Memastikan Hendra tetap tidur dengan nyaman setelah Renata bangkit dari duduknya adalah sebuah hal yang cukup sulit. Setelah puas menonton film meskipun tepatnya Renata lebih banyak melamun dibandingkan menonton, ia memutuskan untuk memasak siang ini. Jadi setelah Hendra terbangun nanti, lelaki itu bisa segera makan siang.
“Kemana?”
Mata lelaki itu terbuka ketika Renata berpindah. Tentu saja gagal. Hendra adalah orang yang mudah bangun jadi pergerakan sekecil apapun akan membuatnya segera membuka mata. Kecuali lelaki itu benar-benar sudah sangat lelah.
“Masak, Pak.”
Hendra kemudian menganggukkan kepalanya. Renata merasa lega karena lelaki itu seolah mengizinkannya dengan kembali memejamkan mata. Ia akan memasak dengan senang hati sekarang di dapur. Setidaknya hanya dengan sendirian saja di dapur itu sudah cukup membuat dirinya merasa sangat tenang.
Renata tidak ingin terlalu lama memasak jadi ia akan memasak menu yang simpel saja. Nasi goreng udang sepertinya sudah cukup enak untuk disantap siang ini. Meski terkadang boosy, untungnya Hendra masih bisa menghargai apapun yang Renata masak selama ini. Lelaki itu seolah menurut saja bila soal masakan yang Renata buat.
Ponsel Renata seketika menyala dan itu membuat hatinya berdebar. Tadinya ia kira yang menelpon adalah Olivia. Akan tetapi ternyata yang menelpon adalah Roni. Lelaki itu tahu bahwa dirinya pergi ke Bali.
“Halo, sayang.”
“Astaga. Kamu gimana di Bali, Ren?”
Renata benar-benar ingin menjawab mengerikan. Akan tetapi itu akan membuat Roni jadi bertanya-tanya. Lelaki itu memang tahu mengenai Olivia. Akan tetapi Renata tidak akan memberitahu Roni mengenai hubungannya dengan Hendra. Bisa-bisa lelaki itu akan sangat kecewa dengan yang dilakukan Renata.
“Baik. Agak sibuk tapi.”
Sibuk untuk menyembunyikan diri lebih tepatnya. Serta sibuk berbohong kesana kemari termasuk saat ini kepada Roni.
“Kira-kira kapan pulang?”
“Kenapa, sayang? Kangen ya?” tanya Renata meledek Roni.
Sepupunya itu terdengar terkekeh di seberang sana.
“Kalo aku punya pacar. Udah dikira selingkuh ini aku, Ren.”
Renata yang kini terkekeh. Ia sangat tahu seperti apa Roni. Lelaki itu saat ini belum memiliki pacar karena masih fokus bekerja keras. Kondisi yang kemudian dimanfaatkan oleh Renata dengan meminta lelaki itu menjadi pacar pura-pura Renata di depan Olivia. Renata jadi merasa sangat bersalah kepada sepupunya itu.
Kekehan Renata seketika terhenti ketika ia merasakan sebuah tangan melingkar di perutnya. Yang kemudian disusul oleh pelukan hangat yang terasa di punggung.
“Ada apa, Ren?”
Roni seperti menyadari bahwa tawa Renata seketika terhenti. Detak jantung Renata kini menjadi sangat tidak terkendali. Sungguh, ia tidak suka di kondisi seperti ini. Dibanding ketahuan oleh saudaranya bahwa ia melakukan hal terlarang, dirinya lebih baik ketahuan oleh Olivia.
“Enggak. Nanti kalo aku pulang, pasti aku kabarin.”
“Oke. Jangan lupa jaga kesehatan disana. Kalo bisa jalan-jalan, jalan-jalan ya aja refreshing.”
Renata berani bertaruh bahwa Hendra yang kini tengah memeluknya dapat mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Roni. Hal ini dikarenakan Hendra bertumpu pada pundak Renata dan telinga lelaki itu jadi bersebelahan dengan ponsel di sebelah telinga Renata.
“Oke. Kamu juga, Ron. Udah dulu ya, Ron. Aku masih ada kerjaan.”
“Hati-hati ya disana. Jangan kepincut sama bule. Bye.”
Sambungan telepon terputus.
“Bapak udah bangun?”
“Siapa?” tanya Hendra.
Renata sangat paham bahwa yang dimaksud oleh Hendra adalah orang yang tadi menelpon Renata.
“Roni.”
“Kamu sepupuan kan sama dia?”
Renata sudah pernah memberitahu Hendra mengenai Roni. Sangat jelas. Pertanyaan Hendra kali ini benar-benar hanya untuk memastikan saja
“Iya, Pak.”
“Kenapa sayang-sayangan?”
Sebenarnya tadi Renata ingin banyak bicara dengan Roni. Bila lelaki itu menelpon terlebih dahulu. Kemungkinan sedang senggang. Berbincang dengan lelaki itu akan terasa menyenangkan. Hanya saja kedatangan Hendra yang tiba-tiba membuat Renata memilih untuk menutup telepon. Ia khawatir Hendra akan melakukan hal yang sama ketika dirinya ditelpon oleh Olivia. Mengingat posisi lelaki itu benar-benar percis seperti dahulu. Memeluk Renata dari belakang seperti ini. Bisa saja Roni akan sangat curiga.
“Karena saya sayang sama dia,” sahut Renata kemudian.
“Pak maaf. Saya jadi agak kesulitan untuk mengiris kalau posisinya seperti ni.”
Untungnya Hendra mengerti. Lelaki itu mengecup leher Renata sejenak sebelum kemudian melepaskan pelukannya. Hendra merubah posisinya menjadi berdiri di sebelah Renata. Lelaki itu menatapnya lekat.
“Dia beneran cuma sepupu kamu, kan?”
Renata menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Akan tetapi hal itu seolah tidak cukup meyakinkan bagi Hendra.
“Ke Olivia kamu ngaku dia pacar kamu.”
“Itu kan biar Mbak Olivia nggak curiga, Pak.”
Pandangan Hendra masih belum teralih. Ia masih tetap menatap Renata dengan lekat. Renata tidak tahu apa yang ada di pikiran lelaki itu namun ia berusaha bersikap biasa saja. Meski dirinya kini mulai merasa menjadi berdebar. Ia dapat merasakan dengan jelas bahwa tatapan lelaki itu seolah tengah menyelidik.
“Jadi yang mana yang benar?” tanya Hendra.
“Kenapa, Pak?”
Bagi Renata semuanya sudah benar-benar sangat jelas. Tidak perlu ada yang dipertanyakan lagi. Semuanya sudah begitu jelas.
“Dia sepupu kamu atau pacar kamu?”
“Sepupu, Pak.”
Renata tidak mungkin memiliki pacar di kondisi seperti ini. Itu hanya akan menambah masalah saja. Ia harus menyembunyikan hal ini dari sang pacar. Dimana itu pasti akan sangat sulit untuk dilakukan. Gadis itu akan terus menciptakan kebohongan-kebohongan lainnya.
“Nanti sore kita main keluar ya.”
“Saya khawatir keluar, Pak.”
“Nggak akan ada yang ngenalin kita.”
Renata tetap menggelengkan kepalanya. Ia lebih baik menghindari masalah yang mungkin akan tercipta bila tetap keluar dari villa ini.
“Pak..”
Sejak tadi pandangan lelaki itu tidak kunjung berpaling. Ia masih tetap menatap Renata lekat.
“Oke.”
Renata dapat bernapas lega setelah mendengar persetujuan lelaki itu.
“Apa yang bisa saya bantu?”
Mendengar ucapan Hendra yang seperti itu, Renata langsung menoleh ke arah Hendra.
“Maaf, Pak?” tanya Renata memastikan pendengarannya masih berfungsi dengan baik atau tidak.
“Apa yang bisa saya lakuin untuk bantu kamu masak?”
Kening Renata berkerut seketika. Tentu saja ia merasa sangat aneh. Ini dikarenakan Hendra terlihat berbeda. Biasanya lelaki itu akan diam dan menonton Renata bila tengah memasak. Melihat Hendra yang berniat membantunya seperti itu membuat dirinya jadi kebingungan.
“Nggak ada, Pak. Bapak duduk aja dulu. Nanti kalau udah jadi saya langsung hidangkan.”
“Nggak. Saya mau bantu masak.”
Renata baru saja hendak membuka mulutnya untuk bicara namun Hendra seketika langsung bersuara.
“Kita masak bersama,” ujar lelaki itu.
“Enggak, Pak. Nanti tangan Bapak kotor. Jadi Bapak tunggu aja disitu ya.”
“Kamu mengusir saya?”
Renata rasanya ingin sekali mengatakan ya kepada lelaki itu. Sebenarnya maksud Renata bukanlah seperti itu. Dirinya sungguh tidak bermaksud untuk mengusir Hendra. Hanya saja ia tidak ingin Hendra melakukan apapun. Cukup diam dan menunggu.
“Bukan begitu, Pak. Tapi-”
“Ya sudah. Saya harus bantu apa?”
Malas untuk berdebat. Renata memutuskan memberikan mangkuk besar berisi nasi putih.
“Bapak teken-teken nasi ini aja. Biar nggak ada yang menggumpal.”
“Kamu masak apa?”
“Nasi goreng. Diteken-teken begini, Pak.”
Renata menunjukkan cara kerjanya kepada Hendra. Lelaki itu memperhatikan dengan cermat kemudian menganggukkan kepalanya. Hendra lantas mulai mengambil alih sendok nasi yang tadi digenggam oleh Renata.
Renata melanjutkan kegiatannya.
“Besok kita masak bersama lagi.”
Renata mengangkat satu alisnya namun ia memilih untuk diam saja. Aneh mendengar kenyataan bahwa Hendra ingin memasak. Rasanya habitat lelaki itu adalah di atas meja dengan laptop dan berkas yang berserakan. Dapur rasanya adalah tempat yang sangat tidak mungkin dimasuki oleh Hendra. Renata pikir lelaki itu tidak akan betah berlama-lama di dapur. Apalagi untuk kegiatan memasak seperti ini.
-------
Selesai makan siang yang dilakukan dengan penuh keheningan, tiba saatnya untuk bersantai di atas ranjang. Bila sudah seperti ini, Renata akan menjadi lebih sering berdebar. Hanya saja selama dua jam berjalan, Hendra masih asik menonton film. Meskipun posisi mereka saat ini bisa terbilang tidak biasa saja. Hendra tidur di atas paha Renata. Sementara Hendra menonton film, gadis itu membaca novel.
“Pak. Saya mau tidur.”
Rasa kantuknya sudah tidak tertahankan lagi. Jadi Renata harap Hendra cukup kooperatif dengan memberikannya kesempatan untuk tidur dengan posisi normal.
“Oke.”
Hendra bangkit dari posisinya kemudian mulai mengatur diri agar tiduran dengan posisi biasa. Begitu ia merebahkan tubuhnya, ia merentangkan tangan dan menepuk lengannya.
“Sini, Ren.”
Renata terdiam sejenak. Sehingga membuat Hendra kembali menepuk lengannya.
Renata menatap lengan Hendra dan bantal secara bergantian.
“Saya tidur pake bantal aja, Pak.”
Tatapan mata dari Hendra membuat Renata tidak jadi melakukan apa yang ia ucapkan. Gadis itu merebahkan dirinya dan menggunakan lengan Hendra sebagai bantal. Tangan Hendra pun mulai mengusap rambut gadis itu.
Ini bukan pertama kalinya mereka melakukan kontak fisik seperti ini. Hanya saja kali ini terasa aneh. Meski demikian, Renata sudah sangat mengantuk sehingga ia memilih untuk memejamkan matanya.
Hendra menatap wajah gadis itu yang kini matanya mulai terpejam. Fokusnya teralihkan karena mendengar suara ponsel bergetar di atas meja. Lelaki itu masih dapat menjangkau ponselnya. Satu alisnya terangkat ketika melihat kontak papanya sebagai penelpon.
“Halo.”
“Saya sibuk.”
“Video call?”
Mata Renata terbangun seketika saat ia mendengar suara santai dari Hendra tersebut. Ia hendak bergerak bangun untuk menyingkir. Akan tetapi Hendra yang menyadari pergerakannya seketika menoleh ke arah Renata. Melihat lelaki itu hendak bicara, Renata pun membulatkan matanya. Rasa kantuknya entah hilang kemana. Kini berganti rasa cemas.
“Saya sibuk. Nanti saja.”
Renata ingin melarikan diri namun ia ditahan oleh lelaki itu/
“Renata dimana?”
Meski telepon tidak di-setting dengan mode loudspeaker, namun Renata dapat mendengar suara lelaki itu meski samar-samar.
“Renata sedang istirahat. Dia lelah habis banyak kerjaan.”
Jantung Renata benar-benar tidak bisa dikendalikan lagi. Ia ingin kabur namun tidak ada yang bisa dilakukannya. Bersuara pun justru akan menambah masalah. Jadi satu-satunya jalan hanyalah diam saja.
“Kamu kapan kembali dari sana?”
“Belum tahu.”
“Papa akan datang kesana untuk jenguk kamu.”
Jantung Renata semakin berdebar dan terus berdebar. Hendra menoleh ke arah gadis itu dan mulai mengusap kepala Renata. Rasanya kali ini Renata benar-benar ingin menendang lelaki itu. Bisa-bisanya sangat santai mengusap kepala Renata dengan posisi mereka seperti ini. Padahal sedang menerima telepon dari sang ayah.
“Untuk apa? Saya bisa handle semuanya sendiri.”
“Papa mau lihat sesibuk apa kerjaan kamu di Bali sampai harus stay cukup lama.”
“Baiklah. Terserah.”
Dari nada suara lelaki itu. Renata sangat paham bahwa saat ini Hendra sudah benar-benar malas berbicara dengan orang tuanya.
“Kamu tinggal dimana?”
“Itu tidak penting.”
“Papa akan kesana. Papa sudah di bandara Bali.”
Bila saja mata Renata bisa melompat dari tempatnya, maka itu sudah terjadi. Matanya benar-benar membulat sempurna karena merasa terkejut. Ia benar-benar ingin melarikan diri dari sini sekarang juga. Keberadaan ayah dari Hendra itu di bandara Bali sudah cukup membuatnya merasa ketar-ketir.
“Silahkan. Saya sibuk. Maaf. Kita bicara lagi jika saya sudah senggang. Terima kasih.”
Hendra mematikan sambungan telepon kemudian segera mematikan ponselnya. Seraya Hendra melakukan hal tersebut, Renata masih termenung karena berpikir keras mengenai kenyataan bahwa ayah dari bosnya itu kini akan segera berkunjung.
“Pak. Saya harus siap-siap.”
Renata sudah ingin turun dari atas kasur namun Hendra menahannya. Alhasil gadis itu masih berada tetap pada posisinya saat ini.
“Siap-siap apa?”
“Om Budi mau datang.”
Hendra nampak tersenyum tipis. Senyuman yang jarang dilihat oleh orang lain namun Renata cukup beruntung karena sering melihatnya.
“Muka kamu lucu kalau panik.”
“Pak. Jangan bercanda. Om Budi sudah di Bali.”
“Ya terus kenapa?”
“Beliau akan kaget kalau lihat saya satu kamar begini dengan anaknya.”
“Biarkan saja.”
“Pak!”
Hendra pun mengabaikan wajah panik dari Renata. Ia menarik tubuh gadis itu agar semakin rapat ke tubuhnya. Memeluk Renata erat dan mulai memejamkan mata.
“Bapak gila?”
Pertanyaan itu seharusnya Renata lontarkan sejak dulu.
Mata Hendra yang baru saja terpejam kini terbuka kembali. Ia menatap Renata lekat.
“Kamu yang buat saya gila.”
Renata menjadi merasa terkejut.
“Maksud Bapak?”
“Papa saya tidak akan tahu kita disini. Kalau pun Papa saya benar ada di Bali, bodyguard saya tidak seharusnya kirim foto beliau sedang di GI setengah jam lalu.”
Hendra kemudian memejamkan matanya. Ucapan lelaki itu membuat Renata terdiam untuk mencerna. Bila Renata tidak salah memahami, maka Om Budi baru saja berbohong mengenai fakta bahwa beliau telah berada di Bali. Ya, seperti itu.
Renata kemudian kembali menatap Hendra.
“Tidur atau saya tidurin?”
Pertanyaan yang Hendra lontarkan dengan mata terpejam itu membuat Renata langsung memilih untuk memejamkan matanya