Perang Dunia : Rein dan Liana

1629 Kata
Tanggal 8 November 2029. Situasi yang belum berubah. Liana belum sama sekali ada perkembangan karena kemampuannya masih stagnan, belum bisa diandalkan. Liana sudah menyelesaikan latihan yang berat. Memperkuat fisik dan psikis untuk persiapan perang bukan ha yang mudah. Apalagi, harus menjaga konsistensi latihan selama setahun. Enam bula saja tidak bisa. Semua prajurit tidak terkecuali Liana memutuskan untuk mencukupi latihan itu, memperkuat fisik dan skill menembak. Hampir malam dan berada di akhir bulan musim gugur. Sedikit lagi musim dingin akan menyerang mereka. Sekarang, Liana kembali ke kamarnya, bersama dengan Vania yang merupakan teman sekamar. Hubungan mereka semakin erat walaupun 2 bulan sudah berlalu. Mereja langsung mendapatkan teman yang lain begitu latihan bersama selesai. Namun,Liana dicegah untuk masuk ke kamarnya, lelah akan latihan yang tak kunjungi progresif. Ini menjadi masalah hntama baginya karena dia tidak punya kemampuan tubuh yang baik. Latihan saja tidak cukup, perlu usaha dan perjuangan yang keras. Liana menarik nafas panjang, tidak khawatir karena Rein sudah ada di depannya. Liana cemas karena Rein akan melihatnya mandi dan tidur. Ini akan semakin memalukan karena seorang mayor malah pergi ke asrama perempuannya tanpa izin. "Rein. Sedang apa kamu disini? Apakah kamu mengintip aku mandi?" Liana cemas, menjauh dari Rein. Rein diam dan menyuruh Liana untuk tidak bersuara. Dia akan memberikan sebuah rahasia pada Liana, tidak ingin diungkapkan kepada wanita lain. Atau dengan orang lain sekalipun. "Bukan itu, dasar bodoh! Aku ingin memberikan perintah padamu berupa tugas pemantauan. Kita akan menggunakan Rapista S-20 untuk memantau keamanan markas ini dan 2 km sekitarnya. "Musuh akan diprediksi akan menggunakan angkatan udara untuk mendaratkan tentara mereka. Kita harus memantau keberadaan mereka sebelum terlambat." Liana tidak percaya. Tidak ingin mendengar laporan yang meresahkan setiap saat. Meskipun benar, Rein perlu memberikan informasi secara akurat dan tepat. "Eh? Hanya kita? Bagaimana dengan yang lain?" Liana kembali bertanya, melirik 360 derajat sepanjang 100 meter. Tidak ada seorang pun yang terlihat. "Mereka sedang istirahat. Kita akan berpatroli dengan Tank yang kau gunakan. Apakah kau bisa menunjukkan kehebatan tank itu? Aku tidak ingin membiarkannya membusuk selama ini." Liana bersemangat, tidak terlalu mengetahui apa yang terjadi Ketika Rein menjelaskan sesuatu. Gadis berambut pirang itu harus berhati-hati dan memastikan agar Rein tidak melakukan sesuatu padanya. "Benarkah? Aku tidak berharap itu terjadi. Kepan kita bisa menggunakannya? Aku ingin sekali menaikinya." Liana tidak sabaran, berniat untuk bertemu dengan tank miliknya. "Oke. Ikut aku terlebih dahulu." Rein berbalik badan, membuat Liana harus mengikuti Rein agar bisa bertemu dengan tank milik Liana dan mengendarai secara auto pilot. Mereka berjalan meninggalkan asrama wanita, berjalan dengan langkah yang pelan, tidak membuat suara yang berlirik, sehingga mengganggu ketenangan seperti kejadian sebelumnya. [*^*] Ruangan gelap yang diliputi Dengan sejumlah kendaraan yang belum diaktifkan. Tank, pesawat, kendaraan pengangkut tentara, semuanya tersimpan di sana. Ada sebuah ruangan yang dipisahkan sebagai barang sitaan. Ini ditujukan untuk penggunaan tank disaat kondisi yang darurat. Meskipun disita dalam waktu yang lama, Tank itu masih diberlakukan dengan baik, performa tank belum menurun sama sekali, masih bisa digunakan dengan baik. Rein dan Liana sudah tiba di tempat pembuatan kendaraan tempur, yang terdiri dari humvee bersenjata akurat, tank medium, dan tank berat. Tidak ketinggalan dengan pesawat yang akan memberikan peluang kemenangan. Liana terkejut karena banyak tank keren yang tersedia di sana. Terkesan sedang dan menakjubkan karena jumlah tank yang keren dan menyeramkan. Namun, tidak ada Tank Rapista S-20 yang tersedia. Liana belum bisa menggunakannya karena masalah pangkat. Sekarang, Rein kembali berjalan, mengelilingi kumpulan tank yang belum dinyalakan. Liana mengikuti langkah Rein agar tidak tersesat, "Bagaimana? Apakah kau menyukainya?" Liana menunjukkan kesenangan karena pemandangan yang tidak biasa. Ada puluhan tank yang bersedia untuk bertempur, sisanya sedang dalam perbaikan. "Aku suka sekali. Ini adalah pengalaman terbaik yang pernah ada." Rein menyanggupinya, membiarkan Liana menilai semuanya. Ia tidak berhak untuk merusak pendapat gadis itu karena misi pemantauan cukup penting. "Tank milikmu tidak jauh dari sini, jangan sampai kau menyentuhnya. Itu akan rusak jika kau tidak mendengarkanku." Setelah berjalan cukup lama, mereka suah tiba di depan Tank Rapista S-20, tank yang cukup menyeramkan dan memiliki fitur yang tidak bisa diremehkan. Rodanya terdiri dari ban karet dan baja. Jadi, bisa melaju dengan cepat dan tahan lama. Mereka memandang tank itu cukup lama, "Aku sudah memeriksa semua tank itu. Dari semua pemantauan itu, tank ini tidak bisa digunakan pada sembarang orang. Aku dan Alvin sudah berdiskusi mengenai hasil tank ini dan kamu. Sekarang, kita menguji tank itu dengan pengendalianmu secara penuh. "Ayo! Kita masuk! Aku akan menilai apakah tank ini bisa digunakan untuk pemakaian hang cukup lama." Rein langsung bergerak, menaiki tank dengan mudah, diikuti oleh Liana. Setelah itu, Liana langsung membuka dengan sidik jarinya. Mereka berdua turun setelah Liana. Membuka pintu tank dan melakukan eksplorasi penggunaan. Sebenarnya, tank ini bisa digunakan oleh semua orang. Hanya saja, NaVi, selaku pembuatan kendaraan tank ini membuat kode khusus agar hanya satu orang yang bisa menggunakannya. Rein sudah menyuruh para teknisi untuk merusak akses dan merapikan keamanan tanpa kerusakan sekalipun. Ini bertujuan agar tidak ada jejak yang ditinggalkan. Bisa saja menjadi bumerang bagi mereka jika mereka merusak dan meninggalkan bekas kerusakan itu. Di dalam tank itu, fasilitas yang tersedia di dalam. Banyak yang bisa dilakukan ketika berada di tank itu, seolah-olah tank itu memberikan rumah yang nyaman untuk ditinggali meskipun kecil. Tidak ketinggalan, Rein memeriksa beberapa aspek sebelum menjalankan tank itu. Baik dari sisi persenjataan maupun performa tank itu. "Persediaan sudah lengkap. Kita bisa patroli di sini." Rein memastikan, memberikan pesan untuk menjalankan tank itu. Liana langsung bergerak dan duduk di ruangan kendali tank itu. Dia menyalakan tank lalu mengaktifkan layar TV yang berisi kondisi tank maupun data yang tersedia. "Sebentar yah! Aku sedang memberikan perintah suara untuk …." "Tidak perlu. Pakai kendali manual. Aku ingin tahu bagaimana caranya agar kau bisa mengendarai tank ini." Rein mencegah, memasuki ruang kendali secara mendadak. Liana menancap gas, memastikan dirinya tidak dibantu dan dimanjakan oleh tank itu. Rein juga ingin melihat apakah tank itu bisa digunakan untuk berbagai keperluan militer. Beberapa menit kemudian, Tank Rapista S-20 sudah keluar dari markas, mendapatkan izin dari atasan untuk keluar dari markas itu. Tank itu bergerak pelan, bisa cepat karena roda dan mesin yang berbeda dengan tank lainnya. Malah mirip dengan kendaraan militer yang cepat. Liana sudah bisa menyetir. Berkat ingatan kuatnya, dia bisa menyetir tanpa kendala sama sekali. Dia sudah mengetahui kontrol tank sejak Liana masih duduk di bangku SMA, melalui video game yang selalu menemaninya ketika weekend tiba. Tugas mereka malam ini adalah memantau musuh yang mendekat, memeriksa area yang gelap untuk mencari mudah yang mendekat. Jika tidak ada, bisa jadi mereka bergerak ke markas yang lain. Bisa menembak mereka dan menginjak mereka dengan roda tank yang terus berputar. Tidak ada yang tahu mereka bisa membunuh orang lain tanpa kesadaran sama sekali. Rein masih menatap layar, juga menelusuri kemampuan Liana secara bersamaan. Tidak ada yang salah. Tidak ada penumpang gelap karena "Aku pergi dulu. Aku akan memeriksa dari luar. Teruslah menyetir!" Suara Rein langsung menggema di telinga Liana, langsung meninggalkan ruang kendali tank dan keluar untuk menambah pengawasan. Liana kembali fokus dengan pengendara tank. Seharusnya, tidak ada masalah yang menimpa Liana ketika menyetir. Jika ada yang memasang ranjau, tank itu tidak bisa bergerak lagi. Setelah keluar, Rein langsung duduk di antara pembatas atap tank itu dan kembali menggunakan teropong modern da dilengkapi oleh inframerah agar bisa menemukan mudah yang bersembunyi. Mata Rein terus digunakan untuk mencari, tapi tidak ada jejak yang bisa ditinggalkan, seolah-olah tidak ada musuh yang datang kemari. Rein bukan orang bodoh yang memilih untuk meninggalkan begitu saja, dia masih memiliki peluang untuk menemukan mereka. "Tidak ada. Jika mereka tidak di sini, maka aku akan memberikan informasi yang lain bahwa mereka tidak di sektor ini. Mungkin saja, mereka pergi ke tempat yang lain." Rein menempatkan kedua jarinya di kepalanya, sedang berpikir apa yang dilakukan saat ini. Rein langsung berdiri dan membuat kode rahasia agar Liana menjalankan instruksi yang dilakukan pada kontrol tank itu. Sudah pasti Liana sudah mengetahui kode itu karena sudah dipelajari selama latihan di militer beberapa bulan yang lalu. "Baiklah! Sekarang, aku akan memberikan program yang terbaik dari tank ini!" Liana langsung memegang kontrol pedal tank dan langsung menekannya dengan perlahan. Lalu, mata Liana tertuju pada layar secara sepenuhnya, menginjakkan gas dengan cepat, mengaktifkan beberapa fitur untuk memudahkan pencarian. Entah apa kode yang disampaikan kepada Liana. Yang pasti, kode itu hanya Gerakan yang semakin masif, kelakuan tank semakin dikendalikan dengan baik. Tidak ketinggalan juga dengan pengawasan yang semakin melebar dan terekspos. Rein memantau keadaan layaknya seorang nahkoda di kapal kargo sementara Liana menjadi pengendara kapal yang handal. Setelah beberapa menit berjalan, tidak ada titik koordinat yang mencurigakan. Terkesan, seperti tidak diduduki oleh musuh. Meskipun sudah memberikan fitur pengawasan yang maksimal, tidak ada musuh yang terdeteksi. Langit malam yang semakin gelap. Cahaya lampu yang menerangi dengan bantuan inframerah. Aura yang tenang sudah memastikan bahwa tidak ada ancaman yang akan mendatangi mereka. Sunyi seperti kuburan.. Terpaksa, Rein harus masuk ke dalam dan bergerak cepat menuju ruang kendali tank. Liana terduduk rapi, tidak gelisah sama sekali. Sekarang, dia sudah menjalani patroli dengan baik, sama seperti prajurit pada umumnya. "Liana. Aku sudah memeriksa semuanya. Tapi, sepertinya tidak ada musuh yang mendarat ke sektor ini. Mungkin, aku harus menghubungi markas di sektor lain. Jadi, mereka harus lebih waspada ketika musuh datang. Sudah cukup dengan penyampaian dan laporan. Rein langsung membuka berkas khusus Liana dan memberikan pada Liana. Mata gadis itu terpana dengan tulisan yang menarik perhatiannya, diwakili oleh cahaya lampu LED yang menerangi bayang-bayang kedua prajurit itu. "Satu lagi, ini berkas untukmu. Besok, kamu akan bekerja di Agen Rahasia Reshan untuk menambah kualitas keamanan. Kau bisa bekerja kembali dengan tankmu itu." Liana terkejut, membisu bukan main. Beban yang dipikul oleh Liana sudah dibebaskan. Jadi, Liana bisa bekerja tanpa latihan fisik yang melelahkan itu, ditambah lagi Liana boleh menggunakan tank sebagai teman terindah. Sejak saat itu, hubungan mereka menjadi erat karena patroli tadi malam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN