Chapter 13

1582 Kata
Di lobi hotel Ackerley group yang besar berdiri sosok pria yang sangat tampan, tinggi, berkulit putih khas Asia dan tubuh yang sangat seksi juga gagah. Kemeja putih yang dilapisi oleh jas hitam yang sangat sempurna membalut tubuh kekar nya. Dengan rahang yang tegas dan sedikit ditumbuhi bulu-bulu janggut yang tipis membuatnya semakin terlihat tampan. Bibir jokernya yang seksi, matanya yang sipit terlihat dalam dan mempesona dengan dua lesung pipi yang indah yang nampak saat dia tersenyum. Wajahnya khas pria-pria Korea. Satu lagi sosok menyerupai Dewa Yunani yang sempurna. "Soyoung, sekalian kau bawa juga berkas-berkas kerjasama untuk hotel yang di London,” ujar sosok tampan itu dengan ponsel yang menempel di telinga nya. Sambil berjalan menuju lift dia terus berbicara. Hingga tiba di depan lift dan menunggu pintu lift terbuka. "Dasar Pria b******k! Dia pikir siapa seenaknya saja mengatur hidupku. Dia pikir bisa begitu saja memecatku dari perusahaan yang bukan miliknya,” gerutu seorang perempuan dengan suara yang sangat lembut dan halus dari samping pria tampan tadi. Namun ia mengabaikannya dan terus berbicara ditelepon. Pria tampan itu memencet tombol lift untuk ke lantai teratas. Dan sebuah tangan yang putih mulus dan ramping dengan kuku panjang berkutek merah juga ikut memencet tombol untuk lantai teratas. Sesaat si tampan itu mengerutkan dahinya. "Kau sebaiknya secepatnya ke sini. Sebentar lagi meeting dengan Mr. Ackerley dimulai.” Setelah menyelesaikan panggilannya ia menunggu pintu lift terbuka. Saat pintu lift terbuka dalam keadaan kosong, ia masuk dan diikuti satu sosok gadis bertubuh mungil yang membelakanginya. Sepatu hak tinggi gadis itu bergema di dalam lift. "Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Bagaimana aku akan membantu Julie, sedangkan aku saja dipecat,” gumam gadis itu sambil membelakangi tubuh pria tampan yang kini sedang mengerutkan dahinya. Pria itu menatap punggung mungil dan sempit dalam balutan coat pink, dengan rambut cokelat yang diikat kuda. Sesaat ia tertegun, melihat sosok itu dari belakang. Ia seperti mengenal postur tubuh itu, namun saat mata tajamnya yang teduh turun ke bawah, ia melihat gadis itu hanya mengenakan dress midi dan sepatu hak tinggi. "Dasar Aaron b******k! Sialan.” Gadis itu memaki sambil memukuli dinding lift. "Maaf, Nona, apa ada masalah?" Dengan memberanikan diri pria itu bertanya. Yang ditanya membalikkan badannya dengan wajah luar biasa kesal dan amarah yang menumpuk. Sampai pandangan mereka bertemu, mata bertemu mata. Masing-masing wajah keduanya diliputi keterkejutan yang kentara. Gadis cantik itu adalah Siena. Mata coklat keemasannya begitu terkejut, bahkan sampai bibir mungilnya membulat. "Andrew?" bisik Siena pada pria tampan di depannya. Begitupun dengan pria pemilik bibir joker itu, membulatkan matanya kemudian bibirnya melengkung lebar hingga membentuk lesung pipi yang menambah ketampanannya. "Siena,” balas pria bernama Andrew dengan suara setengah tersekat dan terkejut. Keduanya masih terus terdiam dalam keheningan, hanya ada suara deru napas mereka yang saling bersahutan. Keterkejutan masih jelas terlihat di wajah mereka masing-masing. Siena menggelengkan kepalanya dan sedikit memukul kepalanya, membenarkan bahwa penglihatannya salah. Pria tampan di depannya adalah Andrew. Pria Korea mantan kekasihnya, yang telah meninggalkannya. "A-andew, bagaimana kau ada disini?" Suara Siena mencicit tersekat. Jika melihat wajah Andrew, Siena mengingat hubungan mereka yang kandas dulu. Mata bulat Siena menatap Andrew dari atas sampai bawah. Wajah Andrew bahkan lebih tampan dari yang ia lihat terakhir kali. Dengan rambut hitamnya yang ia sisir ke samping seperti para pengusaha, wajah Korea nya sangat khas, dengan balutan jas formal. Siena masih berharap bawah Andrew lah yang akan berakhir bersamanya, tapi kenyataannya tidak. Memang gadis dari keluarga sederhana sepertinya tak pantas jika bersanding dengan Andrew, anak pengusaha dari Korea. Ditambah Siena masih sakit hati saat dengan sombongnya ayah Andrew menghina keluarganya dan dirinya. Menganggapnya gadis miskin yang tak tahu diri. Mata tajam Andrew menelusuri wajah cantik Siena, wajah yang dari dulu tetap cantik. Tapi ada sesuatu yang membuat Andrew memicingkan matanya. Siena di depannya adalah Siena yang cantik, seperti nona muda dan tampilan yang elegan. Dengan gaun yang cantik, rambutnya bahkan dicat coklat dengan berani dan sepatu hak tinggi. "Kau––Siena Lovey, kan?" tanya Andrew balik untuk memastikan. Siena tidak menjawabnya, tapi malah memalingkan wajahnya. "Kau tidak suka memakai gaun, kau bahkan tak suka sepatu hak tinggi. Ternyata kau berubah banyak,” lanjutnya. Andrew menatap Siena lekat-lekat meski gadis itu masih memalingkan wajahnya. Pria itu mendekati Siena dengan langkah tegap dan pelan, seakan ingin menerkam Siena. Siena mundur dengan perlahan, beberapa kali matanya melirik pintu lift yang belum juga terbuka. "Siena, aku merindukanmu. Sangat merindukanmu,” bisik Andrew seraya mendekati Siena dan memegang kedua bahu Siena. Siena mencoba menepis tangan Andrew di kedua bahunya, tapi kekuatan pria itu lebih besar darinya. Hingga Siena membiarkan Andrew menghimpitnya di dinding lift. "Siena, kaukah ini?" Andrew kembali memanggil dengan suara lembut. Jari-jari kokoh nya memegang dagu Siena dan mengangkatnya hingga tatapan mereka bertabrakan kembali. "Hmm, aku Siena Lovey,” balas Siena. Gadis itu melepaskan tangan Andrew dari dagunya dan berjalan menjauh ke sisi lain. Siena melipat kedua tangannya di d**a menunggu lift terbuka. Masih ada dua lantai lagi mereka akan tiba di lantai kantor Aaron berada. Tanpa diduga Andrew mendekati Siena lagi dan menarik gadis itu dari belakang, hingga tubuhnya limbung dan jatuh pada pelukan Andrew. Siena terpaku, dengan wajah terkejut tak bisa mengucapkan apapun. Ia hanya merasakan kehangatan tubuh besar Andrew memeluknya. Tangan-tangan besarnya merengkuh punggungnya dan menyusupkan wajah Siena di dadanya. Tiba-tiba pintu lift terbuka, menampakkan seorang pria dalam balutan jas formal. Dengan mata hijau tajamnya yang berkilat bagai ujung pedang, mengintai dan siap menghunus tubuh Siena dalam pelukan Andrew. Dengan terkejut Siena mendorong tubuh Andrew dan berbalik. Tubuhnya semakin terpaku dan membeku. Bahkan kedua kakinya nyaris tumbang, dengan jantung yang berdegup. Siena rasa ia akan mati detik itu juga. Aaron berdiri di depan lift dengan kedua tangan yang mengepal erat dan rahang yang mengeras. Tatapannya sangat tajam dan dingin seolah akan meremukkan tubuh mungil Siena. "Siena.” Andrew kembali meraih bahu Siena dan hendak memeluknya tapi Siena menepisnya. "Sudah sampai,” Katanya. Siena buru-buru keluar diikuti oleh Andrew, yang masih belum sadar dengan kehadiran Aaron didekat pintu lift. Karena terlalu merindukan Siena, Andrew mengejar Siena dan mencengkeram kedua bahunya. Siena memalingkan wajahnya hingga tatapannya bertemu dengan mata tajam Aaron. "Aku sangat merindukanmu, Siena. Sangat sangat merindukanmu. Selama ini aku mencarimu, tapi keluargamu pindah dan aku tak menemukanmu lagi,” ujar Andrew yang sialannya didengar Aaron. Siena membalikkan wajahnya dan menatap wajah Andrew yang memberikan tatapan masih mengharapkan nya. Ia sendiri tak mungkin kembali pada Andrew, karena sudah ada Aaron di hidupnya. Siena masih bergeming, karena tak tahu akan mengatakan apa. Ada dua pria tampan dan terlebih Aaron yang b******k sedang menatapnya seperti sedang menghunuskan ujung pedang di lehernya. Sedangkan Andrew menatapnya seperti Siena adalah Cinderella nya yang menghilang. Tiba-tiba Siena teringat sesuatu, ia menoleh pada Aaron dan menyeringai kecil. Sambil tersenyum kecil Siena melepaskan tangan Andrew di kedua bahunya. "Selamat siang Mr. Choi.” Suara berat dan rendah terdengar begitu dalam dan penuh wibawa. Andrew terkejut dan berbalik untuk menatap pria yang menyapanya. Pria itu membungkuk sekali sebagai penghormatan pada Aaron kemudian mendekati Aaron. "Ah, maafkan saya Mr. Ackerley,” balas Andrew. Aaron berdeham dan mengangguk dengan wajah super dinginnya, mata tajamnya melirik Siena sebentar seolah mengatakan bahwa selangkah ia dekat dengan Andrew, pria itu dalam bahaya. Sambil mengeratkan kedua tangannya, Aaron menghela napasnya pelan-pelan dan tak disadari Andrew untuk menekan emosinya dalam-dalam. ia berusaha ramah menyambut Andrew, meski dalam hati ingin sekali membunuh Andrew detik itu juga. Namun ia tahu, Andrew tak akan mudah dibunuh begitu saja. "Maafkan saya, sungguh saya baru menyadari kedatangan Anda, Mr Ackerley,” "Nope. Selamat datang di perusahaan saya Mr. Choi. Senang bertemu dengan Anda, meski ini pertemuan pertama kita, tentunya,” ujar Aaron sambil menepuk bahu Andrew. Suaranya terdengar rendah dan penuh wibawa, nada suara para pebisnis. "Mari, ikut saya Mr Choi.” Aaron mempersilahkan Andrew, meski wajahnya masih sangat dingin dan jauh lebih dingin. Andrew mengangguk dan kedua pria tampan bak dewa Yunani itu melangkah bersama ke ruangan Aaron. Aaron berjalan di depan Andrew dengan wajah angkuh dan langkah yang penuh wibawa, membuatnya terlihat berkali-kali lipat lebih tampan. Andrew menoleh ke belakang untuk melihat Siena. Namun gadis itu hanya menatap setengah kosong pada tembok. Selepas Aaron dan Andrew pergi, Siena masih berdiri di koridor. Ia menyandarkan tubuhnya di tembok dan hampir saja terjatuh karena kakinya sangat lemas. Melihat wajah Aaron yang menahan murka, karena dirinya dan Andrew. Siena tak menyangka ia akan bertemu dengan Andrew mantan kekasihnya di depan Aaron. Demi Tuhan itu Aaron! Pria tampan yang sialannya bisa berbuat sesuka hatinya, meski harus menyakiti Siena. Meski niat awalnya ingin bertemu Aaron dan membicarakan perihal pemecatan dirinya, siapa sangka dia akan bertemu Andrew. Pria yang sangat ia hindari, yang sialannya sangat tampan juga. "Andrew bekerjasama dengan Ackerley Group?" gumam Siena tak percaya. Siena berjalan dengan kaki sedikit gemetar, ia akan pulang ke apartemen menemui Julie. Niatannya harus pudar, karena dia bertemu Andrew yang parahnya Aaron melihat Andrew berbicara begitu padanya. Siena membayangkan betapa murkanya Aaron padanya, melihat dirinya dipeluk pria lain. Bahkan pria itu membisikkan kata rindu. Sambil menguatkan hatinya, Siena berdoa agar dirinya tak mendapat masalah dari Aaron. Saat akan memencet tombol lift tiba-tiba Siena kembali berbalik dan lebih memilih melepas sepatu hak tingginya kemudian menentengnya. Ia berjalan dengan sedikit sempoyongan karena lututnya masih merasa lemas, menuju ruang tunggu yang disediakan untuk para tamu yang menunggu Aaron. Setelah tiba di ruang tunggu dari dinding dan pintu kaca, Siena masuk kemudian merebahkan tubuhnya diatas sofa marun. "Mati aku. Andrew ingin membunuhku secara perlahan. Bagaimana bisa aku harus bertemu Andrew di depan Aaron. Aahh.” Siena mengacak rambutnya hingga berantakan. (*0*)(*0*)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN