Perang Dunia : Latihan Fisik 2

1581 Kata
Latihan yang berjalan cukup lama dan progresif. Latihan fisik, menembak, bertahan hidup, dan beladiri menjadi lebih intensif. Sudah dilakukan setiap hari karena mereka tidak perlu khawatir lagi dengan inkonsistensi. Semuanya sudah diatur oleh Mayor Rein. Itu semua tidak cukup. Pelatihan mengendarai tank dan pesawat diperlukan juga. Mereka perlu mengembangkan pengetahuan agar mereka bisa menggunakan kecerdasan mereka ketika mereka berhadapan dengan berbagai masalah.. Para prajurit mencoba menyerang Reindengan pukulan dan tendangan. Namun, belum berhasil, hanya mengenai udara. Masih perlu banyak belajar agar mereka bisa mengenai badan Rein. Rein tidak terlalu banyak bergerak. Tapi, bisa menghindar degan sedikit tenaga. Rein menjatuhkan lawan dengan mudah. Lengan Rein meghantam keras ke arah kepala prajurit itu. Sontak, prajurit itu langsung terjatuh ke tanah. Orang yang menonton duel itu sedang menunggu sekaligus mencari cara agar bisa menyentuh tubuh Rein. Rein mendatangi prajurit yang terjatuh, memberikan saran pada mereka karena mereka tidak cukup latihan. Lawannya terdiam, hanya mendengar saran yang dingin dan kelas. "Latihan lagi! Lalu bertarung denganku." Mereka bangkit dan langsung latihan, merasa deja vu karena sering diobok-obok oleh Rein. Sudah 4 kali, mereka belum mendapatkan kemenangan sekalpun. Tidak ada seorangpun yang bisa meningkatkan tnaga mereka. Setelah 28 menit lamanya, Vania dan Liana mendatangi kerumunan itu, mengatakan permisi agar mereka bisa melihat apa yang terjadi. Rein kembali menjatuhkan lawan untuk melatih bawahannya. Mereka yang jatuh langsung mengundurkan diri lalu latihan lagi. Berikutnya, prajurit yang lain kembali berhadapan dengan Rein lalu memberikan serangan mereka kepada Rein. Namun, percuma saja. Rein menghindari dengan sedikit gerakan lalu menghantam tubuh mereka dengan pukulan yang keras. "Dasar pecundang! Kau sama sekali tidak pernah belajar dari pengalaman! Latihan lagi dan jangan pernah kembali ketika kau tidak bisa latihan lagi!" Bentakan itu dilontarkan secara blak-blakan, menyebabkan lawannya lari terbirit-b***t dan kembali latihan. Satu per satu, prajurit proletar datang lalu dijatuhkan. Sudah biasa terjadi. Paling cepat duel itu terjadi selama 6 detik. Paling !amanya 34 detik. Sekarang, semua prajurit menonton latihan dengan tatapan mereka, kosong dan penuh analisis. Konsentrasi mereka belum cukup untuk mendapatkan hiburan, paling hanya kemenangan Rein secara berturut-turut mengingat Rein menjabat sebagai Pangkat Mayor. Sekarang, Vania dan Liana maju ke depan, melangkah kakinya dengan tegas dan keren. Semua orang yang menatap mereka dengan bingung, seolah-olah mereka menonton seorang yang sombong dalam berduel. "Gimana? Apakah kau sudah siap untuk bertarung?" Vania menatap Rein, sekaligus mencari celah untuk membuat peluang kemenangan meskipun sedikit. Liana berjalan di sisi kiri Vania, situasi menjadi satu lawan satu. "Aku siap. Aku tidak akan kalah kali ini!" Vania membuat sebuah tekad, berharap tidak mendapatkan hukuman ketika kalah. Dua lawan satu. Atmosfer latihan semakin memanas. Orang yang ingin meninggalkan rombongan menunda kepergian mereka dan menonton dengan teratur, agar semua orang bisa melihatnya "Majulah! Aku ingin tahu apakah p*****r sepertimu bisa bertarung degan baik setelah sit up di ranjang." Ejekan Rein memancing, merusak ketenangan Vania. Sebelum maju, Vania melompat terlebih dahulu, lalu mengarahkan fokusnya kepada Rein, mata birunya tidak teralihkan pandangan. "Kau ini! Membuatku kesal saja!" Vania tidak terima, mengambil ancang-ancang lalu berlari seperti rusa. Gerakan Vania cukup cepat, langsung mejunke depan Rein sementara Liana memilih diam di tempat. Rein sudah mengetahui, bahkan Rein langsung mengayunkan tangannya dan berniat mendapatkan tubuh Vania untuk dipermainkan. Namun, Vania lebih gesit, melompat dengan lincah dan melayang di udara. Rein gagal meraih tubuh Vania, menyatu dengan udara. Kepala Rein bergerak menyadari Vania berada di atasnya. Instingnya mengurangi fokus di depan mata. Pandangan kabur ketika melihat Liana yang hanya diam saja di titik awalnya. Rein tidak sadar, penglihatannya yang tertuju pada Vania secara insting dimanfaatkan oleh Liana. Tiada angin, tiada hujan Liana langsung mengarahkan pisaunya ke arah tubuh Rein, tepatnya di perutnya. Mereka tidak bodoh. Menggunakan pengalih perhatian seharusnya menjadi tahap pertama untuk mwncaluri start. Tidak mungkin Rein akan terjatuh, minimal mendapatkan luka di perut. Insting Rein lebih baik daripada sebelumnya. Selain membiarkan Vania di atas udara, pisau yang melesat seperti panah langsung dihentikan oleh tangan kiri Rein, membiarkan menusuk daging tangan Rein karena menghalang targetnya yang mengarah ke perut. Serangan pengalihan gagal. Vania yang berada di udara langsung mendarat dengan selamat, kembali menyerang Rein dengan pukulan telaknya, dar belakang Rein. Banyak orang yang sudah menggunakan teknik ini. Tapi, tidak ada yang bisa dilakukan seperti Vania. Tipuan yang lebih cepat dan berbahaya. Namun, punggung Rein tidak bisa dijangkau oleh kepalan tangan Vania. Rein justru diam di tempat dan membiarkan Vania menyerang dengan penuh. Namun, tidak ada satu serangan pun yang bisa mengenai tubuh Rein, apalagi seragamnya. Sementara itu, Liana masih diam, menganalisis kemampuan Vania dalam menghadapi Rein. Banyak orang mencemooh Liana karena Liana tidak berniat apapun, beban tim. Rein tidak pindah dari tempat selama ini, masih membiarkan Vania menyerang Rein dari sisi kanan atas dan kiri bawah. Tidak ada perubahan sekalipun. Rein masih bersih dengan kekerasan. Tidak seperti orang lain. "Hanya ini kemampuanmu? Kau Itifak punya bakat sama sekali." Rein meremehkan, membersihkan seragamnya dengan tangan untuk mengusir debu yang menempel. Vania tidak peduli dengan ejekan yang meremehkan itu, sibuk menyerang Rein dan membombardir dengan pukulan keras meskipun tidak kena selama sekali, nol damage. "Berisik! Kau tidak boleh Rein berniat maju satu langkah, kakinya tidak tersentuh sama sekali, kakinya tidak terangkat sama sekali. Belum kena, Rein sangat bodoh "Benarkan? Aku pikir kau tidak bisa mengenaliku dengan bersusah payah." Rein tidak melihat Vania, masih melihat ke depan, Liana. Intensitas serangan Vania semakin besar, langsung memberikan serangan telak pada Rein. Namun, ini menjadi bumerang sendiri bagi Vania begitu kehilangan tenaga lebih banyak lagi. "Terima ini! Terima ini!" Vania masih memberkkan serangan. Kerusakan yang dia berikan pada Rein semakin meningkat setiap detiknya. Namun, percuma saja jika Rein bisa menghindar, menimbulkan nol kerusakan.. Banyak penonton mengarahkan pandangan mereka pada Liana, memberikan perintah pada Kalian untuk menyerang Rein. Sorakan mereka tidak dihiraukan oleh Liana sendiri. "Apa yang kau tunggu? Ayo serang dia!" "Jangan tunggu terlalu lama, dasar p*****r bodoh!" Respon yang diterima Liana tidak membendung Liana sama sekali, masih bernafas panjang dan penglihatannya hanya ditujukan pada satu titik. Itu adalah Rein sendiri. "Tunggu sebentar lagi! Aku akan menghajar orang ini dengan satu serangan." Liana merespon dengan suara kecil, mulai membangun fokus yang besar. Energi yang dikeluarkan Vania terbuang sia-sia. Serangan demi serangan masih gagal, tidak bisa memberikan perubahan yang nyata dengan duel yang berjalan itu. Rein langsung berbalik dan memukul Vania dengan keras, pukulan yang mengenai d**a Vania melemparkan Vania menjadi beberapa meter ke belakang. Vania kembali terjatuh, tidak bisa bangkit lagi karena tenaga yang terbuang percuma. Ini menyebabkan Rein maju ke depan dan mendekati Vania yang tergeletak di lantai. "Kau sangat payah. Tidak bisa mengenaiku dengan satu pukulan saja." Rein mendekati Vania, memberikan hujatan secara kinerja, tidak tergantung pada pribadi. "Benarkah? Kurasa kau melupakan sesuatu." Vania kembali menyeringai, memperbaiki wajahnya yang sedikit rusak. Sekarang, Liana langsung maju dengan langkah yang berat, langkah yang tidak terbayangkan sebelumnya. Tidak ada yang aneh, dimaklumi seperti orang pada umumnya. Semakin lama, semakin cepat. Langkah Liana sama seperti angka kuadrat yang terus berkembang. Yep, mereka semakin bersemangat karena Rein hanya menganggap lawan dengan remeh. Rein tidak melihat Liana yang sedang berlari layaknya orang latihan. Rein sudah menjatuhkan Vania danembuatnya menghabiskan tenaga lebih besar. Hasil yang mengejutkan, semua penonton tidak mengharapkan kejadian itu. Ekspetasi mereka seolah-olah dihancurkan secara ramai-ramai. Rein memberikan tangan gestur karate untuk menumbangkan gadis kecil itu, yang tumbuh dewasa. Vania tidak bisa bangkit, tidak memiliki peluang kemenangan yang nyata. Rein kembali mendekati Liana, sekaligus memberikan umpatan karena kebodohan yang dilakukan Liana karena minim kontribusi, membiarkan Vania menguras tenaga lebih besar untuk mengenai Rein. "Tidak berguna! Meskipun cepat, tetapi masih bisa dibaca. Latihan lagi!" Bisikan Rein sekaligus ludahan yang keluar mengenai pakaian Liana yang menyatu dengan tanah, tambah kotor. Pertandingan selesai, begitu juga dengan latihan. Ini sangat tidak berefek sama sekali. Semua prajurit masih belum kuat layaknya tentara Reshan yang bertempur dengan lawan yang lebih kuat, Rein. Vania dan Liana kehilangan semuanya, memilih untuk tidak bangkit karena mendapatkan hukuman yang tida diharapkan. Suara yang dikeluarkan Rein tidak bisa diprotes, sangat mutlak layaknya Raja Kerajaan Monako. "Vania Delivia. Liana Kerensky. Kalian dihukum berupa latihan keras dan intensif selama 2 hari ke depan, tidak boleh menggunakan seragam militer karena malas latihan dan membuat ide bodoh ini. Sekian." Rein meninggalkan rombongan, membubarkannya. Ia langsung pergi ke ruangan lain untuk mengurus sesuatu yang lebih penting. Sisanya, mereka kembali latihan sedikit lagi sebelum istirahat. Progresif mereka sudah berjalan meskipun masih sedikit, sudah tahu dasarnya secara kasar, tapi harus latihan sedikit lagi. Dalam game, mereka masih setengah pro. Masih jauh dengan orang yang cukup kuat. Jika berhadapan dengan Pasukan Delta yang berasal dari Ilberia, tamatlah sudah. Liana kembali bangkit, menahan rasa sakit yang terus menghantui di kepalanya. Setelah mendekati Vania, Liana kembali tumbang karena tenaganya terlalu lemah, ditambah lagi kepalanya tambah sakit setelah mendapatkan pukulan yang keras. Waktu terus berjalan, menyisakan mereka berdua yang terkapar. Vania masih sadar, hanya memandangi langit untuk menghiburnya, sebagai badut yang siap menghibur orang di sirkus. "Vania. Maafkan aku! Aku membuatmu dihukum karena aku.memang lemah, baru latihan." Liana meminta maaf, tulus tanpa akting sama sekali. Vania mendengar keluhan dan permohonan maaf. Tidak masalah jika gagal sekarang, tapi tidak boleh lain kali. Vania menggerakkan tangan dan mengelus kepala Kalian agar Liana semakin membaik secara mental. "Tidak apa-apa. Kamu sudah menjadi yang terbaik bagiku." Vania kembali melanjutkan, membiarkan gangguan itu dan menghadapi hukuman yang akan terjadi mendatang. "Maafkan aku karena kita harus membuka seragam kita karena tidak layak menjadi tentara." Vania tidak menangis sama sekali, justru menatap Liana dengan lega. "Setelah itu, kita pergi ke kamar kita untuk istirahat sejenak." Vania mengajak Liana namun masih mengisi tenaga dulu beberapa saat sebelum bangkit dan menggendong Liana. "Oke! Aku ikut!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN