TIDAK BISA MELEPAS DIA

1294 Kata
Vivi sudah berkorban banyak untuk keluarga ini bahkan sakit kepala sering menyerang saat ibu dan adik tunangannya membuat ulah. "Selama ini kamu digaji?" tanya Reza. "Tidak." "Kenapa?" Vivi menatap Reza. "Karena saya hidup menumpang di rumah jadi harus tahu diri." "Itukah yang mereka katakan?" "Tidak, ya... ah... entahlah." "Mana yang benar?" "Mungkin keduanya?" "Vivi," tegur Reza dengan suara rendah. "Saya tidak ingin membahasnya," tolak Vivi. Reza mengetuk jarinya di meja dan besandar di kursi. "Saya anggap sebagai ya." Vivi tidak membantah. "Mengenai laporan ini serahkan kepada saya," kata Putra. "Tidak perlu. Biarkan saja dicatat sebagai pengeluaran," kata Reza. "Tapi, pajak..." Putra ingin mengutarakan ketidak setujuannya. Kalau pajak mengetahui hal ini lagi, bisa-bisa gosip tersebar luas di kalangan pengusaha. "Kenapa memangnya dengan pajak?" tanya Reza. "Kita rajin membayar pajak bulanan dan tahunan bahkan tidak ada data yang disembunyikan." Akhirnya Putra memahami perasaan Manajer accounting pusat. "Ah, kalau pihak pajak mengetahui semua pengeluaran ini, akan menjadi teguran kedua kalinya. Dulu kita bisa berdalih kalau pihak accounting masih awam karena berkali-kali accounting ganti. Sebelum saya ambil alih, memang orang accounting paham accounting hotel tapi tidak sempat membuat laporan pajak. Karena di pesta ulang tahun Erika juga bisa diartikan pengumuman tunangan saya kembali menangani hotel maka..." Vivi tidak melanjutkan perkataannya. "Sebagai gantinya reputasi tuan muda yang akan kena." Angguk kepala pelayan yang ikut menyimak. Vivi mengerutkan kening. "Tapi dia itu putra kandung anda." Reza memainkan gelas wine di tangannya. "Biar ini menjadi pelajarannya." Tetap saja Vivi merasa tidak setuju. Ini terlalu keras, Krisna dan ibunya sudah susah payah membangun reputasi di dunia politik bahkan Krisna ingin mencapai ibu kota. Hotel di kota ini memang di d******i keluarga Aditama, tapi itu tidak cukup kalau ingin membangun reputasi. Choky berbisik di telinga Putra, seolah bisa membaca pikiran Vivi. "Apa nona Vivi tidak tahu kalau grup hospitality tebesar di Indonesia itu milik keluarga Aditama?" Putra mengangkat kedua bahunya. "Masalah accounting?" tanya Vivi. Putra menatap Choky dengan tanda tanya. Choky berdehem. Ia tidak mau menjelaskan karena takut salah. "Itu bisa saya urus. Putra, bantu Vivi carikan accounting terpercaya lalu berikan dokumen yang kamu pegang ke Manajer accounting pusat, dia belum kembali ke ibukotakan?" Lebih tepatnya Manajer accounting menyibukan diri untuk meredam emosi begitu membaca laporan keuangan tidak masuk akal yang pernah dibuat Krisna dan ibunya. Tapi... Putra menoleh ke Vivi. "Mencari rekomendasi dari pusat apakah itu ide nona?" Vivi tersenyum sedih ke Putra. "Harusnya saya melakukan ini dari awal." Putra berusaha menahan tawa bahagia. Rasanya baru kemarin mendengar keluhan para manajer dan nona Vivi sudah mencari ide. Iya, kenapa tidak kepikiran dari awal untuk meletakan accounting ke hotel-hotel yang dipegang tuan muda dan ibunya. Putra mengacungkan kedua jempolnya dengan semangat ke Vivi. Vivi menjadi salah tingkah. "Karena masalah sebelumnya sudah selesai, sebaiknya kamu berkemas." "Ya?" "Ibu saya akan menjalani perawatan rutin di ibukota jadi sementara waktu tidak ada di kota ini. Kalau kamu mau, apa kamu mau ikut saya ke Bali?" "Bali?" Vivi terkejut. Ia pernah mendengar kalau keluarga Aditama memiliki resort mewah disana. Karena Krisna, ibu dan adiknya belum resmi masuk keluarga Aditama jadi mereka tidak bisa masuk kesana, termasuk dirinya yang hanya orang luar. Putra dan Choky saling menatap sementara kepala pelayan terkejut. Tuan besar membawa calon menantunya ke villa di Bali? bukankah ini melangkahi yang lebih tua? "Tuan besar..." Kepala pelayan hendak mengatakan sesuatu. "Saya rasa ibu tidak akan keberatan mengingat kamu sudah bekerja keras selama ini. Seluruh pelayan ikut ke ibukota juga dan rumah ini akan ditutup." Kepala pelayan baru mendengar ini. Bukannya jadwal ke ibukota dua bulan lagi? apakah dokternya sudah kembali ke Indonesia? Vivi masih bingung harus menjawab apa. Ia melirik Choky dan Putra memberi tanda menganggukan kepala mereka dengan semangat. Benar. Setelah kematian kedua orang tuanya, ia tidak pernah keluar dari kota ini. Mungkin ini satu-satunya kesempatan. "Sa... saya mau." Reza menaikan sudut bibirnya dan kembali menikmati makanannya. Setelah makan siang, Putra segera mengikuti atasannya kembali ke kantor sementara Vivi seperti biasa, mengembalikan dan meminjam buku lalu ke hotel. Beberapa hari ini ia tidak perlu lembur dan menemani night audit sehingga untuk menghindari omelan tidak perlu. Sesampainya di hotel, Vivi yang turun dari sepeda motornya berpapasan dengan Krisna dan Almira yang baru keluar dari mobil. Krisna yang melihat Vivi datang, tersenyum. "Habis dari tempat nenek?" "Mhm." Angguk Vivi. "Bagaimana keadaan beliau? sayang, kamu juga harus bersamaku kesana," rayu Almira. "Nanti, kalau kita punya waktu," jawab Krisna. Almira cemberut mendengarnya. Biar bagaimanapun ia menantu keluarga Aditama jadi sudah seharusnya bertemu dengan ibu kepala keluarga. Vivi mengabaikan tindakan mereka berdua dan jalan menuju pintu masuk. "Vivi bisa kesana, kenapa aku yang calon istrimu enggak?" ketus Almira. "Itu karena aku tunangan Krisna," jawab Vivi lalu meninggalkan mereka berdua. Almira yang mendengar itu sontak menunjuk Vivi yang menjauh dan menatap Krisna. "Kamu liat sendirikan perilakunya dia, aku ini calon istrimu, istri pertama dan mengandung anakmu tapi dia kelakuannya benar-benar tidak berpendidikan!" "Sudahlah, kenyataannya memang benar. Nenek sudah lama mengenal Vivi sebagai tunanganku dan ayahkulah yang menjodohkan kami jadi aku tidak bisa lepas dari Vivi sebelum bisa menjadi pewaris," kata Krisna. Fakta bahwa ibu Krisna memperkenalkan Vivi sebagai pengganti perawat nenek, tidak diketahui Krisna dan Almira. "Jadi kamu akan melepasnya?" "Tidak. Dia tetap menjadi istri keduaku." Almira hendak bicara, Krisna mengangkat tangannya. "Kita sudah sepakat dari awal." "Itu berarti kamu tidak mencintaiku?" "Aku mencintaimu tapi aku juga menyayangi Vivi, kami tumbuh bersama. Aku sudah berjanji padanya sejak kecil untuk menjadi keluarga dan suami. Ayo, masuk." Krisna menyeret Almira untuk masuk ke dalam hotel. Almira menghentakan kakinya dengan kesal. Bellboy A yang sedaritadi berdiri dan memperhatikan dari jauh, menyipitkan kedua matanya. "Calon istri tuan muda cantik juga." Bellboy B yang melihat arah pandang bellboy A berkomentar. "Ingat, jangan seperti itu di depan tuan muda." Bellboy A mengerutu kesal lalu tersenyum ke Vivi yang sudah berdiri di depan pintu masuk. "Non," sapanya. Vivi mengangguk lalu masuk ke dalam hotel. Bellboy A memperhatikan Vivi masuk ke dalam sampai menghilang dari pandangan. "Non Vivi memang terlihat seperti anak-anak, tapi kalau dipoles bisa cantik." "Sok tahu kamu." Tawa Bellboy B. Vivi yang sudah di lobi hotel disambut teriakan tamu di meja front office. "SAYAKAN SUDAH BILANG, KALAU SAYA MINTA DOUBLE BED! KENAPA DIKASIH SINGLE BED?!" "Tapi di aplikasi, anda memesan kamar single bed," jawab front office. "YA, MANA SAYA TAHU. SAYAKAN CUMA LIHAT GAMBAR DAN FASILITASNYA! MAKANYA SAYA PESAN, KENAPA TIBA-TIBA BISA BERUBAH? INI SUDAH SAYA BAYAR CASH!" "Coba saya lihat aplikasinya." Vivi mengambil alih komputer Front Office dan mengecek system reservasi. "Anda pesannya di web travel ya, disini sudah tertera pemesanan anda untuk kamar single bed dan bayarnya pun sudah sesuai dengan charge pembayaran kamar dua malam." "Kamu siapa?" "Y- ya?" "Ngapain anak kecil ini ikut-ikutan?" "Saya bertugas disini." Eva dan Eve yang baru menemani tour guide untuk mengenalkan hotel, melihat Vivi dimarahi tamu. "Panta saja tempat ini tidak profesional, rupanya ada anak kecil disini." "Saya..." "Tante!" Semua orang menoleh ke sumber suara. Almira mempercepat jalan lalu cipika cipiki dengan tantenya. "Ya ampun tante, ternyata beneran datang kesini." "Sebentar lagikan ulang tahun adik calon suami kamu, mana mungkin tante tidak datang." Para pegawai hotel menatap kasihan Vivi yang hanya berdiri dan tersenyum seolah tidak memperdulikan pembicaraan mereka. Berdiri tegak dan tersenyum, Vivi. Jangan membungkuk dan jangan takut. Vivi berusaha menenangkan dirinya meskipun kedua tangan gemetar di balik meja fornt office. "Ini hotel calon suami kamukan?" "Iya, tante. Oh, ya. Kenalin... Krisna Aditama." Almira memperkenalkan Krisna ke tantenya. "Krisna," sapa Krisna dengan ramah sambil menjabat tangan tante Almira. Tante Almira menilai penampilan Krisna lalu tertawa. "Kamu memang pintar mencari suami, keponakan siapa dulu..." Almira merangkul lengan Krisna dan tertawa kecil. Para pria selain Krisna yang hadir mengakui kalau Almira sangat cantik bahkan suara tawanya bisa membuat pria bertekuk lutut, seandainya mereka tidak tahu Almira merebut tuan muda mereka dari Vivi sudah pasti akan jatuh cinta.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN