Kini Kiara sudah menikah. Menikah dengan pria yang sudah merenggut apa yang selama ini Siena jaga dengan baik, harta paling berharganya sebagai seorang gadis. Pria yang sudah menjadikannya wanita rusak. Pria yang membuatnya jatuh pada pesonanya sekaligus terluka dan menjatuhkannya hingga pecah berkeping.
Tepat sebulan yang lalu Aaron dan Kiara menikah. Mereka sedang berbulan madu ke Paris, meninggalkan Siena yang hancur seorang diri.
Siena menatap tangannya yang dililit oleh selang kecil yang mengalirkan cairan infus. Berbaring sambil menatap langit-langit putih diatasnya dengan pandangan kosong. Tangan rampingnya meraba perutnya yang rata. Di dalam perut itu, sudah tak ada lagi kehidupan, kehidupan yang hanya sesaat di titipkan Tuhan padanya.
Sudah tidak ada lagi darah pria b******k itu.
"Honey, makan dulu nak. Mom sudah membawakanmu bubur," ujar sang ibu disampingnya. Wanita paruh baya itu mengelus pipi Siena dengan lembut.
Perasaan bersalah itu menelusup pada Siena, namun ia lebih hancur lagi. Ingin sekali Siena berteriak bahwa suami dari Kiara begitu b******k.
"Aku ingin baby ku, mom."
Sang ibu menatapnya dengan wajah sendu dan sedih. Siena balas menatapnya.
"Siena sayang. Katakan pada mom siapa ayah dari baby mu?" tanya ibunya sambil menyeka air mata disudut matanya, dan Siena pun menggeleng pelan.
Ini aib. Ia tidak akan mengatakan nya pada siapapun. Cukup dirinya saja yang tahu kelakuan b***t suami Kiara.
"Honey, kau percaya mom sangat menyayangimu kan. Katakan pada mom, siapa ayah dari baby mu?"
Siena memalingkan wajahnya ke samping kiri karena ibunya duduk di samping kanan. Ibunya menghela napas pelan kemudian pergi keluar. Siena pun menoleh pada pintu kamar rumah sakit yang tertutup.
"Sebulan lalu, aku hancur. Siena Lovey yang polos sudah rusak. Aku sudah kotor dan berdosa pada Kiara dan keluargaku. Aku sungguh tidak tahu pria itu menjeratku dan menikahi Kiara," gumam Siena dengan air mata yang mengalir.
Ia kehilangan pekerjaannya karena jarang masuk. Siena mengandung dan juga kehilangan bayinya, ia keguguran karena stress berlebihan setelah kejadian malam itu.
Setelah malam yang kelam dan bagi Siena adalah bencana, yaitu Aaron menjadi kakak iparnya. Namun pria itu seolah tak mengenalnya jika didepan Kiara dan keluarganya. Seolah ia hanya wanita nakal, yang tidak masalah melakukan one night stand, keesokan harinya ditinggalkan sebuah black card, jika dipakai tidak akan ada habisnya. Setelahnya mereka menjadi orang yang tidak saling mengenal.
Tidak. Siena bukanlah gadis yang seperti itu.
"Aaron bersenang-senang dengan permainannya. Baik Aaron Ackerley! Akan aku buktikan kalau Siena Lovey yang polos, lemah dan cengeng sudah tidak ada lagi. Aku akan membuatmu bertekuk lutut dalam pesona ku, Aaron. Aku akan ikuti apapun permainanmu."
(*0*)
New York
Siena sedang berdiri di balkon kamar hotel. Melihat pemandangan malam langit New York yang sangat indah. Kota ini benar-benar menakjubkan dan tidak pernah mati. Dengan kerlap kerlip lampu dijalanan dan dari gedung-gedung lain.
Siena sudah tiga bulan tinggal di New York sendirian. Setelah kejadian malam itu dan pernikahan Kiara, Siena menyusul Juliet untuk pergi ke New York.
Saat itu, ketika Siena pergi membawa segala sakit hati tapi Kiara dan Aaron masih belum pulang dari bulan madu mereka. Gadis cantik itu berpikir, jika ia terlarut dalam sakit hatinya dan traumatik, dia akan menjadi gadis yang takut memulai hubungan.
