PART 11 GAGAL

1493 Kata
Cia melangkahkan kakinya di koridor sekolah dengan riang bahkan setiap dia bertemu dengan murid lain, dia akan tersenyum dan menyapanya. Perilaku rutin yang tidak pernah ia lupakan. Gadis itu sedang dalam mood  yang baik karena semalam dia sudah mengerjakan tugas yang Zeus beri, dan dia berharap semua jawaban yang ia kerjakan benar. Kebetulan sekali dari arah berlawanan, gadis itu melihat sosok Zeus dan Doni sedang berjalan menuju ke arah lapangan dan sepertinya keduanya sedang membiacarakan sesuatu. Tanpa menunggu lama lagi, gadis itu langsung melesat menuju tempat Zeus. "ZEUS." Cia meneriaki nama Zeus agar pemuda itu berhenti. Dan benar saja, dia berhenti dan memerhatkan tingkah gadis yang beberapa hari ini mengisi hari-harinya. "Apa?" tanyanya dengan dingin. "Gue mau kumpulin tugas," jawab Cia disertai dengan senyumannya. "Oh. Mana?" "Ini." Cia memberikan bukunya dan kemudian Zeus memasukkan buku itu ke dalam tasnya. "Nanti gue koreksi," ucap Zeus setelah itu dia pergi meninggalkan Cia. Cuek selalu menjadi predikat pemuda itu. "Huft, susah banget bicara sama es. Mau di cairin butuh tenaga ekstra," cibir Cia. "Woi!" Tiba-tiba Ovi datang mengagetkan Cia. "Si Opi ngagetin aja!” "Hehe. Gue tadi ngeliat lo bicara sama Zeus terus gue mau samperin eh dia sudah pergi," kata Ovi. "Gue tadi kasih tugas yang dia beri kemarin," jelas Cia. Kini keduanya sedang berjalan menuju kelas. "Fisika?" "Heem," jawab Cia membenarkan tebakan sang sahabat. "Terus lo bisa ngerjainnya?" "Ya bisalah," jawab Cia percaya diri. "Seumur umur, gue nggak percaya lo bisa ngerjain fisika," kata Ovi memandang remeh sang sahabat. Sepertinya gadis itu belum tahu seberapa meningkatnya kinerja belajar sang sahabat. "Yeee si kutil kuda ngeremehin Princess. Gue itu bisa fisika. Pokoknya lihat aja deh entar gue mau nge-date sama Zeus," ungkap Cia mata berbinar-binar. "Nge-date?" tanya Ovi bingung. "Iya. Jadi itu kalau gue bisa ngerjain tugas dengan benar, entar gue dapat hadiah. Dan rencananya gue mau ajak dia nonton," cerita Cia. "Ide lo buat deketin Zeus sih bagus,Ci. Tapi hal itu terjadi ketika lo bisa ngerjain itu tugas dengan benar semua. Emang lo yakin tugas lo itu benar semua?" tanya Ovi gregetan. "Eh, iya ya. Hmmm doain aja deh supaya benar semua. Gue semaleman tuh ngerjain tugas." "Ok gue doain supaya benar semua ya." "Iya, terima kasih, Pi." Di kantin waktu istirahat "Pi buruan beliin gue minum. Gue kepedesan ini," ucap Cia sambil mengibas-ngibas mulutnya yang terasa terbakar akibat memakan bakso dengan porsi sambal yang sedikit banyak dari biasanya. Gadis itu sedang dalam keadaan mood yang tidak baik dan pelampiasannya adalah makanan. "Lo sih banyak banget ambil sambalnya tadi. Yaudah bentar." Ovi segera  melesat menuju ke area penjual minuman. "Nih." Cia segera menyambar air mineral itu dan langsung dia minum hingga habis setengahnya. "Jangan banyak-banyak makan sambal, Ci. Itu bisa bahaya loh kalau kebanyakan gitu." Nasihat Ovi. "Gue lagi kesal tahu,Pi. Si Zeus sama sekali gak hubungin gue. Gue chat tadi tapi gak dibalas malahan cuma di-read doang," cerita gadis ini menggebu-gebu. "Kali aja dia lagi sibuk." "Sibuk? Masa iya dia gak bisa balas chat gue tapi dia bisa read chat gue. Cuma sekedar ngetik doang loh, Pi masa dia gak bisa sih?" "Sabar aja. Mungkin bentar lagi dia hubungin lo." Ovi mencoba berpikir positif. "Awas aja kalau sampai pulang sekolah dia gak hubungin gue, gue pastiin gue bakal marah sama dia." Ovi hanya bisa geleng-geleng kepala jika harus menghadapi sosok Cia. Cia, gadis dengan sejuta kebaikan dan kebahagiaan serta selalu tersenyum kepada semua orang, yang selalu memberi rasa bahagia bagi semua orang, yang selalu cerewet dan juga segala tingkah konyolnya yang membuat Ovi beruntung mempunyai sahabat seperti dia. Dibalik itu semua, Ovi tahu kalau Cia mempunyai kesedihan yang dia pendam sendiri dan hanya Ovi lah yang tahu kesedihan itu. Mengingat betapa malang nya nasib sahabatnya itu, Ovi merasa sedih. "OVIII!!!" teriak Cia yang mampu membuat Ovi kembali ke dunia nyata. "Kok lo teriak-teriak sih?" protes Ovi. "Elo gue panggil dari tadi melamun mulu. Kesel gue," cibir Cia. "Hehehe, maap," balas Ovi sambil nyengir. "Ya sudah gue maapin karena tuan putri itu kan baik hati dan pemaaf jadi gue gak mau kalau orang-orang menilai gue pendendam," kata Cia dengan percaya dirinya. "Ish, iyain aja deh," balas Ovi sambil memutar bola matanya malas. "Eh, Ci gue mau tanya boleh nggak?" lanjut Ovi. "Boleh." "Bang Reon gimana?" tanya Ovi langsung. "Uhuk uhuk uhuk." Gadis yang ditanya pun tiba-tiba tersedak setelah mendengar pertanyaan sensitif dari sang sahabat. "Ish pelan-pelan, Ci," ucap Ovi sambil memberikan Cia minuman. "Lo kenapa tiba-tiba tanya Bang Reon?" tanya Cia memicing curiga. Tumben sekali sahabatnya menanyakan perihal kakaknya. "Hmmm pengen aja hehe. Bagaimana? Apa dia sudah berubah dan balik lagi seperti dulu?" Cia meletakkah sendok dan garpunya karena dia merasa sudah tidak selera makan. “Bang Reon masih sama, Pi. Masih dingin dan ketus sama gue," jawab Cia dengan nada sedihnya. "Yang sabar, Ci. Mungkin bang Reon butuh waktu," kata Ovi menyemangati Cia agar dia tidak kembali sedih. "Waktu? Ini sudah hampir 4 tahun loh, Pi. Dia butuh waktu berapa lama lagi? 10 tahun? 1 abad?" "Ya nggak gitu juga, Ci. Mungkin dia belum bisa menerima kejadian dulu. Untuk melupakan kejadian yang seperti itu butuh waktu dan nggak gampang, Ci." "Iya gue tahu. Tapi kenapa harus gue yang dihukum? Kenapa, Pi? Jelas-jelas itu bukan salah gue." Cia merasa sesak di dadanya ketika harus mengingat itu semua. Ovi segera memberi pelukan kepada Cia. Dia tahu bahwa sahabatnya ini tengah bersedih. "Maafin gue yang sudah buat lo sedih kayak gini," ujar Ovi dengan rasa tidak enak. "Nggak apa-apa, Pi. Lo sudah gue anggap seperti keluarga gue sendiri kok. Makasih ya sudah mau temani gue di saat saat gue gak mampu untuk berdiri sendiri," kata Cia. "Iya sama-sama. Semua masalah akan menjadi ringan ketika dibagikan dengan orang lain" Pelajaran demi pelajaran dilalui oleh semua siswa hingga suara merdu yang dinantikan telah tiba dan suara sorak pun terdengar di setiap kelas. Tettt tett tettt "Ci, kok buru-buru banget?" tanya Ovi ketika melihat sahabatnya ini terburu-buru memasukkan semua bukunya ke dalam tas. "Gue mau nyusulin Zeus, Pi," jawab Cia tanpa menoleh kepada Ovi. "Oh. Mau gue temenin gak?" Tawar Ovi. "Gak usah deh. Gue sendiri aja.” Tolak Cia. "Hmmm ok." Setelah selesai dengan bukunya, Cia segera melesat untuk mencari Zeus di koridor sekolah. Dan Tuhan sepertinya sedang berpihak kepadanya, terlihat dari arah berlawanan, Zeus berjalan dengan seorang siswi di sampingnya. Gadis itu segera melesat ke arah mereka. "Cia?" "Ze, gue mau bicara sama lo," ungkap Cia dengan nada serius. "Bicara di sini aja," tolak Zeus. "Gue mau bicara empat mata sama lo," ujar Cia dengan menekankan setiap kalimatnya. "Hmmm, Vi gue duluan ya," ucap Zeus kepada temannya. "Iya, Ze." Cia segera membawa Zeus kearah parkiran. "Buruan lo mau bicara apaan?" tanya Zeus yang tidak ingin basa-basi. "Lo sudah koreksi tugas gue?" tanya Cia langsung. "Tugas? Oh tugas fisikia itu? Belum. Gue tadi lagi sibuk jadi gak sempat." "Ish kok gitu sih? Padahal cuma 5 doang," protes Cia dengan nada kesalnya. "Namanya juga sibuk, jadi gue gak bisa, Ci," jawab Zeus. "Ihhh sekarang aja koreksinya buruan," desak gadis itu. "Lah, gak bisa gitu dong. Nanti aja deh di rumah, gue koreksi." "Hmmm ok tapi setelah itu lo harus cepat-cepat hubungin gue." "Iya." Setelah itu mereka masing-masing melesat pulang ke rumah mereka. Begitu Zeus sampai rumah, dia segera menuju ke kamarnya. "Hufftt hari yang melelahkan," ucap Zeus ketika dia merebahkan diri di kasur. Di saat dia beristirahat, dia teringat dengan tugas Cia dan permintaan cewek itu untuk mengoreksinya. Zeus segera bangun dan mengambil tasnya. Di bukanya buku Cia si cerewet dan di koreksi dengan betul betul oleh Zeus. Hanya butuh waktu 5 menit bagi Zeus untuk mengoreksi tugas itu dan dia segera menghubungi si pemilik buku. Tut Tut Tut "Halo." Suara dari seberang menyapanya. "Halo, ini gue. Zeus," jawab Zeus. "Hmmm udah tahu kok. Gimana? Tugas gue bener semua, kan?" Dari suaranya Zeus tahu sepertinya gadis itu sedang bahagia, namun entah bahagia karena apa dia pun tidak tahu. "Ada yang salah satu nomer. Nomer 4 lo salah gunain rumusnya," ungkap Zeus jujur apa adanya. Gadis itu mengalami kemajuan yang pesat menurut Zeus. Dari soal yang ia beri, hampir semuanya terselesaikan dengan baik. Ya, meskipun hanya satu soal yang tidak terjawab dengan benar. Tapi, Zeus tetap menghargai usaha gadis ini. "Yahhh." Ada nada kekecawaan di sana dan pemuda itu bisa merasakannya. "Kenapa?" tanyanya serius. "Gak apa-apa. Ya sudah ya gue tutup teleponnya," ujar Cia ingin mengakhiri pembicaraan mereka. Gadis itu sepertinya kehilangan semangat lagi. "Hmmm." Tut Zeus memandang ponselnya dengan bingung sebenarnya gadis itu kenapa. Tadi dia terdengar seperti bersemangat dan bahagia sekali, tapi tiba-tiba saja berubah menjadi lesu dan tak bersemangat dari nada suaranya. Apa karena tugasnya yang salah? Niatnya mau jalan sama lo, tapi banyak banget rintangan, Ze. Apa gue harus berusaha lebih keras lagi? Bahkan untuk mendapatkan hati lo juga? Hidup terkadang memang sulit. Ketika kita diberi beberapa pilihan yang mungkin sedikit membingungkan. Akan tetapi, pasti akan ada satu pilihan yang tepat untuk kita jalani. Entah itu menyenangkan ataupun menyedihkan. Pilihlah pilihan yang sesuai dengan kata hatimu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN