Ibu Krisna selalu memaksa anaknya masuk ke dunia politik, karena tempat itu memiliki banyak keuntungan. Pertimbangan lainnya, ibu Krisna berharap supaya Reza bisa melihat putra satu-satunya itu.
Meskipun semua orang tahu Krisna putra satu-satunya Reza, hanya suaminya yang tidak akan pernah mengakui, melihat batang hidung anaknya saja tidak mau apalagi anak keduanya.
Ibu Krisna memutar otaknya sehingga menemukan jalan, Krisna harus masuk dunia politik seperti dirinya, dengan begitu nama Krisna sebagai pewaris satu-satunya dikenal luas, apalagi berdiri berdampingan dengan Almira yang keluarganya terkenal di ibukota.
Dulu ibu Krisna merasa ada harapan ketika kepala pelayan rumah utama membawa pulang Vivi dan mengatakan kalau Reza ingin menjodohkannya dengan Krisna. Ibu mana yang tidak senang begitu putra kesayangan mendapat perhatian ayah kandungnya? tapi hal itu tidak berlangsung lama, setelah ia mengetahui kalau Vivi hanya seorang anak yatim piatu, kedua orang tuanya hanya meninggalkan sedikit warisan.
Karena tidak berani protes ke Reza, akhirnya ibu Krisna memperlakukan Vivi dengan kejam. Ia berusaha mencuci otaknya supaya menurut. Ibu Krisna juga membiarkan Krisna berbuat baik ke Vivi supaya semua perbuatan jahatnya tidak ketahuan.
Dan sekarang Vivi memberontak?
"Sebaiknya kita harus mengeluarkan anak itu, aku juga merasa tidak nyaman dengan kehadirannya," kata Almira.
Vivi memang sudah lama tinggal disini, tapi Almira akan segera menikah dan melahirkan anak Krisna. Anak itu tidak pantas berada disini, ia hanya akan menjadi pengganggu. Krisna menjadikannya istri kedua? benar. Tapi itu masih lama, menunggu Vivi lulus kuliah sesuai permintaan kepala keluarga.
"Seandainya putraku bisa memantapkan posisinya maka aku bisa mengusir anak yatim piatu itu," Ibu Krisna menggertakan giginya.
"Bu, apa ayah marah karena Almira akan menjadi istri pertama kakak? bukannya Vivi diharapkan ayah menjadi calon menantunya?"
Almira menatap sengit Erika.
"Tidak akan! Almira membuat keuntungan untuk keluarga Aditama jadi ayahmu tidak akan marah, beda dengan anak yatim piatu itu. Aku sakit melihat pengeluaran keluarga ini untuknya."
Erika meletakan kepalanya ke bahu ibu Krisna. "Itu berarti Vivi pasti mengadu ke ayahkan?"
"Aku coba bicara ke ayahmu. Anak itu benar-benar membawa kerugian buat kita."
Almira tersenyum mendengarnya.
___
Setelah menyelesaikan kelasnya, Vivi pergi ke hotel dengan diantar setengah paksa oleh Nina.
"Hanya ada sopirku. Yuk, aku antar."
"Tapi rumahmu jauh kalau harus ke hotel."
"Gak apa, kan kita naik mobil. Yang nyetir juga bukan aku."
Akhirnya Vivi mengalah.
Di ruang front office, Vivi memeriksa semua pendapatan dan pengeluaran hotel. Ia bahkan memeriksa occupancy hotel secara harian. Ia tidak ingin kelolosan sedikit pun.
"Non."
Vivi melirik secangkir s**u cokelat dan satu piring penuh sosis.
"Sisa makan malam tadi."
"Ada tamu grup yang datang?"
"Iya. Rame tadi."
Vivi tersenyum puas lalu menyesap s**u cokelatnya.
"Non."
"Mhm?"
"Kalau semua berjalan lancar, nona pergi dari sini?"
Vivi menatap Adit, front office sekaligus night audit. Sudah jam sepuluh malam, shift Adit dimulai jam sembilan malam.
"Dari awal ini bukan hotel aku, dan hanya pengganti disini."
"Tapi kinerja nona bagus lho, masa gak dipertimbangkan atasan."
Vivi tertawa kecil. "Ya, doakan saja aku masih bertemu kalian."
Adit melirik belakang punggung Vivi dengan takut-takut. "Sakit gak non?"
"Apanya?"
"Luka di punggung."
Vivi tersenyum. Setelah dari klinik, ia benar-benar melupakan lukanya. Mungkin bahagia karena perjanjiannya dengan Reza atau bertemu dengan NIna atau bisa belajar di ruang kerja dengan senjata lengkap?
"Masih sakit tapi kalau sibuk begini jadi tidak terasa."
"Non, keluar saja dari rumah itu."
Vivi menghentikan aktifitasnya. "Tapi karena mereka, saya jadi bisa bertemu dengan kalian."
"Ya iya sih non, tapi kami semua gak tega dengar cerita dari manajer atau supervisor. Sayang sekali kami tidak bisa membantu."
Vivi tersenyum. "Terima kasih."
Adit tidak mau mengganggu Vivi lagi, ia keluar dari ruang reservasi dan mengerjakan pekerjaannya di front office.
"Permisi."
"Ya?" Adit berdiri dan terpukau melihat tamu cantik di hadapannya.
"Apakah ada hair dryer? saya mau pinjam."
"Oh, ada."
"Kena charge?"
Dulu pasti kena charge tapi sekarang untuk meningkatkan pelayanan, tamu tidak akan dikenakan charge. lain halnya kalau tamu merusak atau menghilangkannya.
"Terima kasih," kata tamu itu setelah menerima hair dryer dari Adit.
Adit tersenyum dan menangkupkan kedua tangannya. Ah, oase di tengah malam.
"Dit."
Adit balik badan dan melihat Vivi sudah berdiri di belakang sambil membawa beberapa nota.
"Aku udah lihat nota-nota ini, tapi aku tadi dengar ada split bill. kenapa aku tidak menerimanya? soalnya untuk split billkan pasti ditandai. Kenapa tidak ada tanda sama sekali? apa pihak restoran lupa?"
"Saya akan menghubungi mereka."
"Belum tutup?"
"Masih dibuka." Adit mulai menekan nomer restoran.
"Kalau masih buka, kenapa nota penjualan dan laporannya sudah diberikan?"
"Tuan muda dan teman-temannya ada disana."
"Apa?!" Vivi sontak berlari menuju restoran. Benar saja, Krisna dan teman-temannya sedang makan malam. Tidak hanya itu, ada beberapa botol minuman keras di atas meja.
Vivi memijat kepalanya. Darimana botol-botol itu berasal? hotel semacam ini tidak diijinkan menjual minuman keras.
"Ah, bagaimana dengan Almira?"
"Kenapa dengannya? kalian iri padaku karena berhasil mendapatkannya?"
Vivi mengangkat kepalanya saat mendengar Krisna berbicara.
"Dia cantik sangat cantik. Ah, aku benar-benar iri padamu. Beda sama anak angkat yang suka mengejarmu itu."
"Vivi?"
"Ya, coba lihat saja. Dia selalu menatapmu seperti dewa. Beda dengan Almira yang kesannya dingin dan sulit ditangkap itu, aku berani bertaruh anak angkat di rumahmu itu murahan."
Krisna menjadi tertarik dengan pendapat temannya tentang Vivi. "Benarkah?"
"Yah, adikmu selalu bilang kalau dia itu bodoh dan suka menundukan kepalanya bahkan katanya ketakutan kalau berhadapan orang-orang. Anak seperti itu tidak pantas masuk ke dalam keluarga Aditama."
Vivi tersenyum, mengabaikan tatapan kasihan waiter dan waitress ke dirinya.
"Namamu sudah mulai dikenal banyak orang, kalau punya adik angkat konyol seperti itu yang ada mencoreng nama baik keluarga. Lebih baik, buang dia jauh. Toh hanya anak angkat."
Krisna, apa kamu tidak akan membelaku?
Vivi mengharapkan pembelaan muncul dari mulut Krisna. Sayangnya, dari awal sampai akhir, Krisna tidak mengatakan apapun, ia hanya meminum minumannya.
"Aku dengar dari adikku kalau adik angkatmu itu jelek dan lusuh bahkan pakaiannya tidak up to date. Apakah keluargamu tidak merawatnya?"
"Tentu saja keluargaku merawatnya, anak itu hanya tidak memperhatikan dirinya sendiri." Krisna membela keluarganya.
"Ah, jadi begitu."
Vivi keluar dari restoran dengan hati sedih. Saat semua teman-temannya menjelekan dirinya, Krisna memilih diam. Tapi begitu temannya mempertanyakan keluarganya, ia tidak tinggal diam.
Vivi, kenapa kamu mencintainya?