Mereka Membeli Hanya Untuk Ditiduri
Pasukan berkuda tiba-tiba mengepung desa kecil yang Sophia diami. Beberpa malam yang lalu Suku Parko mengintai kehidupan dan mereka mendapati para b***k yang kabur di sana.
Dengan mudah Suku Parko meringkus para b***k. Namun, seorang pria yang membuka paksa pintu rumah Sophia malah terdiam di depan pintu. Ia mendapati Sophia sedang sholat Ashar.
"Bawa semua!" perintah pemimpinnya.
Pria itu berlari menghampiri sang pemimpin. "Tuan, ada muslimah di rumah itu," ucapnya membuat sang pemimpin turun dari kuda dan menghampiri rumah Sophia.
Sophia tengah menengadahkan tangannya tanpa suara. Yang terdengar hanya isak tangis wanita itu.
"Assalamu'alaikum!" ucap sang pemimpin memasuki rumah itu.
Sophia menoleh padanya. "Wa'alaikumussalam," jawab Sophia yang langsung menghampirinya di depan pintu.
"Siapa pemilikmu?" tanya sang pemimpin.
"Ada apa ini?" Sophia balik bertanya.
"Bawa mereka semua!" teriak sang pemimpin dan seorang pria juga menarik tangan Sophia untuk dibawa ke kediaman Suku Parko.
***
Sesampainya di sana, tangan Sophia dan para b***k lainnya diikat menggunakan tali.
"Jika benar Tuhanmu itu ada dan nyata. Kenapa Dia tidak menyelamatkanmu dari tangkapan Suku Parko?" sinis Adnan yang tangannya juga diikat.
"Apa mereka benar-benar muslim? Tapi kenapa mereka memperbudak orang?" tanya Sophia dalam hatinya.
Sophia dan para b***k berdiri dengan lutut mereka di hadapan rumah para Tetua Suku Parko. Kota yang ramai itu menjadi heboh karena berhasil menangkap para b***k yang kabur.
"Siapa yang berjilbab itu?"
"Kenapa b***k itu berjilbab?"
"Bukankah semua b***k yang kabur tidak memiliki agama apapun?"
"Dia sedang berpura-pura memeluk Islam!"
Makian dan cercaan orang-orang tertuju pada Sophia yang menunjukkan identitasnya sebagai seorang muslimah.
Setelah sekian lama bermusyawarah kepada para pemimpin di kota itu, Tetua Suku Parko memutuskan untuk memulangkan kembali para b***k ke majikannya. Namun, Sophia tidak memiliki majikan. Dia bukan seorang b***k.
Sehingga Sophia ditawan dan dijadikan b***k secara paksa untuk dijual di perdagangan. Tepat di hari itu, Sophia yang cantik serta pandai dan Sholehah dibeli oleh seorang pemuda bernama Faiz seharga 250 karung gandum, untuk dijadikan b***k berkebun mengurusi ladang.
Sophia menjadi b***k termahal di sana karena kecerdasan, kecantikan dan kesalehannya.
"Aku akan memenuhi tanggungjawab menghidupimu. Apa yang kau butuhkan?" tanya pemuda itu.
"Aku butuh sajadah dan mukena, selebihnya aku mengharap belas kasihmu," jawab Sophia.
Sophia berpikir bahwa seorang b***k pasti akan dipaksa untuk bekerja tanpa diberi makanan bahkan disiksa oleh majikannya.
"Tugasmu adalah berkebun dan menyiapkan semua keperluanku. Aku akan sering bepergian untuk mengawasi Kota ini. Kau bertanggungjawab atas semua harta dan rumahku, kau bisa menggunakan apa-apa yang kau mau di rumah ini. Jika aku pulang, aku tak mau menunggu. Aku akan mandi setelah bepergian, siapkan air hangat untukku dengan kehangatan yang tidak membakar kulit dan tidak membuat tulangku beku. Setelah mandi, aku ingin menyantap makan malamku pada jam 5 sore. Aku juga menyukai s**u yang dijual oleh Gana'an. Selesai sholat subuh kau harus membeli s**u itu di pasar. Jika lebih siang dari itu, kau akan mengantri lama dan aku tidak suka menunggu," jelas Faiz.
"Aku akan lupa semua itu," ucap Sophia dengan polosnya.
"Aku menghabiskan 250 karung gandum untuk b***k pikun?" ucap Faiz membuat Sophia menunduk lebih dalam.
"Mungkin kau bisa mengajariku terlebih dahulu. Apa yang harus aku lakukan dari selesai sholat subuh sampai waktu tidur," ucap Sophia.
"Kau? Apa aku ini temanmu?" tanya Faiz.
"Jadi aku harus memanggil apa? Aku tidak pernah menjadi b***k sebelumnya."
"Aku majikanmu, aku tuanmu!" tegas Faiz.
"Baik, Tuan," jawab Sophia.
Faiz hendak tersenyum. Ini kali pertama dia mendapatkan seorang b***k yang tidak pernah menjadi b***k sebelumnya.
"Lakukan apa saja sesuka hatimu. Besok aku akan menunjukkan apa saja yang harus kau lakukan dari terbangun hingga tertidur," ucap Faiz dan hendak pergi.
"Aku ingin bertanya," ucap Sophia membuat pria itu kembali menghadapnya. "Para b***k mengatakan bahwa mereka dibeli hanya untuk ditiduri apa itu benar? Lalu bagaimana denganku? Bukankah itu perbuatan zina?" lanjutnya.
"Zina?" tanya Faiz mengernyitkan dahi dan menghampiri gadis itu. "Kau halal bagiku. Bahkan aku tidak perlu menikahimu. Kau budakku, kau milikku. Bahkan akad nikah lebih lemah dari pada akad kepelimikanku. Tidak ada zina di antara b***k dan majikannya. Kau hamba sahaya. Jika kau muslim seharusnya kau mengkaji kitab. Ku kira kau pintar, ternyata kau sebodoh ini. Sia-sia 250 karung gandum itu untuk otak dangkal sepertimu," lanjut Faiz.
"Mengapa seperti itu? Mengapa tidak menikah?" tanya Sophia.
"Apa kau benar-benar seorang muslim?" tanya Faiz.
"Aku diislamkam 8 tahun yang lalu oleh suamiku," jawab Sophia.
"Suami? Lalu di mana dia sekarang?"
"Aku ditinggalkannya di hutan itu."
Faiz menghela napasnya. "Berapa lama kau ditinggalkan?"
"7 kali musim panas dan 7 kali musim hujan," jawab Sophia.
"7 tahun? Dia bukan lagi suamimu," ucap Faiz.
"Begini Sophia. Kau adalah milikku mulai saat ini. Kau hamba sahayaku. b***k perempuan sama seperti saudara perempuan, istri, keluarga. Seperti itu, apa kau paham? Aku memilikimu secara utuh. Kalaupun aku memegangmu seperti ini," ucap Faiz menarik tangan Sophia untuk mendekatkan tubuh gadis itu pada dirinya. Sophia terkejut dan menahan diri. "Apa yang kau takutkan? Aku bisa bersikap seperti suamimu, tuanmu, suadaramu dan itu semua halal untukku," lanjutnya.
"Tapi para b***k mengatakan bahwa mereka dibeli hanya untuk ditiduri. Bahkan mereka tidak mendapatkan manfaat apapun dari sistem p********n ini," ucap Sophia.
"Aku membelimu dan mendapatkan akad kepemilikanku terhadapmu secara utuh. Aku memberimu tempat tinggal yang nyaman, aku memberimu makan dan minum. Kau bahkan bisa melakukan apapun yang kau suka di rumah ini. Apa itu bukan sebuah manfaat?" tanya Faiz.
"Tapi, mereka membelinya hanya untuk ditiduri."
"Sejatinya seorang majikan membeli b***k untuk memberinya tugas dalam suatu urusan yang majikan itu tidak bisa mengurusinya sendirian. Jika dia membeli b***k hanya untuk ditiduri, maka itu tidak dibenarkan. Kalaupun ada, urusan dosa aku tidak berani mengeluarkan pendapat. Karena aku membelimu bukan karena aku ingin menidurimu. Tapi aku butuh seorang wanita yang pandai mengurus rumah dan ladangku. Aku butuh seorang wanita yang amanah dengan harta-hartaku," jelas Faiz.
"Kenapa kau tidak menikah saja?" tanya Sophia membuat Faiz menarik tangannya lebih dekat dengan mata yang menancap tajam ke bola mata gadis itu. "Tuan," lanjut Sophia yang segera menyadari kesalahannya yang memanggil majikannya itu dengan sebutan Engkau.
Faiz melepaskan tangan gadis itu. "Lakukan apa saja yang kau suka di rumah ini," ucapnya dan pergi begitu saja. Bahkan ia tak menjawab pertanyaan Sophia.
Faiz bukannya tak ingin menikah. Hanya saja dia takut kehilangan lagi. Setelah istrinya ketahuan berzina dengan pria lain dan mendapatkan hukuman cambuk. Kini istri Faiz itu telah meninggal dunia setelah 3 hari hukuman cambuk itu berakhir.