Yah, ini bukan urusan mereka tapi kasihan juga setiap melihat nona Vivi yang berjuang dan susah payah malah diperlakukan seperti ini.
"Memangnya ada masalah apa tante sampai teriak?"
Tante Almira menatap sinis Vivi. "Kalian rupanya tidak mampu mempekerjakan pegawai ya? kenapa ada anak kecil disini?"
Almira dan Krisna menatap Vivi yang berdiri di balik meja front office.
Almira menatap tidak suka Krisna.
Krisna yang menyadarinya, menatap tajam Vivi.
Vivi sudah tidak terkejut lagi mendapat tatapan seperti itu. "Saya hanya ingin membantu front office."
Almira mendecak kesal.
"Vi, kamu kerja di bagianmu saja."
Vivi menaikan salah satu alisnya. "Dan menurutmu, aku harus di bagian apa sekarang?"
Krisna terdiam.
Tante Almira menatap bingung Krisna dan Almira bergantian lalu menunjuk Vivi dengan marah. "Apakah orang tuamu yang mendidik seperti itu, sehingga tidak sopan ke atasan!" teriaknya.
Vivi menatap Krisna yang hanya diam sementara Almira menatap tidak suka dirinya. Kedua tangan Vivi mengepal.
Krisan berusaha menengahi. "Tante, pasti lelah di perjalanan. Masuk kamar dulu yuk."
"Gimana mau masuk kamar, kamarnya saja salah," dengus tante Almira.
Krisna berjalan ke meja front office dan mengambil alih komputer yang dipegang Vivi.
"Bagaimana bisa ada kesalahan?" tanya Krisna dengan suara rendah supaya tidak didengar orang lain.
Vivi hendak mengatakan sesuatu tapi akhirnya memilih diam.
"Ini kesalahan front office? bagaimana bisa kamu kelolosan?" tanya Krisna.
Vivi mundur menjauhi Krisna.
"Kenapa kamu menjauh?" tanya Krisna.
"Kita bukan muhrim," ucap Vivi dengan nada tenang.
Krisna mengerutkan keningnya.
"Almira, kamu sudah datang toh. Haduh..."
Almira menyambut calon ibu mertua yang baru masuk ke dalam hotel. "Tante..."
Ibu Krisna memperhatikan sekitar ruangan, "Ada apa ini?"
"Ini..." tante Almira menatap bingung ibu Krisna.
Almira segera menyadari kesalahan dan memperkenalkan tantenya ke calon ibu mertua.
"Ternyata memang benar, malaikat cantik seperti yang disebutkan orang-orang," puji tante Almira.
Ibu Krisna tersipu malu. "Haduh, saya sudah tua. Tidak pantas disebut seperti itu."
"Siapa yang bilang gitu? masih muda gini."
Vivi melihat pemandangan harmonis itu dengan iri.
Krisna segera menghampiri Almira dan memeluk bahunya dengan erat seolah tidak ingin melepasnya.
Tiba-tiba handphone Vivi bergetar. Ia melihat nomer asing yang muncul. Siapa?
Vivi mengangkat telepon. "Hallo?"
'Kamu dimana?'
"Saya di hotel."
'Kenapa kamu di sana? saya 'kan sudah menyuruh kamu bersiap-siap.'
Vivi melihat Krisna dan lainnya sedang berbincang-bincang bahagia. "Saya tidak bisa pergi sekarang."
'Kenapa?'
"Vivi! aku dengar kamu membuat masalah lagi!" ibu Krisna berjalan menghampiri Vivi, kalau saja mereka tidak dipisahkan meja reservasi, ia sudah menampar anak tidak tahu malu ini.
"Saya-" Vivi menelan kembali perkataannya. Mereka pasti tidak akan mau mendengar alasan apapun.
"Kamu benar-benar sudah membuat malu, lihat! bahkan keluarga Almira menegur aku!" geramnya dengan suara rendah, setelah memastikan tidak ada yang mendengar percakapan mereka. Sayangnya, ia tidak melihat handphone di tangan Vivi yang masih tersambung dengan kepala keluarga.
"Maafkan saya." Vivi menundukkan kepalanya.
PRANG
Ibu Krisna melempar asbak keramik kecil ke kepala Vivi. "Harus berapa kali, saya harus mengajari kamu? benar-benar anak pemberontak!"
Vivi merasakan darah mengalir di dahi meluncur turun hingga ke sudut bibirnya.
Tante Almira yang melihat itu, mengerutkan kening tidak suka. "Dia malaikat? kenapa memukul anak itu? cukup membentaknya saja."
Almira menghela napas. "Mau bagaimana lagi, perempuan itu tidak bisa diberitahu sama sekali, sampai ibu mertua harus bersikap kasar. Sebelumnya kami bersikap lembut malah ngelunjak."
Tante Almira menoleh khawatir ke Krisna. "Harusnya kalian pecat anak itu."
Almira melirik Krisna, sementara yang dilirik hanya berdehem salah tingkah.
Vivi menyentuh dahi lalu melihat darah di tangannya. Sakit? ya, sangat sakit tapi tidak sesakit di d**a. "Aku salah apa?"
Mata ibu Krisna menyipit. "Apa?"
Air mata Vivi mengalir. "AKU SUDAH BERUSAHA KERAS!" teriaknya.
Semua orang terkejut.
Ibu Krisna menunjuk Vivi. "Kamu benar-benar anak berandal! bagaimana dulu orang tua mendidik kamu?!"
"Kamu menyalahkan orang tuaku?" tanya Vivi yang menatap langsung ibu Krisna.
Krisna yang menyadari keanehan Vivi, berjalan menghampirinya.
"JANGAN MENDEKAT!" bentak Vivi sambil menyentuh dahinya. Ia sudah tidak peduli anggapan orang-orang, mereka sudah melakukan tindakan di luar batas kesabaran Vivi.
PROK
PROK
PROK
"Ya ampun, aku kira ada apa disini. Ternyata drama." Manajer keuangan pusat bertepuk tangan dengan heboh.
"Siapa kalian?" tanya ibu Krisna.
"Wah, apa benar anda istri kepala keluarga Aditama? sebagai seorang istri, harusnya anda tahu tentang kami." Manajer keuangan pusat mengedipkan matanya ke Vivi.
Vivi mengenal wanita ini, dia sempat menolak memberikan dana lebih tapi sebagai gantinya ia memberi saran yang berguna ke Vivi.
"Apa? apa kamu selingkuhan suamiku?" tanya ibu Krisna dengan shock sambil memegang tangan putranya.
Krisna menatap tajam wanita cantik itu, berusaha melindungi ibunya.
Manajer keuangan pusat tertawa terbahak-bahak. "Inilah sebabnya aku membenci kroco berotak s**********n. Nona Vivi, manajer operasional pusat ingin bertemu denganmu. Lho?"
Vivi mengedipkan mata ketika wanita cantik itu terburu-buru menghampirinya lalu menatap dahinya dengan cemas.
"Siapa yang melukaimu?"
"Dia terjatuh sendiri, iyakan Vivi? itu hanya kecerobohan anak kecil." Almira menutup kesalahan calon ibu mertuanya.
"Ya ampun, apa memang ada orang sebodoh itu menutup kesalahan orang lain di depan umum dan cctv?" tanya manajer keuangan pusat.
Almira baru menyadarinya. Karyawan reservasi, front office, bell boy melihat itu semua. Almira menunduk malu lalu memegang lengan kemeja Krisna.
"Tunggu, dari tadi kamu bicara ngawur-" Krisna memeluk Almira untuk melindunginya.
"Vivi, sebaiknya kamu bertemu manajer lainnya terlebih dahulu. Mereka ingin bertanya mengenai laporan pengeluaran dan pemakaian hall secara pribadi." Senyum manajer keuangan, mengabaikan pertanyaan Krisna.
Vivi mengangguk lalu berjalan keluar hotel.
Ibu Krisna masih tidak terima. "Tunggu, Vivi harus minta ma-"
"Buka cctv, saya akan melaporkan semua kejadian ini ke kepala keluarga!" perintah manajer keuangan.
"Sayang-" Almira ketakutan.
"Kamu tidak berhak melakukan itu, ini hotel milik saya!" bentak Krisna.
Manajer keuangan menaikan sudut bibirnya lalu menelepon seseorang, tidak lama beberapa bodyguard datang.
Ibu Krisna dan Almira ketakutan melihatnya.
___
"Gila! apa wanita itu tidak waras? melempar nona Vivi dengan asbak keramik?" Putra menjadi geram begitu melihat dahi berdarah Vivi.
Vivi meringis begitu dokter membersihkan lukanya.
"Luka sobek, jadi bertahanlah," kata dokter.
Setelah Vivi keluar dari hotel, ia melihat mobil limousine hitam parkir di depan pintu hotel. Sopir yang berdiri di samping pintu penumpang menyambut Vivi dan mempersilahkannya masuk.
Di luar dugaan, di dalam mobil ada Putra, Choky, seorang pria yang ternyata dokter dan juga kepala keluarga Aditama.
"Untung saja perjalanan kami tidak jauh dari hotel sehingga bisa cepat kesini," geram Putra. "Tuan besar, anda tidak bisa diam saja!"
Reza yang duduk dengan kaki disilang, menatap dalam Vivi. "Apakah itu sakit?"
Dokter mengerutkan kening dengan jijik. "Kamu serius bertanya seperti itu?" baru kali ini ia melihat temannya mengkhawatirkan orang lain.
Vivi menghapus sudut air matanya. "Kalau hanya begini, tidak sakit."
"Hanya begini?" tanya Reza.
Tanpa sengaja dokter melihat luka lebam di bahu Vivi. "Apakah kamu sengaja menutup luka itu?"
Vivi melihat bahunya lalu menutupinya dengan panik.
Dokter menghela napas panjang. "Sepertinya kita harus ke rumah sakit."
"Untuk apa?" tanya Reza.
"Melihat hasil kerja istri tercintamu," sindir dokter.
Putra dan Choky saling menatap tidak mengerti sementara tatapan Reza ke Vivi semakin dalam.