Setelah membuat kesepakatan secara manual dan kilat dengan disaksikan sekretaris dan bodyguard. Reza segera kembali ke kantor bersama kedua pegawai konyolnya sementara Vivi masuk ke dalam ruang kerja Reza.
"Ruangan ini hanya bisa dimasuki tuan besar dan nyonya besar."
Vivi memiringkan kepalanya lalu balik badan, menatap kepala pelayan.
Kepala pelayan tersenyum. "Tuan besar Reza dan nyonya besar itu ibunya tuan besar."
"Bagaimana dengan kakek?"
"Tuan tua tidak diijinkan masuk."
"Kenapa?"
"Tuan tua pernah melakukan kesalahan, menghilangkan dokumen penting disini jadi tidak diijinkan masuk kembali."
Jantung Vivi berdebar keras. "Pasti penting sekali, kalau begitu aku-"
"Tuan besar sudah memberikan kepercayaan, jangan disia-siakan, nona."
Vivi menatap takjub bagian dalam ruang kerja yang seperti perpustakaan kecil, di bagian tengah ada meja kerja sementara belakangnya jendela perancis yang ditutup gorden mewah.
"Keluarga Aditama keturunan eropa dan struktur rumah ini masih bergaya eropa untuk mengingat nenek moyang mereka. Tapi mereka cinta Indonesia."
Yah, Vivi bisa lihat itu. Dari perawakannya saja tidak seperti orang Indonesia asli.
"Nona, jika ada yang ingin dibutuhkan bisa panggil saya. Di telepon sudah ada catatan untuk memanggil, saya mau cek halaman belakang." Kepala pelayan meminta ijin ke Vivi.
Vivi menganggukan kepalanya. "Ya."
Setelah kepala pelayan pergi, Vivi tersenyum lalu mencari buku yang ia butuhkan. Terima kasih paman.
___
Putra melirik Reza yang duduk di belakang, lewat kaca mobil. "Tuan, kenapa anda memberikan kunci itu ke nona Vivi?"
"Apakah harus ada alasan khusus?"
Choky yang duduk di samping sopir tertawa. "Nona Vivi cerdas, pasti tuan mau mengajarinya."
Insting Putra merasa bukan alasan itu.
"Mhm."
"Bagaimana kalau tuan tua, nyonya, tuan muda dan nona kecil mengetahuinya? Mereka pasti akan marah besar."
Reza menaikkan sudut mulutnya. "Memangnya mereka masih punya hak?"
"Setidaknya mereka ayah kandung, istri dan anak-anak kandung anda."
Reza tidak mengatakan apapun, ia menatap dingin Choky dan Putra.
Choky dan Putra yang merasakan hawa dingin menggigil di belakang punggung, tidak berani menoleh ke belakang atau mengatakan apapun lagi.
Choky memeloti Putra dengan sengit sementara Putra hanya nyengir.
___
Vivi serius membaca tanpa menghitung waktu sehingga kepala pelayan terpaksa mengetuk pintu dan mengingatkan jadwal kuliah.
Vivi mengucapkan terima kasih dan bergegas pamit ke nenek lalu berangkat kuliah.
Sesampainya di kampus, ia melihat Nina turun dari mobil lalu melambaikan tangannya ke mobil yang sudah jalan.
Vivi menghampiri Nina dan menepuk pundaknya. "Nin!"
Nina yang terkejut, balik badan lalu memutar matanya. "Astaga, Vi."
"Kamu habis diantar suami?" tanya Vivi.
Nina menganggukan kepalanya. "He-eh."
"Jangan bawa turun suamimu ke kampus, bisa heboh nanti."
"Heboh kenapa?"
"Suami kamukan ganteng," kikik Vivi.
Nina ikut tertawa.
"Vivi!"
Vivi dan Nina menghentikan langkahnya, mereka melihat Erika lari menghampiri mereka berdua.
Nina tidak suka melihat Erika, ia pamit masuk ruang kelas dulu.
Vivi hanya bisa menghela napas.
Erika yang sudah berdiri di depan Vivi menatap punggung Nina dengan sengit. "Anak itu benar-benar tidak sopan, apa dia tidak mengenal keluarga Aditama?"
Jangan samakan Nina dengan teman-teman penjilatmu. Batin Vivi di dalam hati.
Erika lalu menatap Vivi. "Kamu tidak diberitahu nenek sesuatu?"
"Sesuatu?"
"Tadi kamu ke rumah nenekkan?"
"Iya."
"Nenek tidak cerita sesuatu ke kamu?"
Vivi menjawab dengan gelengan kepala. Ia terlalu sibuk belajar, saat pamitpun, nenek hanya berbaring di tempat tidur dan menganggukan kepalanya dengan lemah.
"Tidak."
"Beneran?"
"Iya."
"Kamu gak bohongkan?"
Vivi menghela napas. "Aku inikan belum resmi jadi anggota keluarga Aditama, jadi tidak mungkin nenek cerita soal keluarga ke aku. Apalagi bibi bilang kalau aku perawat pengganti bibikan?"
Erika mendecak keras lalu pergi meninggalkan Vivi. "Gak berguna!"
Vivi mengangkat kedua bahunya dengan cuek. Dulu ia akan memikirkan sikap Erika yang kasar, sekarang sejak Aditama berpikir menjadikannya istri kedua. Ia tidak mau repot-repot berpikir banyak. Toh istri pertama yang akan mengatur keluarga bukan? Almira 'kan calon menantu kesayangan.
Nina yang meliihat Vivi sudah masuk ke dalam ruangan segera melambaikan tangan dan menyingkirkan tas di bangku kosong sebelahnya.
Vivi segera duduk di samping Nina.
"Kenapa anak itu mencarimu?"
"Tanya soal nenek ada cerita sesuatu gak."
"Kamu jawab?"
"Ya, aku enggak tahulah."
"Mungkin soal pesta ulang tahunya yang dibatalkan. Pantas saja dia mau repot menunggu kelas malam."
"Kamu tahu darimana?"
"Kamu lupa kalau pestanya diadakan di hall hotel suamiku?"
"Ah-" Vivi mengangguk. Ia ingat kalau hall hotel milik suami Nina sangat mewah dan berkelas.
"Tadi pagi aku dengar dari suamiku kalau hotel yang diserahkan ke kamu sudah lolos dari krisis. Selamat ya."
Vivi menggeleng miris. "Itu baru awal."
"Maksudnya?"
"Kepala keluarga ingin hotel itu mengembalikan suntikan modal sebelumnya."
"Hah? gila aja! kamu setuju?"
Vivi nyengir.
"Astaga Vi, itu bisa sampai trilyunan lho. Dua puluh hotel yang kamu tangani itu sempat hampir kolaps. Apalagi standar tinggi yang diterapkan kepala keluarga, entah gimana caranya mereka masih berdiri. Rupanya ada suntikan toh."
"Doain aja berhasil."
"Pasti. Tapi kamu wajib hati-hati, Erika itu gak berotak. Dia bisa saja minta uang hotel ke kamu."
"Kalau soal itu sudah dibantu pihak pusat jadi aku bisa sedikit tenang."
"Aku heran, dia pernah kuliah di luar negri tapi otaknya kayak gitu."
"Sebenarnya dia itu cerdas, hanya salah pergaulan."
Nina mencolek tangan Vivi. "Ciee, yang belain calon adik ipar."
Vivi tersenyum. "Aku serius, anak itu aslinya memang cerdas hanya saja tidak ada yang mau mengarahkannya dengan benar."
"Jadi si calon kakak ipar ini yang akan mengarahkannya?"
Vivi hendak mengatakan sesuatu tapi ditahannya. Ia penasaran, apakah Nina dan suaminya tahu soal lamaran Krisna?
"Saranku, jangan terlalu lama di rumah itu. Yang ada kamunya sakit."
"Mereka sudah merawatku dari kecil."
Nina mengangguk dan tersenyum. "Ya."
"Setidaknya aku harus membalas jasa mereka."
"Aku mengerti."
Benar, Vivi tidak bisa lepas dari keluarga ini untuk sementara waktu. Perlakuan apapun yang mereka perbuat, masih bisa ditahan Vivi untuk bakti.
Pernikahan sejak kecil yang dibuat para tetua juga masih dipertahankannya, Krisna dan Vivi juga sudah membuat sumpah suci di depan makam orang tua Vivi.
Vivi tidak mungkin melanggarnya, tapi bagaimana dengan Krisna?
Vivi menggenggam erat pulpen di tangannya. Kamu tidak akan melanggar janjikan, Krisna?
___
"Bu, Vivi tidak tahu. Nenek tidak cerita apa-apa." Keluh Erika sambil lari kecil masuk ke dalam rumah.
Ibu Krisna yang sedaritadi minum teh bersama Almira, mengerutkan keningnya. "Kamu yakin?"
Erika duduk di samping ibunya. "Bener, bu. Buat apa aku capek-capek nunggu di kampus tadi?"
"Ada apa?" tanya Almira yang masih bingung dengan percakapan mereka.
"Ayah membatalkan pesta ulang tahunku." Keluh Erika dengan mata berlinang.
"Padahal ini ulang tahun ke 17 putrinya."
"Kenapa om melakukan itu?"
"Entahlah," jawab ibu Krisna sambil membelai rambut putri kesayangannya.
"Jangan-jangan Vivi yang meminta itu?"
"Vivi?" tanya Ibu Krisna dan Erika bersamaan.
"Diakan kerja sama om, mungkin saja dia mengadukan sesuatu ke om." Almira menyesap tehnya dengan tenang.
"Gak mungkin, ayah itu gak mungkin bicara sama orang yang bukan levelnya." Erika membantah ucapan Almira.
Ibu Krisna menyetujui perkataan Erika. "Suamiku itu hanya bertemu sesuai levelnya, di bawah itu ia tidak mau bertemu."
Termasuk ibu. Tambah Erika di dalam hati dengan kesal. Seandainya saja ibu bisa bersikap sesuai yang diinginkan ayah maka tidak akan ada kejadian seperti ini.
"Yah, siapa tahu om sidak ke hotel. Gak mungkinkan om lepas tangan begitu saja."
Ibu Krisna dan Erika saling menatap.