CAMPUR TANGAN

1116 Kata
"Tolong ulangi," Vivi tidak percaya dengan permintaan accounting. "Nyonya dan tuan muda menyuruh saya untuk membayar semua tagihan pesta ulang tahun nona muda dan dimasukan sebagai biaya operasional hotel," ulang accounting. Kepala Vivi menjadi pusing setelah mendengarnya. Setelah menjalani beberapa hari yang tenang dan fokus berusaha membayar semua tagihan, Vivi harus mendengar kabar dari orang-orang kalau accounting seharian tidak ada di kantor dan pulang dalam keadaan menangis. Mau tidak mau Vivi bergegas ke hotel sebelum jam pulang. Eva menggerutu. "Jadi itu sebabnya kamu seharian tidak kelihatan? hanya untuk membayar semua tagihan?" Rika si accounting mengangguk lesu. Ia sudah capek seharian kesana kemari untuk membayar tagihan-tagihan yang berdatangan. "Krisna tahu ini?" tanya Vivi. "Justru tuan muda menyuruh saya bawa uang dan atm buat bayar tagihan," jawab Rika. "Tinggal berapa uang operasional?" tanya Vivi. Rika melirik Eva dengan takut, biar bagaimanapun Vivi juga salah satu atasannya. "Uang cash tinggal lima ratus ribu sementara di bank hanya tinggal satu juta rupiah." Vivi mengusap wajahnya. Ia ingin menangis. "Kenapa kamu gak melapor dulu ke nona Vivi? selain itu, besok operasionalnya gimana?" tanya Eva ke Rika. "Awalnya saya menolak, tapi saya bertemu dengan nyonya dan dituduh menyembunyikan uang perusahaan lalu..." Rika tidak menyelesaikan ucapannya, ia malah mengusap pipi kanan. Eva dan Vivi paham maksud Rika. Rika menundukan kepala dengan mata berkaca-kaca. "Lebih baik saya resign, saya tidak kuat kalau diperlakukan seperti ini. Kedua orang tua saya tidak pernah memukul saya, selain itu saya hanya kerja disini, uang juga semuanya selalu saya laporkan, ada cctv juga di kantor tapi kenapa saya dituduh dan dimaki seperti itu seolah saya penjahat," keluhnya. "Pas di tempat lainnya saat membayar juga begitu, saya dimaki tidak becus." Vivi memijat keningnya. "Tidak, bukan begitu." Eva menatap sedih Rika, ia tidak bisa menyalahkan anak baru lulus kuliah. Biar bagaimanapun, anak ini hanya mematuhi perkataan atasannya. "Kalau begitu kamu resign saja," tegas Vivi. Eva dan Rika menoleh ke Vivi. "Aku tidak akan mempermasalahkan masalah lama tapi aku tidak ingin masalah ini terulang lagi, daripada kamu dipukul dan menangis lagi, lebih baik kamu keluar dari sini. Saya akan membuat surat rekomendasi untukmu." Rika tersenyum senang. "Terima kasih." Setelah itu ia menyerahkan semua laporannya dan keluar dari ruangan. Eva menatap Vivi. Vivi tersenyum lemah. "Accounting sebelumnya pernah mengeluhkan hal yang sama, aku hanya ingin menjaga reputasi hotel ini. Lebih baik kita minta tolong pusat untuk mencarikan accounting hotel ini dan cabang lainnya." Eva menaikan salah satu alisnya lalu tersenyum licik. "Kamu pasti punya ide 'kan?" "Hanya ide tidak berarti," jawab Vivi sambil membaca laporan accounting. "Ini tidak bisa dibiarkan, kita jadi tidak bisa mengembalikan suntikan dana kalau mereka masih mengambil uang operasional." "Nyonya dan tuan muda pasti marah besar." "Tidak akan! mereka takut dengan kepala keluarga." "Jadi, bagaimana caranya supaya tidak ketahuan?" Vivi melirik Eva lalu tersenyum. Ide ini masih mentah jadi ia tidak mau membahasnya ke orang lain dulu. "Nanti semuanya akan tahu." ____ "Meminjam accounting pusat?" tanya Reza di sela makan siang. Setelah kejadian itu, Vivi membuat laporan ringkas sesuai yang dipelajarinya di kampus dan perpustakaan lalu memberanikan diri bertanya ke kepala keluarga saat bertemu makan siang di rumah nenek. "Hanya untuk sementara sampai saya bisa mengembalikan suntikan dana." Ibu Reza menikmati makanannya sambil melirik Reza dan Vivi bergantian. Normalnya ia akan marah jika orang lain bicara saat makan apalagi membahas bisnis tapi begitu melihat keseriusan Vivi untuk belajar dan putranya yang terlihat menikmati. Ia tidak berani mengganggu. Ha- seandainya usia Vivi lebih tua dan bukan anak dari teman Reza, mungkin ia bisa membantu menjodohkan mereka berdua. Sayang sekali, yang satu sudah menikah sementara yang lainnya calon menantu. Reza mengerutkan kening. "Biaya apa ini?" "Pesta ulang tahun Erika, putri satu-satunya anda." Reza mengangkat kepala dan menatap Vivi saat mengatakan 'putri satu-satunya'. Entah kenapa ia membenci itu. "Saya sudah melarang mereka mengadakan pesta, selain itu mereka harus menggunakan dana sendiri bukan operasional hotel." "Bagi mereka, dana operasional dan juga keuntungan hotel adalah dompet mereka." Reza menutup laporan itu dan menyuruh Choky memanggil Putra. "Sepuluh menit!" perintahnya. Choky bergegas menelepon putra. Ibu Reza mengusap bibirnya dengan napkin lalu pamit meninggalkan Vivi dan Reza untuk tidur siang. Ia tidak mau mengganggu urusan bisnis mereka sementara kepala pelayan masih berdiri di belakang kursi Ibu Reza untuk mengawasi dan menghindari timbulnya fitnah di masa depan. Kepala pelayan segera menyuruh pelayan lainnya membersihkan piring dan gelas ibu Reza lalu menyiapkan gelas dan piring baru di atas meja makan. Tidak sampai sepuluh menit, Putra sudah melesat masuk dan berdiri di belakang kursi Reza bersama dengan Choky yang menatap khawatir Putra. "Kamu tahu ini?" Reza memberikan laporan Vivi ke belakang, melewati bahunya. Ia menatap tajam Vivi. Vivi sudah terbiasa mendapat tatapan seperti itu sekarang sehingga ia bisa makan dengan tenang daripada ia merasa ketakutan dan canggung tapi kelaparan karena terlalu sibuk, sebaiknya ia menyenangkan dirinya sendiri selama tidak ada kesalahan. Putra mengambil laporan itu di tangan Reza dan membacanya. Ia hampir serangan jantung melihat banyaknya pengeluaran tida berguna. Apa ini? menyewa mobil mewah untuk masing-masing tamu? memakai catering termahal dengan makanan yang... Choky mengintip laporan di tanga putra, ia berseru. "Caviar? truffle? daging sapi kobe? ini... pesta ulang tahun untuk anak usia 17 tahunkan? bukannya nona muda beberapa hari ini mengajukan dana untuk program diet dan teman-temannya kebanyakan model? kenapa daftar makanannya berlemak semua?" Putra melotot marah ke Choky. Choky yang baru menyadari kesalahannya, otomatis menutup mulut menggunakan dua tangan. Reza bergeming sementara Vivi tetap melanjutkan makan dengan tenang. Putra menelan salivanya. "Saya sudah tahu, tapi saya tidak tahu kalau isinya seperti ini." Meskipun ia sudah menebak dari awal. "Sepertinya mereka tetap mengadakan ulang tahun, kamu sendiri tidak datang?" tanya Reza ke Vivi. Vivi termenung lalu mengangkat kepalanya. "Sepertinya selama satu minggu akan ada kesibukan di rumah sana, keberadaan saya tidak berarti bagi mereka, mau saya datang atau tidak... mereka tidak akan peduli." "Jadi?" "Saya akan menginap di hotel, kebetulan juga beberapa hari ini saya belum menjenguk kakek." "Menginaplah disini." Kepala pelayan, Choky dan Putra terkejut begitu mendengar perkataan kepala keluarga. "Tidak mau," tolak Vivi. "Beberapa hari lalu saya sempat dituduh menghalangi pesta putri kesayangan anda, bibi dan Erika memarahi saya habis-habisan di rumah." "Mereka tidak menghukummu?" tanya Reza. "Tidak, entah kenapa mereka hanya marah karena itu saya tidak mau berlama-lama disini." "Ah, itu sebabnya beberapa hari ini setelah makan siang kamu ke perpustakaan, pinjam buku lalu pergi ke hotel. Tidak menunggu jam kuliah." Vivi menelan makanannya dengan susah payah. Dulu, saat pagi ia harus ke rumah nenek, siang ke tempat kakek, sorenya kuliah sampai malam lalu pergi ke hotel saat mulai kuliah. Ia sempat menunda kuliah satu tahun untuk membiasakan diri dengan jadwal. Saat sekolah, ia tidak pernah bertemu dengan kakek dan nenek, bibi menyuruh kepala pelayan yang pergi untuk mengawasi. Tidak terasa, lima tahun sudah berlalu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN