NENEK

1079 Kata
Choky dan Putra merinding melihat perubahan emosi bosnya. "Kami tumbuh bersama, jadi saya tidak bisa langsung melupakannya begitu saja." Nona, jangan menuang minyak ke dalam api! "Bukannya Krisna sudah memiliki kekasih lain? saya dengar wanita itu sedang mengandung anaknya." Vivi terkejut. "Anda sudah mengetahuinya?" Reza menjawab singkat. "Ya." Hati Vivi mencelos. Setidaknya ada sedikit harapan jika bisa mendekati calon ayah mertua, siapa tahu bisa membantunya untuk mengubah pemikiran Krisna. Di dalam hati kecilnya, ia ingin menjadi istri pertama Krisna. Kalau kepala keluarga sudah mengetahui soal kehamilan Almira itu berarti kepala keluarga sudah menyetujuinyakan? apalagi latar belakang wanita itu lebih menguntungkan daripada dirinya. "Kamu kecewa tidak hamil duluan?" Vivi menatap bingung Reza. "Hamil?" "Ya." Vivi awalnya bingung lalu menggeleng panik. "Bukan begitu, saya-" "Sudah sewajarnya kamu punya pemikiran begitu." Vivi kembali menundukan kepalanya. Sudah berapa kali ia menundukan kepalanya? Reza mengusap bibirnya dengan napkin. "Kamu setiap hari ke tempat ibu, kan?" Vivi menganggukan kepalanya. "Di saat itu curilah waktu ke ruang kerja saya." "Ruang kerja?" Reza menjentikan jarinya. Kepala pelayan memberikan sebuah kunci ke Vivi. Vivi menerimanya. "Itu kunci ruang kerja saya. Kamu bisa banyak belajar mengenai manajemen hotel, saya juga akan meninggalkan buku catatan dan laptop untuk kamu belajar." Vivi terkejut. "Nona, proposal nona sangat bagus tapi sayang kalimatnya agak berantakan. Mungkin para manajer tidak sempat mengajari anda atau tidak paham, di ruang kerja itu ada banyak buku jadi nona bisa belajar disana." Saran Putra. "Tapi-" Vivi merasa tidak pantas menerimanya. Krisna, putra pertama keluarga ini, jadi harusnya dia yang menerima ini semua. "Jangan membantah. Kalau ingin bertahan hidup di keluarga Aditama, kamu harus menerima semua pengaturan saya." "Nona, terima saja." Vivi menggenggam erat kunci di tangannya. "Terima kasih, paman." Pfft. Choky dan Putra ingin tertawa mendengarnya. Kriiiing Kepala pelayan mengangkat telepon, tak lama ia berbisik di telinga Reza. Reza yang tadinya melihat piring makanannya dengan heran sontak melirik Vivi. Vivi terkejut mendapat lirikan tajam calon ayah mertuanya. Kepala pelayan kembali menegakan punggungnya dan berdiri di belakang kursi Reza. "Putra," panggil Reza dengan nada dingin. "Ya, bos." Putra menegakan punggungnya, siap dimarahi si bos. "Apa yang kamu katakan ke wanita itu?" Putra paham maksud pertanyaan Reza. "Saya melarang pesta sesuai perintah bos." "Tapi saya tidak melarang mereka menggunakan dana pribadi." "Bos! memangnya nyonya, tuan dan nona kecil masih punya dana pribadi? saya sempat cek rekening mereka. Semuanya kosong." Reza mengerutkan kening. "Bagaimana bisa kosong? saya sudah memberikan uang saku untuk mereka dan itu tidak sedikit." "Itu karena sejak bos, mengalihkan city hotel untuk mereka. Pengeluaran mereka yang awalnya boros semakin boros. Semua kegiatan mereka diambil dari dana operasional hotel setelah uang kiriman dari saya dihabiskan. Saya tidak mau hal itu terjadi." Reza memijat keningnya dengan tidak berdaya. Vivi melirik Putra. Ia menatapnya dengan tatapan terima kasih. Kalau mereka bertiga melakukan hal itu, bulan depan ia harus berkerja keras menggaji karyawan. Putra merasa tersanjung tapi tidak berani mengambil kredit di hadapan bosnya. "Sekarang mereka ribut bahkan anak kecil itu menangis karena ulang tahun ke 17 nya gagal." Bos, jangan mengeluh ke kami! ini semua perintah anda! Choky dan Putra tidak berani menyuarakan suara hati mereka dengan lantang. "Ulang tahun ke 17 itu sangat istimewa untuk remaja Indonesia, bagaimana kalau anda merayakannya?" tanya Vivi. "Bagaimana denganmu?" tanya Reza. "Ya?" "Tahun lalu kamu ulang tahun ke 17 kan? tidak dirayakan?" "Itu, saya merasa tidak pantas merayakannya karena saya belum menjadi anggota keluarga Aditama. Tapi Erika berbeda, dia punya orang tua lengkap jadi..." "Saya tidak akan merayakannya." "Kenapa-" "Bagaimana kalau begini, hotel yang kamu tangani harus bisa mengembalikan modal yang saya berikan. Setelah itu saya akan merayakan ulang tahun anak itu." Bos! Putra dan Choky hampir berteriak bersamaan. Gila aja! hotel yang ditangani nona Vivi ada dua puluh. Itu berarti trilyunan yang harus dikembalikan ditambah lagi ulang tahun nona kecil tinggal menghitung hari. Nona Vivi tidak akan sanggup membayarnya. Tapi, bagaimana jika nona Vivi mampu melakukannya? saat ini tidak akan ada yang meragukan kinerja nona. Vivi tersenyum miris. Ia sudah melihat bagaimana Erika memamerkan ulang tahunnya ke orang banyak, kalau pesta ini gagal maka yang ada dipermalukan. Anak remaja dipermalukan bisa melukai hatinya. Tapi... "Saya menyerah. Saya tidak akan mampu." Vivi mengangkat kedua tangannya. "Kalau saya memaksakan diri di waktu sesingkat itu, bisa-bisa hotel saya jual." Reza tersenyum. Choky dan Putra menatap ngeri bosnya. Baru kali ini mereka melihat bosnya tersenyum seperti itu. "Bagaimana dengan pernikahan?" "Ya?" "Kamu tetap akan menikahi Krisna bukan?" "Ya." "Kamu yakin Krisna akan menikahimu dengan pesta yang kamu impikan sejak kecil?" Vivi menatap ngeri Reza. "Bagaimana anda-" "Itu tidak penting. Mengingat betapa borosnya anak itu dan kamu yang menahan diri pasti tidak akan ada pesta impian." Vivi menghela napas panjang. Apa yang dikatakan paman benar. "Saya akan memberikan pernikahan impian kamu tapi dengan satu syarat." "Ya?" "Kembalikan modal yang saya berikan selama bertahun-tahun." Vivi memikirkannya. Biaya kuliah dan hidup bisa ditangani dengan gaji yang dimiliki atau sisa uang orang tuanya yang diberikan pengacara setahun sekali. Tapi untuk biaya pernikahannya, Vivi tidak pernah memikirkannya. Dulu ia sempat berasumsi kalau keluarga Aditama akan membayar semua ini, tapi semenjak Almira muncul, tidak mungkin keluarga Aditama merayakan pernikahan impian dengan posisinya sebagai istri kedua. "Bagaimana?" Vivi menatap cemas Reza. Kalau kepala keluarga menjanjikan sesuatu tidak akan pernah dilanggarkan? mengembalikan modal butuh berapa lama? Tapi, kalau dirinya membatalkan pernikahan ini dan menarik uang itu untuk kehidupan di masa depan maka bisa dibilang layak. Tidak ada jaminan Krisna menikahinya sesegera mungkin, bahkan jika dirinya hamil, Krisna pasti akan mengutamakan Almira. Nenek juga pasti akan membencinya, nenek sangat menghargai pernikahan dua orang bukan tiga orang atau lebih. "Saya ingin uang." Reza menaikan salah satu alisnya. "Di masa depan saya tidak tahu bagaimana nasib saya. Maka dari itu berikan saya uang." "Tentu." Putra dan Choky menatap Vivi dan Reza bergantian. ____ "Aku sudah menghubungi kepala pelayan di rumah nenek, dia akan meneruskannya ke nenek. Sekarang nenek sedang tidur siang." Krisna menutup telepon rumahnya. Erika dan Ibu Krisna menghela napas bersamaan. "Tidak perlu khawatir, ayah sangat menghargai nenek jadi ayah tidak akan membantah." Krisna menenangkan ibunya. "Kakak, pokoknya kita harus merayakan ulang tahunku. Aku sudah mengumumkannya, malu dong kalau sampai gagal." Erika memeluk tangan Krisna. "Ya, nenek pasti akan mendengarkan kita. Kita berduakan cucunya." Krisna mengacak rambut Erika. Ibu Krisna menyentuh pipinya. "Ibu sampai melupakan nenek kalian karena panik." "Bukannya lupa, tapi ibu tidak berani. Nenek memang terlihat ramah tapi sebenarnya benci ibu, kalau ibu tidak melahirkan kami mungkin saja beliau bisa mengusir ibu." Decak Krisna. Ibu Krisna memeluk tubuhnya sendiri. Ya, untung saja dia hamil Krisna.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN