MALAM DI CIREMAI (Petaka mesum di penghujung akhir 2011) .Real story
“MALAM DI CIREMAI”
Petaka m***m di penghujung tahun 2011
Real story' BTS
Narasumber BTS
“Sekolah kaga ,Dul ?”
“Sekolah ,Din .Kenapa ?”
“Maen yuk kita ke Kuningan ,kerumah Bibi gue”
“Gue mah ayok aja ,Din .Asalkan gratis”
“Iya ,Dul .Pokoknya lu terima beres aja”
Wacana itu kini terealisasikan dengan baik ,ini adalah tutorial menculik seseorang dengan mulus tanpa tau tujuan gue sebenernya.
Di lain cerita ,Mela sibuk mempersiapkan rundown perjalanannya menuju Kuningan .Rencana di balik rencana antara gue dan Mela, kini tersaji dengan saling balas pesan singkat.
Menurut info yang gue dapat dari Mela ,kini dia dan Buluk membentuk sebuah wadah untuk orang-orang hoby pendakian di sekitaran Balaraja.
Dengan syarat solid dan tidak saling mencintai sesama anggota, mereka open member bagi pecinta ketinggian di lingkungan tongkrongannya.
“What the f**k .Resmi dan terlalu intens untuk gue yang independent” .Gumam gue di balik kabar tersebut.
Setelah menemui ijin kedua orang tua ,kini durasi menunggu bus antar kota dan provinsi rada lumayan lama .Lantaran jarangnya bus yang melintas ke daerah Kuningan dari Balaraja.
Gue kira Abdul Baehaqi udah ijin ke emak dan babehnya .Ternyata acara melancong kali ini dia sengaja pergi dari rumah .Dia takut ijin itu tidak bisa dia kantongi, karena bulan ini harusnya dia mengikuti praktek kerja lapangan (PKL) di sekolahnya.
Tapi kalo perginya Sakdul ngikut gue, pasti emak babehnya mengijinkan asalkan balik bawa oleh-oleh aja.
Di cerita lain, Mela sudah sampai di rest area Cikarang pungkasnya via panggilan telephone. Dia beserta jajaran pendakiannya terdengar sangat riang gembira menikmati perjalanan menuju Kuningan.
Ini adalah liburan lulus sekolah bagi gue ,sekaligus menyambut akhir tahun 2011.
Lama terlelap dalam bus akhirnya membuat gue terbangun juga. Kata Anying terdengar merdu di setiap pembicaraan orang di sekitar. Itu menandakan bahwa kita berdua sudah memasuki wilayah sundanese.
Megahnya gunung Ciremai terlihat kokoh di pinggiran jalan penghubung ke arah rumah bibi gue. Berdasarkan alamat tujuan yang gue genggam, dengan sabar kita menunggu kedatangan paman untuk menjemput kita berdua.
“Gue baru sadar, Din. Kenapa lu bawa tas gunung?” .Adul menanyakan.
“Emang elu mau Dul, jinjing oleh-oleh pake batang pohon singkong”
“Iya juga sih. Oh iya itu gunung apaan, Din ?”
“Yang jelas itu bukan gunung Sahari, Dul”
Sambil ngudud dengan segelas kopi hitam membuat kita terlarut menunggu dengan sabar. Sakdul merasakan kenyamanan dan keamanan, lantaran dia ngudud tanpa orang yang kenal memergokinya. Biasalah namanya juga masih bocah sekolahan, pasti ada pro kontra kalo udah ngudud di kampungan sendiri.
“Ceweknya bening-bening, Din .Udah kaya golok Babeh gue” .Ujar Sakdul sembari memandang teteh-teteh yang lewat di depan pandangannya.
“Ohh pasti, Dul. Semua terlihat cantik natural tanpa campuran borax di kecantikannya”
“Yang jualan kopi juga cantik banget yah, Din .Kalo di Tangerang kaya begini modelannya, gue bakalan nyempetin ngopi tiap hari dah”
Memang mbak-mbak penjual kopi membuat gue juga rada kesemsem .Real ini tempat yang gak salah buat di singgahi sambil menunggu jemputan.
“Pada mau naik gunung yah ?” .Tanya si teteh warung penjual kopi.
“Enggak kok teh ,cuma mau liburan doang di rumah sodara ,kebeneran arah rumahnya di kaki gunung Ciremai tersebut”
“Ohh .. Kalo mau muncak hati-hati yah, soalnya cuaca di atas gak menentu minggu-minggu ini” .Si teteh memperingati.
“Si teteh udah cantik, perhatian lagi .Ada kalee sodara yang seumuran sama kita berdua” .Jawab gue.
“Ada. Emang si akang-akang ini kuat, kalo di suruh orang tua saya buat mencangkul di ladang” .Saut si teteh dengan senyumannya.
“Adeuuuh teh. Siang mencangkul ladang, malamnya mencangkul apa tuh !” .Saut Abdul Baehaqi.
Canda tawa mewarnai pembicaraan kita siang ini. Sehingga waktu tidak terlalu lama di rasa, sampai paman gue tiba di lokasi kita berdua.
Dengan di jemput pejero terbuka, kami melaju di tengah rapatnya jalur pemukiman dengan suhu udara yang terasa sejuk.
Di tengah perjalanan, Mela menanyakan posisi gue via telephone .Dengan singkat gue mengabari dia kalau gue udah sampai di rumah Bibi gue tersebut. Dan kembali merencanakan konspirasi pendakian tanpa sepengetahuan Adul dan Team pendakian Mela.
Setibanya kita di rumah si Bibi, hidangan makan siang menjelang sore terasa sangat menggoda .Kedatangan ponakan sablengnya dari Tangerang membuatnya terlihat sangat bahagia. Memang Bibi gue itu salah satu saudara yang selalu membela gue, di saat gue melakukan kesalahan.
Naluri ke ibuannya terasa penuh kasih sayang. Lantaran Bibi gue belum juga di karunia seorang anak dari awal pernikahannya. Kondisi inilah yang selalu memanjakan gue di saat liburan di Kuningan.
“Jangan balik lagi ke Tangerang yah ! .Tinggal di Kuningan aja sama Bibi” .Pinta Bibi gue.
Entah kenapa ucapan Bibi gue tersebut sedikit membuat gue parno. Hati terasa mulai tidak enak karena ucapannya.
?????
Hingga malam datang, gue masih memandangi kemegahan gunung tertinggi di Jawa barat tersebut. Dengan mengantongi pengalaman pendakian sebelumnya, gue berharap tidak ada nasib sial yang gue rasakan di pendakian kali ini.
“Maafkan aku wahai sahabatku .Besok gue culik dah elu, untuk menaiki atap tertinggi di Jawa barat tersebut” .Gumam gue di tengah adukan kopi.
Sakdul yang sibuk PDKT dengan saudara paman gue terlihat sangat cuek dengan kopi yang Bibi gue hidangkan. Ini adalah moment gue meminta ijin ke si Bibi untuk pendakian esok hari.
Dengan ragu dan bingung harus mulai obrolan dari mana, akhirnya gue langsung meminta ijin kepada Bibi dan paman gue. Surat ijin terasa sangat sulit untuk gue kantongi .Setelah meyakinkan akhirnya Bibi gue memberi ijin dan berjanji tidak memberitahukan perihal ini kepada orang tua gue di Tangerang. Lantaran semua orang merasakan trauma dengan pendakian masa lalu gue di Pulosari .Tapi dengan syarat. Paman gue ikut mendaki mengawasi gue dan Abdul Baehaqi untuk pendakian esok hari.
Dari pada gatot ,mending gue mengIYAkan saja persyaratan tersebut.
Setelah mengantongi ijin dari si Bibi ,kini tiba saatnya untuk gue merayu Abdul Baehaqi ikut unjuk gigi untuk rencana pendakian esok.
Gue gak yakin dia mau ikut .Tapi gue gak bisa tanpa keseruan bareng Adul .Lantaran tensi panas team Mela membekas dalam hati gue.
“Dul .Besok gue mau naik gunung Ciremai bareng paman gue ,elu mau ikut gak ?”
“Naik motor apa jalan kaki ,Din !”. Saut Adul menanyakan.
“Naik onta ,Dul”
“Wakolu minal duriya .Rokok dulu biar gak mati gaya”.Saut Adul dengan anehnya.
Terkadang ocehan Adul kaga nyambung, tapi itu titik keseruan dari orang seperti dia.
Dengan jawaban seperti aja sudah cukup bagi gue mengetahui jawabannya ,orang seperti dia pasti ngikut asalkan tidak keluar biaya di kantongnya.
Meski sejak awal gue ragu dia mengikuti pendakin kali pertamanya untuk esok hari.
“Tidur ,Din .Disini lagi ramenya mitos kedebong terbang !.” .Pinta Bibi gue untuk segera memasuki rumahnya.
Ternyata kedebong pisang yang di pakai alas untuk memandikan mayat masih gue temui di Kuningan.Dan mitos kedebong pisang terbang lagi gencar-gencarnya sekarang ,sehingga waktu masuk rumah lebih di paksakan, dari pada menikmati malam hari di luar rumah.
“Setan gak ada kerjaan ya ,Din. Ngarak kedebong pisang keliling kampung ,tukang baso cuangki mah ketauan keliling kampung nyari rezeki .Nah kedebong pisang keliling nyari apaan ,Din !”
“Nyari pisang lah ,Dul.Dahlah jangan bahas begituan ,anggap aja ini di Tangerang yang gak ada mitos kedebong pisang terbang” .Saut gue bercanda.
Memang orang kaya kita berdua tidak bisa di peringatkan hanya dengan omongan. Karena dengan visual nyata lah kita berdua bisa jera.
Suhu udara dengan cepat mendinginkan kopi yang hangat .Menggertakan hampir sebagian gigi yang menghembuskan asap rokok ,yang mulai mendekati filter hisapan terakhir.
Tanpa adanya tanda kemunculan ,suara khas kuntilanak terdengar sangat berdekatan .Suaranya menggema tanpa adanya jarak.
Abdul Baehaqi menoleh ke arah gue dengan raut wajahnya yang panik namun lucu .Matanya terbelalak ke semua arah ,mencari sumber suara cekikikan ibu kost yang mulai meneror pikirannya.
Sekali tidak membuatnya lari ke dalam rumah ,namun suara cekikikan kuntilanak kali ini cukup membuat gue terusik di jam santai.
Dengan sedikit pergerakan dari gue ,Sakdul udah ngibrit duluan ,persis Valentino Rossi yang setting kecepatan motornya di jalan Pantura.
Dengan durasi beberapa detik ,Sakdul udah berpindah tempat ke ruang tamu .Matanya tertuju tajam ke arah gue ,sesekali mencari suara happy ibu kost yang terdengar sangat jelas.
Dengan tenang ,gue mulai mengangkat tangan dan berucap “Iya hallo .. Kenapa ,Mel.?”
“Ohh oke siap, besok jam delapan kita start .Tunggu gue sampai di BC Palutungan yah ,Mel !.” .Jawab gue dari ajakan Mela via telephone.
“Sialan banget lu ,Din. Gue kira beneran suara ibu kost, gak taunya suara nada dering handphone elu.” .Ucap Adul sembari mengelus dada
????
Di lain cerita ,Mela sedang giatnya memberi arahan kepada anggota pendakian pemulanya. Dengan membawa rombongan sama-sama dari Tangerang ,tidak semua anggotanya gue kenal ,hanya beberapa saja seperti Buluk dan Mega.
Dengan jarak yang tidak terlalu jauh, antara lokasi gue yang berada di Jalan Sukamanah ,Mela dan rombongannya yang berada di Cigugur, tetapi kita menahan untuk saling bertemu, lantaran adanya gengsi antara gue, dan Buluk di pendakian masalalu.
Dengan bermodalkan penginapan, mereka menikmati malam dengan keseruan, tanpa adanya mitos kedebong mayat terbang.
Di sisi lain ,Tita dan Tyo adalah anggota baru di team pendakian BTS .Sebelumnya mereka berdua pernah menjalin hubungan pacaran. Namun keinginannya untuk bergabung dengan BTS (Balaraja Trak Surender) harus membuatnya berhubungan secara diam-diam dari Mela dan anggota lainnya.
Dan nama BTS sendiri sebenernya gue yang buat .Fillosofi nama BTS bisa di artikan dari pendakian pertama gue bareng Mela dan Buluk yang gagal.
Nama BTS gue nobatkan sebagai nama ejekan buat gue pribadi ,Mela dan Buluk, yang harus surender dari pendakian masalalu di Pulosari.
Sebelumnya nama itu gue buat untuk ejekan, kita pernah di pukul mundur menyerahkan diri pada ganasnya jalur pendakian, karena kelakuan aib gue ,Mela dan Buluk.
Tapi seiring berjalannya waktu, justru Abdul Baehaqi yang meneruskan nama tersebut menjadi BTS (Balaraja Trak Surender), menjadi BTS (Buluk Team Sablenk).
Tita dan Tyo sangat menikmati keluarga barunya, mereka berhasil mengelabui pikiran Mela, dan ke telitian Buluk sebagai pemimpinnya.
Sebagai hukuman Mela dan Buluk ,kini mereka harus menerima aib baru, lantaran Tyo berhasil menyelinap membawa Tita keluar dari kamarnya, untuk melakukan sesuatu yang beralasan cinta.
Mereka berdua melakukannya tanpa ada kesadaran, atau sepengetahuan Mela dan Buluk, yang terserang rasa lelah setelah menempuh perjalanan jauh dari Tangerang ke Kuningan.
Tyo berhasil menindih tubuh molek Tita dengan kata mutiara cinta.
Darah suci Tita keluar dengan hentakan Tyo yang membungkam Tita dengan janji manisnya.
Penginapan menjadi saksi biksu atas atraksi ranjang yang di paksa untuk bergoyang.
Suhu udara mulai terasa hangat klimaks, mengeluarkan kilauan keringat dari setengah tubuh yang terbuka, tanpa adanya seutas benang yang mereka kenakan.
Tanpa sadar mereka telah mengundang teror yang siap kapan saja menghampiri tanpa rasa ampun. Karena pendakian esok, mereka berselimutkan najis yang memudarkan keimanan mereka.
Hawa nafsu berhasil membutakan pikiran mereka dari penyesalan. Karena pepatah orang terdahulu sering memperingatkan generasi muda untuk tidak berzinah. Bayangkan saja apabila melakukan hal itu di rumah maka nasib sial akan menyelimuti 40 rumah di sekitarnya.
Dan gue termasuk orang yang akan mendapatkan nasib sial kembali dalam pendakian hari esok. Karena beriringan langsung dengan Team BTS di dalam pendakian ke Ciremai.
*Bersambung*