Chapter 5: Hello, Again!

3467 Kata
Langit begitu biru tanpa awan yang menghiasinya, begitu cerah seolah matahari tengah berbahagia hari ini. ya, paling tidak aku bisa puas untuk berlari dengan Ghost. Kami terus berlari, menyusuri jalan setapak di tengah hutan. Aku bisa merasakan angin yang menerpa wajahku, terkadang dedaunan. Rasanya menyenangkan. Langkah kami tiba di tengah savana yang sangat luas, savana yang ditumbuhi berbagai bunga beraneka ragam warnanya, dan aromanya yang bercampur begitu menyegarkan. Dengan hati-hati aku berjalan ditengah-tengah bunga-bunga itu, aku tidak ingin melewatkan satu pun aromanya yang harum ini, mungkin nantinya aku akan sering kemari. Aku terus berjalan, hingga sesuatu menahanku. Sepasang mata keemasan, menyorot langsung padaku,   dia melangkah maju, seekor serigala putih yang cukup besar, serigala yang sangat cantik, dan unik. Aku tidak akan melupakannya seumur hidupku, simbol bulan sabit di tengah dahinya itu akan selalu mengingatkanku betapa cantiknya dia. Tapi... Meski lirih, aku mendengar ia merintih. Aku mencium aroma anyir, asin dan seng yang bercampur, mengalahkan wewangian dari bunga-bunga ini. Barulah kusadari, darah mengalir melalui kaki kanan depannya. Serigala itu terluka Bruukkkh Ia ambruk begitu saja, matanya perlahan menutup, dan ia merintih dengan lirih penuh kesakitan. "Hey...hey, bangunlah!!" Aku menggoyangkan tubuhnya dengan moncongku, sepertinya tidak berpengaruh. Ia tetap tak sadarkan diri. Aku mulai panik, aku mencoba me-mindlink teman-temanku, mencoba mencark bantuan. "Sam.. aku.." tenggorokanku tercekat, aku merasakan sesuatu menyentuh kakiku. Dan Sebuah tangan mencoba meraih kakiku. Tangan yang berlumuran darah. Serigala putih itu, sudah kembali ke bentuk manusianya. Ia mendongak menatap kedalam mataku. Deg! Jantungku seolah berhenti berdetak, aku terperangkap oleh matanya. Aku yakin tidak mengenalnya, namun hatiku seolah mengatakan hal yang lain, aku seperti merasakan kami terikat satu sama lain. "Pembunuh!!" Tiba-tiba saja ia berteriak dan membuatku tersentak. ••••• "Pembunuh!!" Cahaya yang masuk melalui mataku begitu menyilaukan hingga membuatku harus mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan diri. Aku memutar bola mataku, memerhatikan sekeliling. Aku berada di sebuah kamar, aku menoleh ke samping kiri hanya ada ruang kosong, lalu aku menoleh kesamping kiri, kulihat cahaya menembus jendela besar di sisi ranjangku. Rupanya itu yang membuat mataku silau. "Eeerrgghhh." Aku mengerang kesakitan ketika mencoba untuk duduk. Rasanya tubuhku kaku semua, berapa hari aku tak sadarkan diri?? "Oh Astaga!" Pekik seseorang. Aku menoleh, dan melihat seorang wanita membawa baki terlihat sangat terkejut saat melihatku, seolah melihat mayat yang bangkit dari kematian. Dia bahkan langsung berbalik dan berlari terbirit-b***t. Apakah aku semengerikan itu? Aku menyibakkan selimut, kulihat kakiku masih utuh, aku bergerak untuk duduk di pinggir ranjang. "Argh!" Lagi-lagi kurasakan sakit yang luar biasa tepat di tempat jantungku berada sehingga aku reflek meremas dadaku. Ingatanku terputar kembali pada kejadian hari itu. Jade, gadis kecil itu menusukku dengan tombaknya. Ahhh, gadis itu, aku ingat dia juga terluka karena kaki dan cakar Ghost. Apakah dia baik-baik saja?? "Aeghar." Seru suara yang kurasa tidak hanya satu orang. Aku menolah dan mencoba mendongak, mereka Clarrise dan Samuel. Oh, Astaga ketenanganku hilang dalam sekejap saja. "Kau sudah sadar." Ujar Clarrise sembari mendekat, ia langsung memelukku begitu tepat berada di depanku. "Aw." Rintihku, ia memundurkan tubuhnya dan menatapku dengan mata yang berkaca-kaca. "Akhirnya kau bangun juga, big man." Aku juga melihat mata Samuel berkaca-kaca. Tidak biasanya, dia bereaksi seperti itu. "Berapa hari aku tidak sadarkan diri?" Tanyaku akhirnya. Kedua orang itu saling berpandangan penuh makna, yang tak aku tahu maksudnya. Namun, sepertinya itu bukan hal yang baik. "Sial Aeg, kau Tidak sadarkan diri selama 4 Tahun!" Jawab Samuel, aku ingin tertawa, namun setelah melihat keseriusan di matanya dan kesenduan dari Clarisse sepertinya dia tidak berbohong padaku. "Bagaimana keadaan gadis itu?" Hanya itu yang terlintas dibenakku saat ini. "Dia mencoba membunuhmu dan kau menanyakan kabarnya??? Apa kau sudah gila?!!" Clarisse berteriak padaku, tapi tidak ada yang kufikirkan selain gadia itu saat ini. Mencari jawaban pada Clarisse memang tak berguna, akhirnya aku menatap Samuel. "Kau baru sadar, nanti saat keadaanmu lebih baik, kau bisa menanyakan apapun tentangnya, aku akan memanggilkan dokter untuk memeriksa keadaanmu." Aku semakin yakin, mereka berusaha menutupi sesuatu dariku. "Kalau begitu, aku akan bertanya satu hal dan jawablah, Dimana dia?" Tanyaku pada Samuel menggunakan Alpha Tone. "Dia ada di Istana, saat keadaanmu membaik kau bisa menemuinya." Semakin banyak pertanyaan yang ada dibenakku, gadis itu tidak mungkin tinggal di istana ini, dia tidak akan tahan berdekatan denganku. Tapi mengapa? Apa karena ikatan kami? Karena aku mengumumkan bahwa dia adalah Mateku? Apakah para Dewan menahannya? "Baiklah." gumamku. Beberapa saat kemudian, Dokter datang dan memeriksa keadaanku. Ia melihat luka di dadaku yang tidak sembuh, luka yang membuatku terus mengingatnya. "Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa aku bisa tak sadarkan diri begitu lama?"Tanyaku pada dokter itu. "Tombak yang menusuk jantungmu itu berasal dari Perak Bulan." Perak Bulan, aku pernah mendengarnya. Saat masih kecil Paman Ben mengajariku beberapa hal tentang kelemahan Werewolf, ada tanaman bernama Wolfsbane, tanaman itu bisa melemahkan kami, membuat kesadaran kami lumpuh tapi tidak bisa membunuh kami para werewolf. Lalu, ada Perak, dahulu kala saat manusia biasa dan werewolf belum bisa berdamai, para pemburu werewolf menggunakan perak untuk membunuh kami. Lalu, Perak Bulan, ini adalah sesuatu yang sangat langka. Logam ini berasal dari meteor yang jatuh dari langit, Logam itu kabarnya sangat mematikan, dan kabarnya sudah tidak ada lagi. Entah darimana gadis itu mendapatkannya. "Begitu rupanya." Aku terdiam sejenak, bagaimana bisa seorang gadis memiliki senjata yang mematikan seperti itu? "Alpha, Anda harus beristirahat lebih banyak untuk pemulihan, beberapa obat harus di minum untuk meredakan efek luka dalamny.a" Kata si Dokter itu, ia mengemasi barangnya dan hendak pergi. "Terimakasih." setelah dokter itu pergi, sekarang hanya tinggal Clarisse dan Samuel yang berada dikamarku. Mereka membuatku seperti aku ini pesakitan, mereka melarangku untuk bergerak satu inchi pun. Luka ini tidak akan membunuhku, tapi rasa bosan menggelayutiku hingga aku ingin mengakhiri saja hidupku. Aku merasa seperti orang yang tidak berguna, lalu apa bedanya jika aku bangun atau tidak. "Kau jarang bicara." Suara Samuel mengusikku, oh, kapan dia akan meninggalkan kamarku? "Bicara pun tak akan mengubah apapun, kalian tetap akan memperlakukanku seperti ini." "Kau marah?" Sahut Clarisse yang muncul dengan baki penuh makanan. "Semua ini demi kebaikanmu, Aeg. Kau harus segera pulih." "Oh Ayolah, aku ini bukan anak kecil, aku seorang Alpha" "Informasi yang berguna." Timpal Samuel sembari meringis menunjukkan deretan gigi rapinya. "Banyak hal yang harus ku urus." gumamku. "Dewan Kingdom mengurusnya dengan baik, jika ini terkait dengan itu, tidak ada pemberontakan, Rogue yang tersisa sudah dipukul mundur," jelas Samuel. "Jangan keras kepala, dan menurutlah, setidaknya untuk hari ini." "Baiklah, mom," balasku kesal. Aku akan menahan diri, untuk saat ini saja. Lagipula aku butuh mengumpulkan tenaga untuk menemui Jade, karena akan menghabiskan banyak tenaga jika aku bertemu dengannya. Oh Jade, bagaimana rupanya sekarang. Dia pasti sudah tumbuh dewasa dan lebih siap untuk kutaklukan. Aku tersenyum tipis, membayangkan reaksi gadis itu saat melihatku nanti. ••••• Jade's POV Aku mematikan shower, dan menatap tetesan demi tetesan air yang terjatuh. Akhirnya aku bisa membersihkan diriku dengan layak. Aku menyeka tubuhku meski rasanya agak menyakitkan karena luka cambuk di tubuhku, lalu aku mengambil handuk dan melilitkannya ke badanku. Setelah keluar dari kamar mandi, aku membuka kotak pakaian yang disediakan oleh Samuel. Dia bisa jadi baik padaku, aku pun tidak menyangka bahwa ia melepaskan rantai di tanganku, tapi menggantinya dengan rantai panjang di kakiku yang di hubungkan dengan dinding. Tidak ada pakaian yang bisa membuatku nyaman. Hanya ada gaun-gaun, yang belum pernah ku pakai sebelumnya. Bagaimana pun juga aku tetap memakainya, setelah memilih satu gaun sederhana berwarna putih. Aku memasukkanya lewat kepalaku, cukup kebesaran, mungkin ini gaun bekas milik seseorang atau entahlah. Aku duduk di ranjang, menatap kearah jendela. Hari mulai gelap, tapi aku masih melihat semburat senja di awan. Setidaknya hariku damai setelah di pindah ke kamar ini. Tidak ada guyuran air di pagi hari, aku juga tidak lagi menerima cambukan dari Clarisse. Tok tok tok Suara pintu kamarku di ketuk, aku tak ingin repot-repot melihat siapa yang berkunjung ke kamarku. Terdengar suara pintu terbuka, dan langkah kaki yang mendekat masuk. "Aku membawa makanan untukmu." suara seorang wanita berhasil menarik perhatianku, aku menoleh dan melihat seorang wanita hampir paruh baya, dengan pakaian pelayan. Dia seorang omega, tapi terlihat tidak asing bagiku. "Nyonya Stenson!" Aku mengenalinya, dia dulu anggota Pack kami, sebelum suaminya meninggal dan ayahku membawanya untuk bekerja di Kingdom. "Iya ini saya, nona." dia mendekat lalu duduk di sampingku. Matanya berkaca-kaca melihatku. "Bagaimana bisa?" Tanyaku "Beta itu, Samuel memintaku untuk melayanimu di sini." Tangannya terulur mengusap rambut lusuhku. "Nona, apa yang terjadi denganmu selama ini aku turut menyesal, aku tak bisa membantumu sama sekali." Aku menggeleng perlahan, "Aku baik-baik saja, aku..." Aku berbohong, aku tidak baik-baik saja. Aku merindukan Liam dan semua sahabat-sahabatku. Airmataku pun jatuh, lalu bertambah deras bagaikan air terjun aku menangis sejadinya, meluapkan semua emosiku. "Semua akan baik-baik saja,, sshhhh" Nyonya Stenson mengusap punggungku, terasa nyeri karena bekas cambukan itu sepertinya belum sembuh sempurna. "Oh astaga!" Pekik Nyonya Stenson "Anda terluka." Itu adalah pernyataan yang tak bisa kusanggah. "Biar kulihat." katanya lagi, aku menatapnya, menggeleng berusaha mengatakan aku baik-baik saja. "Kau tidak baik-baik saja nona, menurutlah padaku, biar kulihat." Aku memutar tubuhku, lalu menurunkan gaunku hingga ke pinggang. Pasti sangat mengerikan sekali. "Demi dewi, ini sangat serius, aku akan mengam-" seseorang memotong ucapan Nyonya Stenson. "Siapa yang melakukan itu semua padamu?" Suara Bariton yang begitu dalam ini membuatku bagaikan disambar petir di siang hari yang cerah. Tubuhku membeku, dan aku tak bisa untuk sekedar menoleh, meski hanya untuk memastikan. Setelah mengumpulkan keberanianku, aku memaksakan diriku, menoleh untuk melihat dan memastikan bahwa pendengaranku salah. Tapi, reaksi tubuhku tak bisa berbohong, mataku melebar, dan aku benar-benar membeku. Dia tepat berada di hadapanku, melangkah selangkah demi selangkah mendekati tempatku, wajahnya masih terlihat pucat, keningnya berkerut seolah ia sedang menahan sakit. Greb Tangannya merengkuh kedua lenganku. "Siapa yang menyiksamu seperti itu?!" Suaranya menarikku kembali pada kenyataan. Aku menampik tangannya, lalu menaikkan kembali pakaianku "Syukurlah kau tidak mati, jadi aku bisa melanjutkan pembalasan dendamku." Kalimat itu meluncur begitu saja, aku memalingkan wajahku untuk menatap ke jendela.  "Ambilkan obat!" perintahnya pada nyonya Stenson. Sama halnya seperti aku, Nyonya Stenson juga nampak terkejut dengan apa yang di lihatnya. "Ambilkan Obat!!!" Ia menggunakan Alpha Tonenya, sehingga Nyonya Stenson tanpa mengatakan apapun segera pergi. "Kalau kau tak bicara padaku, maka aku akan mencari orang itu dan mencabik-cabiknya." Ancamnya, membuatku merinding, aku bisa merasakan kemarahan di setiap katanya. "Apa pedulimu, urusi saja dirimu agar tidak mati!" balasku ketus. Sebagai manusia biasa tanpa Nymeria sebagai mate-nya, aku hampir tak bisa merasakan bahwa dia adalah mate ku. "Aku peduli, kau adalah mate ku, calon Luna Kingdom ini, yang menyakitimu berarti seorang penghianat." jelasnya "Hah, Omong kosong!" Tiba-tiba saja ia memutar tubuhku, membuatku berhadapan dengannya. Namun, aku tak sudi untuk melihat wajahnya, itu hanya mengingatkanku pada malam kematian ayahku. "Jangan menantangku, Jade!" "Aku sudah melakukannya, dan kau kalah!" Aku mengingatkannya kembali saat ia kalah tertusuk oleh Moonspearku. "Alpha, ini obatnya" Nyonya Stenson tiba dengan kotak obat ditangannya, sekilas aku melihat keraguan dimatanya. Penyebabnya adalah rantai yang terikat dikakiku. Percuma saja memberikan obat pada lukaku, tidak akan berguna karena rantai perak ini. "Jangan buang tenagamu, obat itu tidak ada gunanya untukku" Aku sedikit menggeser bokongku kedepan menjauhinya. Aeghar terdiam, aku tak tahu apa yang difikirkannya saat ini. Mungkin sedang mengamati rantai dikakiku. "Aku akan menghancurkan omong kosong ini." Terasa ia bangkit dari ranjangku, seketika aku menoleh dan ia sudah bersiap untuk menghancurkan rantai itu. "Hentikan." Ucapku sambil menatapnya "Hanya dengan kunci kau bisa membuka rantai ini, ini rantai perak, jadi menyerahlah!" "Tunggu." Suaranya tertahan oleh geraman didadanya, entah kenapa dia semarah ini. Pria itu menutup matanya untuk sejenak. Aku baru menyadarinya, ia terlihat pucat, lebih kurus dan lemah. "Arhh." Ia menghela nafas dengan kasar, kemudian memegang dadanya kesakitan lalu kembali terduduk diranjangku. "Berbaliklah seperti tadi, jangan menatapku seperti itu." katanya, ia bahkan tak menatapku. Aku menurutinya begitu saja, lalu berbalik sembari menutup kembali punggungku yang terkespose. Nyonya Stenson, meletakkan obat di meja sisi ranjangku, ia menatapku penuh iba. "Kau pergilah dari sini!" Perintah Aeghar pada Nyonya Stenson. Nyonya Stenson menatapku, dan aku mengangguk mengisyaratkan agar dia mengikuti ucapan Aeghar. "Aegy! Kau disini" Seru sebuah suara, aku menoleh ke pintu masuk. Disana, Samuel berpapasan dengan Nyonya Stenson yang berjalan keluar. Pria itu, masuk begitu saja, wajahnya tampak cemas melihat Alphanya di kamarku sedang kesakitan. "Sudah kukatakan jangan kemana-mana, untuk apa kau kemari?!" "Ahh, syukurlah, cepat bawa pria ini pergi dari sini, atau dia akan mati disini." ujarku, perlahan Aeghar menolehkan kepalanya, matanya menatapku dengan tajam. "Lepaskan dia!" perintahnya. "Hah??" Samuel tampak terkejut, begitu juga denganku. Melepaskanku akan sangat beresiko, apa dia tidak berfikir mungkin saja aku akan menyerangnya setelah bebas. "Perlukah aku memberikan perintah dua kali?" Geram Aeghar. Samuel menatapku, lalu ia bergantian menatap Aeghar seolah tak percaya. Ia mendesah pasrah, lalu mendekat padaku, berlutut di hadapanku hendak membuka kunci rantai, jantungku berdegup kencang, ini seperti mimpi, aku bebas, Nymeria akan bangun. "Berikan padaku." Aeghar merusak anganku, ia mengulurkan tangannya pada Samuel, meminta kunci rantainya. "Apa?" Entah kenapa aku merasa dihadapan Aeghar, Samuel tampak bodoh. "Kau fikir aku akan membiarkanmu menyentuhnya?" "Baiklah, terserah padamu Tuan posesif." balas Samuel sembari mengangkat kedua bahunya lalu memberikan kuncinya dan berdiri menjauh dariku. Kini giliran Aeghar yang berlutut dihadapanku, ia berhenti sejenak untuk mengamati rantai di kakiku. Ia pasti ragu, karena melepaskanku akan menjadi kehancuran baginya. Mataku melebar saat Aeghar menarik kakiku, ia menggenggamnya dengan kuat tak membiarkanku untuk melawan, tapi aku juga tidak akan melawan sampai rantai itu benar-benar lepas dari kakiku. Kulihat dengan hati-hati rantai itu lepas, aku masih tak percaya bahwa rantai itu akhirnya terlepas. Terdengar suara lenguhan di dalam diriku, aku tau Nymeria sedang bangun. "Nymeria?" Aku mencoba me mindlink Nymeria. "Jade, Jadee!!!!!" sepertinya Nymeria sudah bangun, ia bahkan lebih antusias daripadaku. "Sudah berapa lama aku tertidur?" "Empat tahun, apa kau bermimpi indah?" "Huh" Nymeria mendengus kasar. Seiring dengan bangunnya Nymeria, aku kembali mencium aroma Pinus, dan Kayu basah yang menyegarkan menyengat hidungku meski tak sekuat sebelumnya. Aku tau, Aroma ini berasal dari Aeghar, aroma yang membuat hatiku berdebar sangat kencang. "Keluarlah dari sini" Ucap Aeghar pada Samuel. Lagi-lagi aku melihat pria itu terlihat bingung. "Lalu kau?" "Masih ada urusan yang harus kuselesaikan." Balas Aeghar dengan serius. Apa yang direncanakan pria itu sebenarnya. "Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian dengannya?!!!" Samuel benar, dia harus tetap disamping Aeghar. Aku bisa membunuhnya saat ini juga. "Pergilah!" Aeghar menggunakan Alpa Tonenya, membuat Samuel mundur dan menatapnya tak percaya. Pria itu hanya mengangguk lalu ia keluar dari ruangan ini. Kini tinggalah aku bersama Aeghar dan aromanya yang menggiurkan. Nymeria berkali-kali melenguh, ia menginginkan matenya, dan membuat hasrat dalam jiwaku semakin menggila. Aku butuh jarak dari Aeghar, aku ingin pria itu menjauh. "Kenapa kau melamun saja, biarkan aku mengobati lukamu." Suaranya melembut, membuatku merinding hingga tanpa sadar aku memundurkan tubuhku dan punggungku yang terluka menabrak dinding. "Argh!" Aku mengerang kesakitan, bisa kubayangkan aku meringis kesakitan karena luka ini. "Kenapa kau ini sangat keras kepala sekali, aku hanya membantumu." Aeghar mendekat, ia menyentuh pundaku. Tangannya begitu hangat rasanya. Ia menarikku lebih dekat padanya, hingga jaraknya padaku hanya beberapa inchi. "Berbaliklah!" "Kurasa, aku akan baik-baik saja. Bukankah kita bisa menyembukan diri dengan cepat?" "Entahlah, tapi melihat bagaimana kau kesakitan sepertinya luka itu membutuhkan waktu yang lama." Aku terdiam, memang terasa aneh saat aku tak bisa menyembuhkan diriku sendiri. Sama halnya saat aku terjatuh 10 tahun yang lalu. Bisa jadi karena rantai yang mengikatku ini membuatku masih lemah. "Sudah menurut saja, kekuatan kita sedang lemah saat ini" Ucap Nymeria. Aku tidak mengatakan apapun lagi, dan menurut saja. Aku membalikkan badanku. "Aku akan membuka pakaianmu." Kalimat itu terdengar sangat canggung. Bagaimana mungkin dia mengatakan hal seperti itu pada seorang gadis. Reseleting pakaianku terbuka perlahan, disusul dengan pakaianku yang turun melewati kedua bahuku. Jantungku berdebar kencang, dan kuharap dia tak mendengarkannya atau aku akan malu setengah mati. Wajahku memanas seketika saat kurasakab jari-jari Aeghar menyentuh kulitku. "Ergh." Erangku kesakitan karena salep yang di oleskannya pada kulitku. "Tahan sebentar," bisiknya "Kenapa tidak meminta Paman Ben untuk-" Aeghar memotong ucapanku. "Paman Ben belum sadarkan diri hingga saat ini." Aku mendengar kesedihan dari nada Aeghar. "Lagipula.."Ia melanjutkan, menghela nafas dengan kasar, "Aku tidak ingin orang lain melihat tubuhmu" Lanjutnya serak. "Kenapa kau peduli??" Tanyaku padanya, aku ingin tahu alasannya berbuat baik padaku yang berniat membunuhnya. "Tidurlah, dan bersiap untuk pengadilanmu besok." Dia baru saja mengabaikan pertanyaanku. Sesaat kemudian, Aeghar menaikkan kembali pakaianku dan menutup reseletingnya. Aku mendengar ia melangkah keluar dari kamarku. Aku bernafas lega semenjak kepergiannya. Berada di dekat pria itu hanya membuat Nymeria tersiksa. "kenapa kau keras kepala sekali, jade." Protes Nymeria, aku tau ia menginginkan Ghost, sangat. Aku memblokir mindlink dengan Nymeria. Aku menutup mataku, dan aku melihat tiap detik saat-saat ayahku meregang nyawa oleh Aeghar. Aku tidak pernah melupakannya, setiap detiknya, dan terbawa hingga ke mimpiku kadang-kadang. ••••• Aeghar's POV Helaan nafasku terasa berat, nafasku terengah-engah, tubuhku terasa panas. Menyentuh kulitnya secara langsung, membuat aku hampir kehilangan kendali. Aku hampir membuat kesalahan jika aku bertahan di dalam kamar Jade lebih lama lagi. Sepuluh tahun, karena aku tau dia adalah Mate ku, aku tidak pernah menyentuh wanita satu pun, bahkan dengan Clarisse. Karena tiap kali aku menginginkannya, bayangan gadis kecil itu selalu saja terbayang. membayangkan bagaimana ia akan kesakitan jika aku bersama dengan wanita lain, membuatku ikut merasakannya. Tapi, bagaimana pun juga aku ini laki-laki normal. "Aeghar." Suara serak Clarisse menarikku dari lamunan. Aku menoleh, ke samping kanan gadis itu berjalan kearahku. Dia terlihat luarbiasa dengan balutan piama tidur yang sangat tipis itu. Jelasnya, banyak mata yang akan dimanjakan oleh kemolekan tubuh Clarisse. "Aeghar Sayang, kenapa kau melamun begitu" Jari lentiknya menyentuh pipiku, aku tau ia tergila-gila padaku. Saat ini pun dia mencoba untuk menggodaku. "Dan kenapa kau diluar sini?" lanjutnya lagi. "Aku hanya mencari udara segar." balasku berbohong. Clarisse mengerutkan keningnya. "Aku tidak bisa terus-terusan di kamar, aku tidak ingin terlihat lemah." "Kalau begitu, bagaimana kalau kita buktikan kekuatanmu itu." Ia menggodaku, tangannya menyentuh rahangku, lalu turun kedadaku, ia memainkan jari-jarinya padaku membuatku geli tapi entah kenapa tidak ada hasratku untuknya. "Argh!" Aku berusaha menunjukkan wajah kesakitanku, dengan menyentuh dadaku dan terbatuk-batuk. "Apa? kenapa? Kau kesakitan?" Clarisse panik, usahaku berhasil. Aku menunduk kesakitan, dan gadis itu membantuki berjalan ke kamar. Dia bahkan membantuku berbaring sementara aku sibuk membuat diriku terbatuk-batuk. "Aku akan memanggilkan dokter." Clarisse hendak beranjak pergi, namun aku menahannya. "Tidak perlu, aku hanya butuh istirahat." ucapku "Tapi-" aku memotong ucapan Clarisse. "Aku sudah mengatakannya sekali, Clare." Aku memperingatkannya menggunakan Alpha Tone-ku, dia tidak akan membantah. Pada akhirnya, ia pergi dari kamarku, meninggalkanku. Saat aku terdiam menatap langit-langit kamarku, benakku terpaut pada kejadian yang baru aku alami. Aku teringat pada Jade, luka gadis itu sangat parah. Aku juga melihat bekas luka yang diakibatkan oleh cakar Ghost, yang melintanh dari bahu depannya hingga ke bagian sayap lengan belakangnya. Seharusnya, luka itu tidak pernah ada apabila seseorang tidak mengikat rantai perak pada tangan kakinya. Sebenarnya, siapa orang yang berani membuat pasanganku, belahan jiwaku menderita seperti itu!! Tok tok tok Ketukan suara di pintu mengusikku, siapa lagi yang akan mengangguku malam-malam begini. "Aeg, apa kau sudah tidur?" Rupanya Itu adalah Samuel. "Masuklah!" Pintu itu terbuka, dan Samuel berjalan ke arahku. Lalu ia mengambil sebuah kursi tak jauh dari ranjangku, dan duduk menatapku intens. Agak risih saat Samuel menatapku seperti itu, seolah dia sedang menilaiku dan menginginkan sesuatu dariku. "Bicaralah, aku sudah cukup lelah hari ini." "Jadi kau menemui mate mu?" Dia menekankan satu kata. "Aku hanya ingin melihatnya, dan ternyata sangat tidak terduga bahwa dia disiksa di kediamanku sendiri saat aku sedang sekarat." Ghost ikut menggeram didalam diriku, jika aku lepas kontrol maka ia akan mengambil alih. "Wow!" Decak Samuel, alisku terangkat tanpa sadar melihat reaksi Samuel seperti itu. "Kau jatuh cinta padanya." Itu lebih pada sebuah pernyataan. "Dia Mateku!" "Aku tau, tapi kau jatuh cinta padanya, bung!" "Bukan itu masalahnya" Aku mendesah, aku tak bisa memikirkan soal cinta lagi, disamping itu, Jade menolakku dengan tegas dan menghinaku di saat hari penobatanku. Gadis itu bahkan tak menyesal, ia semakin membenciku. "Lalu? Bukankah seharusnya kau akan menjadikan dia sebagai Luna mu?" Tentu! Aku akan menjadikan gadis itu sebagai Lunaku, setelah urusanku dengannya selesai. "Kau pasti tau siapa yang menyiksanya? Aku tidak mencium aroma siapapun pada tubuhnya." Tanyaku dengan serius, Samuel melebarkan matanya. Dia terkejut, bukan pertanyaan yang dia harapkam tentunya. Tapi aku setengah mati ingin mencabik siapapun yang berani menyiksa calon Lunaku. Aku menunggu dengan sabar jawaban Samuel. Tapi sahabatku terdiam, dan aku mengenalnya, ia sedang merencanakan kebohongan untuk mengelabuiku, dan jika benar maka hanya ada satu orang yang harusnya bertanggung jawab atas setiap luka pada tubuh Jade. "Kita harus mengadilinya besok bukan? Bagaimana pun dia masih seorang tawanan karena berani menyerang Alpha King." Jawab Samuel, aku melihatnya menghela nafas sedikit. Benar dugaanku, dia mencoba melindungi seseorang. "Clarisse," kataku, dan Samuel benar-benar terkejut. "Tidak perlu melindunginya" lanjutku saat Samuel hendak membuka mulutnya dan membela Clarisse. "Ini karena gadis itu mencoba membunuhmu, ia bahkan menghinamu di acara penobatanmu kan?" Samuel masih membela Clarisse. Kami memang bersahabat sejak kecil, di antara kami Clarisse adalah yang termuda, dan Samuel terbiasa melindunginya, dan menuruti semua kemauan gadis itu, membuat Clarisse menjadi manja, dan arogan seperti saat ini. "Demi Dewi Bulan, dia adalah Mateku, calon Luna di Kingdom ini, dan kalian menyiksanya seolah-olah dia adalah penjahat, apa kalian tidak pernah berfikir bahwa mungkin saja kami memang sedang bertengkar? Bukankah itu wajar terjadi di antara pasangan?" Emosiku sudah memuncak, tapi aku masih berusaha menahan Ghost untuk mengambil alih. "Siapa yang akan memercayainya? Kalian bertemu saja saat kau dinobatkan, bagaimana kami tau kalau dia matemu?" "Dia Mateku, dan hanya aku yang berhak atas dirinya!" Nafasku sudah tersengal-sengal, aku ingin merobek tubuh Samuel saat ini juga. "Aku akan membuat kalian semua menyesal." geramku. "Hanya demi gadis itu? Kau mengabaikan kami?" "Pergi dari sini sebelum aku merobek mulutmu!!" "Aeghar!" "PERGII" teriakku sembari menunjuk ke arah pintu keluar. Samuel berdiri dari kursinya, lalu ia beranjak pergi. Di ambang pintu, ia berhenti kemudian menoleh padaku. "Lusa, Tiga Alpha akan datang ke kingdom untuk menjemput Lunamu itu" Setelah mengucapkannya Samuel benar-benar pergi dari hadapanku. Aku tercengang untuk beberapa saat. Masih memproses informasi yang baru aku dapatkan dari Samuel, tiga Alpha akan datang ke kingdom untuk menjemput Jade? TIGA ALPHA?? Bagaimana jika aku tak mengizinkannya? Apa mereka akan menyatakan perang terhadap kingdom? Mereka akan jadi pemberontak jika melalukan ini. "Sial"  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN