Chapter 6

1423 Kata
From : Olivia - Tunangan Pak Hendra Ren maaf ya kalau aku ganggu kerjaan kamu selama di Bali. Hendra bilang kalian akan cukup sibuk jadi beberapa hari ini aku engga chat kamu dulu ya. Tapi kalau ada apa-apa, jangan sungkan hubungi aku duluan ya Ren. Semangat kerjanya di Bali.. Renata terpaku menatap pesan yang dikirimkan oleh Olivia semalam. Ia baru memeriksa ponselnya pagi ini dan cukup terkejut. Bukan karena gadis itu tetap mengirimkan pesan padanya meski sudah diperingati oleh Hendra. Melainkan karena gadis itu meminta maaf. Bagi Renata, dirinya lah yang seharusnya meminta maaf. “Dia menghubungi kamu?” tanya Hendra. Seolah lelaki itu dapat menerka yang terjadi hanya dari raut wajah Renata. Pertanyaan yang membuat Renata kemudian segera mematikan ponselnya. “Enggak, Pak. Saya lagi cek jadwal Bapak.” Berbohong adalah satu-satunya hal yang bisa Renata lakukan saat ini. Bila ia mengatakan yang sebenarnya, dirinya khawatir Hendra akan marah kepada Olivia. Renata tidak ingin menambah perlakuan jahatnya dengan semakin menyakiti Olivia secara tidak langsung seperti itu. “Jadwal saya cuma menghabiskan waktu sama kamu,” ujar Hendra menatap Renata lekat. Renata menjadi merasa semakin tidak nyaman dengan semua ini. Benar-benar sangat tidak nyaman. Rasa bersalahnya terhadap Olivia menjadi semakin membesar saja. “Sarapan, Ren.” Tidak ada pilihan lain saat ini. Renata hanya perlu melakukan kesehariannya dengan baik selama di Bali. Ini baru hari kedua. Masih ada lima hari lagi. Mereka berdua mulai menikmati makanan dalam hening. Renata masih terpaku dengan pesan yang dikirimkan oleh Olivia. Sementara Hendra nampak santai menikmati sarapannya seraya sesekali memperhatikan gadis itu. Hingga setelah sarapan keduanya habis, Hendra menatap Renata dengan serius. “Saya tidak bercanda soal jadwal. Jadwal saya cuma menghabiskan waktu sama kamu. Kalau ada urusan apapun itu, pastikan bisa di-handle oleh yang lain.” “Baik, Pak.” “Kamu juga kosongkan jadwal. Kita santai saja. Kalau mau jalan-jalan, kamu tinggal sebut mau kemana.” Untuk ukuran bos seperti Hendra, tentu saja lelaki itu masih bisa mengosongkan jadwal. Dengan catatan, Hendra masih mengetahui informasi terbaru mengenai kinerja di perusahannya. Informasi yang tentu saja datangnya dari Renata. Lalu bila Renata tidak bekerja sama sekali selama enam hari termasuk hari ini, entah apa yang akan terjadi. “Saya nggak bisa sepenuhnya libur, Pak. Masih ada yang harus diurus.” Lelaki itu nampak tidak ingin berkomentar. Ia justru masih asik mengupas kulit kelengkeng, membersihkannya, kemudian meletakkan daging buah yang sudah bersih di atas piring baru. Setelah terdapat beberapa buah, ia memindahkan piring itu tepat ke depan Renata. “Buah kesukaan kamu.” Renata menatap Hendra dengan penuh keheranan. “Terima kasih, Pak.” Lelaki itu memang tahu beberapa hal yang disukai Renata. Hanya saja terasa aneh melihatnya pagi ini. Nampak begitu tenang dan tidak menggebu. Biasanya lelaki itu rentan berbuat hal aneh ketika pagi hari. Hal aneh yang Renata maksud adalah hal yang dapat membuatnya merasa kesal. Ah, Renata baru saja tersadar bahwa Hendra telah melakukannya pagi ini. Lelaki itu meminta Renata mengosongkan jadwal dengan begitu mudahnya. “Kalau kurang nanti saya kupasin lagi.” “Terima kasih banyak, Pak. Nanti kalau kurang saya kupas sendiri saja.” “Tidak ada bantahan atau penolakan.” Renata tidak memiliki pilihan lain jadi ia hanya bisa diam saja. “Kamu mau kemana hari ini?” tanya Hendra kemudian. Renata sungguh tidak memiliki niatan untuk pergi berdua saja dengan Hendra disaat seperti ini. Terlalu membahayakan bahkan meski mereka berada di luar kota sekali pun. “Kalau keluar bukannya bahaya, Pak? Nanti pasti ada aja yang melihat kita.” “Karena kita tidak transparan, pasti akan selalu bisa dilihat.” Renata sungguh ingin menghela napasnya. “Bapak, maksud saya kita rentan ketahuan.” “Ini Bali, Ren. Ketemu siapa kita disini?” “Who knows. Ketemu temennya Mbak Olivia.” “Kalo gitu kita cari tempat yang sepi pengunjung. Atau saya sewa tempat yang kamu mau jadi khusus untuk kita saja tanpa orang lain.” Renata akan merasa lebih senang dan tenang bila ia dibiarkan untuk berlibur bersama Roni. Bahkan meskipun ia dan sepupunya itu tidak menginap di villa semewah dan seprivat ini namun dirinya sungguh akan benar-benar merasa lebih gembira. Dibanding harus berada disini namun terus saja merasa cemas. “Kalo gitu saya disini aja, Pak.” “Staycation? Di atas kasur seharian?” Renata merasa tidak enak dengan cara bertanya Hendra tersebut. “Oke kalo kamu lebih suka di atas kasur lama-lama. Masih ada banyak hal yang bisa dilakukan di atas kasur.” “Bapak nggak ada niatan untuk main ke luar? Pantai?” “Kalo kamu mau, ayo. Kalo kamu lebih suka di villa ini saja. Saya juga begitu.” Pandangan Hendra kemudian menatap ke arah kelengkeng yang belum sama sekali disentuh oleh Renata sejak tadi. “Kelengkengnya. Mau saya suapin?” Renata langsung reflek menunduk menatap kelengkeng yang sejak tadi luput dari perhatiannya. “Nggak perlu, Pak. Makasih banyak sudah dikupaskan.” Gadis itu langsung mulai menikmati kelengkengnya meskipun dengan perasaan dongkol. Sungguh untuk saat ini Renata sedang ingin sendiri. Akan tetapi Hendra justru ingin menghabiskan waktu dengan dirinya dan seolah tidak ingin menjauh. “Ini liburan untuk kamu, Ren. Dinikmati ya. Saya tahu kamu penat,” ucap Hendra terdengar tulus. Nada bicara lelaki itu yang dilembut disertai pandangan lekatnya terhadap Renata membuat Renata sejenak terpaku menatap mata lelaki itu. Ah, andai saja Renata bisa meminta libur dari kegiatan ranjangnya dengan Hendra. Pasti liburan disini akan terasa sedikit menyenangkan. Sayangnya lelaki itu hanya memberikan batas toleransi dua hari. “Terima kasih, Pak.” ---- Menonton film bersama kali ini sebenarnya bukanlah pertama kalinya dilakukan oleh Hendra bersama Renata. Hanya saja kali ini akan terasa berbeda karena tanpa gangguan siapa pun. Setidaknya Hendra yang memastikan itu. Dirinya mematikan ponsel dan juga meminta Renata mematikan ponselnya. Dua orang dalam villa yang nyaman dengan agenda menonton mereka. Terdengar lebih manis dari sekadar hubungan bos dan sekretaris. “Nanti siang masak sendiri, gimana?” Pertanyaan itu Hendra ajukan seraya mendongak ke atas. Lelaki itu saat ini sedang dalam posisi merebahkan dirinya dan menjadikan paha Renata sebagai bantal. Ia menatap ke arah wajah gadis itu yang nampak fokus menatap layar televisi. “Boleh, Pak.” Bila sedang tidak terlalu sibuk, Hendra terkadang akan meminta Renata yang memasak sendiri untuknya. Ia suka melihat gadis itu memasak dan selalu mengacaukannya dengan memeluk Renata dari belakang atau menggoda gadis itu. “Saya tidur ya. Nanti kalau kamu lelah seperti ini, bangunkan saja.” “Tapi filmnya, Pak?” “Kamu saja yang lanjut nonton. Saya nemenin aja sebentar tadi.” Hendra kemudian mengubah posisinya hingga kini wajahnya menghadap perut Renata. Lelaki itu kemudian melingkarkan tangannya memeluk tubuh Renata dan mulai memejamkan matanya. Posisi yang baginya sangat nyaman. Tidak ada yang lebih menenangkan selain posisi seperti ini, tidak ada yang mengganggunya, dan tidak ada pekerjaan yang perlu ia pikirkan. Setidaknya untuk hari ini. Akan tetapi masih ada satu hal yang kurang. Hendra menggerakkan tangannya untuk meraih tangan Renata kemudian menuntun tangan gadis itu menuju kepalanya. Renata yang paham akan maksud lelaki itu kemudian mulai melakukan apa yang Hendra pinta. Lelaki itu suka bila dielus rambutnya. Hanya saat-saat tertentu saja seperti saat ini. “Perfect,” gumam Hendra seraya tersenyum dengan mata terpejam. Ekspresi yang tidak dilihat oleh Renata karena gadis itu kini menatap layar televisi dengan pandangan kosong.  “Ren?” Untungnya Renata masih cukup sadar dan mendengar panggilan dari Hendra. “Iya, Pak?” Gadis itu menunduk dan menatap Hendra yang wajahnya tertutup karena menghadap tepat ke arah perutnya. “Pindah kamar gimana?” Pertanyaan itu langsung disambut gelengan kepala oleh Renata. Ini masih terlalu pagi dan dirinya khawatir bila mereka pindah ke kamar atau lebih tepatnya ke atas kasur justru nantinya lelaki itu tidak jadi tidur namun melakukan hal lain. “Saya masih mau nonton, Pak.” Renata bahkan sedikit pun tidak berminat untuk melanjutkan kegiatan menontonnya. Hanya saja ia merasa bahwa lebih baik diam seperti ini dan menonton. Hitung-hitung juga hiburan untuk dirinya sendiri. Lebih tepatnya ia memiliki jeda untuk lebih banyak termenung dan berpikir selama Hendra tertidur dengan posisi seperti ini. “Oke.” Lelaki itu kemudian menggenggam tangan Renata yang tadinya mengusap rambutnya. “Usap pakai tangan satunya, tolong.” Ini benar-benar masih terlalu pagi namun nampaknya bosnya itu sudah mengantuk. Renata terkadang tidak habis pikir. Lelaki yang biasanya terlihat sangat galak serta disegani di kantor, kini terlihat seperti pribadi yang benar-benar berbeda saat bersamanya. “Iya, Pak.” “Good.” Bagi Hendra, saat seperti inilah yang paling dirinya suka. Kedamaian Bali serta keberadaan Renata di sisinya membuat suasana ini terasa lebih menyenangkan. “Selamat menonton, Ren.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN