PART 12 GAGAL (2)

1698 Kata
Apakah ini definisi jatuh cinta? Gue udah cinta secinta-cinta nya sama lo, tapi lo juga yang buat gue jatuh sejatuh-jatuhnya, Ze. Cia °°° "Bagaimana, Ci? Lo kemarin jadi jalan sama Zeus?" tanya Ovi langsung ketika Cia baru sampai di sekolah. Gadis terlalu bersemangat bertanya tanpa menyadari raut muka sang sahabat yang tidak bersemangat sekali menjalani harinya. Hari-hari yang selalu diisi dengan senyuman kini telah hilang tergantikan dengan wajah murung dari gadis imut ini. "Nggak." "Loh? Kok bisa?" tanya Ovi penasaran. Bukankah Cia kemarin yakin sekali dengan tugas yang ia kerjakan akan benar semua. "Soal yang gue jawab ada yang salah," jawab Cia. "Yahhh sayang banget. Gimana kalau lo langsung ajak si Zeus aja. Kali aja dia mau, kan?" usul Ovi sambil menaik turunkan alisnya. Tentu saja gadis yang berada di sebelahnya terbelalak kaget dengan usulan sahabatnya itu. Mengajak Zeus? Mustahil. Bisa dimaki dia nanti. "Hmmm ide yang bagus, sih, tapi mana mau dia gue ajak. Belum gue ajak aja dia udah ngusir. Tau, kan, dia itu sensian banget dan ucapannya itu loh pedes gila,” cibir Cia sambil membayangkan beberapa hari ini mendengar segala perkataan pedas yang keluar dari mulut pemuda itu. "Iya juga, sih. Terus gimana, dong?" Cia mengangkat bahunya. Kedua gadis ini sama-sama berpikir kira-kira apa yang bisa mereka lakukan agar pemuda itu mau menerima ajakan Cia untuk jalan. “Ahaaa!!” Tiba-tiba saja Ovi berteriak dan mengagetkan Cia tentunya. "Apa? Apa? Lo punya ide?" tanya gadis itu langsung. "Nggak hehehe," jawab Ovi dengan cengirannya. "Sialan." Kini dua manusia yang berbeda jenis kelamin itu tengah berada di perpustakaan. Ruangan yang selalu sepi karena minimnya minat baca anak muda jaman sekarang. Cia dan Zeus menikmati kebersamaan mereka saat ini, lebih tepatnya hanya Cia yang menikmatinya. Bimbingan kali ini terasa aneh bagi Zeus pasalnya sejak awal mereka belajar, ekspresi wajah gadis di depannya menunjukkan hal lain. Dan dia sedikit tidak nyaman ketika gadis itu menunjukkan ekpresi seperti itu. "Gue rasa pelajaran kali ini cukup. Di rumah, lo bisa pelajarin materi yang barusan gue jelasin. Gue yakin lambat laun lo pasti bisa di pelajaran ini. Terbukti kemarin dari 5 soal yang gue kasih, lo bisa kerjain 4 dengan benar," jelas Zeus mencoba mengakhiri sesi belajar mereka. Sepertinya gadis itu butuh istirahat, otaknya sedikit geser mungkin. "Iya, gue bakal belajar lebih giat lagi," balas Cia disertai senyum pepsodentnya. "Sip." Zeus segera membereskan buku dan alat tulisnya begitu juga dengan Cia. "Ze," panggil Cia. "Ya?" Respon Zeus sambil membereskan barang-barangnya. Setelah semua barang sudah masuk ke dalam tasnya, pemuda itu segera menyampirkan tas di area pundaknya. "Hmmm nanti malam lo free, gak?" tanya Cia hati-hati. Pemuda itu mengernyit bingung, tapi tidak ingin menyurutkan keingintahuannya. "Kenapa?" tanyanya balik. "Jawab dulu,” paksa Cia yang membuat pemuda itu jengah. Gadis ini benar-benar menguji kesabaran Zeus sepertinya. "Huft ok. Gue ada tugas biologi dan gue mau kerjain. Memangnya kenapa?" jawab Zeus cepat tak ingin menunda waktu pulang sekolahnya karena hari sudah mulai sore. "Lo, kan, pintar pakai banget ya, apa lo bisa kerjain tugas lo itu pulang sekolah aja? Lo bisa, kan?" tawar gadis itu mencoba bernegosiasi layaknya pedagang. "Bisa. Tapi kenapa lo tanya-tanya begini?” curiga Zeus semakin meningkat tatakala gadis itu terus mendesaknya. "Sip. Gue entar malam mau ajak lo jalan. Mau ya? Gue gak terima penolakan," kata Cia. "Jalan?” tanya Zeus yang sedikit terkejut dengan ajakan gadis ini. “Dari pada lo buat kayak gitu, mending gunain waktu buat belajar. Lakuin hal yang berguna dikit kek," cibir Zeus yang sama sekali tidak menyukai kegiatan anak jaman sekarang yang senang sekali menghamburkan uang. "Iya gue tahu, Ze. Tapi gue juga butuh refreshing dan gak melulu belajar terus," sanggah gadis itu masih tetap dengan pendiriannya. "Ck, alasan yang klise," cibir pemuda itu. Cia pun tak kehabisan akal. Gadis itu terus mendesak Zeus agar mau jalan bersamanya nanti malam. "Ayolah, Ze please," pinta Cia dengan menampilkan puppy eyes-nya. Zeus menatap mata Cia. Terlihat di sana gadis itu tengah memohon dengan tatapan yang tidak bisa pemuda itu tolak. s**l. "Bisa gila gue kalau gini terus," ucap Zeus dengan suara kecil. "Baiklah, baiklah nanti kita keluar." Putusan terakhir Zeus membuat mata Cia berbinar bahagia. Yes! Akhirnya pemuda itu mau menerima ajakan Cia saat ini. "Jam 7 gue tunggu di bioskop," lanjut Zeus sambil meninggalkan gadis itu yang sudah berjingkrak-jingkrak bahagia. Dia harus memberitahu Ovi dan menceritakan kabar bahagia ini. Tidak sia-sia ternyaata gadis itu memberinya ide seperti ini. Walau awalnya Cia sendiri pun tidak yakin dengan ide dari Ovi. Namun, sepertinya semua akan berjalan dengan semestinya. Mungkin. Akhirnya setelah itu mereka pulang ke rumah masing-masing. Ada perasaan lega pada diri Cia ketika Zeus mau menerima ajakannya. Tapi ini menjadi suatu hal yang berbeda di mana terlihat dengan jelas jika Cia tengah berusaha mendekati Zeus bahkan dia terang-terangan mengajak pemuda itu untuk jalan. Bukankah itu semua tugas lelaki? Entahlah, Cia ini berbeda dari gadis lainnya. Dia dengan terang-terangan mendekati lawan jenisnya meskipun mendapat beribu penolakan. Tipe gadis yang tidak gampang menyerah. Pantang mundur sebelum janur kuning melengkung. *** Detik, menit, dan jam pun berlalu. Jarum jam terus berputar, akan tetapi tidak menyurutkan tekad gadis itu untuk menunggu. Cia menunggu dengan setia kedatangan Zeus di bangku tunggu yang berada di bioskop. Dia telah sampai di tempat setengah jam sebelumnya dan sekarang sudah jam setengah delapan. Itu menandakan dia sudah menunggu satu jam kedatangan Zeus, tetapi pemuda itu sampai sekarang tidak menampakkan batang hidungnya. Apakah Cia sedang dipermainkan? Jika iya, keterlaluan sekali Zeus mempermainkan gadis ini. Menunggu adalah hal yang paling  tidak disenangi kebanyakan perempuan di dunia ini. "Huft, apa gue dikerjain ya?" ucap Cia pada dirinya sendiri. Awas aja lo ,Ze. Kalau lo gak datang gue bakal marah besar, batin Cia. Tap Tap Tap Terdengar langkah kaki mendekat, gadis itu pun langsung mendongak dan betapa bahagianya dia melihat Zeus tengah berjalan ke arahnya. Namun, sangat disayangkan, senyum gadis itu tiba-tiba lenyap ketika melihat sesosok gadis lain yang ikut berjalan berdampingan bersama pemuda yang sejak tadi ia tunggu kedatangannya itu. "Maaf, Ci gue telat," kata Zeus ketika dirinya baru sampai. "Iya gak apa-apa,” balas Cia, kemudian dia beralih kepada sosok gadis di sebelah pemuda itu. “Btw, Vivi kok sama lo? Jangan bilang lo yang ajak dia ke sini?" tebak Cia dengan sedikit nada tidak sukanya. Gue harap tebakan gue salah, Ze, batin Cia. "Maaf, tadi gue lupa bilang ke lo kalau gue mau kerjain tugas biologi bareng Vivi dan kebetulan baru selesai,” jelas Zeus. "Terus?" "Terus gue mau antar dia sekalian pulang tapi katanya dia mau ikut nonton ya sudah gue ajak ke sini," lanjut Zeus tanpa memikirkan bagaimana perasaan Cia. Cia menatap Vivi degan tatapan yang tak bersahabat. Keberadaan Vivi sudah membuat rencananya gagal. Jam 8 tepat, mereka bertiga masuk ke dalam bioskop. Film horor menjadi pilihan mereka dan kebetulan Cia yang memilih film ini. The Nun, itu adalah film horor barat yang saat ini tengah banyak dibicarakan. Cia sejujurnya tidak suka horor. Bagi dia hantu yang ada di film horor itu adalah palsu belaka. Tapi gadis itu memiliki rencana lain, dia berencana ketika melihat film horor ini dia bisa dekat dengan Zeus. Pura-pura ketakutan adalah rencananya. Akan tetapi, yang namanya rencana selamanya tidak akan berjalan mulus. Saat ini Cia tengah kesal sekesal kesalnya. Dia kesal dengan keberadaan Vivi yang membuat rencananya gagal. Gadis itu tengah bergelayut di lengan kekar Zeus. Ketika hantunya muncul maka dia akan bersembunyi di balik lengan pemud itu. Cia tidak habis pikir dengan gadis satu itu. Seharusnya jika dia takut, dia jangan ikut nonton, bukan? Dasar modu. Dan sialnya lagi Zeus biasa-biasa saja dengan kelakuan Vivi. Panas. Itulah yang saat ini Cia rasakan sepanjang film diputar. Dia sama sekali tidak konsen menonton film ini. Bahkan dia tidak menikmati sama sekali. Malam yang akan menjadi kedekatannya bersama Zeus malah hanya menjadi angan saja. Bahkan untuk bisa mengajak pemuda itu keluar, Cia harus rela merendahkan harga dirinya lagi. s**l. Haruskah usahanya berkahir sia-sia seperti ini? "Huft, akhirnya selesai juga. Filmnya buat tegang," ucap Vivi ketika mereka tengah keluar dari ruang bioskop. "Seharusnya kalau lo takut, lo gak usah ikut nonton," sarkas Cia jengah. "Lo juga, Ci. Ngapain pilih film horor," bantah Zeus yang malah lebih pro kepada Vivi. What? Dia belain Vivi? batin Cia. "Gue suka film horor." "Tapi Vivi yang gak suka," sergah Zeus. "Gue nonton buat diri gue sendiri bukan untuk dia. Masalah dia suka atau nggak itu urusan dia bukan urusan gue. Dari awal, kan kita cuma berdua nontonnya tetapi tiba-tiba aja ada Vivi. Masa iya gue harus ganti filmnya. Kalau mau, dia tadi bisa nonton film lain," kata Cia. Sungguh Cia saat ini tengah kesal kepada Zeus. Pemuda itu sama sekali tidak peka dengan perasaan Cia yang sedang kesal itu. "Iya tapi –“ "Sudah, Ze,” potong Vivi melerai kedua remaja itu yang asyik berdebat. "Ze, Ci gue minta maaf sudah ganggu acara kalian. Hmmm lebih baik gue pulang aja kali ya," ungkapnya. Bagus, batin Cia. "Eh jangan!” tolak Zeus yang membuat Cia membola kaget. s**l. "Gak apa-apa, Ze. Gue pulang aja naik grab. Ini udah malam juga sih entar gue dicariin Mama." "Hmmm ya sudah biar gue antar lo aja." Cia semakin melotot dengan ucapan pemuda itu barusan. Apa Zeus ingin meninggalkan Cia sendirian? Di sini? Setelah apa yang terjadi? Tak berperasasan sekali. "Eh, gak usah, Ze. Lo sama Cia aja, biar gue naik grab atau taksi bisa kok,” tolak Vivi halus yang memang tidak berniat mengganggu waktu kedua remaja di depannya ini. Sejak tadi dia sudah merasa jika Cia tidak menyukai kehadirannya apalagi ketika dengan terang-terangan Zeus mengatakan jika dia yang mengajak Vivi ke sini. Bisa dilihat wajah Cia murung dan kecewa, serta marah. "Tapi tadi lo itu berangkat bareng gue jadi sudah semestinya pulang bareng gue juga." "Tapi ..." Vivi menatap Cia dengan tatapan tidak enak. "Ci. lo gak apa-apa, kan pulang sendiri?" tanya Zeus yang tahu arah tatapan temannya itu. Gue kenapa-kenapa, Ze, batin Cia. "Hmmm iya gak apa-apa." Nyatanya hati dan mulut menyatakan hal yang berbeda. "Nah Cia aja gak apa-apa, Vi. Ya sudah yuk pulang. Ci gue pulang duluan ya. Lo jangan malam-malam pulangnya," ucap Zeus setelah itu mereka berdua pergi menyisakan Cia yang berdiri kaku melihat kepergian dua sosok berbeda jenis kelamin itu. Dia patah hati kembali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN