Chapter 4: Silver Chain

2902 Kata
"Jangan menyentuh gameku, Jade!" Teriakan Liam begitu keras hingga aku menjatuhkan nitendo terbarunya. Dia semakin marah padaku, lalu mendorongku hingga aku terduduk dilantai. Aku mulai menangis dan mengacau. Liam semakin marah padaku, ia berteriak-teriak padaku. Aku tahu, sejak aku lahir Liam tidak pernah baik padaku. Ia menolak mengakuiku sebagai adiknya. Dia selalu mengatakan bahwa aku ini tidak berguna. Tapi seperti anak-anak lainnya, aku mengekor kemana pun Liam pergi. Di sekolah aku selalu mengekor padanya, kecuali saat dikelas. Tapi dia selalu marah padaku. Kadang-kadang saat temannya mengolokku, Liam diam saja, kadang ia juga ikut mengolokku. "Keluar dari kamarku, aku tidak mau melihatmu lagi!" bentaknya padaku. Aku membeku, "Pergi kau bodoh!!" Hardiknya lebih keras. Aku pun berlari dari kamarnya, aku takut pada Liam. Jadi aku berlari keluar pack, aku merasa bersalah karena merusakkan game milik Liam. Mungkin aku tidak seharusnya berkeliaran di sekitarnya. Apabila aku pergi pasti akan lebih baik. Jadi aku terus berlari, sampai aku sadar kalau aku sudah berlari jauh dari pack house. Aku berhenti, dan menoleh kebelakang, anehnya aku hanya melihat kegelapan, aku tidak tahu aku sedang berada dimana. Sekelilingku hanya gelap dan pepohonan. Aku belum pernah ketempat ini sebelumnya. Aku mulai merinding, ketakutan, tubuhku gemetar. "Ayah, Ibu" gumamku. Srekkk sreekk srekkk terdengar gemerisik dari semak-semak. Mungkin itu Liam yang menyusulku, mungkin Liam menyesal telah menghardikku "Liam?" Aku memanggil namanya, tapi tidak ada jawaban. Sreekkk sreeekk lagi-lagi, aku melangkah lebih dekat. Mencari tau siapa yang ada dibalik semak-semak. "Aaaaaarghh." Teriakku, saat aku melihat sepasang mata berkilat kemerahan dengan geraman yang tertahan.  Langsung saja aku berlari lagi, lari sekencang-kencangnya. Mereka mengerikan, ini pertama kalinya aku melihat serigala yang sangat buruk seperti itu Aku teringat pada cerita Ibu, bahwa ada kawanan serigala yang dinamakan Rouge, mereka liar dan jahat. Mungkin saja mata itu milik serigala Rogue. "Argh!" salah seekor dari mereka menerkamku, aku tersungkur ketanah. Aku merasakan nyeri hebat di punggungku. Aku berusaha berbalik, dan kulihat mereka. Ada tiga serigala, mata mereka merah, taring mereka tajam dengan liur yang menetes. Mereka kelaparan. Bagaimana aku bisa menghadapi mereka, aku pasti akan mati. Ayah, Ibu, Liam, aku takut. "Ggrrrrr." Mereka menggeram sementara aku menggigil ketakutan. Dengan menggunakan kedua siku tangan, aku mundur, dan mereka melangkah maju, siap untuk menjadikanku mangsanya. Tapi, aku terus mundur hingga aku merasakan tubuhku terhempas, aku terjatuh ke sebuah lubang. Tubuhku terkantuk-kantuk bebatuan dan aku berakhir di sebuah lubang yang gelap, tidak bisa merasakan hal yang lain selain ketakutan, dan kegelapan. "Liam, maafkan aku" ••••• 4 Tahun setelah penobatan Alpha King Jade's POV Byuuuurrr Hidungku terasa sakit karena air yang memaksa masuk, dengan mulutku aku berusaha meraih nafas. Setidaknya, aku tidak akan mati karena diguyur oleh air. Aku terduduk, mengusap air diwajahku. Tidak perlu aku melihat siapa pelakunya, yang tidak membiarkanku hidup tenang. Tapi, jemari lentiknya mencengkram pipiku, memaksaku untuk melihat kepadanya. Rambut pirang strawberry, dengan mata biru terang. Clarisse. "Masih tidur tuan puteri?"Tanyanya sarkas. Kemudian, Clarisse mendorong wajahku, terasa kukunya yang panjang menggores pipiku. Aku sudah terbiasa. Sesaat kemudian, Clarrise mengambil cambuk yang terikat di pinggangnya, lalu ia mencambukku sembarangan. Aku tahu dia sangat membenciku, bahkan selama empat tahun aku menjadi tahanan dia selalu datang ke sel tempatku di kurung, ia menyiksaku dan melakukan segala hal yang dia rasa akan membuatku menderita dan menyesal dengan apa yang telah aku lakukan Namun, aku lebih kuat dari yang dia fikirkan.  Aku juga tidak menyesal dengan apa yang aku lakukan. Aku menyesal karena Lelaki itu tidak mati di tanganku. Masih ingat dengan jelas saat itu, ketika aku menusukkan moonspears ke bahu Ghost, serigala raksasa itu mengaum kesakitan dengan darah yang mengucur deras. Saat itu juga, Clarrise memerintahkan semua pengawal Alpha King untuk menangkapku. Terjadi kekacauan saat itu juga, kakakku dan Lionel berusaha melawan dan terluka begitu juga dengan Lee Sun. Mereka berusaha menyelamatkanku, tapi aku menyia-nyiakannya. Aku menyerahkan diri, aku tidak ingin melihat orang-orang menderita karena kebodohanku. Peraturannya, Aku harus membunuh Alpha King agar aku bisa mengklaim tahtanya, nyatanya lelaki itu selamat! Dan aku menjadi satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Aku meminta pada Clarrise untuk melepaskan kakakku dan semua orang, tidak, tepatnya aku memohon padanya. Wanita itu tentu saja merasa menang. Tapi, ternyata Clarrise tidak seberuntung itu saat keinginannya untuk melenyapkanku sangat besar. Para dewan yang mengetahui bahwa aku adalah mate dari seorang Aeghar James Black, memutuskan untuk menangguhkan hukumanku. Sedangkan si Alpha King, dari berita yang kudengar setelah mendapatkan tusukan dari moonspears ia tak sadarkan diri dan belum pernah bangun sampai saat ini. Alpha King yang seharusnya kuat, ternyata selemah itu. Cih. "Jangan melamun saja!" Suara Clarrise menendang gendang telingaku, dengan tangan dan kaki terantai aku mencuci segudang pakaian, entah milik siapa saja pakaian-pakaian ini. Tapi sepertinya ini milik para Enforce. Selama empat tahun aku di jadikan tahanan, selama itu juga setiap hari aku dijadikan b***k oleh Clarrise, tidak ada yang berani menentang wanita itu. Bahkan Para Dewan juga hanya diam saja. Karena wanita pirang itu selalu mengancam akan menghancurkan pack siapapun yang berani melangkah untuk menolongku. Selama itu pula, Liam dan Lee Sun memutuskan untuk tidak berhubungan lagi dengan Bloodmoon Kingdom. Kudengar itu dari pelayan yang bergosip. Sepertinya aku memang berbakat membuat kekacauan. Benarkan? "Clare!" terdengar suara seseorang memanggil Clarrise, aku tak peduli siapapun itu dan kulanjutkan mencuci pakaian-pakaian yang bau ini. "Sam!" Bagus, itu rupanya Samuel, Beta dari Goldennight Pack. "Apa yang kau lakukan disini?" Kudengar itu, demi dewi apa Samuel sangat buta, apa dia tidak melihat kalau 'Clare' kesayangannya itu sedang menyiksaku. "Hanya memastikan beberapa hal berjalan dengan lancar." balas Clarrise."Apa yang membawamu kemari?" Lanjut Clarise, ia mulai meninghalkanku. Aku bangkit, beranjak untuk mengangkat pakaian-pakaian itu. Cctaass Cambuk Clarrise terayun padaku, dan membuat tanganku menjatuhkan semua pakaian-pakaian itu. "Apa yang kau lakukan Clare?" Tanya Sam seolah ia terkejut."Kurasa kau jadi berlebihan belakangan ini." Sam mendekat padaku dan membantuku mengambil semua pakaian yang terjatuh. Dia memang bukan orang yang jahat, tapi juga bukan orang yang baik. "Jangan membelanya, Sam! Kau tau apa yang diperbuatnya pada Aeghar kita." "Dia pantas mendapatkannya." Desisku yang kuyakini di dengar oleh Samuel, karena ia menatapku. "Bawa gadis ini pergi dari sini!" Perintah Sam pada penjaga yang berada di sekitar kami. Dua orang penjaga mendekat padaku, meraih kedua lenganku dan menyeretku untuk kembali ke sel tempatku di tahan. Mereka melemparkan tubuhku begitu saja, hingga tubuhku membentur tembok penjara ini. Aku berusaha bangkit dan duduk kembali. Menatap kedua tanganku yang terbelenggu rantai perak, rantai yang di gunakan untuk merantai pemberontak biasanya. Rantai yang membuatku melemah setiap harinya. Airmataku tiba-tiba bergulir, aku merindukan Liam, aku merindukan Lionel, aku merindukan Lee Sun, aku merindukan Park Hae Min, dan semuanya. Aku rindu berlari, dan aku sangat merindukan Nymeria. Karena rantai ini menbuatnya tertidur. Aku sudah sendirian sejak 4 Tahun yang lalu. Aku membayangkan, apa yang dilakukan oleh Liam saat ini? Apakah dia sudah menemukan mate nya? Dia tidak akan melupakanku kan? Sahabat-sahabatku tidak akan melupakanku bukan? "Hei! Ini makananmu." Seorang penjaga melemparkan sepotong roti melalui sela-sela penjara. Roti itu tergelinding di tanah dan tentu saja menjadi kotor. Hanya itu satu-satunya makanan yang bisa kumakan saat ini, selalu seperti ini. Akan tetapi, apabila penjaga yang sedang berjaga berasal dari Pack kami, ia memberikan makanan yang lebih layak. ••••• Melalui celah ventilasi penjara aku bisa mengetahui apakah hari masih terang atau matahari sudah tenggelam. Tidak ada lagi cahaya matahari yang menerobos, berarti sudah menandakan bahwa malam telah tiba. Sel ini akan semakin dingin saat malam, yang bisa aku lakukan hanya duduk memeluk lutut di pojok berharap mendapatkan kehangatan. Tidak cukup berhasil karena tubuhku terus saja gemetar karena kedinginan. Mungkin ini sudah tiba saatnya musim dingin jadi kurasakan malam ini lebih dingin daripada biasanya. Aku mencoba mengalihkan perhatianku dari rasa dingin, karena hanya duduk rupanya tidak berhasil membuatku lebih hangat. Dengan berdiri, aku menggerakkan tanganku yang terantai, bagaimana pun aku masih manusia normal. Aku berlari kecil-kecil, mengelilingin selku yang sangat sempit. Sekitar setengah jam kemudian aku mendengar dentang jam. Menandakan jam malam, biasanya jika jam malam seperti ini penjaga akan bergantian berjaga di penjara lalu mereka akan berpatroli mengelilingi penjara. Aku mendengar suara langkah kaki mendekat, langkahnya terburu-buru kemudian terhenti saat berada tepat di depan selku. Aku mematung, memandanginya, itu adalah Samuel. Untuk apa dia pergi ke ruang bawah tanah, ke penjara yang kumuh ini? Aku melihat seorang penjaga bersamanya sedang membuka pintu sel ku. Kemudian Samuel melangkah masuk, aku tidak bisa membaca fikirannya dan apa niatnya. "Jadi memang kawanan kalian sangat suka menyiksa orang ya?" Kebodohan darimana yang kudapatkan sehingga kata-kata itu meluncur begitu saja. Pria itu tertawa namun di buat-buat. "Ikutlah denganku." katanya. Mataku melebar, apa aku tidak salah dengar. "Apa yang ingin kau lakukan padaku?" "Musim dingin tahun ini adalah yang terburuk, aku tidak bisa membiarkanmu mati membeku di sini." Pria bermata biru itu sangat terus terang. "Bukankah itu bagus untukmu, untuk kalian yang sangat menginginkan kematianku?" Samuel menggeleng perlahan, aku tidak mengerti maksudnya. "Jika kau mati, maka kau yang akan menang disini." lanjutnya, aku tidak terkejut jika ini cara mereka menyiksa orang lain. "Ikuti aku!" perintahnya. Dia berbalik dan beranjak pergi, namun aku sama sekali tidak melangkah sedikitpun. Untuk apa aku ikuti dia, di luar penjara atau didalam sini sama saja bagiku. "Demi Dewi!" Gerutunya, pria itu berbalik. Ia melangkah cepat kearahku lalu tiba-tiba mengangkat tubuhku. "Apa yang kau lakukan! Lepaskan aku" aku berusaha untuk memberontak, namun genggaman tangan Samuel sangat erat lebih mirip cengkraman. Ia terus menyeretku, hingga kami keluar dari penjara bawah tanah. Melewati lorong-lorong yang untungnya sangat sepi. Kami melewati beberapa tangga, lalu kembali menyusuri lorong. Tak ada yang pantas untuk di banggakan dari kastil ini, sebagai serigala mereka tidak memikirkan kemewahan, apalagi raja mereka sedang tidak sanggup hanya untuk bicara. Langkah Samuel berhenti, kami berada di ujung lorong, gelap dan terasa sangat lembab. Samuel membuka pintu di hadapan kami, lalu menyeretku masuk. Aku mengedarkan pandanganku, kamar ini cukup luas untuk seorang saja, terdapat ranjang di sudut ruangan dekat dengan jendela luar, di sisi kananku terdapat pintu, mungkin pintu ke kamar mandi, yang menarik perhatianku adalah kotak diatas ranjang, dari satu kain yang terselip keluar dari kotak aku tahu jika itu adalah tempat pakaian. "Kau akan tinggal disini, kamar mandi ada di sebelah kananmu, setidaknya kau bisa istirahat dengan layak." "Apakah ini penjaraku yang baru?" tanyaku sembari berbalik. Betapa terkejutnya aku, karena Samuel melotot padaku tak percaya. "Kenapa yang keluar dari mulut kecilmu itu selalu setajam pisau?" Samuel tidak melepaskan pandangannya dariku sedetikpun. "Begitukah? Apa itu menyakitimu?" "Kau harus membersihkan dirimu, dan gunakan pakaian yang sudah kusiapkan." Samuel berbalik hendak pergi, tapi aku menahannya. "Jangan berulah selagi aku baik padamu." "Kenapa kau melakukan ini semua, setelah 4 tahun?" Aku penasaran, apa yang menyebabkan laki-laki itu melakukan hal ini, tidak mungkin jika alasannya hanya karena agar aku tidak mati kedinginan. "Aku tidak ingin saat Aeghar bangun, melihatmu dalam keadaan menyedihkan seperti itu." balasnya tanpa menoleh padaku. "Hah!" Aku tertawa "lebih baik aku mati, daripada harus bertemu dengannya." "Terserah padamu." balasnya lagi sebelum akhirnya Samuel berjalan melewati pintu dan menutupnya. Aku berbalik, lalu berdiri di dekat ranjang. Mataku tertuju pada kotak pakaian di hadapanku. Aku ingin berganti pakaian sungguh, tapi tanganku masih terantai. "Aish, dia memang sangat bodoh." decakku kesal. Aku memutuskan untuk duduk dilantai bersandar pada ranjang, tidak tega jika harus mengotori ranjang yang masih bersih itu. Lagipula aku jadi lebih terbiasa di lantai. Setidaknya, disini lebih hangat. Aku mulai memikirkan banyak hal, hingga akhirnya aku terlelap di sini. Di pinggir ranjang. ••••• Samuel's POV Setiap bulan, aku menyempatkan untuk mengunjungi sahabatku yang bahkan sekedar mengatakan salam saja tidak sanggup. Melihatnya terbaring tak berdaya membuatku cukup sakit hati. Aku hanya bisa duduk disampingnya sembari mengamati tubuhnya yang tak berdaya itu. Dia masih sama, Aeghar yang kukenal. Pemuda yang tangguh, berani, dia juga sangat bertanggung jawab pada Pack kami. Pemimpin yang punya banyak pengagum karena kepemimpinannya yang hebat. "Aeg, Pack kita banyak lahir anak-anak, pack house jadi ramai sekarang" Kataku, sudah kebiasaanku mengatakan hal-hal yang tidak penting, hanya saja aku merasa bahwa aku butuh bicara padanya. "Kau harus berkunjung kapan-kapan" lanjutku. "Bloodmoon hari ini sangat tenang Aeg, tidak ada pemberontakan, tapi tetap saja beberapa Pack masih menjaga jarak dengan kita, kau taulah karena gadis yang kau klaim sebagai mate mu itu. Teringat olehku dengan Jade, gadis bermata hijau yang hanya memiliki kebencian untuk Aeghar dimatanya. Pertama kali melihatnya, adalah ketika aku menghadiri penobatan Aeghar, gadis yang sangat cantik, dengan rambut cokelat chesnutnya, hidungnya yang kecil, perpaduan matanya yang hijau dengan bintik keemasan didalamnya membuat gadis itu menawan. Aeghar sangat beruntung, jika matenya secantik itu. Dia pantas mendapatkannya. Aku tidak mengerti kenapa ia sangat membenci Aeghar, terlihat jelas bahwa ia sangat ingin membunuh Aeghar. Kini, ia harus menderita. Aku menyaksikannya sendiri bagaimana dia dibelenggu dengan rantai perak, yang membuatnya lemas dan serigalanya tidur lalu di jebloskan ke penjara bawah tanah. Tidak hanya itu, Clarrise menyiksanya ia bahkan tidak membiarkan kami mengobati lukanya yang diakibatkan oleh Aeghar. "Sepertinya aku harus pergi." pamitku pada Aeghar, aku tiba-tiba teringat sesuatu. Aku menepuk pundak Aeghar sebelum akhirnya aku keluar dari kamarnya. Hanya satu tujuanku, aku pergi ke ruangan Clarrise. Aku sendiri tak mengerti kenapa aku begitu terburu-buru. Aku mengetuk pintunya beberapa kali, baru seseorang membukanya. Clarrise, gadis yang selalu membuatku berhasil kesulitan menelan ludahku sendiri saat melihatnya. Ia membuka pintu dengan hanya menggunakan gaun tidur yang tipis, aku bahkan bisa melihat apa yang ada di balik gaun itu dengan jelas. Aku menoleh kekanan dan kekiri memastikan tak ada seorangpun yang melihat Clarrise dengan pakaian seperti ini. Lalu aku mendorongnya masuk, dan menutup pintu dibelakang kami. "Apa yang kau mau?" hardiknya. "Kau sudah mempertimbangkan permintaanku?" Tanyaku padanya. "Tidak, aku tidak akan membiarkan gadis itu bebas." Aku memutar bola mataku frustasi. Clarrise bisa sangat bodoh dan keras kepala jika menyangkut kesenangannya. "Clarisse, bukankah kau sudah kuberitahu, bahwa kita sedang diambang perang?" Aku memperingatinya. Tapi sepertinya Clarisse terlalu bodoh untuk mengerti. Sebelum aku pergi ke Kingdom, aku mendapatkan email dari Lightshade Pack. Surat yang ke tiga kali, Liam Grey Alexander, selalu mengirimiku email menjelang akhir tahun. Isinya sama, untuk membantunya membebaskan adiknya, atau dia akan menyerang Kingdom bersama dengan dua pack yang lain. Pria itu pasti sangat putus asa, karena satupun peringatannya pada Kingdom diabaikan oleh gadis bodoh berambut pirang strawberry yang sekarang berdiri di hadapanku. "Ini peringatan ketiga yang di layangkan oleh Liam, dia tidak sendiri Clarrise, Lee Sun dan Darren bersamanya." "Biarkan saja, mereka tidak akan menang menghadapi pasukan Bloodmoon Kingdom." "Gadis bodoh!" hardikku padanya, dengan mata biru terangnya ia melotot padaku. "Para dewan sudah menyerah padamu, para Gamma dan Delta berasal dari tiga Pack itu, kau fikir mereka akan berpihak pada siapa jika perang ini pecah?" "Aeghar belum sadarkan diri, tidak ada yang bisa memberikan perintah kecuali Alpha King!" Aku kehabisan kesabaran. Clarisse terpekur, dia tidak pernah melihatku sefrustrasi ini. Aku memiliki pembawaan yang ceria dan sangat berhati-hati, pasti mengejutkan melihatku marah dan frustasi. "Baiklah." Gumam Clarisse aku hampir tak mendengar suaranya. "Apa kau bilang?" "Baiklah, kau boleh membebaskan jalang itu, tapi dengan satu syarat." Akhirnya, dia menurut padaku. Setidaknya, aku menunda kehancuran Bloodmoon Kingdom, tapi entah sampai kapan, aku berharap Aeghar segera bangun dan memimpin kami semua selayaknya seorang raja. "Katakan, aku akan menurutinya!" "Jangan biarkan jalang itu mendekatinya." Mudah saja permintaan Clarisse, dia memang begitu mencintai Aeghar sampai ia buta bahwa Aeghar memiliki takdir yang lain. Aku tersenyum lebar, lalu segera beranjak. Tepat di ambang pintu, aku berhenti dan berbalik. "Clare.." panggilku padanya, ia mendongak sedikit, menatapku dengan tatapan angkuhnya. "Apalagi?" "Gunakanlah pakaian yang tebal, malam ini salju mulai turun." ujarku lalu aku segera pergi. Berjalan dengan cepat, aku menuju ke ruang bawah tanah, tempat dimana gadis itu dipenjara. Aku menemui dua pengawal dan mengatakan situasinya. Mereka lalu menuntunku ke sel tempat gadis itu berada. Jantungku serasa berhenti berdetak melihat kondisi gadis itu. Seharusnya aku tidak terkejut, namun aku tidak pernah tahu bahwa dia hidup seperti ini selama 4 tahun. Dia duduk memeluk lututnya di pojok sel, bajunya lusuh dan sudah berwarna kecoklatan, sobek di bahunya yang terdapat luka. Dalam fikiranku hanyalah, bagaimana jika Liam melihat keadaan adiknya seperti ini? Aku menatap pada dua penjaga yang menuntun jalanku, aku memanggil seorang yang membawa obor. "Kau, minta seseorang membereskan kamar paling ujung pada lantai 3, dan minta dia mengambil kotak di dalam ruanganku" Perintahku padanya. "Baik" "Kau bukalah pintunya." perintahku pada penjaga yang lain. Saat aku masuk, aku melihat gadis itu menatapku. Rupanya ia menyadari kedatanganku, tatapannya pun sama, penuh dengan kebencian. Kurasa itulah caranya hidup selama ini dengan kebencian yang telah mengakar di dalam hatinya. "Jadi kawanan kalian sangat senang menyiksa orang ya?" begitu yang terlontar dari mulutnya, aku tak bisa menyangkal karena siksaan yang dia dapatkan hanya berasal dari pack kami. Meski harus memaksanya, dengan setengah menyeret tubuhnya yang gemetar. Ya, gadis itu gemetaran bisa kurasakan saat aku menarik lengannya, antara kedinginan atau takut denganku. Tapi melihat bagaimana caranya menatapku, seolah aku ini adalah papan target, dan dia sedang membidik, dia tak mungkin takut denganku. Setelah menempatkannya pada kamar ini, aku membiarkannya dan beranjak pergi. Namun sesuatu mengganjal hatiku, hingga kuputuskan untuk kembali. Aku mengetuk pintu kamar barunya lagi, memastikan bahwa dia tidak sedang membuka pakaian untuk berganti baju, namun tidak ada sahutan sama sekali. Kuputuskan untuk membukanya dengan perlahan. Mataku melebar, saat melihat gadis itu duduk di pinggir ranjang dan tertidur. Nuraniku menuntunku untuk mendekat padanya, aku berjongkok di hadapannya untuk melihatnya lebih dekat. Wajahnya tampak begitu damai, yang mengganjal dalam hatiku, dia belum membersihkan dirinya. "Dasar bodoh." makiku pada diriku sendiri saat aku melihat rantai masih utuh membelenggu tangannya. Bagaimana gadis itu akan membersihkan dirinya jika tangannya saja terikat begitu. "Ayah." terdengar gumaman, rupanya gadis itu mengigau. Sesaat kemudian ia menggerakkan kepalanya, aku terkejut, kufikir dia terbangun. Perlahan, aku melepaskan rantai di tangannya, tapi aku masih membiarkan rantai yang ada di kakinya. Jika kubiarkan rantainya terlepas semua, dia akan membuat kekacauan dan merepotkan. Tak tega melihatnya tidur di lantai, aku mengangkatnya, meski harus menahan nafas karena aromanya begitu menyengat. Entah berapa lama ia belum membersihkan dirinya. Aku menatapnya sejenak, gadis itu tidak terlihat berbahaya jika tidur seperti ini. Tapi tetap saja, tidak seorang pun bisa menurunkan kewaspadaan jika berada di sampingnya. "Kau harus terlihat lebih baik esok hari." gumamku, tanpa sadar jariku terulur akan mengusap rambut gadis itu. Hingga akhirnya aku berhenti, dia adalah mate Aeghar, begitulah fikiranku menghentikan aksi bodohku itu. Lagipula aku pun memiliki mateku sendiri.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN