sahut bibi Milly.
"Apa dia salah makan? Apa karena masakanku?!" Tanya Devon panik. Bibi Milly tersenyum menggelengkan kepalanya.
"Tuan muda, nona Celine sudah muntah sebelum mandi pagi tadi. Jadi bukan karena masakan anda." Sahut bibi Milly.
"Lalu apa yang terjadi dengannya?" Tanya Devon panik dan disaat bersamaan datanglah dr.Hilda memasuki istana itu.
"Tuan muda, biarkan saya memeriksanya." Ucap dr.Hilda dan Devon pun menyingkir dari tubuh Celine.
Dr.Hilda tersenyum saat telah selesai memeriksa Celine. Dia berdiri dan menghampiri Devon dengan senyum lebar.
"Dia tidak sakit Tuan muda, dia hanya mengalami morning sickness saja, hal itu biasa terjadi pada wanita hamil di trimester awal. Usia kandungannya saya perkirakan 3 Minggu saat ini. Saya akan memberikan resep vitamin dan anti mual untuknya. Semoga morning sickness nya tidak terlalu mengganggu lagi." Jelas dr.Hilda.
Devon sangat terkejut, pikirannya seketika kosong mendengar ucapan dr.Hilda barusan. Devon hanya diam menatap Celine, bahkan hingga dr.Hilda pergi meninggalkan istana, Devon tetap diam tidak bereaksi apapun. Celine sudah terlelap memejamkan matanya.
"Tuan muda." Panggil bibi Milly setelah selesai mengantarkan dr.Hilda keluar istana.
"Bibi, tolong jaga dia baik-baik. Aku harus pergi ke kantor, aku akan kembali siang nanti." Ucap Devon kembali menghindari pembicaraan tentang hubungannya dan Celine.
"Baik Tuan muda." Sahut bibi Milly. Devon pun pergi seorang diri ke kantor.
****
Devon tidak mampu berkonsentrasi dengan pertemuan pagi ini. Pikirannya terus memikirkan kehamilan Celine. Devon sangat yakin bahwa itu adalah anaknya, bukan ingin memungkiri kenyataan, tapi sebuah pernikahan bukanlah jalan keluar yang terbaik saat ini. Devon tidak bisa mengambil keputusan apapun pada pertemuan ini, dirinya merasa harus segera kembali ke istana. Oleh karena itu Devon meminta maaf pada semuanya dan segera mengundurkan diri dari pertemuan itu. Dia sangat butuh bertemu dan berada di dekat Celine.
"Celine pasti sangat butuh kehadiranku disisinya. Aku tidak ingin dia berpikir negatif dan merasa tertolak dengan tidak adanya aku disisinya. Semua ini harus dibicarakan ulang. Pasti ada jalan keluar lain selain pernikahan." Batin Devon saat menyetir mobilnya menuju istana.
****
Devon segera naik ke atas saat tiba di istana, segera menuju kamar Celine. Tanpa mengetuk pintu, Devon segera masuk ke dalam kamar itu. Kosong.
"Celine! Celine!" Devon memanggilnya, mencari Celine ke seluruh ruangan kamar itu hingga ke kamar mandi bahkan dengan bodohnya sampai mencari Celine ke dalam lemari pakaian. Kosong, semuanya kosong.
Devon keluar dan mencari di kamar pribadinya, kosong. Devon turun kebawah dan mencari gadis itu, dan tetap kosong. Celine seolah menghilang dari istana.
"Bibi Milly! Bibi!" Seru Devon memanggil bibi Milly.
"Tuan muda, anda sudah kembali?" Sahut bibi Milly sambil tergopoh-gopoh menghampiri Devon.
"Bibi, dimana Celine? Aku sudah mencarinya dimanapun tapi tidak menemukannya." Tanya Devon dengan raut wajah cemas.
"Nona Celine tadi memaksa Otista untuk mengantarkannya ke kota, dia ingin menebus resep yang dr.Hilda berikan pagi tadi." Sahut bibi Milly.
"Tuan muda, ada apa ini?" Tanya Grisella yang ikut menyusul ke ruang tengah saat mendengar seruan Devon pada bibi Milly tadi. Devon tidak menjawab Grisella, dia segera menghubungi Otista.
"Otista, dimana kalian?!" Tanya Devon saat mendengar suara Otista.
"Tuan muda, Saya hanya sendiri, Kalian siapa maksudnya?" Tanya Otista bingung.
" bukankah kamu pergi bersama Celine ke kota?!" Devon balik bertanya mulai kembali cemas.
"Benar, dia berkata ingin menebus vitamin dari resep dr.Hilda, lalu setelah membeli vitamin itu dia mengatakan harus ke kantor, jadi saya mengantarkannya ke hotel, setelah itu saya pergi ke swalayan untuk membeli titipan Grisella." Jelas Otista.
"Sial! Dia tidak ke kantor! Aku tidak melihatnya saat di kantor tadi! Otista, cepat temukan Celine dan segera bawa dia kembali ke istana!" Ucap Devon dengan sangat panik.
Devon terus berjalan kesana kemari dengan gelisah. Bibi Milly dan Grisella juga menunggu kabar dari Otista dengan cemas.
Ddrrrttt....
Otista menghubungi Devon.
"Tuan muda, saya tidak bisa menemukannya di seluruh hotel ini, di kantor atas juga tidak ada. Menurut security hotel, dia melihat Celine pergi menggunakan taxi." Ucap Otista memberi kabar.
"Sial! Kemana dia pergi?!" Sahut Devon lalu memutuskan sambungan telepon itu dengan segera. Devon segera naik ke atas menuju kamarnya dan mengambil cermin ajaibnya.
"Cermin ajaib, tolong tunjukkan padaku dimana Celine Wilder berada saat ini!" Ucap Devon, namun cermin itu tidak mampu menemukan keberadaan Celine. Beberapa kali Devon mencoba lagi, namun jawabannya tetap sama, bahwa cermin itu tidak mampu menemukan keberadaan Celine.
Devon menjadi putus asa, duduk di sofa dengan sangat cemas. Rasa takut kehilangan yang sangat besar telah memenuhi hatinya saat ini, bahkan airmata mulai menumpuk di pelupuk matanya. Dia sangat takut terjadi hal yang buruk pada Celine juga anaknya.
"Kemana kalian pergi?" Ucap Devon pada dirinya sendiri.
Grisella dan bibi Milly masuk ke dalam kamar Devon. Keduanya saling memandang dengan raut wajah sedih melihat keadaan Tuan muda mereka yang kini sedang terdiam menangis.
"Tuan muda, bagaimana? Apa yang cermin ajaib itu tunjukkan pada anda?" Tanya Grisella dengan perlahan dan ragu.
"Cermin ajaib itu tidak mampu menemukan Celine dimanapun, entahlah apa masalahnya?" Sahut Devon dengan pandangan kosong menatap lantai.
"Mengapa bisa begitu bibi Milly?" Tanya Grisella pada bibi Milly.
"Itu karena nona Celine kini tidaklah murni jiwa nona Celine. Di dalam dirinya telah tumbuh jiwa lain, itulah yang menyebabkan cermin ajaib tidak mampu menemukan jiwa nona Celine." Sahut bibi Milly menjelaskan dan sangat membuat Grisella terkejut.
"Apa maksud bibi? ada Jiwa lain dalam diri Celine?" Tanya Grisella tak mengerti.
"Nona Celine hamil, dia sedang mengandung anak tuan muda, begitulah yang dr.Hilda katakan pagi tadi setelah selesai memeriksa nona Celine." Sahut bibi Milly.
"Apa?! Apa anda mengetahui hal ini Tuan muda?!" Tanya Grisella mendelik pada Devon. Devon tidak menjawab apapun, hatinya sedang kosong kehilangan Celine juga anaknya.
"Ouh tidak! Jangan katakan bahwa anda mengetahui hal ini tadi pagi, tapi justru meninggalkan Celine dan memilih pergi ke kantor. Apa anda tidak punya hati?! Apa anda memang ingin melarikan diri dari kehamilan Celine?! Ouh tidak! Tidak! Aku tidak akan menyalahkan Celine yang memilih pergi dari istana ini. Dia pasti sudah merasa tertolak oleh sikap anda!" Ucap Grisella dengan sangat kesal dan geram pada sikap Devon.
"Aku butuh berpikir Grisella! Semua ini begitu mendadak! semua ini begitu cepat terjadi! Aku tahu aku salah, tapi aku segera meninggalkan pertemuan itu sebelum selesai, karena aku ingin berada di sisinya! karena ternyata aku tidak bisa meninggalkan dirinya. Aku tidak menolak anak itu, aku hanya perlu waktu dan sedikit ruang untuk berpikir tentang kehidupan kami selanjutnya, kamu tahu pernikahan sangatlah tidak mungkin bagi kami berdua, Grisella." Sahut Devon pada akhirnya.
"Apanya yang tidak mungkin?! Anda sendiri yang membuat semua menjadi tidak mungkin! Anda selalu menolak cinta yang Celine tawarkan pada anda! Apa salahnya cinta Celine?! Apa kurangnya diri Celine?! Dia memang telah ditakdirkan untuk anda! Tidak bisakah Anda sedikit memberi kesempatan untuk cinta Celine pada hidup anda?! Tidak ada salahnya mencoba, kemungkinan besar Celine lah yang mampu menghilangkan kutukan anda! Terbukti penyihir hitam selalu mengincarnya untuk dibinasakan!" Ucap Grisella.
Devon segera mengangkat kepalanya, dia tersentak baru menyadari bahwa Celine dalam bahaya besar. "Penyihir hitam! Jangan sampai penyihir hitam mengetahui keberadaan Celine yang meninggalkan istana ini." Sahut Devon sangat cemas menyadari sesuatu yang sangat berbahaya sedang mengincar Celine.
"Semoga saja dia juga tidak mampu menemukan nona Celine." Ucap bibi Milly.
"Mengapa dia selalu tidak bisa mempercayaiku? Mengapa dia selalu berpikir negatif padaku? Tidak bisakah dia melihat bahwa aku sangat mencemaskannya? Mengapa dia selalu memilih pergi dariku?!" Keluh Devon sendiri.
"Bukan! Bukan Celine yang tidak mempercayai anda, tapi anda lah yang tidak pernah bisa percaya pada cintanya yang tulus, yang mampu menerima anda apa adanya. Anda terus menolaknya dengan sikap dan ucapan anda padanya." Bantah Grisella kesal.
"Sudahlah, cukup! hentikan! Nona Grisella sebaiknya anda hubungi Otista untuk terus mencari tahu kemana taxi itu pergi dengan melacak no.taxi itu melalui CCTV hotel." Ucap bibi Milly menghentikan perdebatan antara Devon dan Grisella.
"Bibi benar, aku lebih baik membantu Otista menemukan jejak Celine." Sahut Grisella lalu keluar dari kamar itu.
"Tuan muda, ikutlah dengan saya, kumohon. Ada sesuatu yang harus saya tunjukkan pada anda." Ucap bibi Milly dan Devon hanya mengangguk lalu berdiri mengikuti langkah bibi Milly.
Bibi Milly mengajak Devon masuk ke dalam ruang pertapaannya. Dia mengambil sebuah buku besar dan tebal, lalu membukanya.
"Buku apa itu bibi?" Tanya Devon.
"Ini adalah buku perjalanan waktu. Buku ini mampu membawa kita pada kejadian di masa lalu, kapanpun waktu yang ingin kita lihat." Sahut bibi Milly.
"Apakah bisa untuk menemukan Celine?" Tanya Devon penuh harap. Bibi Milly hanya tersenyum.
"Tidak, sudah kukatakan kehamilan itu menjadikan jiwa nona Celine tidaklah murni lagi, jadi tidak bisa dicari dengan kekuatan sihir apapun. Lagipula bukan itu yang ingin aku tunjukkan padamu Tuan muda." Sahut bibi Milly.
Bibi Milly melafalkan mantranya dan buku tersebut mengeluarkan gelombang putaran angin yang sangat besar di atasnya. Tak lama angin itu menampilkan sebuah kejadian bagai layar film. Terlihat ayah dan ibu Devon saat mereka muda.
"Tuan muda, saya ingin anda belajar sesuatu dari orangtua anda tentang apa itu cinta sejati. Lihatlah dan anda akan mengerti apa cinta sejati itu." Ucap bibi Milly.
Devon menatap serius putaran waktu di masa lalu tentang hidup kedua orangtuanya. Satu jam lamanya Devon menyaksikan bagaimana kehidupan dan hubungan orangtuanya.
"Apa anda kini mengerti apa cinta sejati itu? Cinta butuh diungkapkan Tuan muda, memang tidak mudah, dan juga bisa menyebabkan airmata, namun cinta sejati mampu membuat seseorang rela berkorban,dan menjadi sosok yang kuat dan tangguh menghadapi apapun resiko dalam kehidupan ini dengan bersama. Jangan takut dan menghindari cinta sejati anda tuan muda." Ucap bibi Milly.
"Mereka sangat mencintaiku bibi, mereka rela meninggalkan segala kekuasaan dan materi demi bersamaku. Mereka juga selalu saling menjaga dan saling percaya dari awal bertemu sampai menikah, hingga sang Pencipta mengirimkan aku sebagai anugerah cinta mereka." Sahut Devon meneteskan airmatanya.
"Banyak godaan, cobaan dan gangguan dalam hubungan mereka, tapi mereka dapat menghadapinya dengan cinta sejati, cinta yang memampukan mereka untuk saling percaya dan saling bertahan." Ucap bibi Milly.
"Tuan muda, cobalah memberikan kepercayaan pada nona Celine. Saya yakin dia pasti mau menerima diri anda." Ucap bibi Milly lagi.
"Andai sang Pencipta masih memberiku kesempatan untuk bertemu dengannya, aku akan memberikan kepercayaan itu padanya bibi." Sahut Devon penuh penyesalan.
Bibi Milly menghela napas panjang, merasa kasihan pada pria yang kini berbadan besar itu. Bibi ikut merasakan penyesalan dalam diri Devon, Tuan muda yang telah dirawatnya sejak pria itu masih bayi.
"Dimana kalian berada?" Batin Devon dalam hatinya.