Hari-hari Cia semakin berat saja, ditambah lagi desakan dari Pak Kumis yang meminta dia untuk belajar bersama dengan Zeus. Bukannya gadis itu tidak ingin belajar apalagi bersama Zeus, siapa yang tidak mau belajar dengan pemuda itu? Pemuda yang banyak disukai dan dikagumi anak-anak perempuan di sekolahnya itu, ditambah lagi dia pintar. Tapi, sifat dingin dan cuek dari Zeuslah yang membuat Cia enggan untuk belajar bersama. Apalagi mulut pedas pemuda itu yang tidak pernah ketinggalan selalu membuat telinga Cia panas. Oh iya, dia sedikit gengsi juga jika harus merendahkan harga dirinya. Itu berarti Zeus akan besar kepala ketika mengetahui Cia terlalu bodoh di pelajaran fisika. Tidak, dia tidak akan membiarkan pemuda itu menang. Namun, desakan Pak Kumis semakin menjadi-jadi dan membuat dirinya lelah dan frustasi sendiri.
"Huft." Lagi lagi gadis itu menghembuskan napasnya dengan berat.
Ovi yang memperhatikan raut muka sahabatnya yang kurang baik pun mencoba bertanya "Bagaimana, Ci? Tadi pak Kumis bilang apa?" tanya Ovi.
Ya, Cia kembali dipanggil oleh gurunya itu. Gadis itu pikir sang guru akan membatalkan permintaannya mengenai dirinya dan Zeus, tetapi nyatanya tidak. "Masih sama seperti dua hari ini. Pak Kumis masih tanya tentang perkembangan bimbingan belajar gue sama Zeus,” jawab gadis itu jujur sambil menatap sahabatnya dengan sendu berharap sang sahabat memiliki solusi mengenai masalahnya ini.
"Ya sudah, Ci. Lo bujuk saja Zeus buat ajarin lo fisika,” balas Ovi yang semakin membuat gadis ingin menangis. Bujuk? Yang benar saja. Dirinya sudah cukup hapal dengan sifat Zeus yang keras kepala itu.
"Susah. Susah tahu, Pi buat bujuk dia. Gue enggak mau ah jadi cewek yang harus ngemis-ngemis ke dia. Memang dia siapa," sungutnya pertanda tidak terima jika pemuda itu menang.
Ovi yang mendengar jawaban dari sahabatnya itupun hanya bisa menggeleng. "Ah elah. Lo mau terus-terusan di teror sama Pak Kumis? Coba lo turunin ego sedikit biar bisa buat Zeus mau ajarin lo fisika. Terkadang dalam hidup, kita harus mengalahkan semua ego,” petuah Ovi yang membuat sahabatnya memutar bolanya matanya malas.
Cia pusing memikirkan semua ini. Pak Kumis yang selalu meneror dirinya dengan pertanyaan yang sama setiap kali bertemu. “Bagaimana? Apa Zeus sudah setuju mengajari kamu?” Dan jawaban Cia selalu sama, “Belum, Pak.” Dan dengan seenaknya Pak Kumis berkata, “Kamu harus bisa bujuk Zeus bagaimana pun caranya saya tidak mau tau.” Mungkin otak Cia saat ini tengah berputar-putar mencari ide bagaimana caranya agar pemuda itu setuju mengajarinya. Ya, gadis itu mencoba menurunkan egonya demi nilai fisikanya yang sudah diambang batas itu.
Pulang sekolah, gadis bernama Cia ini sudah mempersiapkan diri untuk berbicara sekali lagi kepada Zeus. Dia sudah frustasi dengan Pak Kumis, ditambah lagi ancaman dari beliau, "Kalau kamu tidak bisa membujuk Zeus, maka nilai fisika kamu yang akan jadi taruhannya." Astaga. Nilai fisika Cia saja sudah jeblok dan nanti akan dikurangi lagi? Cia tidak bisa membayangkan nilai fisikanya nanti akan jadi berapa di raport.
"ZEUS,” teriak Cia ketika mendapati Zeus keluar dari kelasnya. Sambil berdiri meneliti gadis yang sedang berlari ke arahnya, Zeus memicingkan mata mengamati setiap gerakan yang dibuat oleh gadis itu.
"Zeus, gue perlu bicara sama lo." Cia langsung mengutarakan maksudnya.
"Hmmm." Dan selalu jawab dingin yang keluar dari mulut pemuda itu.
"Gue mau lo terima tawaran Pak Kumis. Lo tenang saja gue bakal bayar lo kok, jadi lo gak perlu khawatir. Terus lo gak perlu repot pikirin kita bakal belajar di mana. Gue mau kok kalau kita belajar di perpus, di rumah gue, atau di rumah lo. Pokoknya semua terserah lo, gue mah nurut aja. Gimana?" ungkap Cia tanpa jeda membujuk pemuda itu dengan berbagai pertimbangan.
Zeus memancarkan senyum semiriknya. "Gue gak mau,” tekannya yang tetap pada pendirian yang ia buat. Ia tidak mau mengajari gadis bodoh dan menyebalkan yang ada di depannya ini.
Gadis itu menganga tak percaya dengan jawaban yang selalu pemuda itu berikan. Ini adalah kesekian kalinya Zeus menolak permintaannya. Bahkan dia harus rela merendahkan harga diri dan egonya demi ini semua.
"APA?!”
"Selain b**o, lo juga b***k? Gue gak mau terima tawaran Pak Kumis," jawab Zeus dan pergi begitu saja meninggalkan Cia yang berdiri menganga tak percaya.
Hiks
Gadis itu sejujurnya tidak menangis menangis, tapi entah mengapa air matanya keluar begitu saja. Dia tidak ingin terlihat cengeng hanya masalah seperti ini, tapi sikap Zeuslah yang membuatnya jadi frustasi dan melampiaskannya dengan menangis seperti ini.
“HUWAAA.” Gadis itu menangis histeris dan hal ini tak luput dari pandangan beberapa siswa yang sedang lewat dan tangisan Cia mampu membuat langkah Zeus berhenti.
Jangan balik Zeus, lo jangan balik. Dia Cuma cewek b**o dan gak penting. Zeus meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak peduli kepada Cia.
"ZEUS LO JAHAT!"
DEG
Pemuda itu berhenti melangkah tetapi dia enggan untuk berbalik. Dia hanya ingin mendengar perkataan gadis itu selanjutnya.
"GUE ... HIKS ... GUE GAK PERNAH NEMUIN COWOK KAYAK LO! COWOK YANG GAK PERNAH HARGAIN USAHA ORANG LAIN. GUE BENCI LO! GUE SUMPAHIN LO JOMBLO SEUMUR HIDUP!" teriak Cia sekuat tenaga menyumpahi pemuda itu yang terdengar konyol di telinga orang. Tentu saja semua orang menertawai gadis itu tanpa memikirkan jika gadis itu sedang tidak baik-baik saja.
"Ci, sudah cukup. Banyak yang lihatin lo tuh. Lo gak malu? Yuk kita pulang saja." Ovi mencoba membujuk sahabatnya itu dan Cia pun menurut saja. Ovi mengantar sahabatnya pulang ke rumah, tanpa mereka sadari Zeus selalu memperhatikan setiap gerak gerik gadis yang menangis itu. Entah mengapa dia merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya ketika melihat gadis itu menangis.
"Akhhh sudahlah. Gak penting." Yakin Zeus mengabaikan perasaan aneh yang ada pada dirinya.
Terkadang dalam hidup, kita harus mengambil beberapa keputusan-keputusan. Entah itu keputusan yang baik atau buruk ke depannya. Untuk kedua remaja ini, sepertinya keputusan ada di pihak Zeus. Tentu saja pemuda itu akan menghindari kontak secara langsung dengan gadis bernama Cia ini. Terlebih lagi gadis itu sangat cerewet. Tidak satu hari pun Cia tidak menganggu dirinya. Untuk gadis bernama Cia itu sudah pasrah untuk besok. Ya, besok adalah tepat hari ketiga waktu yang diberikan oleh gurunya itu. Entah keputusan apa yang pemuda itu ambil, Cia akan pasrah dan menyiapkan diri untuk mendengar omelan Pak Kumis yang sudah menjadi makanan sehari-harinya.