"Ci, lo dipanggil Pak Kumis ke ruangannya." Tiba-tiba saja Siska salah satu teman sekelas gadis itu menghampirinya dan menyampaikan pesan dari sang guru. Pesan itu cukup singkat tetapi mampu membuat Cia bingung harus melakukan apa.
"Aduh, gimana nih? Pak Kumis pakai panggil lagi. Itu orang tua kayaknya gak pernah deh biarin gue hidup tenang. Kesel gue sama itu orang. Belum cukup ngurus kumisnya yang lebat itu eh dia malah ngurusin hidup gue, lebih tepatnya nilai fisika gue. Ngeselin banget, kan, Pi?" curhat Cia kepada Ovi.
"Fyi, dia itu memang guru fisika jadi tugas dia adalah memantau nilai fisika semua murid."
"Nah, gue tambah kesel sama satu fakta itu. Kenapa guru fisikanya harus dia, sih."
Ovi yang sedari tadi mendengar omelan sang sahabat pun jadi jengah sendiri. Bukannkah misi gadis itu adalah menaklukan seorang Zeus. Kesempatan sudah ada di depan mata, harusnya gadis itu memanfaatkan keadaan ini. "Ish yaudah deh, Pi gue harus buru-buru ke sana . Kalau kelamaan bisa ngamuk itu orang. Bye, doain gue, ya." Ovi pun mengangguk dan membiarkan sahabatnya itu pergi. Semoga hari ini dia mendapat kabar baik.
Tok tok tok
"Masuk." Cia segera masuk dan seperti dugaannya, di sana sudah ada Zeus yang duduk dengan tenang yang masih setia dengan muka dinginnya.
Njir ini anak. Tenang banget hidupnya. Awas aja kalau Pak Kumis marah entar ini anak gue gibeng, batin Cia merutuki Zeus yang nampak santai padahal dirinya gelisah sedari tadi.
"Cia seperti perkataan saya tiga hari yang lalu, kamu saya minta untuk belajar fisika kepada Zeus. Hal itu –“
"Tapi, Pak, Zeus tidak menerima permintaan Bapak," sela Cia memotong perkataan sang guru. Tidak sopan dan tidak untuk ditiru.
"Kamu dengar penjelasan saya dulu. Jangan main potong saja," balas Pak Kumis yang mendapat senyuman kikuk dari muridnya itu. "Kata siapa Zeus tidak menerima permintaan Bapak? Kamu menerima, kan Zeus tentang bimbingan yang akan kamu lakukan kepada Cia?" tanya Pak Kumis dan dijawab anggukan kepala oleh Zeus. Cia memicing curiga dengan perubahan pemuda di sebelahnya itu. Bukankah kemarin-kemarin dengan tegas dia menolak permintaan Pak Kumis? Bahkan Cia pun juga sudah membujuk pemuda itu dengan usaha semampunya.
Sesungguhnya, selama dua hari ini Zeus melihat Cia selalu dipanggil ke ruangan Pak Kumis. Dia sudah tahu kalau gadis cerewet itu selalu didesak untuk menghasut dirinya supaya mau menyetujui permintaan guru fisika tersebut. Sejujurnya, Zeus mau saja membagi ilmunya dengan orang lain, tetapi dia ragu jika hal itu ia bagikan kepada Cia. CIA, gadis cerewet yang tidak pernah Zeus sukai, asal bicara, ceroboh, dan masih banyak lagi yang tidak Zeus sukai dari diri gadis itu. Tetapi, setelah melihat Cia yang selalu didesak oleh Pak Kumis, Zeus merasa kasihan ditambah lagi kemarin gadis cerewet itu sempat menangis di koridor sekolah. Zeus sampai kesal memikirkan gadis itu. s**l. Semalam, Zeus membuat keputusan kalau dia mau membimbing Cia tetapi dengan satu syarat ...
"Gue mau ngajarin lo, tapi gue punya persyaratan," ungkap Zeus ketika keduanya sudah keluar dari ruangan Pak Kumis.
"Syarat? Lo kalau ngajarin orang yang ikhlas dong. Tau ikhlas gak sih? Noh Ikhlas anaknya Pak Ucup tukang kebun sekolah," ucap Cia jengah.
"Hahaha lo malah ngelucu. Gue seriusan. Kalau lo mau gue ajarin, lo harus terima syarat dari gue. Kalau enggak mau yaudah gue batalin bimbingannya," kata Zeus enteng yang mengundang pelototan dari Cia.
"Eh eh, lo kok ngancem sih? Ok apaan syaratnya? Buruan. Tapi, jangan sampai lo suruh gue buat jadi pacar lo. Gue gak bakal mau tapi entah kalau nanti."
"Najisin. Gue mau bimbingan diadakan setiap pulang sekolah, bisa di perpustakaan atau di rumah lo dan gue gak mau bimbingan di rumah gue. Terus kalau pas bimbingan berlangsung, lo harus fokus dan dengerin semua penjelasan gue. Awas aja lo kalau main-main," ancam Zeus.
"Ah elah, gue kira syarat apaan. Ok lah gue terima itu syarat."
"Bagus. Dan bimbingan dimulai besok. Ok bye." Zeus segera pergi meninggalkan Cia di koridor. Cia yang belum sepenuhnya menyadari perkataan pemuda itu pun tampak berpikir sejenak hingga akhirnya dia pun mengerti. "Besok? Anjir itu anak. Kenapa harus besok sih? Kayaknya dia kebelet buat ketemu gue mulu deh. Cecan mah gini ya banyak yang pengen ketemu. Hmm ok bye."
***
"Huft."
"Bagaimana, Ci? Apa kata Pak Kumis tadi?" tanya Ovi langsung.
"Gue jadi bimbingan sama Zeus.”
"Seriusan lo? Widih asyik tuh belajar sama cogan."
"Asyik apaan coba. Cogan sih cogan tapi cogannya dingin sedingin es di kutub utara," timpal Cia.
"Yaelah. Nikmatin aja deh. Lama-lama lo juga betah sama dia. Entar timbul benih-benih cinta diantara kalian berdua."
"Najiisin lo. Apaan benih-benih? Benih-benih padi di sawah maksud lo?"
"Yaelah sok b**o lo. Eh btw, gue pernah baca loh cerita di w*****d. Nah ceritanya itu percis kayak lo ini. Si cewek belajar bareng sama cowok yang super dingin entar lama-lama itu cowok bisa berubah jadi hangat dan timbullah benih-benih perasaan cinta diantara keduanya.” Cerita Ovi.
"Ihh, lo itu terlalu baper sama cerita-cerita di w*****d. Sadar cuy ini real life not w*****d ok. Gue rasa es batu kayak Zeus itu sulit buat dicairin," kata Cia.
"Ya lo harus bisa cairin itu es dong. Lo itu Cia, sekali lagi gue tekanin lo itu CIA. Gak ada yang gak mungkin bagi seorang Cia, bukan? So, gue kali ini mau kasih lo tantangan buat cairin es batu itu. Bagaimana?"
"Tantangan yang menarik. But, apa yang bisa gue dapetin kalau gue bisa cairin itu es? Rumah? Apartemen? Mall? Cafe? Berlian?"
"Anjir lo. Lo kira gue holkay apa? Gini, kalau lo bisa cairin es batu, gue bakal kasih lo es cream deh," jawab Ovi asal.
"Aih. Buat apa es cream? Gue juga bisa beli sendiri keles."
"Hahaha."