Awalnya Siena tinggal di apartemen sederhana yang hanya ditempati sendiri. Tapi sialnya pria b******k yang menjebaknya dan menghancurkannya itu telah berhasil menemukannya. Meski Siena terus menolak kehadirannya, namun pria dengan wajah setampan Dewa Yunani itu kembali merayunya. Membuatnya terperosok dan menjadi gadis bodoh, lagi dan lagi.
Siena merasa Aaron sudah merusaknya sejak awal, jadi gadis itu hanya memikirkan kesenangannya, tanpa memikirkan apapun lagi. Sekali rusak, dia sudah rusak. Mereka kembali menghabiskan malam panas yang menggairahkan di malam itu. Pesona dan rayuan Aaron itu tidak bisa ditolak. Saat mulut dan pikirannya menolak tapi tubuhnya menerima.
Memang tubuh sialan, pikir Siena.
Ketika pagi hari setelah melewati malam menggairahkan, Aaron kembali menghilang dari apartemennya bersamaan dengan semua barang-barang dalam apartemennya raib. Awalnya Siena panik tapi Aaron menghubunginya dan mengatakan bahwa barang-barangnya sudah dia pindahkan semua ke apartemen baru yang dibeli untuk Siena. Apartemen elit dan mewah yang memiliki dua lantai. Meski sepanjang hari menggerutu, tapi Siena menikmati kemewahannya.
Kini ia hanya bekerja di kantor arsitektur kecil, tapi tinggal di apartemen elit dan mewah. Semua orang di kantor barunya bergosip bahwa dirinya menjadi simpanan seorang pengusaha kaya raya. Menggunakan kecantikannya untuk memikat pria kaya. Meski kenyataan seperti itu, tapi Siena selalu menyangkalnya.
Setelah melamun di balkon kamar hotel, Siena segera masuk karena udara nya semakin dingin. Gadis itu merapatkan mantel bulunya yang membalut dress panjang yang sedikit tipis.
"Dia itu benar-benar pria b******k yang pernah kutemui." Siena menggerutu seraya merebahkan tubuhnya.
Tadi sore Aaron meneleponnya untuk datang ke hotel ini yang merupakan salah satu hotel Ackerley Group. Sejak dua jam lalu Siena menunggu, menunggu Aaron yang tak kunjung datang.
"Sangat membosankan. Jika aku tahu pria itu membohongiku, lebih baik aku pergi dengan Julie." Ia masih menggerutu.
Siena berjalan keluar kamar, membenarkan gaunnya dan rambut panjangnya yang digerai dan sedikit kusut. Siena berniat akan pulang, namun saat ia membuka pintu, Aaron pun membuka pintu dari kamar sebelah. Pria itu menatapnya dengan tajam dan dalam, Siena hanya memalingkan wajahnya. Tatapan tajamnya dari mata hijau yang seksi itu selalu membuat para wanita manapun gemetar.
Setelah menutup pintu di belakangnya, Aaron datang pada Siena, merengkuh pinggang rampingnya dan mencium bibirnya dengan dalam. Ia mendorong Siena masuk kembali ke kamar hotel dan menutup pintunya. Aaron merengkuh Siena semakin erat dan melumat kasar bibirnya. Mereka pun berbagi ciuman panas.
"Kau ini ceroboh atau bodoh?" Siena menggerutu saat Aaron melepaskan ciumannya. "Kalau ada karyawanmu yang melihat kau menciumku didepan pintu hotel bagaimana? Kau mau mereka melaporkannya pada Kiara?"
"Kau––" Belum selesai gadis itu berbicara Aaron sudah kembali membungkam mulutnya dengan ciuman kasar. Siena selalu kalah dengan ciumannya yang selalu hebat dan memabukan. Bibir tebal Aaron melumat bibir tipis Siena, berbagi ciuman dan lidah hangatnya saling membelit, membuat Siena lemas.
"Kalau mereka melihat kita, aku cukup membuat mereka diam," ujar Aaron begitu melepaskan pagutan bibir mereka.
Suaranya sangat rendah dan seksi. Dia juga mengelus sudut bibir Siena, dan menelusupkan jempolnya pada mulut kecil Siena.
"Ah sialan!! Aku sudah tak tahan Siena." Aaron mengerang dengan suara beratnya yang seksi ditelinga Siena. Inilah yang selalu wanita sukai, suara rendahnya yang jantan.
"Kau- di sini sendiri?" tanya Siena sembari mengulum ibu jari Aaron.
Aaron menarik ibu jarinya dari mulut Siena. Mata hijaunya hanya menatap gadis didepannya dengan tajam dan intens, dan wajah tampannya tak berekspresi. Dia menangkup wajah Siena dengan kedua tangan besarnya yang hangat.
"Tidak. Aku bersama Kiara."
"Apa??" Siena membulatkan matanya yang lebar.
Dia gila!! Bagaimana bisa dia menyuruhku ke hotel dan ... Dan ... Aaron ackerley itu benar-benar si pria gila. Teriak Siena dalam hati.
"Dimana Kiara??" tanyanya lagi.
"Di samping kamar ini," jawab Aaron datar dan Siena menghela napas pelan.
Aaron kembali mencium pipinya dan menggigiti nya dengan lembut. Lalu turun pada bibirnya, Aaron pun mengecupi bibir Siena. Siena hanya memejamkan mata menikmati perlakuan Aaron, tangan-tangan besarnya bahkan merambat di paha halus Siena kemudian pada pinggulnya.
"Kau terlihat lebih berisi," komentar Aaron yang kembali menciumi pipi Siena dengan gemas.
"Akhir-akhir ini aku banyak makan," jawab Siena singkat, tak berminat membicarakan apapun mengenai berat badan. Karena bagi wanita, berat badan adalah hal sensitif.
Aaron menghentikan ciumannya pada pipi sang gadis dan beralih menatapnya dengan intens. Gadis cantik itu balas menatapnya dengan tatapan menggoda sambil merangkulkan lengannya pada leher Aaron.
"Kau harus berhenti," katanya.
Kali ini Siena mengernyitkan dahinya dan menatapnya dengan tatapan bingung. Setiap ucapan yang Aaron keluarkan itu terkadang membuat Siena jengkel karena ia harus berpikir dulu. Meski Aaron tak suka basa basi, tapi ucapannya selalu menyebalkan.
"Maksud mu aku harus berhenti menjadi wanita simpananmu?" tanya Siena seraya melepaskan rangkulan tangannya tapi Aaron semakin mengeratkan rengkuhannya di punggung Siena hingga tubuh mereka menyatu.
Siena melepaskan rengkuhan tangannya dan duduk di kasur. Aaron menyusulnya dan duduk disampingnya. Ia mendekatkan kembali tubuhnya pada Siena dan menciumi telinganya, membuat gadis itu menggelinjang. Ia juga membelai rambut panjang Siena yang digerai.
Siena merasa Aaron benar-benar sudah tergila-gila dengan tubuhnya, hanya tubuhnya, tanpa pernah berniat memiliki hatinya juga. Jika memang Aaron menginginkannya menjadi istri keduanya, Siena selalu berpikir akan menerimanya. Namun saat melihat wajah Kiara yang bahagia memiliki suami seperti Aaron, membutnya berulang kali berpikir untuk menolaknya.
"Maksudku dari pekerjaan mu itu bodoh," desis Aaron seraya menoyor kepala Siena, dan gadis itu pun berdecih sebal.
"Kau pikir untuk apa aku ke New York kalau bukan untuk bekerja. Jadi kau mau aku jadi pengangguran dan tidak memiliki uang di negara orang?" balas Siena dengan nada kesal. Aaron hanya mengedikkan bahunya dan merebahkan tubuhnya di kasur.
"Kau hanya tinggal bilang padaku jika kau menginginkan sesuatu. Aku akan memberikan apapun."
Siena menolehkan kepalanya ke belakang dimana Aaron merebahkan tubuhnya. Ia naik ke kasur, merangkak menghampirinya dan memerangkap tubuh besar Aaron dibawahnya, hingga membuat gaun yang dikenakannya sedikit tersingkap. Aaron membuka matanya dan mengelus bibir Siena dengan ibu jarinya.
"Kau yakin mau memberikan apapun untukku?" tanya Siena dan Aaron mengangguk. "Kalau begitu, aku mau kau pulang ke Inggris. Ambil semua kartu dan apartemen yang kau berikan untukku."
(*0*)