PART 4 DONAT

1277 Kata
"Selamat pagi Ze, lo udah sarapan belum? Gue udah dong. Tinggal nunggu harapan biar lo bisa peka aja yang belum," cerocos Cia di pagi hari yang cerah ini. Nyatanya Zeus sama sekali tidak menghiraukan keberadaan gadis imut itu. Dia terus saja berjalan dengan wajah dinginnya. Sepertinya pemuda itu tampak masih kesal meskipun kemarin gadis yang menyapanya itu sudah mengutarakan kata maaf. Cia berniat untuk menyapa pemuda itu pagi ini. Supaya hubungan keduanya menjadi lebih baik. Sepertinya gadis itu ingin membangun relationship yang baik. "Ish Zeus, lo b***k atau bisu sih? Gak bisa ya bales sapaan gue?" kesalnya yang tidak mendapat respon dari pemuda itu. "Ohhh gue tau nih, lo lagi sakit gigi, kan? Pantesan aja itu mulut sama hati lo ketutup mulu. Ke dokter sana biar itu mulut lo kebuka dan bisa bicara lagi. Sekalian biar hati lo kebuka buat gue," lanjutnya dengan pemikiran gila yang selalu hinggap tiba-tiba di kepala cantiknya itu. Pemuda itu hanya diam tak ada niatan menjawab. Bahkan gombalan-gombalan dan godaan yang dilontarkan oleh Cia sama sekali tidak mempan kepadanya. "Ish yaudah deh gue ke kelas aja. Gak guna gue bicara sama lo.” Dan akhirnya gadsi itu pun segera pergi meninggalkan Zeus dengan perasaan dongkol. Tanpa ia ketahui, diam-diam Zeus memperhatikan nya hingga dia hilang dari penglihatan Zeus. Sorry ... Kata maaf yang tidak sempat terucap. "Huft." Cia menghembuskan napasnya kesal ketika bokongnya sudah mendarat di bangku  tempat duduknya dan di sebelahnya sudah ada Ovi. "Lo kenapa?" tanya Ovi bingung melihat sang sahabat yang datang dengan wajah ditekuk sepagi ini. Tidak biasanya karena gadis itu selalu terlihat ceria di luar tetapi rapuh di dalam.  "Gue lagi kesel sama Zeus. Masa  gue tadi nyapa dia, terus dianya cuek dan gak balik nyapa gue,” ceritanya. Ovi yang mendengar jawaban dari temannya itu pun hanya bisa menggelegn. "Ini masih pagi dan lo udah kesel aja. Mungkin si Zeus lagi gak mood buat diajak bicara," ucap Ovi yang masih berpikiran positif kepada pemuda yang selalu menolak keberadaan sahabatnya ini. "Dia mah tiap hari gak mood bicara. Gue curiga dia beneran PMS hahaha."  Cia terbahak-bahak dengan kerasnya. “Dasar. Btw, lo sudah kerjain tugas fisika belum?" tanya Ovi yang membuat gadis itu membola terkejut. "Mampus! Gue lupa." "Eh ogeb ini anak. Buruan cuy jam pertama tuh," ungkap Ovi yang semakin membuat sang sahabat bertambah panik. "Ok, ok. Mana tugas lo, gue mau copas." "Najisin lo. Kalau fisika selalu nggak mau mikir," cibir Ovi dan hanya dihadiahi ketawa oleh Cia. Namun tawa itu seketika menghilang kala mendengar bel pertanda masuk berbunyi. "Anjir. Mampus gue! s****n emang yang bunyiin itu bel! Gue baru nulis juga," tukas Cia kesal. "Selamat pagi anak-anak." Dan lebih sialnya lagi sang guru datang lebih cepat hingga Cia pun belum sempat menyalin tugasnya. "Silahkan kumpulkan tugas fisika minggu kemarin ke depan," ucap Pak Kumis selaku guru yang mengajar. "Mampus gue, Pi, ini kenapa Pak Kumis bisa masuk cepat banget, sih?" bisik Cia kepada Ovi. "Ya gue gak tau Ci. Gimana dong tugas lo?" "Gue –“ "CIA!!" Mampus gue dah, batin Cia. "Eh, iya, Pak. Ada apa ya?" tanya Cia setenang mungkin. Pak Kumis memandang curiga gelagat muridnya yang satu ini di mana selalu ia hafal. "Saya bisa menebak kalau kamu kali ini pasti tidak mengerjakan tugas lagi, kan?" Tebakan Pak Kumis yang selalu benar mengenai Cia nyatanya membuat gadis itu meringis. Sang guru seperti cenayang saja. "Hmmm anu, Pak. Itu. Anu. Saya. Itu –“ "Halah. Sudah cukup! Untuk kesekian kalinya kamu tidak serius di pelajaran saya. Nanti jam istirahat, kamu ke ruangan saya. Untuk yang lainnya saya minta kejadian seperti Cia ini jangan terulang kembali. Mengerti!" perintah Pak Kumis tegas. "Mengerti, Pak.” "Yang sabar ya, Ci," bisik Ovi dan dijawab anggukan oleh gadis itu. Seperti perintah Pak Kumis, saat ini Cia tengah menuju ke ruangan guru. Cia sama sekali tidak bersemangat untuk ke sana. Gadis itu merutuki kebodohannya karena dia lupa mengerjakan tugas fisika itu. Harusnya dia mengingatnya. Dasar bodoh. "Ihh bodoh-bodoh. Kok gue bisa lupa gini sih," omelnya. Tok tok tok "Masuk." Gadis itu pun segera masuk ke ruangan sang guru setelah dipersilahkan masuk dan dia terkejut mendapati Zeus di sana. Sama halnya dengan Cia, pemuda itu juga sama terkejutnya. "Cia silakan duduk." Gadis itu pun segera mengambil tempat duduk setelah dipersilahkan oleh sang guru di sebelah Zeus. "Begini Zeus, saya meminta kamu datang ke sini karena saya mau kamu bimbing Cia di pelajaran fisika. Seperti yang kita ketahui jika kamu ahli di bidang ini sedangkan Cia sama sekali tidak bisa. Jadi, kamu mau, kan sementara jadi guru pembimbing untuk Cia?" jelas Pak Kumis langsung mengutarakan maksudnya mengumpulkan dua orang ini. Namun, laki-laki itu tidak menyadari jika keduanya tidak dalam hubungan yang baik. "Nggak." Itu jawaban yang diberikan Zeus. Tentu saja dengan tegas pemuda itu menolak permintaan sang guru. Dia ingin terbebas dari gadis yang sedang duduk disebelahnya ini, bukannya malah semakin terbelnggu seperti ini. Cia yang mendengar penolakan pemuda itu pun tampak tidak terima, ia pun ikut protes. "Lagian siapa juga sih yang mau diajarin sama lo. Udah cuek, muka macam kanebo," sergah Cia sambil memandang pemuda itu dengan raut wajah kesal. "Cia diam!" perintah Pak Kumis yang membuat gadis itu langsung menurut. "Zeus, kenapa kamu tidak mau mengajari Cia? Bukankah lebih baik kamu membagi ilmu kamu untuk orang lain? Bukankah itu lebih bermanfaat nantinya?" tanya Pak Kumis kepada muridnya itu. "Saya mau membagi ilmu saya, tapi kalau untuk dia saya tidak mau, Pak," jawab pemuda itu tegas sambil melirik Cia yang melotot. Gadis terhina dengan jawaban pemuda yang berada di sebelahnya ini. "Ya sudah sih kalau lo gak mau ya gak apa-apa. Pak, jangan pakai guru pembimbing segala deh, Pak. Saya itu bisa belajar sendiri." Cia mencoba memprotes. "Bagaimana bisa kamu belajar sendiri? Dari semester pertama kamu selalu jelek di mata pelajaran saya. Saya takutnya nanti kalau sudah kelas 12, kamu akan kesusahan. Apalagi UNBK." Pak Kumis mencoba menjelaskan kepada Cia. "Iya, tapi, Pak, orang yang bapak mintai tolong itu gak mau. Dan saya gak mau belajar sama orang yang gak ikhlas, Pak." Pak Kumis pun beralih kepada pemuda yang menjadi satu-satunya harapan beliau untuk mengubah nilai fisika muridnya yang bernma Cia ini. "Zeus, coba kamu pikirkan lagi. Saya sangat mengandalkan kamu. Saya tunggu jawaban kamu tiga hari lagi." Setelah itu keduanya pun keluar dari ruangan guru. Mereka berjalan berdampingan tanpa mereka sadari. Ish, ngeselin banget sih Pak Kumis. Kenapa gue harus belajar sama Zeus coba? Udah dingin, jutek, judes, ngalahin judesnya mimi peri, batin Cia. Kenapa juga gue harus ngajarin cewek cerewet gini? Kagak mau gue, batin Zeus. Keduanya pun sedang perang batin. "Ish ngapain sih lo ngikutin gue mulu?! Kalau suka bilang aja gak usah pakai ngikut segala," ucap Cia kepada Zeus. "Astaga, pede banget sih lo. Sorry gue gak doyan donat," balas Zeus tak kalah sengitnya. "Donat? Gue gak lagi jualan jajan!" "Gue juga gak mau beli jajan. Gue cuma mendeskripsikan diri lo." "Anjir. Berarti gue bulet kayak donat, dong?" "Sudah tau pakai nanya. Gue duluan." Setelah mengatakan hal itu, Zeus buru-buru pergi dan meninggalkan Cia sendirian di koridor. Sedangkan Cia hanya bisa menahan amarahnya. "DASAR SINGA, MACAN, BERUANG, GUE SUMPAHIN LO KESELEK DONAT!!!" teriak Cia yang mendapat tatapan aneh dari murid lain. *** "APA?!!" Ovi pun terkejut mendengar penjelasan sang sahabat. Gadis itu pikir Cia hanya diberi wejangan oleh Pak Kumis, tapi spertinya sudah melakukan keputusan yang lebih. "Keterlaluan banget, kan, Pak Kumis," imbuh Cia. "Masa gue harus belajar bareng Zeus. Dia itu melempem, rasanya pasti aneh kalau gue belajar berdua sama dia." Gadis itu menelungkupkan wajahnya dilipatan kedua tangannya. Ovi yang melihat sang sahabat dirundung frustasi pun ikut meringis. Cia yang hiperaktif dan Zeus yang pendiam. Apa jadinya jika kedua manusia itu disatukan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN