ALMIRA

1143 Kata
Vivi melirik takut Reza. Benarkan, pasti marah. Satu-satunya pewaris keluarga Aditama hampir mati karena dirinya yang hanya anak yatim piatu dan tidak memiliki apapun. "Saya..." "Itu sudah masa lalu," potong Reza. Vivi melirik ibu Reza yang mengangguk pasrah. Ia menghela napas panjang lalu kembali fokus makan. ___ "Sayang, ayahmu kapan pulang?" tanya Almira yang penasaran, setelah Krisna duduk di sebelahnya. "Kenapa kamu menanyakannya?" tanya Krisna. "Orang tuaku ingin bertemu," jawab Almira dengan muka cemberut. Erika dan ibu Krisna saling bertukar kode lewat mata. "Kamukan tahu kalau ayahku itu sibuk, hotel keluarga kami gak hanya satu - dua," jawab Krisna yang berusaha menenangkan tunangannya. "Ya, rencana papakan pengen ketemu sekalian meayakan ulang tahun ke 17 Erika," ucap Almira. Erika menjerit kegirangan. "Kak..." kalau keluarga Almira bukan sembarangan, kalau datang bisa meningkatkan reputasinya. Di kampus ia bisa pamer ke teman-temannya. Krisna mendecak. "Sepertinya kita tidak akan merayakan ulang tahun Erika sekarang." Erika, ibu Krisna dan Almira bingung. "Aku tadi baru buka email hotel, ayah mengirim ultimatum untuk mengembalikan suntikan dana yang selama ini diberikan ke hotel." Krisna menggosok tengkuknya. Entah kenapa membaca email itu membuatnya lelah. Ibu Krisna menjerit. "Pasti ulah si jalang itu!" Krisna mengerutkan kening. "Jalang?" "Siapa lagi kalau bukan Vivi, dia sengaja ingin membuat bangkrut hotel yang diserahkan ke kamu," Ibu Krisna menjawab dengan emosi. Setelah mendengar perkataan Almira, ia semakin yakin dengan ulah jalang sial itu! Krisna tidak setuju dengan pendapat ibunya. "Bu, dia sudah susah payah bantu aku di hotel." "Susah payah gimana? dia cuma keluar masuk hotel, selama ini yang kerja itu pegawai hotel dan wajar dong para pegawai harus meningkatkan omset hotel kita. Buat apa kita bayar mahal mereka?" ibu Krisna membantah ucapan putra kesayangannya. "Kak, jangan terus-terusan belain dia. Yang ada kita semakin rugi, sekarang aja ulang tahunku gak dirayakan." Krisna menimbang ucapan ibu dan adiknya. Masuk akal memang tapi sepertinya ada yang salah disini. "Sayang, anak itu masih kecil. Belum tahu apapun." Almira mengingatkan Krisna. "Bener itu kak." Erika mengompori. "Ya, tapi selama inikan dia sudah bantu pas aku ke luar negeri. Selama aku tidak ada, siapa yang mengisi posisi kosong?" tanya Krisna ke ibu dan adiknya. "Kalian berdua?" Ibu dan adik Krisna tidak berani menatap Krisna. "Terus kamu mau gimana, sayang?" tanya Almira. "Apanya yang gimana?" "Kamu akan mengembalikan suntikan dana itu?" "Tentu saja. Kalau ayah sudah mengirim ultimatum seperti itu, apa bisa aku bantah?" Krisna bertanya balik ke Almira. "Tenang saja sayang, ini gak akan lama." "Tapi, kamukan sudah masuk partai dan..." Krisna mengangkat dagu Almira. "Itu bisa sejalan, apa kamu tidak mau melihat calon suamimu ini menjadi keren? aku juga ingin membanggakan putra kita." Almira tersenyum dan memeluk Krisna. "Terus gimana ulang tahunku?" rengek Erika. "Ambil saja dana dari hotel, kan beres," jawab ibu Krisna. "Benar juga." Erika menepuk tangan kegirangan. Kepala pelayan yang sedaritadi berdiri di belakang sofa hanya bisa memaki di dalam hati. Krisna merasa keberatan. "Tapi..." "Sayang, tidak banyak kok dana yang dipakai. Ayahmu memang memberikan ultimatum dan melarang tapi masa sih sampai segitunya sama anak sendiri? mungkin beliau ingin mendidik Erika." Almira membelai d**a Krisna. "Benar kata kakak ipar." Angguk Erika. Krisna berpikir. "Gini aja, kalau istilahnya kita pinjam bagaimana? sekalian mengembalikan suntikan dana itu," saran Almira. Krisna manggut-manggut. "Pinjam ya..." "Kak, inikan ulang tahun sekali seumur hidup. Aku juga sudah mengumumkannya ke teman-teman, tolong pikirkan wajah keluarga kita. Takutnya mereka menertawakan kakak dan ibu juga." Erika melirik ibunya. Ibu Reza termenung. "Ibu juga sudah memberitahu ke teman-teman ibu, benar kata adikmu. Kita tidak boleh mencoreng wajah keluarga Aditama." Krisna termenung lalu tak lama mengangguk dan memantapkan diri untuk membuat keputusan. "Aku akan bicarakan ini ke manajer dan menganggapnya sebagai pinjaman, toh dengan keadaan keuangan hotel kita pasti mampu membayarnya." Erika bersorak kegirangan. ____ "Apa? pinjam?!" teriak Putra yang mendapat laporan dari kepala pelayan rumah istri kepala keluarga. "Katanya supaya nama baik keluarga tidak tercoreng." lapor kepala pelayan di telepon. Putra semakin sakit kepala menghadapi kelakuan ajaib istri dan anak-anak bosnya. Bukannya mati-matian berpikir mengembalikan dana tapi malah mengambil dana operasional hotel lalu menganggapnya sebagai pinjaman. "Terima kasih atas laporannya, saya akan beritahukan ini ke tuan besar," tutup Putra. "Mereka pasti tidak akan membayarnya," keluh Manajer keuangan pusat yang ikut mendengar laporan ini setelah Putra mematikan speaker handphonenya, kebetulan kepala pelayan melapor di saat para manajer pusat sedang berdiskusi dengan sekretaris Ceo. "Tentu saja. Kita semua tahu kelakuan ajaib istri dan anak-anak atasan kita, hanya saja dia menutup mata." "Jika anda menyetujui pinjaman ini, saya menyerah." Manajer keuangan pusat mengangkat kedua tangannya. Manajer operasional pusat mengiyakannya. Putra semakin sakit kepala, "Ceo sudah membuat keputusan. Sampai akhir pasti tidak akan mendengar alasan apapun sementara kita hanya pegawai yang tidak berdaya..." "Nona Vivi. Bagaimana dengannya?" tanya Manajer operasional pusat. "Laporan keuangan dan lainnya sedikit berantakan, tapi kita tidak bisa mengabaikan ide unik dan kalau dipoles lagi siapa tahu bisa menggantikan posisi manajer hotel untuk city hotel." "Tidak, tidak. Jangan membangunkan harimau yang lagi tidur. Posisi nona Vivi sekarang sensitif," tolak Putra. "Lalu bagaimana? mengundurkan diri bersamaan?" tanya Manajer keuangan pusat. "Saya sudah peringatkan dari awal, mustahil mempertahankan hotel-hotel bermasalah, kita harus menjualnya sebelum membuat kerugian." Manajer operasional pusat mengangguk setuju. "Kita tidak bisa menutupinya terus-terusan, anda harus mempertimbangkan para pegawai juga. Berkat kebijakan menyuntik modal ke hotel-hotel bermasalah, saya dan para pegawai lainnya harus memutar otak menaikan occupancy hotel." Manajer f&b pusat yang sedari tadi diam mendengarkan, akhirnya angkat bicara. "Saya setuju dengan manajer keuangan, biar bagaimanapun kita tidak bisa terus-terusan menutup kerugian hotel-hotel itu sementara kita semua tahu hasilnya lari kemana." Semua orang tidak bodoh. Mereka tahu nyonya terkenal sebagai malaikat tanpa sayap yang sering membuat kegiatan amal dan sosial begitu juga dengan putra dan anaknya tapi orang luar tidak tahu darimana uang itu berasal. "Merayakan ulang tahun untuk menyelamatkan wajah keluarga? hah! konyol!" sarkas Manajer keuangan pusat. "Jangan begitu, biar bagaimanapun ini keluarga Ceo." tegur Manajer operasional pusat. "Lalu bagaimana kalau itu keluarga Ceo? kita akan tunduk? jangan lupa apa yang dikatakan Ceo saat kita semua diajak bergabung!" Kalian bisa berbuat sesuka hati asal tidak mengacaukan bisnis saya. "Jual! pokoknya jual! saya tidak mau ada pinjaman untuk biaya ulang tahun yang dibebankan ke biaya operasional hotel. Keuangan perusahaan kita memang tidak bermasalah tapi kalau terus-terusan kita memaklumi, yang ada lama-lama kita bisa hancur. Ingat, tahun depan Ceo ingin melebarkan sayap ke luar negeri. Dana yang kita butuhkan tidak sedikit, meskipun saya sendiri sudah mengamankan dana tersebut." Manajer keuangan pusat bersikeras dengan pendapatnya. Putra menggertakan gigi, berusaha mencari jalan keluar. Kalau ia melaporkan ini ke Ceo yang ada bisa marah besar dan menarik hotel dari tangan Krisna dan ibunya, itu berarti nona Vivi tidak bisa bekerja. Disamping itu hotel ini memiliki sejarah sendiri, kalau Ceo mengiyakan maka... Bulu kuduk Putra merinding. Ceo pasti akan marah besar, biar bagaimanapun hotel-hotel itu bisnis awal keluarga Aditama. Semoga saja nona Vivi mengambil tindakan. Doa Putra dalam hati yang mengkhianati pendapat Manajer operasional pusat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN