Beberapa hari kemudian, tepatnya tanggal 15 Oktober 2029, banyak tentara yag memulai kehidupan mereka dengan udara yang sejuk, membuat mereka malas untuk bekerja. Tapi, itu tidak bisa dilakukan karena mereka perlu memperbanyak dan menaikkan kualitas mereka.
Semuanya berjalan lancar, sibuk seperti biasanya karena mereka perlu mengirimkan beberapa batalyon ke Medan perang. Pasukan milik Rein masih latihan yang keras.
Orang yang dihukum harus berdiri di lorong, mengangkat satu kaki dan kedua tangannya berada di belakang. Mereka tidak boleh mengenakan seragam militer ketika dihukum karena gaya mencoreng nama baik Tentara Angkatan Darat Reshan.
Ketika keadaan yang sunyi dan hening, mereka mendengarkan sebuah suara yang gaduh, mengganggu aktivitas mereka tapi ada yang mengabaikannya karena memiliki pekerjaan yang lebih banyak dan harus diselesaikan dalam waktu singkat.
Mereka yang mendengar suara itu langsung mengintip sumber.suara, tidak menunjukkan diri mereka sehingga sumber suara tidak melihat mereka. Mereka bersembunyi di balik tembok dan tidak tahu kronologi atas terjadinya suara gaduh itu.
Mereka tidak bisa menelusuri lebih lanjut lagi, memilih melihat pertengkaran dan membiarkan begitu saja daripada melerai pertengkaran itu. Seolah-olah, perselisihan itu harus diselesaikan oleh seorang atasan, di atas Mayor. Mungkin Kolonel atau Jenderal.
Di tempat latihan, dimana prajurit proletar harus latihan menembak pada hari Senin. Cukup sibuk karena mereka harus mendapatkannya target utama mereka, menghadapi pasukan yang kuat di tengah Medan pertempuran.
Terdapat seorang Mayor dan prajurit proletar, masih pemula sedang bertengkar, langsung menggunakannya senapan mereka untuk membuang peluru. Bisa jadi, mereka bertengkar dengan tangan kosong.
"Kenapa kau semakin lama kau tidak bisa diatur? Kau sangat payah karena kau adalah pecundang terburuk." Emosi Rein tidak terkontrol sama sekali, ditambah lagi membuat ejekan yang tiada habisnya.
Vania juga demikian. Sudah muak dengan Omelan seorang mayor yang terlalu berlebihan, udah gitu melatih mental dan fisik dengan kekerasan dan membawa sikap sadis ke dalam ranah militer.
"Berisik! Aku tidak ingin mendengar ocehan bodohmu itu!" Kesabaran Vania suda habis, langsung menarik pelatuk pistolnya dan mengarahkan target kepada Rein.
Mereka bergerak lebih lincah daripada sebelumnya. Tidak seperti latihan pada tempo hari. Mereka meluapkan emosi mereka di dalam duel itu. Demi sebuah harga diri, mereka akan bertarung seperti laki-laki sejati.
Suara yang semakin ribut, konsentrasi tentara lain menjadi terganggu. Tidak ada piliha lain selain kabur dari tempat latihan itu dan fokus untuk latihan yang lebih tenang.
Mereka tidak ingin mengganggu Rein.
Liana menonton pertarungan yang bergerak bebas dan luas. Tidak tahan dengan keributan yang terus berlarut. Ini akan merusak hubungan jika saja Rein meluapkan emosi terlalu banyak, sehingga merusak sebagian besar markas dengan kekuatannya sebagai Silver Rifle.
"Semuanya! Tolong hentikan! Aku tidak ingin membiarkan kalian terluka hanya karena pertengkaran ini." Liana mendatangi mereka, mendkati sekaligus bersujud agar tidak melanjutkan pertempuran itu.
Curahan hati Liana ditolak mentah-mentah oleh atasannya, Rein. Ocehan itu justru merupakan bumerang keras bagi Liana sendiri.
"Berisik, cyka blyat! Diam saja disitu!"
Liana tidak memiliki pilihan lain, membiarkan Rein dan Vania bertengkar. Tidak ada seorang pun yang mampu memisahkan mereka. Banyak prajurit yang tidak berani karena bisa memperburuk situasi.
Akvn mendatangi Liana, ikut menonton pertengkaran yang tidak bisa diselesaikan. Vania cukup berbakat dalam kemampuan militer, menembak dengan sebuah pistol dan bela diri, sama seperti Agen Rahasia. Tapi, itu belum cukup karena sudah masuk pada ranah militer, lebih kompleks dan kompetitif.
"Kenapa mereka terus bertengkar?" Liana menanyakan orang di sampingnya, sedikit murung karena tidak ada seorang pun yang mendengarkannya.
"Vania terpancing, memukul Rein yang memulai duluan. Aku tidak yakin bagaimana kronologi secara lengkap. Aku tidak bisa melerai mereka." Alvin menjawab, merespon keresahan yang dirasakan oleh Liana, gadis pirang dan berambut biru.
Mereka menghela nafas, membuang keluhan itu secara perlahan. Tidak peduli jika mereka cuek dengan gadis itu. Setidaknya, Liana punya teman untuk bicara, agar bisa dipercaya
"Aku tidak melihatmu pada latihan sebelumnya. Kamu pergi kemana?" Liana kbali bertanya, mematikan apakah Alvin cukup latihan atau tidak.
Alvin menghela nafas, cukup panjang dan tidak terlalu memberatkan sesuatu yang ringan. Beban Alvin akan diungkapkan pada gadis brdarah Reshan.
"Aku membantu Rein sekaligus latihan. Kadang, aku harus tidur lebih sedikit karena pekerjaan yang selalu menyrangku setiap hari." Alvin menjawab, memeriksa tubuhnya yang agak letih.
Liana kembali bertanya, langsung memberikan kepastian agar Alvin bisa memberikan pencerahan pada Liana untuk masa depannya. Tidak etis jika Liana akan dikeluarkan secara tida terhormat sementara Tank Rapista S-20 ditinggalkan begitu saja.
"Terus, bagaimana kamu dengan Rein? Aku selalu latihan setiap hari. Tapi, tidak ada perkembangan sama sekali." Liana mulai curhat, tidak ada salahnya Liana mengeluh, karena dikekang oleh Rein.
Alvin memang pandai jika urusan dialog empat mata. Buktinya, dia bisa mendapatkan kepercayaan dari Rein selama setahun lebih. Itu pun tidak mudah karena harus mencuri waktu dan tempat yang layak.
"Cukup panjang ceritanya. Tapi, kita bisa cerita perlahan agar kau bisa paham pada militer ini."
Liana dan Alvin mulai bercerita, langsung mengutarakan dan bertukar pendapat mereka, untuk mempererat hubungan menjadi lebih baik. Ini demi Liana sendiri.
[*^*]
Sementara itu, konflik Rein dan Vania belum usai sama sekali. Peluru yang terbuang sia-sia jatuh ke tanah dan melesat entah kemana, tersesat dalam ruang hampa.
Vania maju ke depan dan memberikan tembakan cepat ke arah seragam Rein. Namun, gerakan Rein lebih cepat, sehingga tidak terkena sekalipun. Rasanya agak percuma jika Vania terus menyerang Rein secara membabi buta tapi tidak bisa memberikan kerusakan pada tubuh Rein.
Rein bisa membalikkan keadaan, langsung menembak dan memukul kapan pun dia mau. Hanya saja, dia tidak bisa melepaskan senajata begitu saja. Ini bisa dimanfaatkan lawan dengan mengambil senjata itu dan mematahkannya.
Serangan Vania sangat merepotkan, membuat Rein. Tidak bisa mengontrol emosinya. Hanya karena gerakan p*****r bodoh itu, Rein bukan apa-apa, gaya membuang tenaga dan waktu dengan percuma saja.
"Sudah cukup! Aku akan melenyapkan l***e busuk ini dari sekarang!"
Sudah cukup! Rein tidak ingin tahan dengan Vania lagi. Satu-satunya cara yang digunakan untuk memuaskan amarah Rein adalah menggunakan senjata terakhirnya. Tidak ada pilihan Ian, Reom sudah terhasut oleh amarah.
Sekarang, Rein berada di depan Vania, bertatapan satu sama lain, meskipun cukup lelah, mereka tidak mau mengalah sama sekali. Ego mereka cukup besar untuk ditumbangkan.
Rapalan yang cepat dan tepat, terucap dengan jelas dengan bibir pemuda yang jarang digunakan, hanya untuk rapat penting dan lain sebagainya.
“Dengan amarah dan ketakutan mereka, aku akan mengendalikan mereka. Dengan peluru yang melesat, aku akan menghabisi kalian semua. Dengan doa ini, kalian akan musnah dengan izin Kitab Suci!”
“Rasakan amarah ini! AKAN KUHABISI KALIAN SEMUANYA!”
Lingkaran sihir itu langsung muncul dari depan senapan AK-47, mengunci target dengan mudah. Jika menghindar pun rasanya sulit, menyebabkan Vania berada dalam bahaya, bisa meninggal jika tidak hati-hati.
"Rasakan neraka ini, dasar iblis!”
"The Saints : Southampton Rage!"
Efek peluru emas dikeluarkan, ditujukan untuk menakutti Vania Delivia. Gadis Twintail warna merah tidak mau kalah, tidak takut efek peluru itu akan membunuhnya.
"Takkan kubiarkan kau untuk menang! RASAKAN INI!"
"Arsenal : Repeater!"
Vania menekan pelatuk pistol hitam itu, memberikan dorongan kuat pada peluru yang ingin keluar. Tadinya, satu peluru keluar. Namun, teknik itu membuat peluru harus digandakan jadi dua. Jadi, satunya digunakan untuk menahan serangan Rein dan satunya mengenai Rein meskipun tidak ada peluang sama sekali.
Pertengkaran yang berujung pertarungan hidup mati menentukan segalanya.
[*^*]
"Pak! Di sana ada keributan yang terjadi! Antara Seorang Mayor dan Prajurit!"
Seorang tentara yang memiliki pangkat yang lebih tinggi dari Rein dan umur lebih tua karena progresif yang cukup lama, dikalahkannya oleh Rein.
Dia langsung bangkit dan meninggalkan pekerjaan administrasi untuk sementara waktu karena seorang pelapor menghampirinya.
Wajah yang kusut dan menua. Tapi, tidak sampai menguras tenaganya. Dia langsung bangkit dari duduknya, harus menyelesaikan masalah yang cukup serius dengan penanganan yang benar.
"Antarkan aku pada lokasi perkelahian itu. Aku ingin memberikan hukuman yang keras pada mereka. " Kolonel itu menaikkan tensi darah, tidak puas karena mendapatkan laporan yang tidak bisa diterima.
Pelapor itu langsung membawa kolonel itu ke tempat latihan, dimana para prajurit dan di atasnya harus dilatih untuk menghadapi pertempuran yang cukup sulit.
[*^*]
Peluru yang sangat melessat, tidak bisa diprediksi peluang kemenangan Rein dan Vania. Mereka membuat harapan dan permohonan dari Dewi Fortuna meskipun mereka tidak terlalu dekat dengan agama mereka.
Mereka masih belum paham, tidak bisa mendengar dan melihat peluru yang mereka keluarkan. Hanya yang bisa mereka rasakan untuk menentukan kemenangan mereka.
Hasilnya, satu peluru pistol menjadi perisai bagi Vania dan tombak untuk Rein. Rein stidak sempat menghindar, berharap tembakan Vania meleset dan mengenai seseorang agar bisa menuduhnya sebagai pembunuh.
Beberapa detik kemudian, kedua peluru yang bentrok itu melenceng dan mengarah pada garis yang berbeda. Sementara itu, satu peluru pistol mengarah pada pipi Rein. Namun, pipi Rein miring 1 cm ke kiri. Jadi, peluru itu tidak mengenai pipi Rein sebelah kanan. Justru, melenceng ke target yang lainnya.
Setelah jeda 1 menit, mereka langsung maju dan melupakan senjta mereka. Percuma menggunakan senapan tapi tidak kena sama sekali. Ini akan menjadi konflik yang semakin memanas jika mereka mampu mengenai pukulan mereka di tubuh lawan..
Tak lama kemudian, ….
"Berhenti, prajurit bodoh!" Seorang kolonel memanggil Rein dan.Vania, membuat keributan yang merugikan semua pihak.
Mereka berhenti menyerang satu sama lain, langsung mengarahkan pandangan pada kolonel itu. Mereka agak malu pada diri mereka sendiri, ego yang terasa lenyap karena sebuah penyesalan.
Kolonel itu langsung mendatangi mereka dengan penuh amarah dan ingin menghukum mereka dengan berat karena membuat masalah dengan perkelahian yang terlarut panjang.
"Apa yang kalian lakukan?" Kolonel itu bertanya, ingin tahu apa yang dilakukan Rein untuk membuat keributan.
Rein langsung berhadapan seperti ksatria putih, penuh tanggung jawab dan wibawa. Soal kejadian itu adalah kesalahannya. Lain cerita jika Rein berhadapan dengan orang lain.
"Sebenarnya, aku …" Rein dipotong, agar tidak mengganggu orang lain.
"Cukup! Aku akan mendengarkan kalian tapi di ruanganku." Kolonel itu langsung pergi, membuat mereka harus mengikuti jejaknya.
Benar saja. Mereka mengikuti kolonel itu, tapi saling menyalahkan satu sama lain. Kolonel itu ingin mendengar kronologi sebelum menghukum mereka. Kalau perlu merasa harus ditelanjangi karena sudah mempermalukan nama instansi militer yang dibangun Reshan selama 100 tahun lamanya.
Sekarang, mereka meninggalkan tempat latihan dengan penuh penyesalan.