PART 13 NANTI

1398 Kata
Namanya juga Cia. Gadis yang mempunyai 1001 cara untuk selalu bahagia. Bahkan saat ini dia sudah melupakan kejadian semalam. Kejadian yang biasanya sangat tidak disukai oleh semua gadis. Seharusnya dia marah. Seharusnya dia protes. Akan tetapi gadis itu bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Bahkan senyum pepsodentnya selalu nampak setiap saat. Ovi yang melihat tingkah sang sahabat pun menjadi meringis. Astaga, aneh-aneh saja tingkah sahabatnya ini. "Ci, lo gak lagi kesambet, kan? Dari tadi lo senyum-senyum gak jelas gitu." "Awali pagimu dengan senyuman hehe," balas Cia. "Awali pagimu dengan sarapan, b**o. Kalau gak sarapan mana bisa lo punya tenaga buat deketin Zeus," cibir Ovi. "Wkwk benar juga sih, tapi tadi di rumah, gue udah sarapan." "Bagus deh. Selamat berjuang untuk hari ini." Terjadi keheningan diantara mereka. Hmmm Zeus lagi apa ya? Apa dia lagi mikirin gue? Sekarang dia lagi sama siapa ya? Atau jangan-jangan dia lagi sama si Vivi Vivi itu? Cia segera tersadar dari lamunannya. Nggak, nggak, hal itu nggak boleh terjadi. "Pi, ikut gue ke kelas 11 IPA 1, yuk," ajak Cia kepada Ovi. Ovi mengernyit bingung dengan ajakan sang sahabat yang tiba-tiba itu. "Ngapain? Ini masih pagi banget loh, Ci. Masa iya lo pagi-pagi gini sudah ngapelin Zeus?" "Sudah deh ikut aja. Gue ada urusan," kekeh Cia dan mau tidak mau Ovi menuruti permintaan sahabatnya itu. Ketika telah sampai di depan kelas pemuda itu, Cia langsung saja bertanya ke salah satu teman sekelas dari pemuda itu. "Eh eh Zeus sudah datang belum?" tanyanya. Murid tersebut memandang gadis itu dengan raut wajah datar. Menilainya dari atas sampai bawah. Tidak sopan sama sekali pikir Cia. "Gak," jawabnya dengan ketus dan langsung pergi. "Yeee si bangke ketus banget. Spesies penghuni kelas Zeus ternyata sama aja kayak dia,” cibir Cia pemuda itu dengan teman kelasnya. Cia pikir mereka terlihat sama. "Eh eh, Ci itu bukannya Zeus ya?" ujar Ovi sambil menunjuk ke arah dua murid yang tengah berjalan bersisian. Cia pun memicingkan matanya. "Zeus sama cewek, Ci," kata Ovi kemudian. "s****n ulet bulu masih aja deketin Zeus,” kesal Cia. Cia pun segera menghampiri kedua makhluk berbeda kelamin itu dengan wajah yang menahan kesal. Bahkan mereka berdua tampak senang dengan dunia mereka tanpa memedulikan sekitar termasuk kedatangan Cia. "Ze," panggil Cia dan Zeus pun mengalihkan perhatiannya kepada Cia. "Ya?" "Ya sudah ya, Ze gue mau ke kelas duluan,” pamit Vivi dan dijawab dengan anggukan oleh Zeus.  Kini Zeus dan Cia tengah berdiri berhadapan. Ovi? Gadis itu sedang bersembunyi. "Sekarang ada apa?" tanya Zeus. "Hmmm nanti pulang sekolah jadi bimbingan lagi?" "Jadi." "Hmmm terus nanti malam lo free lagi, gak?" "Kenapa? Lo mau ajak gue jalan lagi?" "Iya," jawab Cia langsung dan dengan mata berbinar. "Nggak. Semalam, kan udah,” tolak Zeus. "Semalam beda. Gue ngajak lo, tapi lo malah ngajak Vivi," jawab Cia yang kembali membuat gadis itu kesal ketika mengingat kejadian semalam. "Gue gak ngajak dia. Dia sendiri yang mau ikut," bantah Zeus. "Ish, bagi gue itu sama aja. Pokoknya malam ini gue mau kita jalan dan satu lagi pokoknya awas aja lo kalau bawa orang lain. Pokoknya fix malam ini cuma kita berdua doang yang jalan,” perintah Cia. "Cih, siapa lo ngatur-ngatur gue?" "Ihh Zeus jahat banget huwaaa." Cia berteriak dan menangis histeris, hal itu mampu membuat dia jadi pusat perhatian beberapa murid yang kebetulan ada di sana. "Anjir,” umpat Zeus. "Udah woi berhenti. Pagi-pagi lo udah buat gue jadi tersangka." Sambungnya. Cia pun tampak tak peduli. "Pokoknya nanti malam kita jalan. Kalau gak jalan gue bakal nangis huwaaa." Zeus memperhatikan sekitar dan benar saja semua murid sekarang memandangnya sebagai pelaku dan hal itu mampu membuat pemuda itu sedikit malu karena ulah gadis yang ada di hadapannya ini. s**l, dia tidak memilki pilihan lain selain mengiyakan permintaannya itu. "Iya iya nanti malam kita jadi jalan. Puas? Udah berhenti nangisnya." Sontak saja Cia langsung berhenti dan merubah raut wajahnya dengan senyum pepsodentnya. "Ok. Jam 7 di cafe orange." Putus Cia dan dia langsung pergi meninggalkan Zeus yang cengo. "s****n! Gue dikibulin. Dasar tukang kibul. Pinter banget tuh cewek,” kesal Zeus kepada Cia yang ternyata pura-pura menangis. *** Cia tampak gelisah menunggu kedatangan Zeus. Ini sudah jam 8 dan Zeus belum datang juga. Apa pemuda itu mencoba membohonginya? Tapi, kan tadi dia sudah berjanji. Karena terlalu lama menunggu dan belum memesan apa pun, akhirnya gadis itu ditegur oleh salah satu pelayan di sana. "Mbaknya mau pesan apa?" tanya pelayan cafe. "Saya masih belum mau pesan mbak. Saya lagi nunggu teman saya," jawab Cia. "Huft, tapi Mbak di sini sudah duduk selama 1 jam. Apakah Mbak tidak mau pesan sesuatu?" tanya si pelayan lagi mencoba berbasar dengan kelakuan salah satu pengunjung. Gadis itu pun terkekeh. "Hehehe ya sudah deh, Mbak, saya pesan orange juice satu." Dan pelayan itu pun segera pergi dan segera membuatkan pesanan Cia. Niatnya Cia akan pesan nanti setelah Zeus datang tapi nyatanya cowok pemuda itu sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya. Dan dia malu juga dengan pelayan karena dari tadi tidak pesan apa pun. s**l, Zeus membuatnya malu. "Huft." Gadis itu menghembuskan napasnya berat. Menunggu itu memang berat, apalagi menunggu Zeus yang tak tahu kapan kemunculannya. "Maaf, Ci gue telat." Suara Zeus membuat lamunan Cia pun buyar. Akhirnya yang ia tunggu telah datang. Pemuda itu mengatur pernapasannya lebih dulu karena tadinya dia memang sedikit berlari. Mengambil tempat di depan gadis yang mengajaknya janjian ini. "Eh, Zeus. Iya gak apa-apa kok." Sungguh senang hati Cia malam ini Zeus datang dan tidak bersama Vivi. Ada kelegaan di hatinya saat ini. "Lo udah pesan makanan?" tanya Zeus basa-basi. "Udah. Minum doang, sih. Lo juga bisa pesan." Dan Zeus pun memesan minuman dan sedikit makanan bagi mereka berdua. "Tadi ke mana aja kok telat? Udah satu jam gue nunggu lo,” protes Cia. "Hmmm gue ada urusan sebentar,” jawabnya sedikit tidak yakin. "Hmmm ok." Terjadi keheningan di antara keduanya, hingga pertanyaan dari Zeus membuat gadis itu kembalike dunia nyata. “Sebenarnya apa maksud lo ngajak gue jalan kayak gini?" tanya Zeus langsung dan tidak ingin menunda lagi. "Hmmm mau aja. Gue mau deket sama lo." "Huft, gue gak mau pacaran, Ci." Apa ini pertanda gue ditolak? Bahkan gue belum nyatain perasaan gue, batin Cia. "Siapa juga yang pacaran wleee. Atau lo mau gue pacarin ya? Hayo ngaku hayo,” goda gadis itu kepada Zeus yang membuat pemuda itu mendengkus kesal ketika harus berhadapan sifat random gadis ini. "Gak, gue gak suka sama cewek kayak lo." Penolakan yang s***s, batin Cia. "Ya gak apa-apa sih lo sekarang bilang gak suka sama gue, tapi gue yakin suatu saat nanti lo bakal bilang kalau lo suka sama gue," ujar gadis dengan pedenya. "Dan gue harap hari itu gak akan terjadi," balas Zeus yang terdengar s***s di telinga Cia. Pemuda itu benar-benar menguji kesabarannya. "Hahaha lo lucu tau, Ze, dan gue suka hehe. Siapa yang bisa melawan takdir? Kalau lo emang buat gue ya sampai kapan pun lo akan jadi milik gue," balas Cia terdengar posesif. “Belum jadi apa-apa aja lo udah seposesif ini,” cibir pemuda itu. “Karena gue tuh tipe cewek yang nggak suka punya gue diambil sama orang lain.” “Hmmm.” "Ze, lo itu suka cewek yang gimana sih?" celetuk gadis itu random lagi. Pemuda itu tampak berpikir sejenak. Matanya yang semula menerawang kemudian menatap gadis yang ada di depannya ini. "Yang pasti bukan kayak lo," jawab Zeus dengan dinginnya yang mendeskripsikan sekali jika Cia ada di daftar blacklist pemuda itu. Gadis itu pun mendesah kecewa. Zeus memang terlalu s***s untuk hal seperti ini. "Ahhh sangat disayangkan. Padahal gue kan idaman semua cowok wkwkw,” ucap gadis tiu dengan tawa renyahnya. "Terserah." Dingin kembali selalu pemuda itu tujukan kepada gadis ini. Terasa aneh ketika pemuda itu bisa lebih akrab dengan gadis lain, Vivi misalnya. Bahkan tadi di sekolah pemuda itu bisa tertawa bersama dengan teman sekelasnya. Bebragai tawa bersama tanpa menyadari keberadaan gadis ini. Berbanding terbalik dengan sifat pemuda itu ketika bersama dengan Cia. Dingin dan ketus lebih mendominasi di percakapan mereka. Tertawa bersama? Itu sangat mustahil sekali mereka lakukan. Contohnya seperti saat ini, pemuda itu lebih memfokuskan diri kepada makanan yang ia pesan, sesekali dia mengecek ponselnya juga. Cia pun mendesah pelan, kisahnya akan sedikit berliku dan rumit. Gue yakin,Ze lambat laun lo akan suka sama gue. Bukan sekarang tapi nanti dan gue sangat menantikan hari itu. Nyesek kan jadi cewek kayak Cia? Sedih banget. Belum apa-apa aja udah ditolak -,-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN