Chapter 15

1231 Kata
"Kau menyakitiku, Aaron! Aku tidak kuat lagi. Kau menyakitiku terlalu dalam b******k,” Siena menahan erangannya dan menggigit bibirnya hingga berdarah "Katakan sekali lagi kau akan meninggalkan aku,” desisnya. "Kau menyakitiku. Aku akan pergi, Aaron. Aku tak kuat lagi,” katanya. Wajah Siena sedikit memar, bibirnya berdarah hingga mengalir ke dagunya. Matanya sembab dan tatapannya meredup penuh kesakitan juga kecewa. Mendengar perkataan Siena membuat Aaron semakin gelap mata. Dengan kalap Aaron membenturkan kepala Siena ke lengan sofa dengan keras. Beberapa kali, sampai Siena sedikit kehilangan kesadarannya. Siena melemaskan tangannya yang sedang mencengkeram tangan Aaron, penglihatannya sedikit mengabur dan seluruh tubuhnya terasa sakit. Kepalanya bahkan memberat. Sambil menahan kesadarannya, akhirnya Siena pingsan. Aaron mengancingkan kembali celananya dan membenarkan jasnya. Ia melirik Siena, namun gadis itu tak bergerak sama sekali. Lengan dan wajahnya memar bahkan bibirnya berdarah. "Siena.” Aaron buru-buru menunduk dan menepuk-nepuk pipi Siena. "Sayang bangun. Siena, baby bangun Sien.” Dengan sedikit keras Aaron menepuk pipi Siena. Namun Siena masih tak sadarkan diri, matanya terkatup rapat. Tak bergerak sama sekali meski Aaron menepuknya. Melihat Siena yang tak bergerak sama sekali Aaron menjadi panik. Ia berpikir sudah menyakiti Siena keterlaluan. "Siena bangun.” Aaron duduk dan meraih tubuh Siena, ia membawa Siena pada pangkuannya dan mendekapnya, menciumi pipi Siena yang lebam. Aaron masih berusaha membangunkan Siena, tapi gadis itu tak bergerak. Hanya ada deru napas yang berhembus berat. "Siena, jangan tinggalkan aku baby. Jangan. Jangan pernah tinggalkan aku. Siena bangun, jangan membuatku marah lagi.” Aaron semakin keras menepuk pipi Siena. Ia nembawa kepala Siena di dadanya dan menciuminya. "Argh s**t! b******k kau, Aaron!" Aaron berteriak kesal pada dirinya sendiri. Ia kembali menunduk dan menciumi bibir Siena. "Aku harus membawanya ke rumah sakit.” Aaron melepaskan jasnya dan memakaikannya pada Siena, untuk menutupi tubuhnya yang mengenaskan. Setelah menutupi tubuh Siena, Aaron membopong Siena, bersiap akan keluar. Saat membuka pintu ruangannya, ia melihat satu sosok muncul dari lift yang terbuka. Hal itu membuat Aaron semakin panik. “b******k!" Aaron mengumpat dengan Siena di gendongannya. Ia kembali mengunci pintu dan berjalan cepat ke sebuah pintu yang ada di dalam ruangannya. Ketika terbuka, ada satu ruangan lain yang cukup besar. Ruangan khusus Aaron beristirahat, ada sebuah ranjang, sofa dan lemari. Tanpa menunggu lagi, Aaron masuk dan merebahkan tubuh tak sadarkan diri Siena yang lemas. Menyelimutinya kemudian Aaron menciumnya. "Maafkan aku, baby,” katanya seraya menciumi kening Siena. Aaron keluar dan dari kamar itu, melihat keadaan ruangannya yang berantakan. Sambil menahan geramannya, Aaron menyambar celana dalam, bra dan coat milik Siena. Ia juga mengambil sepatu hak tinggi Siena di dekat pintu dan tas selempangnya. Aaron masuk kembali ke dalam kamar itu, menaruh semuanya dan keluar, menguncinya dari luar. Ia duduk di belakang meja kerjanya, dengan emosi dan ketakutan menggelayut di hatinya. Ia sangat takut akan kehilangan Siena. "Kau benar-benar iblis, Aaron. Lihat yang kau lakukan pada gadis yang sangat kau inginkan,” Aaron menggeram pada dirinya sendiri. Berteriak kesal dan mengusap wajahnya sendiri dengan kesal. Aaron menjambaki rambutnya, merasa marah pada dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia kehilangan kontrol sampai menyakiti Siena. "Aaarrgghhh!!" (*0*)(*0*) Kiara melangkahkan kakinya menyusuri koridor menuju ruangan Aaron. Saat tiba di depan, ia tak melihat sekretaris Aaron berada di tempatnya. Kiara bermaksud akan membuka pintu ruangan Aaron, namun ternyata dikunci. Tak lama kemudian Aaron muncul membuka pintu, dalam keadaan berantakan. Kemeja yang kusut dan kancing atas terbuka, serta rambut coklatnya yang berantakan. "Ya Tuhan!" Kiara berjengit melihat penampilan Aaron yang berantakan. Wanita itu masuk ketika Aaron berjalan kembali ke balik mejanya, mengusap wajahnya dengan kasar dan memijit kepalanya. Wajahnya terlihat keruh dan stres. Kiara membulatkan matanya tak percaya melihat ruangan suaminya yang berantakan seperti kapal pecah. Ia tahu Aaron sangat menjaga kerapihan dan semuanya serba perfect. Namun kali ini ruangan Aaron seperti diterpa badai. "Honey, kenapa ruanganmu seperti ini?" Kiara menelusuri ruangan Aaron, keningnya sedikit mengerut saat merasakan ada bau lain di ruangan suaminya. Dengan cekatan Kiara mengambil kertas-kertas yang berserakan, juga vas bunga yang pecah. Aaron sendiri masih duduk sambil memejamkan matanya, memijit pangkal hidungnya. Saat ini yang berkecamuk di pikirannya hanya ada Siena yang sedang tak sadarkan diri dikamar pribadi nya. "Hentikan Kiara,” titah Aaron dengan suara rendah, saat ia melihat Kiara sedang memunguti kertas-kertas di lantai. "Tapi ini sangat berantakan,” balas Kiara. "Aku bilang hentikan!" Aaron menaikkan suaranya sambil memukul mejanya, membuat Kiara berjengit terkejut dan menghentikan aktifitasnya. Kiara bangun dan tersenyum, melihat Aaron seperti itu ia tahu bahwa suaminya sedang stress dan banyak pikiran. Mungkin saja mengenai kerjasama atau tender yang gagal didapatkan oleh Aaron. Dengan langkah yang anggun Kiara mendekati Aaron, dan berdiri di dekat kursinya. Tangan Kiara meraih bahu Aaron kemudian memijatnya. "Kau kelelahan ya? Apa kerjasama dengan Choi group gagal?" tanya Kiara mencoba mengajak Aaron berbicara. Aaron hanya memejamkan matanya, menikmati pijatan Kiara di bahunya, tapi tiba-tiba ia kembali teringat keadaan siena. Kiara harus segera pergi agar aku bisa membawa Siena ke rumah sakit. Begitulah batin Aaron. "Sudah hentikan,” kata Aaron dengan suara rendahnya, untuk menutupi kecemasannya. Kiara menghentikan pijatannya, ia tak mau dibentak lagi oleh Aaron. Karena memang keadaan Aaron sedang kusut, dan bisa saja suaminya membentaknya lagi. Kiara tersenyum dan meraih tangan Aaron kemudian menggenggamnya, sedangkan Aaron hanya bergeming. "Kau sudah makan siang?" tanya Kiara dengan suara manis. "Hhmm.” Aaron hanya bergumam, tak mau menyahutinya. "Apa kerjasama dengan Choi group nya gagal? Aku bertemu dengan Andrew, dia bilang ada Siena disini. Apa benar Siena kemari?" Aaron melepaskan tangannya dari Kiara. "Tak ada Siena, Kiara. Sudahlah. Sebaiknya kau pulang, aku sedang pusing,” "Tapi, honey––" "Pulang Kiara!" Aaron kembali membentak Kiara membuat wanita itu kembali terperanjat tak percaya. Kiara mengangguk dan buru-buru berbalik untuk keluar, meski ia merasa sangat heran akan keadaan Aaron yang berantakan. Kiara tak pernah tahu apa yang dilakukan Aaron jika kerjasamanya gagal. Karena yang Kiara pikirkan Aaron stress karena pekerjaan. "Apa mungkin Andrew berbohong? Tapi dia bilang penampilan Siena berubah, itu artinya Siena ada disini,” Kiara bergumam dan masih belum percaya. Sebelum pergi ia berbalik kembali menatap Aaron yang masih menundukkan kepalanya sambil memijat pangkal hidungnya. Matanya pun terpejam. "Tapi sungguh Siena tak kemari?" Aaron mendengus dan menatap Kiara dengan kesal. "Kau tak percaya padaku? Aku tidak bertemu dengan Siena, jadi aku tak tahu dia dimana! Mengertilah Kiara, aku sedang pusing!" Dari raut wajahnya Aaron memang terlihat pusing dan banyak beban, tak ingin memperberat beban Aaron, Kiara pun melangkah keluar. Ia hanya menoleh sekali sebelum menutup kembali pintunya. Meninggalkan Aaron yang sedang menggeram. "s**t! Ini semua karena si b******n Choi. Aku akan membuat perhitungan dengan pria itu, karena dia sudah membuat Siena-ku terluka.” Suara Aaron begitu rendah dan dalam, bahkan penuh akan ancaman berbahaya. Aaron bangun dan berjalan cepat ke kamar pribadi nya, Siena masih tak sadarkan diri. Dengan cepat Aaron membawa tubuh Kiara dan menyelimutinya dengan selimut tebal yang ada disana. Membungkus tubuh Siena kemudian membopongnya. "Siena baby, bangun,” bisik Aaron. Aaron keluar dari ruangannya, menuju lift khusus di bagian paling pojok. Saat ia melewati lift reguler, ada seorang karyawan laki-laki yang melihat Aaron membawa tubuh Siena. Dengan tatapan tajam yang mengancam, Aaron mendesis. "Tutup mulutmu atau kehilangan pekerjaanmu,” ancamnya. "Baik,” balas karyawan itu. Aaron masuk ke dalam lift setelah pintunya terbuka. Kecemasan masih kentara di wajahnya, melihat wajah Siena yang tak sadarkan diri, lebam di pipi dan bibirnya, bahkan kedua matanya tertutup rapat. Rambut cokelatnya yang panjang tergerai ke bawah. (*0*)(*0*)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN