Keadaan benar-benar kacau sekarang, tangan Icha tengah bersimbah darah.
“Pa! Panggil dokter ke rumah Pah!” teriak wanita itu. Kevin terpaku melihat pemandangan di depannya. Icha tengah tersungkur dengan pergelangan tangan yang bersimbah darah. Lelaki itu sangat membenci darah. Detak jantungnya berdetak cepat tak terkontrol. Ia perlahan melangkahkan kakinya mundur. Menjauhi tempat itu, dan memilih duduk di atas sofa.
Beberapa menit kemudian, Seno datang dengan seorang wanita lengkap kotak P3K di tangannya.
Dari pakaiannya wanita itu hanya memakai daster, tapi dia sangat cekatan menutup luka Icha.
Ketika semua telah selesai, dan kondisi Icha sudah membaik karena mendapatkan pengobatan dan infus dari dokter itu. Semua orang berkumpul di kamar.
“Kevin!” panggil Nina dari dalam kamar. “Cepat sini.”
Dengan malas Kevin menghampiri perempuan itu, orangtua Icha menatapnya dengan garang. Sorot kebencian terlihat jelas dari bola mata mereka.
Kevin merutuki dirinya karena berada di situasi rumit seperti ini.
“Kamu harus tanggung jawab Kevin!” bentak Seno. Wajah lelaki itu merah padam dengan mata yang menatap tajam.
“Saya tidak menghamili anak Om, kenapa harus tanggung jawab!” tolak Kevin. Kesabarannya benar-benar habis menghadapi keluarga yang prik ini.
“Dasar berandalan!” Papa Icha hendak menghajar Kevin, tetapi dicegah oleh pria berbadan gemuk yang berdiri di sebelahnya.
“Sudah, sudah. Selesaikan ini secara baik-baik Pak. Kasihan Mbak Icha,” tutur pria itu.
Perkelahian pun dibatalkan. Kevin sudah berniat menghajar pria itu habis-habisan jika dia berani melukai dirinya sekali lagi.
Nafas keduanya memburu seperti singa yang mempertahankan teritori kekuasaannya.
“Ma...” panggil Icha lemah.
“Iya Sayang,” wanita paruh baya itu langsung membelai kepala putrinya dengan lembut. Tanpa sepatah katapun, Icha hanya memberikan senyuman kepada Mamanya.
“Iya Sayang, Mama mengerti.” Seutas senyum terpaku di wajah wanita itu. “Kevin! Kamu harus menikahi Icha sekarang!”
“Apa maksud Tante?! Aku sudah memiliki istri, tidak mungkin aku menikahi Icha!” bentak Kevin. Perkataan Mama Icha terasa kurang ajar.
“Gara-gara kamu putri saya hampir meregang nyawa! Kamu harus tanggung jawab,” geger Maya.
“Itu kan salah anak Tante sendiri, kenapa melakukan percobaan bunuh diri.” Kevin menolak keras paksaan perempuan itu.
“Kamu sudah berjanji pada putri saya untuk menikahi putri saya.” Maya berusaha menyudutkan Kevin agar mau menikahi putri semata wayangnya.
“Saya tidak pernah mengatakan itu, jangan bicara omong kosong Tan!” ucap Kevin frustrasi. Dia ingin berlari dari tempat ini, kepalanya terasa nyut-nyut an ketika berdebat dengan keluarga Icha.
“Lalu ini apa?!” Seno langsung mengeluarkan selembar kertas dari sakunya. “Baca itu!”
Kevin dengan malas mengambil kertas itu, matanya melebar membaca setiap kata yang tertulis disana. Ditambah ada tanda tangannya di atas materai.
“Saya merasa tak menandatangi surat di kertas ini. Ditambah ada materainya, kalian menjebakku?!” geram Kevin.
“Buat apa kami menjebakmu? Kamu sendiri yang membuatnya bersama Icha. Ingat, tanda tanganmu berada di atas materai. Saya bisa memenjarakanmu dengan bukti itu,” ancam Papa Icha.
Kevin menatap Icha dengan bengis, sedangkan perempuan itu hanya menatapnya dengan nanar. Terlihat buliran air mata yang bersiap jatuh dari pelupuknya.
“Kamu harus tanggung jawab Kevin!” teriak Maya.
“Saya sudah memiliki istri! Apa Om dan Tante rela putri semata wayang kalian menjadi madu?” tanya Kevin.
Kedua orangtua Icha terdiam, mereka menatap perempuan yang sedang berbaring lemah di atas ranjang itu dengan sendu. Seperti buah simalakama, orangtua Icha berada dipilihan yang sulit.
“Icha ingin menikah dengan Kevin Ma, Pa. Kalau tidak, Icha tidak bisa hidup lagi,” ucap perempuan itu lemah.
“Apa kau gila!?” pekik Kevin, ia benar-benar tak habis pikir dengan perkataan Icha barusan.
“Aku ingin hidup bersamamu Vin, aku cinta kamu,” tutur Icha. Perempuan itu benar-benar mencintai Kevin dengan tulus, dia ingin menghabiskan seumur hidupnya bersama mantan kekasihnya itu.
Kevin semakin kesal mendengar jawaban Icha, wajahnya nampak kesal karena kekerasan kepala perempuan itu. Sifat Icha yang tak bisa mengalah membuat masalah semakin rumit. Ditambah sedari tadi kedua orangtua perempuan itu menatap Kevin dengan kejam.
“Aku tidak bisa menikahimu, aku memiliki perjanjian pranikah dengan Dea. Bisa-bisa kekayaanku habis dalam sekejap jika dia tau. Kamu ingin hidup susah denganku? Jangan gila Icha,” jelas Kevin panjang lebar.
“Kamu masih memiliki cafe Vin, itu kan harta pribadi milikmu. Dea tidak bisa merampasnya, kita bisa hidup dari itu, aku bahkan rela bekerja untuk mencukupi kehidupan kita,” mohon Icha. Perempuan itu terasa bandel tak menggubris ucapan Kevin. Dia benar-benar kukuh dengan keinginannya.
“Tidak! Aku tidak mau!” tolak Kevin tegas. Icha adalah perempuan yang menakutkan buatnya, akan sangat merepotkan jika dia benar-benar menikahi wanita ini.
“Aku akan bunuh diri jika kamu tidak menikahiku Kevin!” teriak Icha. Mendengar perkataan Icha, semua orang yang berada di ruangan terkejut.
“Tidak Sayang! Jangan lakukan itu!” histeris Maya. Ia tak ingin kehilangan putri semata wayangnya. Sedangkan Seno hanya terdiam, ia tak ingin putrinya mati namun untuk hidup bersama Kevin menjadi pilihan yang sulit untuknya.
Sedangkan Nina sedari tadi hanya berdiam diri menyaksikan perdebatan yang terjadi di depannya.
“Jangan seperti ini Icha, kalau aku menikahimu maka kamu menjadi madu istriku, Dea. Jangan buang-buang hidupmu untuk pria sepertiku.” Kevin tak tau harus berbuat apa menghadapi konflik yang terjadi saat ini.
“Tidak Kevin, lebih baik aku mati daripada aku menikah dengan orang lain!” Icha langsung beringsut dan mengambil pisau yang berada di nakas meja. Ia menodongkan pisau itu ke lehernya.
“Icha!??” teriak semua orang di dalam kamar. Ekspresi semua orang nampak terkejut dengan mata yang melebar. Sedangkan tubuh Icha bergetar hebat lengkap dengan mata yang berlinang.
“Vin! Selamatin Icha Vin,” pekik Nina yang ngeri melihat mata pisau mulai menggaret kulit leher wanita itu.
Kevin kini terpojok, karena mendapatkan ancaman dari mantan kekasihnya. Pilihannya kali ini menyangkut nyawa seseorang.
Semua orang panik melihat darah mulai mengalir di sela mata pisau.
“Icha!!!” teriak Maya histeris.
Seno dan Pria bertubuh gempal ingin menghentikan Icha.
“Jangan mendekat! Atau aku akan mati sekarang!” ancam Icha dengan nafas memburu.
“Vin! Tolongin,” pinta Nina yang kalap melihat adegan nekat yang dilakukan perempuan itu.
“Nak Kevin, tolong Nak. Bapak tidak mau kehilangan putri semata wayang,” mohon Seno yang bersujud di kaki Kevin.
Melihat Papa Icha yang tiba-tiba bersimpuh di kakinya sontak membuat Kevin lompat menjauh.
“Jangan seperti ini Om,” pinta Kevin. Ia berusaha menolak secara halus.
“Tolong Nak, nikahin Icha. Bapak minta maaf sudah menghajarmu, tolong selamatin nyawa anak saya,” mohon Seno. Pria itu berusaha mencium kaki Kevin. Putri kesayangannya sedang berada di ujung tanduk.
Kevin menghela nafasnya dengan berat, dia benar-benar kebingungan harus melakukan apa.
“Tolong Nak...” pinta pria itu sekali lagi.
“Saya tidak bisa menikahi Icha secara sah,” jawab Kevin.
“Nikah siri juga tidak apa-apa Nak, yang penting nyawa Icha terselamatkan. Bapak Mohon, hanya kamu yang bisa menghentikan Icha.”