LUKA FISIK

1141 Kata
Reza membaca hasil tes kesehatan Vivi. Kekurangan gizi, luka lebam lama dan baru ada di sekujur tubuh yang tidak bisa dilihat orang. Bagaimana bisa dia kekurangan gizi? Choky dan Putra menundukkan kepala dengan khidmat, saat ini atasan mereka sedang marah besar. Tidak disangka nyonya membuat karya sekaligus masalah besar. "Nyonya benar-benar orang yang tidak masuk akal," gerutu Choky setengah berbisik. Semua orang dewasa juga tahu, menyakiti anak kecil itu sama saja dengan mempertanyakan moral kamu sebagai orang dewasa. Seumur-umur Choky tidak pernah menyakiti anak perempuan, anak kecil bahkan wanita kecuali kalau orang-orang ini sudah bertindak keterlaluan. Putra mengangguk. "Pulangkan Vivi ke rumah." Choky dan Putra terkejut. Memulangkan nona Vivi sama saja membuat hukuman mati. Reza memutar kursinya menghadap jendela. "Pulangkan Vivi, suruh dia istirahat. Sebentar lagi dia harus bekerja kembali." Choky dan Putra ingin membantah, tapi ditelan kembali. Jika atasan mereka sudah mengambil keputusan A maka itu tetap A. "Baik." Choky menundukkan kepala sekilas lalu keluar ruangan. Putra masih berdiri diam menatap atasannya. "Tuan besar." "Buatkan jadwal pelatihan untuk Vivi, tidak ada waktu." Putra menghela napas pasrah lalu meninggalkan ruangan dengan langkah lambat, ia ingin atasannya berubah pikiran. Tapi, apa yang ia harapkan tidak terjadi, sampai keluar ruangan pun Reza tidak memanggil. Manajer operasional pusat yang berdiri di luar ruangan, menghampiri Putra. "Kenapa Ceo memanggil saya?" Putra hampir lupa dengan manajer ini. "Sebenarnya mau mempertemukan anda dengan nona Vivi, tapi karena nona-" "Ah, saya tahu. Dahinya terluka karena dilempar asbak keramik lalu badannya penuh bekas lukakan?" "Tahu darimana?" tanya Putra dengan mata terbelalak. "Darimana lagi? dokter di kantin marah-marah, semua pegawai di kantin mendengarnya. Tapi tenang saja, saya sudah menyuruh mereka bungkam." Putra menghela napas panjang. "Harusnya jangan dibungkam, biarkan saja berita ini menyebar." "Ya?" Putra mengibaskan tangannya. "Tidak, lupakan saja. Saya sibuk, sebaiknya anda membantu saya membuat jadwal untuk nona Vivi." "Jadwal?" "Nona Vivi akan ikut ke ibukota dengan kita, kemungkinan besar kamu akan melatihnya." "Oh, begitu." Putra merangkul pundak manajer operasional pusat. "Sebelum itu, temani saya ke kantin. Saya lapar!" ____ "Terima kasih sudah mengantar saya." Vivi menundukkan kepala dengan sopan, ketika sudah keluar dari mobil dengan bantuan Choky. Choky yang berdiri di luar mobil menjadi terharu. "Nona, kalau ada apa-apa bisa hubungi saya." "Ya?" Vivi memiringkan kepalanya. Choky berdehem dan berbohong. "Tuan besar yang memberi perintah, turuti saja." Vivi mengangguk mengerti. Biar bagaimanapun kepala keluarga masih menjadi salah satu walinya. "VIVI!" raung Erika. Vivi dan Choky menoleh. "Berani sekali kamu mengacaukan ulang tahunku!" Erika menuruni tangga lalu menjambak rambut Vivi. Choky yang terlambat mengantisipasi, berusaha melepas tangan Erika dan melindungi Vivi. "Nona, tolong kebijaksanaan anda!" "Kebijaksanaan? aku sudah menahannya dari dulu, dia selalu mencari masalah!" tunjuk Erika. "Bagaimana bisa saya mencari masalah?" tanya Vivi yang tidak mengerti. "Gara-gara kamu, ayahku memotong anggaran pesta ulang tahun!" Erika berteriak histeris. "Keluar dari rumahku sekarang juga!" usirnya. Vivi melihat ibu Krisna berdiri di atas tangga bersama bodyguard di belakang, menatapnya penuh kebencian. "Saya tidak melakukan kesalahan apapun," kata Vivi. Ibu Krisna menaikan sudut bibirnya. "Kamu masih tidak menyadari kesalahanmu?" "Bisa disebutkan kesalahan saya hari ini dan sebelumnya?" Ibu Krisna hendak mengatakan sesuatu tapi dipotong Almira. "Tanteku tidak bisa masuk kamar yang dipesannya," kata Almira. "Dia harus mengganti hotel lain, apa kamu tahu siapa tanteku itu? dia istri pejabat di ibukota, kalau aku sebutkan pun, kamu tidak akan mengenalnya." Vivi menaikan salah satu alisnya. "Selain itu, kamu mengenal wanita tadi? sepertinya dia berusaha semena-mena dengan ibu mertua kita." Vivi menghela napas panjang. "Kenapa kalian tidak bertanya saat dia di sana?" Almira tertawa. "Pantas saja, orang tua kamu meninggal lebih cepat. Tidak bisa mendidik anak merupakan suatu aib. Bertanya terang-terangan itu sangat tidak sopan." Choky mengerutkan kening. Jadi, kalau kita tersesat dan menanyakan jalan... itu dianggap tidak sopan? Vivi menatap ibu Krisna dengan menyedihkan. "Orang tua saya meninggal di usia sangat muda, saya dibawa kesini oleh kepala keluarga, bukankah itu berarti kamu mengkritik calon ibu mertua?" Ibu Krisna berdehem tidak suka sementara Almira menjadi salah tingkah. Bagus, nona! Choky bersorak kegirangan di dalam hati. "Yang pasti, aku melarang kamu tinggal disini!" tunjuk Erika. Vivi menoleh ke Erika. "Oke." Choky terkejut. "No- nona-" "Pulanglah. Aku mau ambil barang, mungkin akan lama," kata Vivi yang bersiap menaiki tangga. Erika menghalangi Vivi. "Siapa yang menyuruh kamu masuk ke dalam?" "Aku hanya ingin mengambil barang-barang aku." "Kamu datang kesini tanpa membawa apapun, jadi keluar juga sama." Erika melipat tangannya. Vivi menaikan salah satu alis. "Termasuk piala-piala?" Erika mendengus tidak suka. "Sekolah kamu, yang biayain ayahku jadi gak usah ngelunjak!" Vivi melirik ibu Krisna. "Sejak kapan sekolah saya dibiayai kalian?" Ibu Krisna balas menantang Vivi. "Kamu makan disini saja sudah melebihi biaya sekolah." Mulut Choky berkedut, rasanya ingin mengeluarkan sumpah serapah. Ia menahannya karena ini adalah istri bos! Vivi melirik Almira yang tersenyum bahagia. "Jadi, sudah dari awal kalian memang ingin mengusirku?" tanya Vivi ke Erika. Erika menaikan dagu dengan sombong dan tersenyum penuh kemenangan. "Kamu hanya anak luar, keluarga Aditama sudah mau membesarkan kamu, itu merupakan anugerah." Vivi tersenyum sedih. Saat tinggal di rumah ini, ia selalu diingatkan untuk membalas budi sehingga ia harus kerja di rumah ini dari pagi sampai malam dan setelah diusir begini, semua yang ia lakukan di rumah ini seolah tidak berguna sama sekali. Vivi malas berdebat, hatinya sudah terlalu sakit. Ia berjalan keluar halaman rumah, ia sudah tidak sudi tinggal di rumah ini lagi. Choky yang khawatir, segera masuk ke dalam mobil dan berusaha mengejar Vivi. Vivi mengabaikan perkataan Choky. Ia tetap berjalan tanpa arah beriringan dengan mobil. "Non Vivi!" Vivi sudah tidak mau mendengar, bahkan hujan turun pun ia abaikan. Hatinya sudah terlalu sakit, luka di tubuh tidak sebanding dengan luka di hati. Tanpa sadar Vivi ditarik mundur seseorang, ia mengangkat kepala dan melihat tiang listrik di hadapannya. "Apa kamu ingin bunuh diri?" Vivi yang tanpa sadar bersandar di d**a seorang, mendongak ke atas. Wajah tampan yang dikenal sedang menunduk, menatap dirinya dengan payung hitam di atas. "Aku-" "Jangan bodoh!" Vivi mengerutkan kening. Yang bodoh disini siapa? memangnya ada yang bunuh diri dengan menabrakkan kepalanya di tiang listrik? "Apa yang kamu pikirkan?" tangan kiri Reza menangkup dagu Vivi. Tidak tahu, Vivi tidak tahu apa yang dipikirkannya, terlalu banyak yang harus dipikirkan. Ia hanya berjalan tanpa arah dan mengosongkan pikirannya. "Tidak tahu." Vivi menjawab jujur. "Kamu mau kemana?" "Tidak tahu." "Vivi." "Tidak tahu." Choky yang sudah menghentikan mobilnya dari kejauhan, terkejut melihat bos nya ada di sana. Biar bagaimanapun ini masih perumahan dan pastinya ada seseorang di sekitar rumah yang bisa melihat. Putra yang berdiri di samping mobil, mengetuk pintu mobil. Choky membuka kaca mobil. "Bukannya tadi-" "Ceo mendadak berubah pikiran, beliau mengajakku datang kesini secepat kilat dan sembunyi di sekitar sini, kami melihat nona Vivi keluar dari rumah dengan lesu. Ada apa?" Choky menatap cemas bos dan calon menantunya. "Nanti aku ceritakan, sebaiknya kita mengajak mereka pulang. Aku takut ada orang yang melihat mereka." Putra menimbang saran Choky lalu mengangguk. "Oke."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN