11

1151 Kata
Kini Dea dalam keadaan terpuruk, setelah kepergian Kevin ia hanya bisa menangis di dalam kamar. Mbok Lastri dan Bik Asih bergantian membawakan makanan untuknya. “Mbak Dea makan dulu yuk,” bujuk Bik Asih. Sedari tadi ia menemani Dea, hatinya terenyuh mendengar suara tangis majikannya. Sedangkan Mbok Lastri sudah pulang lebih awal. “Mbakk...” panggil Bik Asih lembut. Tangannya mengusap punggung wanita itu, berharap ini menjadi obat penenang dari rasa sakit yang di derita Dea. Dea mengusap air matanya, bantal yang ia tiduri pun terasa lembab akibat tangisannya. Bik Asih tersenyum melihat Dea yang menyandarkan punggungnya ke dashborad. Dengan sigap ia memberikan sepiring bubur ayam untuk Dea. “Makan dulu Mbak,” ucap Bik Asih dengan menyondorkan sendok. Dengan memakan bubur itu sedikit, lalu memberikannya pada Bik Asih. Kembali merebahkan tubuhnya. “Bik, jangan bilang Mama Papa sama mertua ya,” pintanya dengan suara serak. Dengan tak enak hati Bik Asih menjawab, “Iya Mbak.” “Makasih Bik.” Dea yang langsung menutup matanya. Kepalanya terasa sangat pusing karena habis menguras air matanya sampai tandas. Helaan nafas berat mengiringi langkah Bik Asih yang berjalan keluar dari kamar. Hatinya ikut sakit melihat Dea yang rapuh seperti itu. Namun, ia cukup bersyukur karena Dea mau memakan bubur itu meskipun sedikit. Kini Kevin tengah tidur bersama Icha, pikirannya melalang jauh memikirkan Dea. Satu persatu perkataan Dea terdengar di telinganya, raut wajah Dea yang muak melihatnya, air mata yang banjir di pelupuk perempuan itu, dan bagaimana istrinya menodongkan pisau padanya. Semua berseliweran dengan jelas di benaknya. “Emhh...” Icha berdeham pelan di d**a Kevin, ia sangat lelah melayani suaminya sedari sore. Permainan mereka sangat panas hingga menghabiskan berjam-jam mencari kenikmatan yang diinginkan. Sayangnya, selama permainan itu berlangsung, Kevin hanya membayangkan Dea. Hanya Dea bukan Icha. Pertengkaran sore ini membuat pikirannya terpusat pada perempuan itu. Rasa bersalah menyeruak di dalam benaknya. Rasa rindu yang ia tahan beberapa waktu ini semakin tak terbendung. Namun keadaan mereka sedang runyam, bahkan seperti buah simalakama. Kevin membelai lembut rambut Icha lembut. Ingatannya kembali pada saat dirinya terjebak oleh istri sirinya. Jebakan itu sukses membuat Kevin harus menikahi Icha. Flashback On# “Kevin! Cepat ikut aku!” panggil Nina pada Kevin di cafepopstar. Kevin mengerutkan dahinya mendengar namanya dipanggil seseorang. Ditambah orang itu adalah Nina, istri dari temannya Levi sekaligus kakak iparnya. “Ada apa?” tanya Kevin. Ia kebingungan tiba-tiba Nina menyeretnya tanpa memberi penjelasan. “Nina!” panggil Kevin yang langsung menghentikan langkahnya, memaksa Nina untuk ikut berhenti. “Penting! Kamu harus ikut aku sekarang, sebelum semua terlambat,” jela Nina memelas. “Jelaskan dulu, apa yang penting?” Kevin benar-benar tidak tau maksud perkataan Nina. “Dia akan bunuh diri, cepat ikuti aku. Gawat banget kalau sampai kita terlambat!” jawab Nina. Kevin langsung memelototkan matanya. Mendengar kata bunuh diri membuatnya risau. “Dea mau bunuh diri!” batinnya. Ia sangat terkejut mendengar hal itu dan langsung berjalan cepat masuk ke dalam mobil Nina. Nina langsung berlari mengejar lelaki itu. Ia mendahului Kevin dan duduk di kursi kemudi. “Biar aku saja yang setir!” paksa Kevin. “Tidak! Biar aku saja, kondisimu sekarang sedang panik,” tolak Nina yang sudah menyalakan mesin mobil. “Ayo cepat masuk!” Kevin menuruti perkataan perempuan itu. Ia langsung duduk di kursi penumpang. Dadanya berdetak dengan cepat, apalagi ini adalah masalah yang serius. Nyawa seseorang sedang terancam sekarang. Nina menyetir mobil itu dengan gesit. “Cepat Nin!” pinta Kevin. Dia sangat panik. “Sabar Vin, ini aku juga berusaha cepat!” pekik Nina yang ikutan panik. Namun, ketika mobil Nina berjalan lurus melewati gang rumahnya membuat Kevin semakin bingung. “Nin! Bukannya salah arah ya?!” tanya Kevin panik. “Tidak!” jawab Nina. Mobil melaju semakin cepat. Lelaki itu terlihat ling lung, ia hanya pasrah mengikuti perempuan yang sedang mengemudikan mobil yang dia tumpangi. Beberapa menit kemudian mobil itu sudah terparkir di rumah bercat putih. “Ayo masuk!!! Cepat!” ajak Nina yang tergesa-gesa. “Ini rumah siapa? Apa Dea disandera seseorang?” benak Kevin yang overthinking memikirkan banyak kemungkinan yang sedang terjadi. Pria itu segera turun dari mobil, dan melangkahkan kakinya mengikuti Nina. Ketika sampai di ruang tamu, Nina langsung mengunci pintu dan menyimpan kunci itu ke baju dalamnya. Kevin semakin kebingungan dengan tingkah perempuan di depannya. “Ayo Vin!” Nina segera menyeret lelaki itu masuk ke dalam rumah. Di depan sebuah ruangan terlihat dua orang pria dan satu wanita. Mereka semua menatap Kevin penuh dengan kebencian. Bug! Salah satu orang pria langsung menonjok pelipis Kevin dengan keras. Lalu mencengkram kerah Kevin dengan erat, “Berani-beraninya kamu mempermainkan putriku!” Mata Kevin melebar, raut wajah kesal tercetak dengan jelas disana. Kevin memberikan tatapan tajam pada pria paruh baya di depannya. “Dasar kurang ajar!” Bug! Sekali lagi Kevin menerima bogem mentah dari pria itu. “Pak! Sudah sudah Pak, yang penting Kevin sudah datang,” lerai Nina. Ia melirik Kevin sebentar lalu membawa pria itu menjauh. Kevin menyeka bibirnya yang terasa asin karena darah segar mengalir di sana. “Cepat masuk dan bujuk putriku agar dia tidak bunuh diri!” teriak wanita paruh baya itu. Lagi-lagi Kevin dibuat bingung dengan kondisi ini. “Putri?” tanya Kevin. “Iya! Cepat lakukan!” ‘Loh! Mama Dea kan bukan ibu ini. Ada yang salah! Jadi yang ingin bunuh diri itu bukan Dea?, batin Kevin. Ia terdiam cukup lama disana. “Vin! Cepat Vin!” teriak Nina menyadarkan lelaki itu. “Cepat sebelum Icha beneran bunuh diri!” bentak Nina yang sudah tak sabar menghadapi situasi ini. Tubuh Kevin kaku mendengar nama Icha disebut. Icha adalah mantan kekasihnya yang dia tinggalkan karena menikahi Dea. Namun selama ini ia berpacaran dengan Icha karena wanita itu terobsesi kepadanya, bukan karena Kevin menyukai bahkan mencintai perempuan itu. “Kevin!” teriak Nina yang berusaha menyadarkan Kevin. Lelaki itu sedang berkutat dengan pikirannya sendiri, dunia terasa berhenti. Plak!!! Ibu Icha langsung menampar Kevin dengan keras. Suara Nina tak berhasil menyadarkan lelaki itu, namun tamparan ini sukses menyadarkan Kevin dengan cepat. “Cepat bujuk Icha sekarang!” bentak wanita itu. Kevin pun langsung menurutinya. Tok... tok... tok... ketukan pintu ini sebagai pembuka bujukan Kevin untuk mantan kekasihnya. “Cha! Ini Kevin! Cepat buka pintunya!” teriak Kevin. Ia berusaha menelaah semua kejadian ini. Semua terasa serba cepat hingga otaknya loading dalam waktu yang lama. “Cha!!!” teriak Kevin lagi. Dia begitu tak sabar karena pintu itu enggan terbuka. “Buka Sayang! Ini ada Kevin Nak, disini,” teriak Ibu Icha yang tengah berlinang air mata. “Chaa!!! Aku sudah bawa Kevin, cepatlah keluar!” Nina tak kalah keras membujuk Icha disana. “Vin, panggil Icha lagi,” pinta Nina. “Chaa!!!???” teriak Kevin memenuhi seluruh ruangan. Cklekk... Pintu itu terbuka. Nina dan Ibu Icha langsung masuk ke dalam kamar. “Ya Tuhan!” pekik Ibu Icha dengan tangan yang menutup mulutnya. Sedangkan Nina langsung jongkok di depan Icha.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN