Dengan langkah riang gadis itu menyusuri lorong sekolah. Menyapa murid-murid lain disertai dengan senyuman yang tidak pernah lepas darinya. Sepertinya gadis itu dalam keadaan mood yang baik. Langkah kakinya membawanya ke kelas tempat ia menimba ilmu dalam setahun ini. Pemandangan pertama yang tersuguhkan adalah beberapa temannya sedang sibuk mengerjakan tugas. Ya, mengerjakan tugas di pagi-pagi hari sudah menjadi kegiatan rutin murid di sini (mungkin kalian juga). Dan sudah menjadi pandangan biasa bagi seorang Cia. Gadis itu menghampir sang sahabat yang sepertinya tampak serius sekali.
"DOR!!" Gadis itu mengagetkan Ovi yang saat itu sedang menyalin tugas di sekolah. Sudah menjadi kebiasaannya mengganggu sang sahabat yang sedang sibuk dengan tugasnya.
"Astaga, ngagetin aja lo kecebong," pekik Ovi kaget.
"Hehe maap, lagian lo fokus banget, emang ngerjain tugas apa?" tanya Cia.
"Matematika," jawab Ovi singkat dengan mata dan tangan yang masih fokus ke bukunya. Matematika sepertinya sudah menjadi momok yang menakutkan dan menyebalkan bagi kebanyakan murid di Indonesia (kecuali aku wkwk).
"Oh."
Ovi yang hanya mendapat respon seperti itu pun mendelik. "Oh doang? Emang lo udah kerjain?" tanya Ovi yang kini beralih menatap Cia sahabatnya.
"Lo lupa satu fakta dari diri gue? Jangan bilang lo amnesia," balas gadis itu dengan raut muka yang menyebalkan bagi Ovi.
"Oh iya ya hehehe maaf. Mbak Cia, kan jago matematika apalagi kalau urusan ngitung duit," sindir Ovi dan dia kembali fokus ke bukunya. Gadis yang menyebalkan dan aneh. Pintar pelajaran matematika tapi bodoh pelajaran fisika.
"Haha itu lo tau. Eh btw gue mau cerita. Kemarin Zeus datang ke rumah gue," ungkap Cia.
Ovi yang mendengar perkataan sang sahabat pun memekik terkejut dan dia kini beralih fokus kepada Cia dibanding tugas matematikanya. "What? Zeus? Ke rumah lo? Ngapain? Pantesan aja kemarin dia tanya gue di mana rumah lo," ungkap gadis itu langsung untuk mencari informasi lebih dalam.
"Bimbingan belajar fisika. Kemarin dia tahu kalau gue kabur dari dia eh dia malah nyusul ke rumah. Ngeselin, kan?" cerita Cia yang masih kesal dengan tindakan Zeus di mana pemuda itu tiba-tiba berada di depan rumahnya.
"Ngeselin apa ngangenin?" goda Ovi dengan ekspresi yang menyebalkan menurut Cia.
"Dia itu ngeselin pakai banget ditambah cabe 10 kg, lengkaplah sudah. Sudah dingin, cuek, ngeselin, ditambah mulutnya kayak cabe pedes banget," cibir Cia tanpa mengetahui jika sosok yang sedang ia bicarakan tengah berada satu ruangan dengannya.
"Oh jadi selama ini lo bicarain gue di belakang?"
DOR
Gadis itu terkejut dengan kemunculan Zeus di kelasnya dan parahnya lagi Zeus mendengar semua pembicaraan Cia dan Ovi.
Mampus gue, batin Cia merutuki kebodohannya. Sedangkan Ovi memilih melanjutkan menegerjakan tugas matematikanya. Dia tidak ingin ikut campur dengan perdebatan dua manusia yang berbeda jenis kelamin itu.
"Jawab! Jadi lo sering bicarain gue kayak begini? Mulut lo ada di depan atau di belakang?" cecar Zeus kembali dengan mulut pedasnya dan Cia pun bertambah semakin gugup ketika pemuda itu terus memojokkan dirinya. s**l.
"Hmmm ... ini ... hmmm ... anu ...."
"Sudah gak perlu dijelasin Lagi pula gue gak peduli juga lo bicarain gue di belakang atau di depan, bagi gue itu gak penting. Gue ke sini mau ingetin lo aja kalau nanti pulang sekolah jangan lupa bimbel sama gue. Awas ajau lo kalau kabur lagi kayak kemarin. Gue pasti bakal samperin lo ke rumah. Ngerti!?" ancam Zeus tegas.
"Nger-ti," jawab Cia terbata-bata sambil mengangguk.
"Good girl." Setelah itu Zeus segera pergi dari kelas Cia dan gadis itu pun bernapas lega.
"Gila si Zeus, dia serem amat yak," kata Ovi yang baru melihat bagaimana tegas dan raut muka marah dari pemuda itu. Pantas saja sahabatnya sampai menangis. Pemuda itu memang menyeramkan.
"Lo baru tahu? Dia itu seremnya ngalahin macam, harimau, beruang, dan sejenisnya deh. Lo masih inget, kan kemarin gue kesel sama dia. Yaitu gara-gara dia marah-marah ke gue dan gue itu gak suka tahu dibentak-bentak. Tapi sekarang gue bakal coba maklumin itu satu spesies cowok. Mungkin aja dia kemarin-kemarin lagi pms jadinya suka marah-marah."
"Eh, dia cogan loh, Ci. Masa iya ada cogan yang mengalami fase pms?" ujar Ovi mengernyit bingung.
"Lo pasti pernah baca atau lihat kan kalau cowok bisa ngidam juga. Nah, itu juga berlaku di fase pms dan itu terjadi kepada Zeus saat ini," jelas Cia yang semakin membuat sang sahabat bertambah pusing. Dia senang sekali menjahili Ovi.
"Ah masa sih?" Ovi bingung dengan penjelasan Cia pasal nya dia belum pernah membaca atau melihat laki-laki bisa mengalami fase pms seperti seorang perempuan.
Dan tawa Cia pun keluar melihat sang sahabat yang percaya dengan penjelasannya. Dasar Ovi. Mudah sekali ditipu. "Hahaha lo mah percaya aja sama gue, Pi. Gue bercanda doang. Lo mah anggap serius ucapan gue. Buruan cuy kerjain tugasnya bentar lagi bel." Cia mengingatkan sahabatnya itu.
"Oh iya tugas gue. Lo mah malah ngajak bicara." Ovi segera kembali fokus ke tugasnya.
Hanya dari hal sederhana saja lo sudah buat gue jatuh ke hati lo, Ze.
Hidup itu memang aneh. Ketika kita mati-matian untuk menolak, maka dengan kerasnya tolakan tu akan terus menghantui dan mau tidak mau kita tetap harus menerima dan kata 'menolak' harus segera kita musnahkan.
***
"Jadi?" tanya Zeus. Kini mereka berdua tengah berada di perpustakaan dan kali ini Cia tidak kabur lagi. Sepertinya gadis itu berubah menjadi gadis penurut dan Zeus pun tidak perlu repot-repot lagi menyusul Cia ke rumahnya.
"Jadi apa, Ze?" tanya gadis itu kembali dengan raut muka polosnya dan Zeus menahan kekesalannya untuk ini. Dia sudah meyakinkan dirinya jika dia akan mencoba lebih bersabar ketika mengajari gadis ini.
"Ck, lo sudah paham belum sama yang gue jelasin barusan?" tanya Zeus mencoba bersabar.
"Oh. Ngerti kok," jawab Cia yang membuat Zeus menjadi bernapas lega.
"Huft."
"Tapi dikit," lanjut Cia.
"APA!"
"Iya gue ngerti tapi cuma dikit doang. Lo sih jelasinnya cepat banget," bantah Cia yang tidak ingin disemprot oleh Zeus lagi.
"Cepat? Itu sudah pelan, Ci. Lo aja yang gak konsentrasi dan lo malah fokus ke muka gue. Gue tahu kalau gue ini ganteng tapi lo bisa lihat ketampanan gue nanti jangan sekarang," balas Zeus dengan pedenya.
"Uwekk." Cia pura-pura muntah melihat kepedean Zeus yang sangat tinggi.
"Lo kenapa mau muntah gitu? Jangan bilang lo hamil?" Ceplos pemuda itu yang membuat Cia membola terkejut.
"Anjir lo. Lo bisa bikin semua orang salah paham b**o. Gue mau muntah dengar ucapan lo tadi," balas Cia sambil menengok ke segala arah untuk mengecek apakah ada murid lain yang mendengar perkataan pemuda yang menyebalkan ini. Untung saja perpustakan sedang sepi. (Memang kalau di perpustakaan boleh rame? Aneh-aneh aja si bambang).
"Oh. Nih, gue kasih lo tugas fisika buat kerjain di rumah. Pokoknya harus benar semua. Awas aja kalau ada yang salah, lo bakal dapat hukuman," ucap Zeus.
"What? Tugas? Astaga, gue kira gak ada tugas kayak begini. Sama aja bohong berarti."
"Tugas ini berguna supaya lo bisa fisika, buat latihan juga. Pokoknya nanti kerjain dan besok lo kasih ke gue," kata Zeus yang tidak ingin dibantah lagi.
"Besok? Cepat banget sih. Seminggu lagi kepnapa," protesnya.
"Seminggu? Itu kelamaan. Lo cuma gue suruh jawab 5 soal doang butuh waktu seminggu? Ck, lelet banget," cibir Zeus yang membuat gadis itu mendengkus kesal karena selalu dipandang remeh oleh pemuda ini.
"Ish iya iya. Gue kumpulin besok. Tapi kalau gue benar semua, gue harus dapat hadiah dong."
"Eh ini itu buat lo supaya lo bisa pinter, malah minta hadiah."
"Ya biar gue semangat ngerjainnya," jawab Cia yang tidak ingin kalah.
"Ya sudah. Kalau lo benar semua gue bakal kabulin satu permintaan lo," kata Zeus akhirnya. Karena kalau dia terus-terusan menolak akan tetap percuma. Gadis ini akan terus merecoknya hingga dia mendapat apa yang ia inginkan. Dan yang paling menyebalkan adalah pemuda ini tidak bisa menghindar. Poor Zeus.
"Taken! Lo ngak boleh cabut perkataan lo barusan. Hmmm ya sudah deh gue mau pulang. Dahh," ucap Cia berpamitan.
"Eitsss," cegah Zeus sambil menarik pergelangan tangan gadis itu yang mendapat tatapan bingung dari Cia.
"Apa lagi?”
"Lo pulang bareng gue.” Itu perintah yang berarti tidak untuk ditolak.
"Tapi –“ Belum sempat Cia menolak, Zeus sudah menariknya ke arah parkiran. Dan gadis itu hanya bisa pasrah saja.
"Lo seriusan mau antar gue pulang?" tanya Cia hati-hati, mungkin saja Zeus sedang PHP. Sifat pemuda ini memang seperti bunglon bagi Cia.
"Enggak. Gue mau jual lo ke pengepul," jawab Zeus dengan asal.
"Ihh lo s***s banget sih jadi temen!”
"Biarin. Buruan naik," perintahnya lagi yang sudah menyalakan motor lengkap dengan helm yang terpasang di kepalanya.
"Gak mau. Nanti lo jual gue," tolak gadis itu yang sepertinya percaya dengan bualan Zeus.
Zeus memutar bola matanya malas. "Astaga. Gue barusan cuma bercanda. Lagian mana ada orang yang mau beli lo. Lo itu cerewet jadi mereka gak akan bisa bertahan sama mulut lo itu."
"Ish. Ya sudah gue naik. Tapi jangan ngebut-ngebut, terus pilih jalan yang ramai aja, terus lo –“
"Ribet amat hidup lo. Buruan naik atau gue tinggal nih," ancam Zeus lagi sambil berancang-ancang untuk menjalankan motornya.
Sontak saja gadis itu kelabakan karena ditinggal. "Ehhh jangan!" Cia buru-buru naik ke motor Zeus.
Selama perjalanan tidak ada pembicaraan hingga motor Zeus terpakir di depan rumah Cia. Sepertinya gadis itu tidak ingin mencar gara-gara kepada Zeus. Terlebih lagi pemuda itu sudah mengantarnya pulang. Pikir Cia lumayan ongkos ia pulang bisa ditabung nanti.
"Terima kasih sudah anterin gue," kata gadis itu terdengar tulus.
"Sama-sama. Gue pulang dulu dan jangan lupa itu tugas kerjain," kata Zeus mengingatkan kembali perihal tugas yang ia beri.
"Iya iya."
Pemuda itu pun melesat meninggalkan gadis yang entah sejak kapan selangkah lebih maju mengisi hatinya itu.
---
Uhuy terlalu selangkah lebih maju ehe >