MALAM DI CIREMAI (Petaka m***m di penghujung tahun 2011) . Part 2

2146 Kata
“MALAM DI CIREMAI” Petaka m***m di penghujung tahun 2011 #PART2 Setelah melakukan aksi ranjang goyangnya .Tita dan Tyo kembali ke tempatnya masing-masing, mengingat waktu indah saat berduaan sebagai pelengkap tidurnya malam ini. Beberapa selir kayangan menghampiri Tita dalam mimpinya, mengajak bermain air di suatu tempat yang di selimuti awan, dengan beberapa gumpalan lembut di sekitarnya. Rasa bahagia dia alami dalam bunga tidurnya. Kecantikan selir mampu membawanya ke dalam mimpi yang paling dalam. Bahkan Tita sampai di mandikan dengan berbaring di ranjang emas. Air yang di basuhkan tercium seperti wangi bunga lavender. Kilauan perhiasan emas hanya kiasan Tita untuk tetap berada dalam mimpi. Sebuah sisir emas di ayunkan oleh selir terakhir, untuk merapihkan rambut basah Tita. Tita mulai mencintai alam bawah sadarnya, Dia di perlakukan layaknya seorang ratu oleh beberapa selir kayangan. Namun para selir mulai meninggalkannya. Mencabut sisir dari rambut basah Tita. Selir-selir tersebut beterbangan mengelilingi Tita yang terbaring. Dari pakaiannya yang mencolok, kini berubah menjadi putih polos dengan bebauan busuk yang merangsak masuk dalam pikirannya. Sehingga mengubah mimpi indah menjadi mimpi buruk dan membangunkan Tita dari tidurnya. Tita mulai memeriksa sekeliling kamar penginapan. Berharap ini bukan mimpi, mencari sisir emas yang di ayunkan pada rambut basahnya. Memang kejadian selama tidurnya cukup membuat pikiran Tita terganggu. Makhluk halus meracuni pikiran Tita, mengubah sebuah mimpi seakan seperti kejadian nyata. Mengubah Tita haus akan keindahan emas permata. Hampir setiap kali sebelum melakukan pendakian, Tita sering menyisir rambut dengan jari-jemarinya. Lamunan seakan membekas dalam sebuah kaca di kamar penginapan. Mela yang melihat tingkah laku Tita yang berubah, berhasil membuat Mela merinding di sekujur tubuhnya. Ternyata makhluk halus berhasil mengubah jiwa Tita dari biasanya. Wanita riang gembira di kesehariannya, seakan berubah menjadi wanita tanpa semangat, yang penuh dengan lamunan halusinasi apabila berhadapan langsung dengan cermin. Di lain cerita, gue dan Adul sibuk rebutan gayung untuk mandi pagi ini. Sumur timba di belakang rumah Bibi, seakan memaksa gue dan Adul untuk berolahraga menaikan air dari dalam sumur. Lagu Indonesia raya Adul nyanyikan sembari menarik air dari dalam sumur. Nyanyinya lancar, tapi air yang berhasil dia naikan hanya setengah ember. Ini yang di sebut 99% gaya, dan 1% skil. Terpaksa mandi pagi ini kita memakai cara mandi capung. Bersih kaga yang penting terlihat basah. Bergegas mempersiapkan alat pendakian, tak lupa si Bibi membekali singkong goreng yang di pinta si Paman untuk bekal pendakian. Gue lupa membekali sepatu autdoor untuk Adul, pendakian kali ini dia terpaksa memakai sepatu warior. “Mau muncak apa mau nonton Band Vagetoz, Dul. Pake sepatu warior” .Ejek gue pada Sakdul. “What Vagetoz !. Gue mau ikut family gathering sambil nonton the Bagindaz,Din. Lagian elu gak bilang kalo ngajak naik gunung” Diskusi saling menyalahkan tersaji sambil menyantap singkong goreng pagi ini. Dengan memakai kupluk perpaduan warna merah,kuning dan hijau, Adul terlihat bukan seperti penjaga villa, tetapi lebih terlihat seperti bayi simpanse dalam ingkubator. Wajah Bibi yang cantik natural harus terkontaminasi dengan raut wajah khawatirnya, sebelum keberangkatan gue menuju BC Palutungan. Dalam benak warga sekitar, gunung Ciremai adalah gunung dengan seribu mitos akan ke angkerannya. Tetapi tidak untuk gue pribadi, justru gue lebih memikirkan perasaan gue terhadap Mela. Dengan perasaan cemas si Bibi akhirnya dia melepas kepergian kami bertiga dengan do'a keselamatan. Berada di puncak gunung Ciremai adalah titik tertinggi dari raja. Tinta yang keluar dari dalam pena sesuai dengan apa yang gue rasa. Dunia memang tak selebar daun kelor, tetapi akal dan pikiran gue tidak selamanya kotor. Hingga menjelang siang di pagi hari ini, kami bertiga sampai di BC Palutungan. Paman gue Mang Acong sibuk mengurus simaksi terlebih dahulu. Hingga kedatangan rombongan Mela turut meramaikan kuota pendakian hari ini. Tatapan sinis nostalgia pendakian masa lalu antara gue dan Buluk, memberikan pertanyaan besar terutama untuk Tita,Tyo dan Yoga. Ini bukan moment menceritakan paitnya masa lalu, kami bertiga memilih bungkam dari itu semua. Peran Mela lah yang membawa gue ke Ciremai, dengan rapih gue dan Mela menjalankan drama pertemuan gue dan anggota BTS lainnya. Setibanya Mang Acong kembali, tak lupa gue memperkenalkan Paman gue tersebut kepada Mela dan rombongannya, dan menjelaskan kepada Mang Acong agar kita mendaki bareng mereka. Niat menyewa ranger Mela batalkan, lantaran Paman gue pun cukup untuk membawa mereka menaiki atap tertinggi di Jawa barat tersebut. Dari semasa muda paman gue, ini adalah pendakian ke delapan kalinya dia untuk menghadapi alam dan mistisnya gunung Ciremai. Keanehan dari Tita ternyata Mang Acong rasakan. Dengan cepat dia memberikan air yang sudah di doakan dan memberikannya kepada Tita, dengan harap tidak terjadi apa-apa kepada kami semua. Dengan berbekal pengalaman masa lalu Mang Acong berhadapan langsung dengan alam, dan ke angkeran gunung Ciremai. Cukup membuat BTS percaya dan mengikuti semua arahan Paman gue tersebut. Menjelang sore, tali pengikat sepatu kembali gue kencangkan. Membaca do'a terlebih dahulu menjadi opsi mengawali langkah demi langkah menyusuri jalur Palutungan. Bisa di bilang ini adalah pendakian penuh gengsi antara gue dan Buluk. Pendakian ambisius dua sisi untuk meneruskan BTS dan membubarkannya. Sebelum memasuki pintu hutan, obrolan kecil gue dan Buluk terdengar sangat ganas saling mencibir. “Lelaki sejati itu menghadapi semuanya tanpa adanya jimat, nolongin kaga .. Yang ada justru memberikan petaka” .Terang gue berbisik. “Mending lu urusin ketebalan badan lu,Din .Jangan sampai pulang dari sini elu kesambet kaya sepulang elu di Pulosari” .Ujar Buluk memperingati. “What the f**k, beraninya cuma ngomong di gunung. Elu ngomong gini karena fungsi jimat penangkal yang elu kenakan,Luk. Berbeda cerita kalo elu ngomong gini di Tangerang” .Saut gue kembali dari tujuan ucapannya. Memang problem masalalu memberikan gue pelajaran berharga. Mengharuskan gue untuk menjalani semuanya lebih tenang lagi, dan tidak berkata kotor pastinya. Memang gue dan Buluk dari awal tidak terlihat harmonis, tanpa ada yang tau alesan satu sama lainnya. Seperti ada jiwa di antara kita yang berbenturan saling menolak. Dengan Mang Acong dan Buluk di barisan depan, di susul para wanita yang berada di tengah, dan menyisakan gue di barisan paling belakang, kita mulai pendakian ini tanpa firasat buruk di setiap langkah percentinya. Sambutan suara binatang liar, terdengar menyerbak di udara. Udara sejuk nan asri kembali gue rasakan, setelah menggeluti polusi asap industri selama di Tangerang. “Asallamua'alikum Ciremai” .Ucap Mang Acong sembari mengambil segumpal tanah, setelah melewati beberapa meter dari BC Palutungan. Awalnya kami melangkah tanpa ada pikiran buruk yang ada dalam benak kepala kami, tetapi tindakan yang Mang Acong lakukan membuat semuanya terdiam. Firasat buruk seakan mengeroyok pikiran gue, setelah melihat ritual pengambilan tanah tersebut. Tanpa memberitahukan maksud dan tujuannya, Mang Acong kembali mengajak kami untuk melangkahkan kaki kembali, dan ternyata itu membuat gue menebak sesuatu hal buruk akan terjadi untuk kedepannya. Setelah estimasi waktu yang lumayan lama, akhirnya langkah kami berhasil sampai di Pos 1 Cigowong. Terlihat Tita ,Tyo dan, Adul yang sangat kelelahan setelah berjalan terus menanjak, untuk meraih pos demi pos di jalur Palutungan. Kompan air gue masukan paksa ke dalam gendongan keril yang Adul pinjam dari Mang Acong. Membawa air cadangan membantu kami menghadapi dahaga di pos selanjutnya. Lantaran menurut Mang Acong, hanya di Cigowong dan di Pos 8 Goa Walet lah, persediaan air berada dalam satu jalur Palutungan. Setelah membawa cadangan air yang cukup, satu batang udud mengepul melewati sinar matahari sore, yang merangsek masuk dalam celah pohon besar di sekitaran Cigowong. Beberapa bongkahan kerikil berjatuhan ke arah kami semua. Seperti ada yang menginjak di atas sana, tetapi dari tadi hanya kami yang berada disini, tanpa menemui adanya pendaki yang naik ataupun turun. Menjelang waktu Maghrib kita menunda pendakian kita, untuk menghargai pergantian waktu. Penerangan mulai di nyalakan. Larangan Mang Acong kepada kami, untuk tidak menggerakkan senter terlalu cepat kami simpan baik dalam pikiran kami. Karena keadaan tersebut bisa mengundang makhluk ghaib, di jalur yang mulai terasa sepi dari pendaki lain. Setibanya kami di Pos 4 Arban, Tita meminta ijin untuk membuang hajatnya kepada Buluk. Dengan jarak yang tidak terlalu berjauhan dengan kami, Mang Acong mulai mengawasi pergerakan Tita di balik semak pepohonan. Tapi hal yang tak di duga terlihat merangkak dari samping kiri, menuju ke arah Tita di balik pepohonan. Siluet hitam kurus dengan lengan serta kaki yang panjang, mulai bergerak mendaki Tita di tengah pengawasan kami semua. Situasi di rasa kurang baik, Buluk segera memanggil Tita untuk segera membereskan hajatnya tersebut. Namun panggilan dari Buluk tak satu pun di tanggapi balik, bahkan sosok hitam itu pun hilang bersamaan dengan suara Tita di balik pohon. Mang Acong memutuskan salah satu dari kami untuk memeriksa keadaan Tita di balik semak pepohonan. Buluk segera menuju lokasi Tita, memanggil namanya terdengar terus menerus, tapi sautan panggilan itu bahkan tidak di tanggapi oleh Tita. Dengan cepat Buluk kembali menghampiri kami, memberi kabar buruk Kalau Tita tidak berada di tempat yang di maksud. Mang Acong mulai menenangkan kami semua, dan membagi tugas untuk pencarian Tita ke penjuru arah di Pos 4. Namun nasib sial menimpa Sakdul dan gue di tengah pencarian Tita di Pos 4. Sosok kuntilanak memberhentikan langkah Adul secara mendadak, membuat sekujur tubuhnya bergetar di tempat. “Kenapa ,Dul ?” “Liat ,Din .Emang beneran yah kuntilanak kaya gitu wujudnya ?”. Adul menanyakan setengah merintih. Sosok Ibu kost mengawasi kita berdua dengan jarak yang lumayan dekat. Rambut menutupi hampir sebagian wajahnya, mungarai nyali kita berdua secara perlahan, Tubuhnya mulai terlihat bergerak miring condong ke kiri, sehingga kepala Ibu kost tersebut terlepas menghentak tanah. Setelah itu tertawa pergi dengan ciri khasnya yang membuat sekujur badan menjadi merinding hebat. Kita berdua perlahan bergerak mundur, mengawasi kepalanya yang tertinggal. Kondisi ini membuat kita tidak berani berbalik arah sampai jarak di rasa aman. “Mundur, Dul. Udah gak beres nih kalo sampai nyopotin anggota tubuh” .Pinta gue dengan paniknya. “Iya, Din. Gak meski lu suruh juga gue pengen lari sebenernya. Lagian biar apa sih nyopotin kepalanya begitu !” “Buat elu kali,Dul .Buat oleh-oleh gantungan kunci !” “Gak sekalian aja buat ganjelan pintu, Din. Yaudah hayu jangan debat terus, Din” .Ujar Abdul Baehaqi. Sampai akhirnya berjalan mundur tersebut, membuat kita berdua jatuh di sleding sebuah akar di belakang kita. Ketika kita berdua terjatuh, pandangan kita beralih ke atas pepohonan. Dan sosok kuntilanak tersebut sudah berada di dahan pepohonan di atas kami tanpa sebuah kepala. Teriakan Adul terdengar sangat histeris namun kocak setelah mengetahui sosok Ibu kost berada di atasnya. “Aaaaaaaa .. Ehh elu mbak-mbak jangan macem-macem sama gue, gue itu anak jendral” .Ucap Adul sembari membangunkan badannya dan mengajak gue pergi meninggalkan sosok tersebut. Setelah di rasa jauh dari sosok tersebut, dengan membungkukkan badan kita mulai mengatur nafas, untuk menenangkan kondisi kita berdua. “Sejak kapan Babeh elu jadi jendral, Dul ?” “Emang beneran jendral, Din” “Jendral apaan ?” “Jendral Tienpeng !” “Jendral Tienpeng mah Cupatkay ade-adean si Sunggokong, Sakdul” “Gak apa-apa yang penting jendral, Din” Terlihat sekujur tubuh Adul bergetar setelah melewati kejadian terjatuh tersebut. Ini awal mula dirinya menemui sosok kuntilanak dalam sejarah hidupnya. Tita tak kunjung kita temukan, justru kemunculan sosok yang tidak di inginkan lah yang kita berdua dapatkan. Di saat kita kembali ke lokasi dimana Mang Acong dan lainnya berkumpul, disitulah kita menemukan Tita yang sedang duduk menutup wajah dengan kedua lengannya. Ketakutan serta tangisan lirih terdengar dari seorang Tita, segera kami mengecek dan menghampiri ke arah Tita berada. “Wey, kita cari kesana kemari ternyata elu ada disini” .Ujar Adul yang sembari menghampiri. Memang kita berdua tidak mengenali sosok Tita, lantaran ini kali pertama kita berjumpa di dalam pendakian. Adul segera mengajak Tita untuk bangun dan berkumpul dengan yang lainnya. Namun Tita masih tetap menangis menutup wajah dengan kedua tangannya. Segera kita memaksa Tita untuk segera pergi dari tempat ini, dan Tita pun mulai membuka wajahnya. Seketika itu juga Adul teriak kencang seperti tak percaya apa yang telah di lihatnya, ternyata bukan Tita. Melainkan sosok nenek tua dengan darah yang mengalir di kedua bola matanya. “Mak Ijaaaah ..!” .Ucap Adul terpental jatuh, sambil menyeret kedua kakinya menghindar mundur dari sosok tersebut. Gue yang menyadari jika itu bukan Tita, segera membantu Abdul Baehaqi menyeret badannya yang sulit untuk di bangunkan. Sosok itu terus memandangi kami, dengan kedua matanya yang mengalirkan darah. Beberapa kali Adul harus menahan rasa sakit akibat benturan akar dengan pantatnya. Lantaran gue menarik paksa badan Adul yang terjatuh, untuk menghindari sosok nenek tua tersebut. Duugg .. Duugg .. Preeeeeekkk .. Suara robekan dari celana Adul terdengar syahdu, akibat tersangkut batang pohon yang mati. Robekan celana itu hampir melukai p****t dan pahanya. Dengan susah payah Adul mencoba berdiri, untuk mengajak gue berlari menghindari sosok nenek tua yang sedang merubah wujudnya menjadi seorang Tita. “Tega lu yah, Din. Lu kira p****t gue kelapa tua yang sengaja di parut ke tanah !” “Bukan gitu, Dul. Hidup itu pilihan, lebih baik gue seret, apa terus bertahan saling pandang dengan sosok tersebut !” “Tapi gak sampe bikin robek celana juga dong, Din” Tetapi di lain cerita Tyo, Yoga dan, Buluk mengalami teror yang berbeda. *Bersambung*
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN